
Selamat malam rekan-rekanku tercinta,” sapa Leo dengan suara lantang. “Udah lama gue gak berdiri di atas panggung. Biasa naikin istri, gue malah jadi gugup naik ke panggung,” lanjutnya yang membuat sorakan terdengar riuh. Luna menyumpah serapahi suaminya itu dan ingatkan ia untuk memberi sekiranya pukulan pada sang suami ketika laki-laki itu turun nanti.
“Gue tahu lo semua gak akan mungkin lupa sama pangeran Kebaperan, jadi, disini gue gak akan memperkenalkan diri lagi …,” sorakan masih terdengar, tapi itu tidak membuat Leo menghentikan ucapannya.
“Gue bersyukur masih bisa bertemu dengan kalian semua, di pertemukan dalam keadaan yang lebih baik dari dulu yang hanya bisa menghabiskan uang orang tua dan sekolah semau sendiri. Disini gue berdiri hanya ingin mengucapkan terima kasih pada kalian yang mengenal dan mengingat gue, meskipun gue yakin kalian semua yang hadir ingat dan kenal gue." Leo menghentikan sejenak ucapannya hanya untuk terkekeh atas kepercayaan dirinya.
"Untuk kalian yang dulu menjadi orang-orang terdekat gue, terima kasih sudi mewarnai masa muda gue, masa dimana kegilaan lebih banyak kita lalui. Dan terima kasih pula untuk kalian yang menemani gue hingga detik ini, Dimas, Pandu, terima kasih sudah menemani dan berjuang bersama gue hingga titik ini. Lyra, sahabat gue sejak orok, terima kasih karena lo masa-masa gue sejak kecil selalu berwarna, untuk Devi, Amel terima kasih, kalian berdua yang sudah ikut andil menemani perjalanan hidup gue hingga saat ini,” seulas senyum Leo berikan pada sosok-sosok yang dirinya sebutkan.
“Luna, sahabat yang tidak pernah di sangka akan kunikahi, terima kasih, sayang, terima kasih sudah sudi melengkapi hidupku. Terima kasih sudah rela menjadi ibu dari anak-anakku, terima kasih sayang, terima kasih untuk segalanya,” ucapan Leo kembali terhenti, pria yang berada di atas panggung itu menyeka sudut matanya yang berair entah sejak kapan. Tidak berbeda jauh, Luna dan beberapa orang lainnya pun terharu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Leo yang mereka kenal dulu tidak pernah ada serius-seriusnya, tapi kali ini, lihatlah, orang yang dulu bertingkah gila itu sekarang mampu menjadi sosok yang begitu lembut juga berwibawa.
“Sebenarnya gue tidak ingin banyak bicara, tadinya. Hanya saja suasana dan rasa rindu akan kalian semua membuat gue akhirnya berkata sepanjang ini, andai masa SMA bisa gue ulangi, gue ingin mengenal lebih dalam kalian semua, membuat momen sebanyak mungkin agar bisa gue ceritakan pada anak cucu gue nanti, betapa beruntungnya gue mengenal kalian semua, warga SMA Negeri 2 Kebaperan…,”
“... aish, kenapa gue malah lanjut bicara kayak gitu lagi? Niat awal gue naik ke panggung untuk membawakan lagu untuk istri gue, bukan malah bercuap-cuap. Tapi gara-gara lo semua … udah lah ya gue akhiri sampai disini ucapan melow ini, gue mau panggil istri tercinta sama anak gue ... Luna, Queen boleh naik ke atas panggung temani papi?” kata Leo ke arah dua perempuan tercintanya.
Dengan di antarkan oleh Pandu, Luna yang tengah hamil itu menaiki panggung dan berdiri di samping sang suami begitu juga dengan Queen yang saat ini sudah Leo angkat ke dalam gendongannya.
Leo menerima kursi yang di berikan Pandu, meminta istrinya untuk duduk, agar tidak membuat wanita hamil itu pegal, sedangkan Queen ia biarkan dalam gendongannya.
__ADS_1
Pengiring music mulai memaikan lagunya, dan Leo siap untuk mengeluarkan suara emasnya.
Leo melantunkan lagu Just The Way you Are milik Bruno Mars itu dengan penuh perasaan dan menatap istrinya dengan penuh cinta, walau musiknya tidak bisa di bilang melow, tapi makna dari lagu itu membuat Luna terharu dan benar-benar merasa di cintai.
Bagi Leo, Luna adalah perempuan yang luar biasa, perempuan yang mampu mengubahnya, mengubah hidup dan tujuannya. Dan hanya dengan melihat senyum Luna juga anaknya, dunia Leo seakan berwarna dan karena Luna yang apa adanya itu lah yang membuat Leo jatuh cinta.
“Tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi duniaku, karena dengan kesedehanaan dan apa adanya dirimu pun aku sudah sangat bersyukur memiliki kamu. Cinta yang luar biasa mungkin banyak di luaran sana, tapi hanya di cintai dengan sederhana oleh dirimu sudah membuat hidupku penuh dengan warna. Aku tidak butuh yang sempurna, aku tidak butuh yang luar biasa dan aku tidak butuh dengan cinta lainnya, karena yang aku butuhkan hanya kamu … berada selamanya bersamaku, menemani sisa hidupku. Karena dengan itu, maka kesempurnaan yang luar biasa sudah bisa aku dapatkan." Leo mengukir senyumnya, menatap dalam mata indah yang sudah mengeluarkan kristal beningnya.
