
Semua yang ada di kamar rawat Luna menatap Leo dengan tatapan geram, marah juga bertanya, bahkan Luna sendiri sudah membalikan tubuhnya membelakangi Leo. Suasana menjadi tegang dan sunyi, hanya terdengar suara tangis perempuan yang masih memeluk Leo.
“Jangan takut lagi ya, udah stop nangisnya,” ucap Leo seraya mengelus rambut panjang coklat itu. “Gak etis lo, udah besar, tinggal di Amerika datang ke tanah air malah nangis. Amerika lebih menyeramkan Elle,” lanjut Leo menepuk-nepuk punggung Brielle yang masih terisak.
Leo menghela napas saat melihat semua mata menatapnya dengan pandangan yang menuntut penjelasan termasuk, Wisnu dan Melinda yang seakan ingin membunuh anaknya itu sedangkan Luna tidur menyamping membelakangi Leo.
“Ini Brielle, ponakan Leo yang tinggal di Amerika,” ucap Leo sedikit menjelaskan.
Perempuan cantik itu mendongak setelah sebelumnya menyeka air mata yang membasahi mata dan pipinya. Tersenyum lembut dan sedikit menunduk untuk sopan santun. "Hallo."
“Yakin lo, Le itu sepupu lo? Perasaan selama dari kecil kenal lo, baru kali ini gue dengar ada yang namanya Brielle?” tanya Lyra dengan heran dan mata memicing.
“Anaknya Tante Rere bukan, Le?” kini Melinda yang bertanya dan mendapat anggukan dari Leo. Membuat Melinda terpekik dan langsung memeluk tubuh ramping perempuan di sisi Leo.
“Astaga sudah besar kamu ternyata, waktu Grandma ke sana kamu masih bayi. Gak nyangka sekarang sudah sebesar ini,” ucap Melinda sedetik melepaskan pelukannya.
Gadis itu hanya menjawab dengan senyuman kecil, sedikit tidak paham dengan apa yang di ucapkan Melinda, tapi ia tahu bahwa wanita yang tengah memeluknya adalah ibu dari Leo yang tidak lain adalah neneknya.
Sekarang semua orang yang berada di ruang rawat Luna tahu siapa Brielle yang tak lain adalah anak dari anak kakaknya Melinda yang tinggal di Amerika dan menikah dengan kebangsaan sana. Kecemburuan Luna hilang meskipun rasa kesalnya masih ada untuk sang suami.
__ADS_1
“Makanya Lun, lo jangan cemburu yang di duluin. Belum tahu kebenarannya udah mewek duluan, pake pingsan segala lagi, ck!” gerutu Lyra mencibir.
“Sadar woy, awalnya juga lo nuduh gue selingkuh tanpa nanya dulu kebenarannya,” balas Leo mendelik kesal.
“Salah kamu juga Bang kenapa gak bilang Luna dulu kalau mau pergi sama Brielle,” tambah Wisnu mendelik pada anaknya itu. “Untung aja mantu sama cucu Ayah gak kenapa-napa.”
“Kalau sampai anak Papa kenap-napa, Papa gantung kamu di tiang bendera, Le.” Delik Lukman menambahi.
“Untung aja, Luna perginya sama Amel, Lyra dan Devi coba kalau sendiri dan lihat kamu sama perempuan lain? Gak bisa Mama bayangin akan seperti apa nasib putri Mama satu-satunya ini,” Sari ikut menambahi dan menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh pemikiran yang ada dalam otaknya.
“Ya, kan Abang kira Luna akan tetap di rumah, gak akan tahu abang pergi sama Brielle,”
Plak.
“Ya udah, Abang minta maaf, janji lain kali bilang dulu kalau mau pergi sama perempu…”
“Jadi kamu niat jalan sama perempuan lain?” potong Luna cepat dengan melayangkan tatapan membunuhnya.
“Parah lo Le, Le.” Levin menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak.
__ADS_1
“Brengsek juga ternyata lo, Le,” tambah Pandu ikut menggelengkan kepala tak habis pikir.
“Ya… enggak Yang,” Leo menjawab gelagapan. “Kalian juga malah pada nyudutin gue!” delik tajam Leo berikan pada Levin dan Pandu, sedangkan yang ada di ruangan tersebut tertawa puas melihat wajah lesu Leo yang kembali di punggungi Luna.
Brielle di bawa pulang oleh Melinda dan Wisnu satu jam kemudian, di susul oleh Sari dan Lukman. Kini tinggal mereka berdelapan, di tambah Rapa jadi Sembilan.
“Lun geser dikit dong,” pinta Lyra pada Luna yang masih berbaring di ranjang rawatnya. Luna menaikan satu alianya, seolah bertanya.
“Gue mau ikut tiduran, pegal asal lo tahu,” ucap Lyra seraya naik keatas ranjang rumah sakit dan membaringkan tubuhnya di samping Luna.
“Mau gue pesenin ranjang buat lo gak, Ly biar enak tidurannya,” kata Levin pada adiknya itu.
“Boleh deh Bang, gih bilang sama perawatnya biar di simpan di sini juga,” senyum Lyra mengembang dan mengangguk antusias.
“Ruangan buat lo istimewa, Ly VVVVIP,” ucap Levin lagi menambah lebar senyum Lyra.
“Emang ada? Sebelah mana Bang?” tanya Amel dengan penasaran.
“Ya, jelas ada dong, ruangannya paling pojok, kalau dari sini lo lurus, terus belok kiri, belok kiri lagi kemudian belok kanan, nah disana ruangannya,”
__ADS_1
“Itu mah kamar mayat bego!” seru Dimas menoyor kepala Levin dengan kuat. Membuat laki-laki yang lebih dewasa diantara yang lainnya itu tertawa puas sedangkan Lyra sudah melayangkan cubitan pada kakak satu-satunya itu dengan brutal.
“Sialan emang lo, Bang!”