Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
74. Mari Saling Mengingatkan


__ADS_3

Karena dokter yang merawat Dimas tengah sakit juga, jadilah Prisila yang menggantikan saat itu, dan berhubung Amel tidak menyukai suaminya di sentuh wanita lain, jadilah dirinya sendiri yang merawat suaminya.


Beruntung sejak dulu orang tuanya selalu menuntut dirinya serba bisa jadi tidak sulit untuk Amel merawat suaminya karena ia pun cukup paham mengenai sarap otak juga patah tulang, seperti yang di derita suaminya saat ini, karena sejak kuliah dulu sempat mempelajarinya.


Sudah tiga hari sejak sadarnya Dimas dan pria itu sudah banyak kemajuan termasuk kaki dan tangannya yang semula sulit di gerakan sedikit-sedikit mulai bisa di gerakan karena Amel yang rutin melakukan terapi pada suaminya itu di bantu oleh beberapa teman medisnya. Dan sekarang tubuh laki-laki itu tidak sekaku sebelumnya.


Luna dan Leo yang setiap hari berkunjung menjenguk pun bersyukur dengan itu termasuk sahabat-sahabat yang lainnya terlebih lagi orang tua juga adik laki-laki itu.


“Mama kira kamu akan Amnesia loh, Dim karena saat itu dokter bilang benturan di kepala kamu cukup parah,” ucap sang ibu.


“Mungkn saat dokter melakukan operasi dia lupa ngambil ingatan aku, Ma jadi gak buat aku sampai amnesia. Lagian jika sampai itu terjadi aku gak tega kalau lihat istri aku ini nangis mulu karena suaminya gak ingat sama dia. Aku bohongin aja dia udah terisak minta di kasihani, apa lagi kalau sampai benar-benar amnesia coba? Yakin deh dia bakal nangis kejer.”


Amel memberenggut dan mencubit pelan tangan saminya itu begitu mendengar ledekan dimas yang membuat dirinya malu.


“Kamu gak tahu aja begitu dengar kamu kecelakaan dan koma dia nangisnya gak berhenti, gak mau makan, di ajak pulang juga gak mau. Beruntung Leo usulin kamu di pindahkan ke rumah sakit ini, jadi Amel bisa istirahat dengan nyaman dan bisa jengukin kamu kapan aja, gak cuma lihat lewat kaca jendela, dia juga bisa pantau kamu secara langsung.”


Mendengar itu Dimas menatap tak suka pada istrinya. “Jangan ulangi lagi!”


“Ya, siapa juga yang mau ulangin orang kamunya aja udah membaik sekarang,”


“Maksud aku jangan ulangi kaburnya lagi, apapun yang kamu lihat, mau saat itu atau pun lain hari harus dengar dulu penjelasanku, jangan main pergi dan matiin ponsel, aku jadi khawatir. Yang waktu itu juga kamu salah paham …”


“Udah gak usah bahas itu lagi aku jadi merasa bersalah karena itu. Maaf udah menjadi wanita yang bodoh sampai membuat kamu mengalami kecelakaan ini. Kalau bukan gara-gara mencari aku mungkin sampai saat ini kamu masih sehat-sehat aja, gak akan berbaring di sini dengan luka di sekujur tubuh kamu dan sampai membuat kamu tidak sadarkan diri selama dua minggu. Maafin aku, Dim,” sesal Amel menunduk lesu. Pundak perempuan cantik itu turun naik, membuat semua yang ada di sana tahu bahwa Amel tengah menangis meskipun tidak terdengar suara isakan.

__ADS_1


Dimas yang sedikit kesusahan berusaha merengkuh tubuh istrinya yang duduk di tepi ranjang rawatnya untuk ia peluk. “Jangan nangis! Justru aku yang harusnya minta maaf karena tidak segera ngejar kamu, maafin aku yang sudah jadi suami yang lalai dan menyakiti perasaan kamu. Aku janji akan ganti sekertaris cowok mulai saat ini.”