“Dulu kita boleh bersahabat, berbagi cerita, canda dan tawa, tapi sekarang, kamu bukan lagi sekedar sahabat, kamu adalah duniaku, hidupku, rumahku, tujuanku. Kamu adalah istriku yang kupilih untuk menemani sisa perjalanan hidupku, menjalani kehidupan dimana ada aku, kamu dan anak-anak kita.”
Kata-kata manis Leo diakhiri dengan sebuah kecupan di puncak kepala Luna, dan itu membuar semua yang menonton memberikan sorakan riuh, kata ‘cie’ dan siulan saling bersahutan membuat Luna malu dibuatnya, tapi walau begitu Luna merasa sangat bahagia.
Luna dan Leo sudah berada di kamar mereka sejak setengah jam lalu, rasa lelah sepulangnya dari acara reuni itu cukup keduanya rasakan, bahkan Queen sudah tertidur pulas sejak di perjalanan pulang.
Luna menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, mencari kenyamanan yang selalu membuatnya tertidur nyenyak setiap malam. Leo yang melingkarkan tangannya di pinggang istrinya pun merasakan kenyamanan yang sama, dan enggan untuk dirinya lepaskan. Karena yang selalu ingin Leo lakukan adalah semakin memeluk istrinya itu erat, hanya saja saat ini Leo tidak bisa melakukan itu, sebab ia tak ingin menyakiti janin yang bersarang di perut istrinya.
“Terima kasih, sayang, terima kasih sudah bersedia melahirkan Queen dan kembali mengandung buah hatiku. Terima kasih atas kebahagiaan yang tak hentinya kamu berikan. Terima kasih atas pengertian dan segala kesabaran yang kamu lakukan atas tingkah menyebalkan dan sifat jelekku. Aku tidak tahu jika bukan kamu yang menjadi pelabuhan terakhirku. Aku tidak tahu akan seperti apa bila bukan bersamamu, dan aku tidak tahu akan seperti apa jika tanpamu, karena sekarang yang aku tahu adalah ... aku bersyukur memiliki kamu, memiliki Queen dan calon anak kita dalam hidupku. Maaf atas kekuranganku dalam mencintaimu dan maaf atas kekuranganku dalam membahagiakanmu. Aku sadar, aku bukanlah lelaki sempurna, tapi tanpamu hidupku mungkin tidak akan seberwarna ini.”
__ADS_1
Mata Luna berkaca-kaca mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut suaminya, ia terharu dan ia beruntung memiliki Leo. Bukan hanya lelaki itu yang bersyukur atas semua ini, tapi Luna pun sama bersyukurnya akan kehidupannya kini. Ia tidak tahu nasibnya akan seperti apa tanpa laki-laki itu.
Luna tentu bahagia memiliki Leo, mengandung dan melahirkan anak dari pria itu, karena Leo adalah sahabatnya, cintanya, ayah dari anak-anaknya dan Leo adalah laki-laki hebat dalam hidupnya dan ia sungguh tidak menyesal memiliki pria itu.
“Terima kasih Leo, terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini, terima kasih sudah sabar menghadapiku, menerima segala kekuranganku dan tidak menuntut kesempurnaanku. Terima kasih atas segalanya, Leo. Aku mencintaimu.”
Ungkapan cinta Luna itu membuat Leo bahkan meneteskan air mata, dalam posisi yang sama-sama berbaring menyamping, saling berhadapan, Leo memberikan kecupan pada kening istrinya, kedua mata Luna, hidung, pipi, dagu dan berakhir mengecup bibir itu cukup lama dan kemudian kembali melepaskannya, menatap dalam mata cantik itu seraya berucap, “Aku mencintaimu juga, istriku.”
END
Hallo reders, huhh, maaf aku mengakhirnyanya sampai disini, sebenarnya aku juga kurang puas, tapi semoga kalian tetap menyukinya.
Next kita lanjut ke cerita Rapa-Queen, tapi aku gak janji up sekarang, mungkin nanti awal tahun, semoga tidak ada kendala dalam penulisan.
Untuk info cerita Queen-Rapa, nanti aku infokan di sini atau di Menikah Muda jadi, untuk kalian yang menunggu kisah mereka jangan dulu hapus cerita ini dari favorite ya, biar gak ketinggalan infonya.
Ah, dan terakhir aku ingin mengucapkan terima kasih, untuk kalian semua yang sudah mendukung cerita ini, menunggu dengan up dengan sabar, meramaikan di kolom komentar, dan terima kasih untuk kalian yang menyukai cerita ini.
__ADS_1
Maaf jika kurang memuaskan, maaf jika kurang membangun feel-nya, maaf jika kurang membuat kalian bahagia dalam membaca cerita ini, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Mudah-mudahan di cerita selanjutnya aku bisa lebih membuat para pembaca puas dan berkesan.
Sekian, dan ku capkan terima kasih. Salam hangat dari author amatiran ini 😁😁. Love you guys 😘😘😘