
Waktu begitu cepat berlalu, membuat Luna maupun Leo tidak percaya anaknya sudah tumbuh dan semakin pintar. Queen kini sudah berusia lima tahun dan sudah bersekolah juga di taman kanak-kanak dengan Rapa yang selalu berada di samping gadis mungil itu beserta adiknya, Ratu yang lahir 2 bulan setelah Queen.
Seperti niat Lyra dan Luna pada awalnya mengenai perjodohan antara Rapa dan Queen selalu saja mereka mengatakan bahwa kedua bocah itu telah di jodohkan meskipun yakin bahwa keduanya belum mengerti mengenai itu, tapi Luna, Leo dan Lyra akan tetap mengatakan itu hingga anak-anaknya paham.
Saat jam menunjukan pukul 10:30 Luna sudah siap dan rapi untuk pergi menjemput anaknya bersama Lyra yang hari ini bertugas menyetir. Kegiatan baru ke dua ibu itu bertambah sejak anak-anaknya mulai sekolah. Berbeda dengan Devi yang justru saat ini tengah hamil anak keduanya setelah 4 tahun lalu melahirkan putri pertamanya, sedangkan Amel, wanita cantik yang dua tahun lalu melahirkan itu di sibukan dengan pekerjaannya sebagai dokter. Meskipun begitu persahabatan mereka masih tetap terjalin dan kadang selalu berkumpul saat dimana ada waktu luang.
“Ra, habis jemput anak-anak ke mall dulu ya, ada yang pengen gue beli sekaligus ajak anak-anak main juga,” ucap Luna saat mereka sudah berada di perjalanan menuju sekolah Queen, Rapa dan Ratu. Lyra mengangguk menyetujui.
Tak lama mereka sampai dan ternyata anak-anaknya sudah menunggu dan langsung ketiganya berteriak memanggil seraya menghampiri dan memeluk Luna dan Lyra bergantian.
“Gimana sekolahnya?” tanya Luna yang menjadi kebiasaannya saat menjemput ketiga bocah itu.
“Menyenangkan!” ketiganya menjawab dengan kompak. Membuat Luna dan Lyra tersenyum.
“Jalan-jalan mau?” kali ini Lyra yang melayangkan pertanyaan.
“Jalan-jalan kemana Bun?”
“Ke mall dong Bang.” Jawab Lyra dengan senyum yang masih mengembang.
“Kenapa sih perempuan sukanya ngemall? Heran pangeran." Rapa berkata cukup lantang dan itu sukses membuat para perempuan itu menoleh dan melayangkan pelototan tajam pada bocah berusia hampir tujuh tahun tahun itu.
“Abang gak suka mall?” Rapa menggelengkan kepala tanda tak suka dan itu sukses membuat Queen menunduk sedih. “Tapi Queen suka,” lanjutnya.
“Buat kamu Abang gak keberatan kok pergi ke mall,” ucap Rapa yang tidak tega melihat wajah sedih gadis kecil di sampingnya.
__ADS_1
“Beneran?” satu anggukan Rapa berikan dan itu berhasil menerbitkan kembali senyum Queen. Luna dan Lyra saling memandang dan tersenyum penuh arti, sedangkan Ratu mendengus kesal karena merasa di abaikan.
“Ayok berangkat Bun, adek lapar nih,” rengek Ratu menarik-narik ujung blous yang di kenakan Lyra. Kedua ibu itu mengangguk dan langsung membawa ketiga bocah itu menuju mobil. Rapa, Queen dan Ratu duduk di jok belakang, sedangkan Luna yang kali ini menyetir mulai menjalankan mobil membelah jalanan kota yang cukup ramai ini.
Selama di dalam perjalanan ketiga bocah itu terus berceloteh, menceritakan segala macam hal yang terjadi di sekolah, Lyra dan Luna tentu saja mendengarkan dengan baik dan sekali-kali menanggapi.
Luna lebih dulu memarkirkan mobilnya sebelum turun dan masuk kedalam mall yang cukup ramai di siang hari ini. tujuan utama mereka adalah tempat makan karena Ratu yang sudah merengek lapar. Di depan, Rapa dan Queen berjalan lebih dulu, hanya berdua dan saling bergandengan tangan , sedangkan Ratu memilih mengandeng tangan Luna dan Lyra. Tentu saja kedua ibu itu tetap memperhatikan pergerakan Rapa dan Queen karena tidak ingin kehilangan jejak mereka.