“Udah Papa ganti, Dim tenang aja. Sekertaris kamu itu udah Papa tendang dari perusahaan.” Celetuk Dirga, sang papa yang sedari tadi diam bersama sang cucu.


“Jadiin pelajaran noh buat lo pada, termasuk lo, Mel dan lo Lun. Jadi perempuan itu jangan lemah, ingat suami lo itu hak lo, jadi kalau ada perempuan lain yang nempelin, bukan lo tinggalin, tapi plototin atau lebih oke lagi lo samperin dan lo kenalin diri sebagai istri laki lo. Kalau lo tinggal yang ada tuh pelakor makin bahagia. Gue aja dulu tahan lihat laki selingkuh!” ucap Lyra seraya menoleh pada Pandu.


“Nah, mulai lagi kan? Itu artinya lo belum ihklas maafin, Ra,”


“Gue mah udah ihklas lahir batin kali, cuma senang aja ngasih sindiran, haha.” Ucapnya diakhiri dengan tawa ringan. “Abis gue kesel sama lo Mel, malah ngasih kesempatan sama itu pelakor dari pada ngelumpuhin. Baru lihat gitu aja lo kabur, apa kabar gue yang …”


“Oke stop!” Devi dengan cepat menutup mulut Lyra yang terus nyerocos itu. Lyra hanya terkekeh dan mengedipkan sebalah matanya begitu melihat Pandu yang wajahnya sudah memerah, mungkin suaminya itu kesal, padahal Lyra niatnya hanya becanda, tapi, ya memang keterlaluan juga sih, toh masa lalu kan bukan untuk di bahas, tapi untuk di jadikan pelajaran dan Lyra berharap pengalamannya dulu di jadikan pelajaran untuk sahabatnya yang lain.


Ingat masalah itu di hadapi bukan di bawa lari apa lagi masalahnya dengan pelakor? Kalau kalian lari yang ada pelakor yang kesenangan. Sekarang itu menghadapi masalah gak perlu marah-marah, gak perlu minggat-minggat cukup diam aja dan nikmatin hari kalian. Buat pasangan kalian menyesal, bukan di buat cape mengejar, karena jika dia salah belok dan kesandung yang ada malah jatuh ke pelukan orang lain dari pada menemukan kalian yang menghilang.


Luna dan Leo baru saja pulang dari kediaman Dimas yang mana laki-laki itu baru saja pulang dari rumah sakit setelah satu bulan menginap di sana. Jelas saja sebagai sahabat, mereka bahagia dengan kepulangan dan kesembuhan Dimas dan berharap tidak ada lagi musibah yang menimpa baik pada mereka juga pada yang lainnya.


Luna langsung naik ke kamar anaknya yang berada di lantai dua, jam memang sudah menunjukan pukul delapan malam dan Bi Atin bilang Queen sudah tertidur sejak setengah jam yang lalu.


Membuka pintu kamar itu dengan perlahan agar tidak membangunkan sang anak, kemudian Luna masuk dan duduk di tepi ranjang anaknya dan mengelus lembut rambut Queen. “Maafin Mami, ya, sayang, belakangan ini jarang ada di rumah dan jarang main sama kamu,” sesal Luna.


Satu kecupan Luna berikan pada kening sang buah hati, menarik selimut yang di kenakan anaknya hingga batas leher Queen, kemudian mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur agar lebih nyenyak bocah itu tertidur. Tak lama Leo menyusul dan masuk memberikan kecupan serta ucapan selamat malam sebelum akhirnya kembali keluar bersama sang istri.


Leo naik ketempat tidur dan duduk bersandar pada kepala ranjang, kakinya ia selonjorkan dan matanya bergerak mengikuti istrinya yang berjalan masuk ke kamar mandi hingga kembali ke kamar dan duduk di kursi depan meja rias, menyisir dan menyanggul rambutnya, berjalan sambil megelus perut buncitnya, hingga naik ke atas tempat tidur tidak lepas dari pandangan Leo yang entah di sadari atau tidak oleh istrinya itu.

