
“Adik bayi, kakak Queen berangkat sekolah dulu ya, dadah,”
Satu kecupan di berikannya oleh Queen pada perut rata Luna membuat Maminya itu tersenyum, merasa hangat dengan apa yang dilakukan sang putri.
“Papi juga berangkat ya, Nak, baik-baik di perut Mami, dan ingat jangan rewel, jangan buat Mami repot selama Papi gak ada.” Leo mengecup perut rata Luna kemudian beralih mengecup kening dan bibir istrinya setelah itu barulah Leo meraih tangan anaknya yang sudah siap berangkat ke sekolah.
Luna melambaikan tangannya hingga mobil yang di kendarai Leo hilang di balik gerbang rumahnya. Rumah kembali sepi dan kebosanan sudah menanti, apalagi Leo yang tidak mengizinkan Luna beraktivitas apapun selain tidur dan menonton televisi.
Kembali ke kamar, Luna meraih ponselnya yang berada di sisi bantal, duduk bersandar pada kepala ranjang kemudian mengirimkan pesan pada sahabat-sahabatnya agar datang menemani dirinya di rumah, setidaknya dengan kehadiran mereka ia tidak akan terlalu bosan.
Setelah mengirimkan pesan pada grup yang di isi oleh dirinya, Amel, Lyra dan Devi, Luna meraih remot untuk menyalakan televisi yang berada di kamarnya mengisi kesendiriannya dengan menonton acara yang di tayangkan, meskipun sebuah kartun tapi tetap membuat Luna keasyikan dan larut dalam tontonannya yang kadang membuat ia tertawa.
“Lun, Luna lo dimana?”
“Gue di kamar!”
Tak lama pintu kamar terbuka dan masuk sosok Lyra dengan satu kantung cukup besar berisi kripik melon yang memang sejak beberapa hari lalu menjadi favorite sahabatnya itu. Tak lama Devi bersama anak pertamanya menyusul, dan Amel terakhir dengan menuntun anaknya juga yang baru berumur dua tahun.
__ADS_1
“Wihh, Bu Dokter tumben gak sibuk?”
“Butuh liburan gue, masa iya kerja mulu, duit suami udah banyak. Gue bingung cara ngabisinnya,”
“Najis songong!” Lyra memutarkan bola matanya malas, sedangkan Amel tertawa renyah.
Canda, tawa dan saling meledek selalu terjadi saat berkumpul seperti sekarang ini. Luna bahagia karena akhirnya persahabatan mereka bisa sampai sejauh ini, langgeng hingga memiliki suami dan keluarga kecil masing-masing, dimana para suami mereka pun orang-orang yang begitu di kenal satu sama lain membuat pertemanan semakin erat terjalin.
Sampai saat ini Luna masih saja merasa tak percaya bahwa mereka berempat akan berakhir seperti ini. Lyra yang menikah dengan Pandu lewat perjodohan. Meskipun dia awali dengan ketidak baikan dalam menjalani sebuah pernikahan, tapi kini keduanya hidup bahagia dalam limpahan cinta di tambah dengan hadirnya dua orang anak yang cantik dan tampan.
Devi yang sedari awal mati-matian menolak Levin nyatanya kini sudah mau memiliki dua anak. Mengingat Amel? Tentu semua tahu bagaimana perempuan itu dulu, orang ketiga diantara Lyra dan Pandu yang sama sekali tidak Luna sangka akan berakhir bersama Dimas, laki-laki yang ia lihat seperti tidak memiliki ketertarikan pada wanita cantik itu nyatanya memendam rasa dengan begitu apiknya sampai tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari, bahkan sampai keduanya menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi, tahu-tahu sudah bertunangan dan itu cukup mengejutkan.
“Gue jemput anak-anak dulu ya,” ucap Lyra seraya bangkit dari duduknya.
“Sorry, Ra gue gak bisa nemenin lo,” sesal Luna tak enak hati.
“Gak apa-apa lagian gue gak keberatan kok, lo diam aja di rumah, gue juga gak mau terjadi apa-apa sama kandungan lo. Bisa di gantung di monas gue sama si Lele. Udah ah, gue berangkat dulu, takutnya keburu bubar.”
__ADS_1
Lyra berlalu sebelum Luna memberikan anggukan. Perempuan cantik itu masih saja gesit walau usia terus bertambah dan sudah memiliki dua anak.
“Rasanya gue belum percaya bahwa Lyra masih bisa bersikap baik sama gue, dia sama sekali tidak membenci gue padahal dulu gue pernah menyakitinya,” Amel berucap, masih memandang lurus kearah depan dimana Lyra menghilang di balik pintu. Devi dan Luna refleks menoleh pada sahabatnya satu itu, dari nada suaranya terdengar sebuah penyesalan.
“Kadang gue masih merasa malu dan canggung ngobrol sama dia, gue merasa berdosa walau gue tahu dia sudah memaafkan gue dan berlaku biasa aja …” Amel menghentikan ucapannya, menarik napas panjang kemudian perempuan itu hembuskan dengan perlahan, Luna tetap menunggu sahabatnya itu melanjutkan ucapannya karena bagaimana pun baru kali ini Amel mau bercerita mengenai perasaannya.
