
Sepulang dari acara nikahan Levin-Devi, Luna langsung di mengepak pakaiannya juga pakaian Leo kedalam koper yang cukup besar karena besok mereka akan melakukan pejalanan ke Bali, liburan sekaligus menemani pengantin baru bulan madu meskipun ia tahu bahwa Abang dari sahabatnya itu tidak akan suka dengan keberadaan mereka.
Leo yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya duduk di samping sang istri yang baru saja selesai menutup koper berisi perlengkapan mereka berdua dan meletakannya di sisi tempat tidur. Leo menarik istrinya untuk ikut berbaring memeluk tubuh mungil itu dengan erat dan mengecupi seluruh bagian wajah Luna membuat wanita itu geli dan tertawa.
“Yakin besok Bang Levin gak akan marah kalau kita ikutin?” Luna bertanya. Tangannya mengelus-elus pipi Leo yang terasa lembut di telapak tangannya. Leo meraih tangan itu dan di kecupnya buku-buku jari lentik milik istrinya itu.
“Ya, ngapain juga marah. Lagian kita ke sana juga mau liburan, toh gak sekamar juga sama pengantin baru itu. Jadi buat apa dia marah?” Luna mengangguk kan kepala. Apa yang di katakana suaminya memang benar, kami pergi untuk liburan dan itu memang tujuan utama mereka.
Saat rasa kantuk menyerang keduanya, Leo lebih dalam memeluk istrinya membawa perempuan itu untuk lebih dekat sampai tidak ada lagi jarak diantara mereka. Leo mendaratkan kecupan di puncak kepala Luna yang sudah bergelung nyaman, cukup lama kecupannya Leo berikan dan itu membuat Luna tersenyum dalam tidurnya saat desiran hangat itu mengalir hingga hatinya.
“Selamat malam sayang. Aku mencintaimu.” Bisikan lembut itu masih dapat Luna dengar sampai pada akhirnya ia benar-benar terlelap di susul oleh Leo yang juga merasakan berat di kedua matanya.
☻☻☻
Pukul 07:15 pagi Leo sudah menyambangi kediaman Lyra-Pandu apa lagi tujuannya jika bukan untuk meminta sarapan. Sepasang suami istri itu sudah duduk di sana dan Leo ikut duduk di kursi yang behadapan dengan Pandu tanpa di persilahkan oleh si pemilik rumah.
Tak lama Luna menyusul dengan dua piring di tangannya tersenyum dan menyapa kedua sahabatnya juga Rapa yang sudah duduk di kursi khusus bocah itu. Luna meletakan piring bawaannya yang berisi ayam kecap dan capcai sedangkan di meja makan Lyra sudah terhidang sup sosis bakwan jangung dan ayah goreng. Meskipun sama-sama ayam tapi tetap saja dimasak dengan cara yang berbeda.
“Kalian udah siap-siap belum?” Leo bertanya di tengah aktivitas makannya.
“Jelas udah dong. Secara liburan gratis, mana boleh di sia-siain. Malahan gue udah gak sabar pengen segera pergi. Gue yakin Rapa pasti akan senang disana.” Antusias Lyra menjawab.
“Yakin lo mau bawa Rapa?” Luna yang kali ini bertanya.
__ADS_1
“Yakin lah. Lagian gue gak tega kalau ninggalin dia, Lun. Gak kebayang gue tiga hari di bali tanpa Rapa, bisa mati berdiri gue yang ada,”
"Lebay najis.” Dengus Leo memutar bola matanya malas.
“Hari ini lo boleh bilang gue lebay, Le, tapi nanti di saat lo punya anak… gue yang akan jadi orang pertama ngehujat lo saat melakukan hal yang sama seperti gue!”
Selesai sarapan dan mengobrol sebentar ke dua pasangan itu berangkat, tidak lupa untuk pamit pada Leon dan Linda yang baru saja keluar dari kamar di saat matahari sudah berada di atas.
Taxi yang akan mengantar mereka kebandara sudah berada di depan. Leo dan Pandu sama-sama memasukan koper kedalam bagasi dengan di bantu sang supir taxi tersebut kemudian masuk kedalam taxi masing-masing yang memang Leo pesan dua taxi untuk mengantar kebandara.
Jalanan memang cukup macet, tapi beruntuk mereka berangkat lebih awal. Sesampainya di bandara ke lima orang itu masuk kedalam dan menunggu, karena ternyata mereka sampai terlalu awal sedangkan pesawat yang akan mereka naiki baru akan berangkat satu jam lagi.