Restoran cepat saji yang nyatanya di pilih kedua bocah itu yang saat ini lumayan ramai oleh pengunjung mengingat sekarang sudah jamnya makan siang. Setelah menemukan kursi untuk mereka berlima Luna pergi untuk memesan makanan yang di inginkan ketiga bocah itu tidak lupa juga ia memesan untuk dirinya dan juga Lyra.
“Es krimnya mana, Mi?” Queen bertanya begitu Luna datang dengan nampan di tangannya yang penuh dengan makanan.
“Nanti ya sayang, setelah kalian habiskan makanannya, baru Mami belikan es krim.”
Setengah jam berada di tempat itu akhirnya Luna dan Lyra membawa ketiga bocah itu menuju tempat khusus bermain anak yang berada di lantai tiga mall ini.
“Ra, gue titip anak-anak dulu ya,"
“Lo mau kemana?” tanya Lyra menaikan sebelah alisnya.
“Masih di mall ini. Ada yang mau gue beli dulu.”
“Jangan lama lo, Lun, gue takut,” ucap Lyra seraya menatap sekeliling.
“Ck. Takut apaan coba, ini masih siang Ra, banyak orang juga!”
__ADS_1
“Takut banyak yang godain gue, Lun,” Lyra cengengesan sedangkan Luna memutar bola matanya malas kemudian pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Menyelusuri mall yang luas ini Luna berjalan sendiri masuk dari satu toko ke toko lain untuk membeli sesuatu yang sekiranya cocok untuk ia berikan pada Leo yang besok ulang tahun.
Satu jam berlalu dan Luna sama sekali belum mendapatkan sesuatu yang cocok untuk di berikan pada suaminya itu bahkan kakinya sudah lemas karena sedari tadi terus berjalan tanpa istirahat lebih dulu. Lyra pun sudah beberapa kali menghubunginya dan meminta untuk segera kembali. Luna sempat akan menyerah, tapi ketika langkahnya akan menaiki escalator tiba-tiba matanya melihat satu toko yang membuatnya tertarik untuk ia masuki.
Senyum Luna mengembang saat menemukan apa yang akan menjadi kado untuk suaminya. Selesai membayar Luna melanjutkan niatnya yang urung tadi menaiki escalator untuk menuju tempat dimana anak-anaknya dan Lyra berada.
“Janjinya sebentar, tapi lama. Dasar!” cibir Lyra begitu Luna datang.
“Maaf Ra, nyasar tadi,” alibinya yang membuat Lyra mendengus jelas tidak percaya dengan alasan sahabatnya itu.
Setelah istirahat sejenak di bangku tunggu depan tempat bermain anak, Luna menoleh pada jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 16:00 sudah saatnya mereka pulang karena tidak ingin saat suaminya pulan ia dan Queen tidak berada di rumah, itu akan membuat Leo khawatir karena Luna memang tidak mengabari suaminya itu datang ke tempat ini.
“Queen, Rapa, Ratu mainnya udahan ya, Nak, kita pulang,” panggil Luna pada ketiga bocah itu.
“Yah, kok, pulang sih Mi, kita masih betah main disini, Mi,” rengek ketiganya. Protes karena kesenangannya bermain harus terhenti.
“Kapan-kapan kita kesini lagi, ya, sekarang sudah sore nanti Papi marah kalau kelamaan mainnya.” Ketiganya mendesah kecewa, tapi tetap menurut walau dengan wajah cemberut.
Lyra melajukan mobilnya membelah jalanan yang sedikit macet pada sore hari ini, Luna memutuskan untuk sahabatnya saja yang menyetir ketika rasa pusing dirinya rasakan. Queen, Rapa dan Ratu asik berceloteh di jok belakang membuat keadaan di dalam mobil tidak sepi dan membosankan akibat kemacetan.
Dalam hati Luna tengah memikirkan rencana, kejutan apa yang akan dirinya buat untuk ulang tahun suaminya besok yang tentu saja akan membuat laki-laki itu terkesan dan tidak akan pernah Leo lupakan.
“Semoga kamu suka dengan apa yang akan aku siapkan nanti, Le.” ucap hati Luna seraya tersenyum kecil saat sebuah ide sederhana muncul di kepalanya. Dan ia berharap rencananya ini akan berjalan dengan lancar dan sukses membuat Leo terkesan.
__ADS_1