__ADS_1


“Cantik.” Gumam Leo begitu Luna hendak membaringkan tubuhnya di samping sang suami.


“Kenapa, Le?” tanya Luna memastikan bahwa kata yang di ucapkan suaminya memang di tujukan untuknya.


“Kamu cantik.”


“Baru sadar, heh?” Luna menaikan sebelah alisnya.


“Sejak pertama kali lihat kamu, aku udah sadar kok, cuma, ya aku heran aja kenapa kamu selalu cantik setiap harinya,”


“Malam-malam gombal! Tidur, Le udah malam.” Luna berusaha cuek menanggapi ucapan manis suaminya itu, meskipun sudah menikah bertahun-tahun dan punya Queen, tetap saja hingga saat ini Luna masih selalu salah tingkah jika sang suami melayangkan gombalan. Wajahnya selalu menghangat dan detak jantungnya menggila.


“Habis setiap tatap wajah kamu, mulut aku tuh gatel pengen terus gombalin. Aku suka lihat rona merah di pipi kamu, bikin gemas!” Leo menangkup kedua pipi istrinya, mengecup gemas bibir Luna kemudian beralih pada perut Luna yang sedikit buncit itu.


“Kalau suatu saat nanti kamu lihat aku sama perempuan lain, ingat jangan pergi tanpa mendengar dulu penjelasanku. Kamu harus tahu dan percaya bahwa aku hanya cinta kamu, dan sebisa mungkin aku tidak akan mengecewakan kamu, tapi siapa yang akan tahu hari esok dan seterusnya? Godaan itu selalu ada, apa lagi pada pasangan suami istri. Aku tidak akan menjanjikan tidak mengecewakanmu, aku hanya akan terus berusaha dan jika suatu saat nanti terjadi sesuatu di luar kesadaranku tolong tegur aku, jangan biarkan aku terlena dengan sebuah penghianatan, karena aku benar-benar tidak ingin itu hadir dalam rumah tangga kita,” ucap Leo dengan sungguh-sungguh.


“Kamu bicara begitu seperti niat akan punya wanita lain di suatu hari, atau apa mungkin sudah punya?” tuduh Luna menatap suaminya tajam.


“Sembarangan aja kalau bicara! Aku bicara seperti itu ka...”


“Iya-iya aku paham Le, tapi sebisa mungkin kita jaga keutuhan keluarga kita. Aku tahu cobaan akan selalu datang meskipun kita tidak menginginkannya, tapi aku berharap bahwa kamu maupun aku bisa menyingkirkan apapun yang menggaggu termasuk kehadiran pelakor. Yang terpenting adalah jangan pernah berhenti mencintaiku dan percaya padaku. Aku masih ingat Lyra pernah bilang ‘jangan jadikan rasa cemburumu menjadi senjata untuk melukaimu’ maka sebisa mungkin aku tidak akan berhenti untuk percaya dan cinta sama kamu,” ucap Luna tersenyum manis.


“Dan aku akan terus membuatmu untuk selalu jatuh cinta padaku setiap harinya,” balas Leo tersenyum pula.

__ADS_1


“Ingat ya, untuk selalu menegurku jika aku melakukan salah, jangan sungkan untuk marahi aku ketika aku mulai berubah dan lakukan apapun sesukamu jika aku mulai mengabaikan kamu. Kita tidak akan tahu apa yang akan di hadapi kedepannya nanti dan kita tidak akan bisa menolak apa yang akan terjadi nanti jadi, untuk kedepannya mari kita saling mengingatkan dan saling menjaga perasaan masing-masing jangan sampai apa yang tidak kita inginkan malah merusak kebahagiaan yang selama ini sudah kita dapatkan.”


__ADS_2