“… sebenarnya sejak awal gue gak suka sama Pandu apa lagi cinta, tapi kalian tahu bukan? Gue adalah anak dari keluarga yang sibuk, gue kesepian dan jarang mendapatkan perhatian, bahkan mungkin bisa di katakan tidak pernah, karena orang tua gue hanya memanjakan gue dengan uang bukan kasih sayang. Kadang gue iri pada kalian yang memiliki keluarga yang harmonis, keluarga yang hangat dan orang tua yang selalu mengutamakan anak-anaknya. Sejak kecil gue di paksa untuk mandiri, melakukan apa pun seorang diri tanpa adanya dukungan dari orang tua, ah ya, tentu saja orang tua gue mendukung, tapi sayang dukungan yang mereka berikan hanya sebatas materi …” Amel tersenyum miris, mengingat masa kecil hingga remajanya yang selalu di tuntut ini dan itu.
“… saat mendapat perhatian kecil dari Pandu hati gue menghangat, gue bahagia ada orang yang peduli sama gue, orang yang perhatian dan memberi apa yang gue butuhkan selama ini, sebuah kasih sayang yang selalu gue idam-idamkan setiap harinya. Terdengar jahat memang, seolah gue memanfaatkan Pandu hanya demi kebahagiaan gue sendiri, tapi itu jelas hanya gue yang paham, karena diantara kalian mungkin hanya gue yang merasa kesepian, hanya gue yang miskin akan kasih sayang …”
“… sampai akhirnya Pandu mengatakan perasaannya, jelas gue terima, karena menurut gue saat itu, mungkin dengan hadirnya dia, gue gak akan terlalu kesepian, gue gak akan lagi merasa terabaikan dan gue tidak akan lagi merasa tak diinginkan. Gue menikmati hari dengan bahagia bersama Pandu, karena dia tidak pernah mengabaikan gue, dia peduli terhadap gue dan gue tahu dia menyayangi gue. Sampai akhirnya gue tahu kenyataan bahwa dia sudah menikah, suami dari sahabat gue sendiri. Gue bukan kecewa atau pun marah, tapi lebih pada rasa takut, takut akan perhatian itu tidak lagi gue dapatkan, kasih sayang itu tidak akan lagi gue rasakan dan gue takut kehilangan semua itu, gue sudah terlalu nyaman dengan yang gue rasakan ketika itu, dimana hanya Pandu satu-satunya orang yang peduli terhadap gue. Gue memang haus akan kasih sayang, karena selama gue hidup kedua orang tua bahkan keluarga gue tidak sama sekali memberikan itu. Itu juga, lah, alasan kenapa Pandu yang gue hubungi ketika sakit dulu, karena Pandu memberi apa yang gue butuhkan. Perhatian."
Sepanjang bercerita, Amel sudah meneteskan air matanya, bahkan mengalir deras, Amel menangis tanpa suara. Luna miris melihat itu, meski dalam keadaan menangis dengan air mata sederas itu pun tidak sama sekali perempuan cantik itu terhambat melanjutkan ceritanya hingga mengalir begitu lancar. Luna jadi berpikir apa sesering itu sahabatnya menangis dalam diam seperti ini? Perasaan iba menyeruak membuat Luna refleks memeluk Amel. Meskipun berteman sudah sejak lama, tapi tetap saja Luna tidak mengetahui bagaimana perasaan wanita cantik itu karena Amel memang terlalu tertutup selama ini.
“Kenapa lo gak pernah cerita sejak dulu? Setidaknya kita semua tahu apa yang lo butuhkan.” Devi yang ikut sedih pun mencoba bertanya.
Tersenyum kecil Amel kemudian mengusap air mata di pipi dan sudut matanya. “Gue takut untuk terbuka, karena gue benci di kasihani.”
__ADS_1
Amel tersenyum kearah kedua sahabatnya dan melanjutkan ceritanya, “kadang gue berpikir, kenapa tuhan begitu tidak adilnya sama gue? Gue iri sama Lyra yang selalu mendapatkan kasih sayang, perhatian dan juga cinta dari orang-orang terdekatnya, sedangkan gue? Bahkan mungkin jika mati pun orang tua gue tidak akan pernah perduli. Melihat Leo yang selalu perhatian dan memanjakan Lyra membuat pikiran jahat gue hadir dan terlintas niat untuk merebut itu darinya. Gue berpikir, tidak kah cukup kasih sayang dan perhatian dari keluarganya dia dapatkan, kenapa harus di tambah dengan Leo yang juga demikian? Dan kenapa Pandu pun seolah ikut meramaikan? Gue, yang begitu mengharapkan kasih sayang tentu terbakar api cemburu …”
“… tapi gue sadar, jika pun gue berhasil merebut semua itu bukan kebahagiaan yang gue dapat, melainkan sebuah penyesalan yang akan menghantui gue seumur hidup. Maka dari itu gue memilih untuk pergi menjauh dari kalian, memilih memisahkan diri agar perasaan itu tidak lagi timbul dan mengantar pada sebuah penyesalan. Sampai akhirnya, Dimas hadir mengisi kekosongan gue. Dan ketulusannya lah yang membawa gue hingga ketitik ini.”