
Mengerjapkan matanya beberapa kali, Luna menatap sekeliling ruangan yang begitu asing di penglihatannya, tapi melihat tiang infus yang selangnya tersambung pada tangannya membuat Luna dapat menebak bahwa dirinya kini berada di rumah sakit.
Luna berniat untuk bangun dan segera pergi untuk mencari kamar rawat anaknya, yang Luna yakini bahwa Leo akan membawa Queen kerumah sakit terdekat, dan ia juga yakin bahwa seseorang yang membawanya pun berada di rumah sakit terdekat dari jarak komplek tempat tinggalkanya, bahkan harapan Luna, Leo juga lah yang membawanya kesini, tapi rasa pusing juga sakit pada perutnya membuat Luna tidak mampu hanya untuk bangun dari brangkar tempatnya tidur saat ini.
Memijat pangkal hidung juga keningnya untuk beberapa saat, Luna kembali berusaha untuk bangkit dari tidurnya, mengubah posisinya menjadi duduk walau rasa pusing di kepalanya masih berlanjut, tapi saat hendak kakinya akan menyentuh lantai sebuah suara pintu terbuka juga pekikan orang itu menghentikan pergerakan Luna.
“Kamu mau kemana Lun? Diam di tempat tidur dan jangan kemana-mana!” pekik kesal Sari kepada anaknya.
“Mama yang bawa aku kesini?” satu anggukan yang di berikan Sari membuat sedikit hati Luna kecewa karena harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.
“Kamu kenapa bisa pingsan sih, Lun? Mama sampai kaget loh pas datang dan lihat kamu terbaring di teras. Leo sama Queen, Mama panggil-panggil juga gak ada, memang mereka pada kemana? Di hubungi juga suamimu itu nomornya malah gak aktif.”
Luna sama sekali tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan ibunya karena saat ini hatinya kembali sakit saat mengingat perlakuan Leo padanya yang benar-banar tidak pernah Luna sangka, juga rasa khawatir Luna yang tertuju pada anaknya yang bisa di bilang anak itu jarang sekali sakit bahkan mungkin terbilang tidak pernah selama lima tahun ini.
__ADS_1
Sari yang melihat keterdiaman Luna merasa ada yang aneh, dan ia curiga bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara Leo dan Luna, tapi untuk saat ini sepertinya anaknya belum siap ia tanyai. Maklum dengan itu Sari meminta anaknya untuk kembali tidur dan istirahat terlebih dulu mengingat apa yang dokter pesankan beberapa waktu lalu.
Memejamkan matanya Luna mengingat setiap kata juga perlakuan kasar Leo tadi, hatinya berjengit nyeri dan air mata menetes begitu saja. Luna tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan setelah ini, bertemu dengan suaminya jelas bukan yang dirinya inginkan saat ini, tapi mengingat kondisi Queen yang entah seperti apa keadaanya sekarang membuat Luna semakin sedih dan cemas meskipun ia yakin, Leo tidak akan membiarkan anaknya kenapa-napa.
Menyeka sudut matanya yang berair, Luna kembali membuka mata, melihat ibunya sudah tertidur di sofa dan menoleh pada jam yang tertempel di dinding sudah menunjukan pukul 22:30, cukup malam memang, tapi Luna jelas tidak ingin terus berdiam diri seperti ini di saat rasa khawatirnya terhadap Queen masih mengganggunya.
Saat Luna berhasil turun dari ranjang dan hendak keluar dari kamar rawatnya, seorang suster menghentikan Luna di depan pintu yang baru saja terbuka. “Ibu mau kemana? Mari saya antar kembali ke ranjang ibu,”
“Tapi sus saya, harus …”
“Maaf ibu, ibu tidak bisa kemana-mana karena kandungan ibu begitu lemah jadi, di mohon untuk istirahat ya, Bu, demi kahamilannya dan juga demi ibu,” ucap perawat itu dengan ramah dan lembut.
Luna tidak berucap apapun sampai dirinya kini kembali berbaring di brangkar rumah sakit, dengan suster itu yang mengecek selang infus Luna dan pergi setelahnya meninggalkan Sari dan Luna di dalam ruangan serba putih ini.
__ADS_1
“Kamu mau kemana sih, Lun? Jangan buat Mama khawatir please! Mendengar kabar kamu hamil dan kejadian pingsan itu saja belum menghilangkan rasa keterkejutan Mama, jadi tolong diam lah, istirahat demi kandungan kamu Lun! Dokter tadi sempat mengatakan bahwa kandungan kamu lemah dan untung saja masih dapat di selamatkan.”
Lagi-lagi Luna tidak mengeluarkan kata sedikit pun hanya air matanya yang mengalir tanpa bisa ia cegah, membuat Sari meringis sedih dan semakin yakin bahwa sedang ada yang tidak beres dengan anaknya itu apa lagi dengan ponsel Leo yang hingga saat ini pun tidak dapat dirinya hubungi bahkan kedua orang tua laki-laki itu mengatakan bahwa Leo tidak sama sekali ada menghubungi atau datang kesana begitu juga dengan Queen.
“Queen maafin Mami yang tidak berada di samping kamu di saat keadaan kamu seperti sekarang ini, maafin Mami yang lalai menjaga kamu dan maafin Mami yang sudah membuat Papi kamu semarah ini. Maafin Mami sayang, maaf sudah menjadi orang tua yang buruk untuk kamu, bahkan untuk calon adik kamu juga,” ucap hati Luna menangis.
Keadaan Luna yang seperti ini jelas membuat Sari sedih dan ingin sekali ia tahu apa yang terjadi dengan anak menantunya itu, tapi sekali lagi keadaan Luna juga kandungannya yang mengkhawatirkan membuat Sari urung untuk bertanya karena tidak ingin anaknya itu semakin stress jika harus menceritakan masalah yang terjadi hingga membuat Luna seperti sekarang ini.
Mengusap lembut rambut anaknya, Sari berdoa dalam hati untuk kesembuhan anaknya, kebaikan rumah tangga anaknya dan harapan agar masalah yang tengah menimpa anak menantunya segera di selesaikan.
Luna menyentuh hati-hati pada permukaan perutnya yang masih rata, sebutir air menetes dari sudut matanya dan itu tentu saja tidak lepas dari perhatian Sari yang masih duduk di kursi samping ranjang Luna. Sari memang tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan anaknya, tapi sebagai orang tua ia cukup paham dengan apa yang di rasakan Luna saat ini. Kesedihan itu tidak dapat Luna sembunyikan, membuat Sari iba dan langsung merengkuh tubuh Luna kedalam pelukannya.
“Maafiin Mami, Nak karena masih dalam kandungan pun Mami sudah membuatmu celaka. Mami mohon kamu agar bertahan, jangan tinggalkan Mami, sayang karena Mami tidak yakin dengan apa yang akan terjadi jika benar-benar kamu meninggalkan Mami,” Bisik hati Luna, seraya terus mengusap perutnya.
__ADS_1
“Jangan banyak yang kamu pikirkan, Nak, kamu gak boleh stress karena itu akan berpengaruh pada kandunganmu.” Sari berkata dengan sedih saat melihat Luna yang kembali menangis dalam diamnya. Sebagai ibu hatinya jelas sakit melihat keadaan putrinya yang seperti ini.