Duduk di bangku tunggu banyak yang mereka bahas tertawa dan bercanda sekali-kali menggoda bayi menggemaskan yang berada di pangkuan Lyra sampai seseorag menghampiri mereka. Dalam hati Leo ingin sekali tertawa apa lagi saat melihat wajah Levin yang menyiratkan kekesalan.
Saat pesawat mendarat dan penumpang di persilahkan turun Leo tidak pernah sekali pun melepaskan genggaman tangannya pada Luna bahkan hingga masuk kedalam kamar hotel. Berdiri di balik jendela yang mempertontonkan langsung bagian laut dengan deburan ombak yang terdengar saat jendela tersebut di buka. Indah. Kata pertama saat mata itu memandang.
Leo memeluk istrinya dari belakang, meletakan kepala pada pundak Luna seraya memejamkan mata untuk menikmati sejuknya angina pantai.
“Indah ya, Yang,” ucap Luna mengelus lengan Leo yang melingkar di perutnya. Anggukan Leo terasa di pundaknya.
“Tapi lebih indah perempuan yang kini aku peluk,” balas Leo melayangkan kecupan di pipi Luna, membuat pipi perempuan cantik itu bersemu.
“Mau langsung main apa istirahat dulu?” Leo melepaskan pelukannya, bertanya pada sang istri yang masih saja menatap hamparan laut di depan sana.
__ADS_1
“Istirahat dulu aja, nanti mainnya saat sore, sekalian aku pengen lihat sunset.” Jawab Luna dengan senyum mengembang. Leo balas tersenyum menangkup wajah istrinya dan melayangkan kecupan singkat pada bibir merah alami itu.
“Siap bidadari!”
Terbangun dari tidur yang ternyata berada dalam kukungan pelukan Leo, Luna menepuk-nepuk pipi suaminya cukup keras juga menjawil hidung mancung suaminya agar laki-laki itu bangun dan mau melepaskan lilitan tangan dan kakinya.
“Yang, bangun dong ini udah sore loh, kita kan mau jalan-jalan Yang,”
Leo yang meras tidurnya terusik mengerjap kan matanya. “Udah jam berapa emang sekarang?”
“Jam empat. Buruan ah bangun, mandi habis itu samperin Lyra sama Pandu. Sunsetnya ke buru habis nanti.” Ucap Luna berusaha melepaskan diri dari pelukan Leo.
Menurut, Leo melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Luna yang saat ini membuka koper dan mengambil pakaian ganti untuk suaminya. Tidak lama laki-laki tampan itu keluar dengan wajah segar dan rambut basah.
Pipi Luna menghangat saat melihat dada telanjang suaminya yang terpahat indah itu, meskipun sudah sering bahkan tiap hari melihat pemandangan itu, tapi tetap saja mampu membuat Luna salah tingkah dan merona.
Setelah meletakan pakaian ganti Leo di ranjang dengan cepat Luna melangkah menuju kamar mandi namun saat melewati Leo, laki-laki itu dengan sengaja meraih tangan Luna dan ia bawa tangan itu menuju dadanya untuk di eluskan hingga perut membuat Luna menegang dan dengan cepat menarik kembali tangannya. Leo tertawa begitu puas saat Luna menutup pintu dengan sedikit bantingan. Menggoda Luna memang menyenangkan dan ia yakin bahwa wajah istrinya itu memerah saat ini.
Acara jalan-jalan sore yang sudah mereka rencanakan nyatanya tidak berjalan lancar sebab sebuas inseden di mana pertengkaran Lyra dan Levin terjadi membuat suasana menjadi tegang dan tidak enak. Leo pun cukup meras bersalah sebenrnya tapi tetap saja ia juga merasa kesal pada laki-laki yang menjadi kakak dari sahabatnya itu, bukan hanya kesal, tapi juga ia kecewa.
Liburan yang di bayangkan akan indah nyatanya harus kacau di tambah lagi dengan kepulangan Lyra, Pandu dan Rapa membuat Leo dan Luna enggan untuk melanjutkan liburannya dan memilih pulang juga, tanpa menikmati suasana bali yang eksotis ini. Keinginan Luna untuk melihat sunset pun terpaksa batal disebabkan mood yang tak lagi baik.
“Kamu gak marah kan liburan ini gagal?” Leo bertanya saat mereka sudah sampai bandara untuk kepulangannya.
__ADS_1
Luna menggelengkan kepala. “Aku gak marah kok, masih ada lain waktu. Yang paling penting, kapan pun dan kemana pun itu selalu bersama kamu.”