
Sepulang dari rumah sakit, keadaan Leo sudah lebih membaik, bahkan terlihat segar apa lagi selesai memakan rujak manga yang di beli ketika perjalanan pulang. Luna tak hentinya tersenyum melihat suaminya yang tengah memakan buah asam itu, tidak pernah menyangka bahwa pria itu yang akan menggantikan dirinya mengidam. Bersyukur juga kasihan sebenarnya.
Sampai di rumah nyatanya orang tua juga mertuanya sudah menunggu. Terlihat jelas raut khawatir yang tergambar di wajah Melinda begitu Leo masuk. Dengan perasaan cemas Melinda langsung menghambur memeluk anaknya dengan air mata yang sudah menetes dan mengecek wajah Leo, memastikan suhu tubuh pria itu sampai akhirnya Melinda kembali melepaskan pelukannya dan menatap sang putra dengan kening berkerut.
“Bang, bukannya kamu sakit? Kok, gak panas?”
“Leo bukan sakit Bun, tapi ngidam.” Luna yang menjawab dan sukses membuat semua yang ada di ruang tamu itu menoleh menatap Leo, beberapa detik terdiam sampai akhirnya tawa berderai memenuhi ruangan.
Melinda yang semula menampilkan wajah cemas mendegus dan mendorong anaknya menjauh lalu melangkah dan duduk di samping sang suami. “Bunda kira sakit parah, tahunya…?” ucapnya dengan nada geli.
Leo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian melangkah ikut duduk bersama kedua orang tuanya, sengaja memposisikan diri di tengah-tengah antara Ayah-Bundanya. Dengan manja, Leo memeluk tangan sang Bunda dan menyandarkan kepalanya di pundak perempuan tercinta yang sudah melahirkannya itu. Melinda bergidik ngeri dan berusaha untuk melepaskan diri, namun sulit karena Leo lebih erat menahannya.
“Malu sama umur kamu, Bang, udah punya anak istri aja masih juga manja sama Bundamu,” Wisnu yang berada di sampingnya menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Luna hanya terkekeh geli.
“Bun, boleh minta di buatin Cheesecake gak? Kok, Abang jadi tiba-tiba pengen itu ya, begitu nempel di lengan Bunda?” kata Leo dengan manja.
Memutar bola mata malas, Melinda melepaskan diri dengan paksa dari Leo yang gelendotan dan duduk menjauh dari anak semata wayangnya itu. “Udah Bunda duga sih, Bang, kamu kalau udah manja pasti ada maunya,”
“Bun, ayolah, udah lama loh Bunda gak bikinin Abang Cheesecake. Please bikini ya, ya?” melasnya memohon.
“Kayaknya mendingan kamu yang ngidam deh, Lun, Bunda geli kalau si Abang yang ngidam,” katanya menatap sang menantu yang tengah terkekeh geli bersama kedua orang tuanya.
“Ayolah Bun, nanti Abang ngeces loh kalau gak di turutin maunya!”
“Dih bodo amat, kamu ini yang ngeces bukan cucu Bunda,”
“Jahat sekali kau Bunda!” delik Leo membuang muka seraya melipat kedua tangannya di dada mendramatisir keadaan menjadi sealay mungkin membuat orang-orang di sana bergidik jijik.
__ADS_1
Melinda tanpa mengatakan apa-apa langsung bangkit dari duduknya dan melangkah menuju dapur. Meskipun menolak membuatkan, tapi tetap saja Melinda tidak tega, apa lagi ini untuk memenuhi ngidam anaknya.
Luna menyusul sang ibu mertua berniat untuk membantu, tapi dengan lembut Melinda menolak dan malah menyuruhnya untuk istirahat karena mengingat kandungan Luna yang lemah, mau tak mau akhirnya menurut dan pergi ke kamar menyusul Leo yang sedang istirahat.
“Yang, apa setiap pagi aku juga akan terus mengalami mual-mual seperti pagi tadi?”
“Mungkin. Kenapa memang?”
“Gak enak, Yang, badan aku malah jadi lemas dan pusing, kalau terus-terusan seperti itu gimana aku bisa kerja coba?” desahnya lesu.
“Amel kan udah kasih vitamin, Le di minum aja ya, mudah-mudahan mualnya berkurang,” anggukan Leo berikan meskipun masih tetap lesu.
Memeluk tubuh istrinya, Leo mencerukan kepalanya pada lipatan leher Luna mengendus bau harum tubuh istrinya yang menjadi favoritenya sejak menikah dulu. Dan sekarang bertambah menjadi penenangnya dimana rasa mual itu berusaha muncul kembali.
“Maaf ya, dulu sempat kesal menghadapi ngidam kamu. Ternyata begini rasanya dan aku sendiri benar-benar merasa tersiksa.”
Leo mengangguk dan semakin menyerukan kepalanya, memeluk sang istri dengan manja sampai napas berhembus dengan teratur, membuat Luna yakin bahwa pria tercintanya sudah tertidur dalam pelukannya.
Tok… tok… tok
Mendengar suara ketukan pada pintu membuat Luna urung untuk ikut memejamkan mata. Perlahan Luna melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya agar tidak sampai membangunkan pria itu. Pasti lah lemas sejak tadi muntah-muntah, karena itu pun pernah ia rasakan dulu ketika hamil oleh Queen.
“Kenapa Bun?” tanya Luna begitu membuka pintu kamarnya dan melihat Melinda berdiri di sana.
“Si Abang tidur?” Luna menjawab engan anggukan seraya menoleh kearah suaminya terlelap.
“Nanti kalau udah bangun bi…”
__ADS_1
“Cheesecake nya udah jadi, Bun?”
Suara itu cukup membuat Luna dan Melinda terkejut dan refleks langsung menoleh kesumber suara dimana Leo sudah duduk di ranjangnya dengan mata berbinar segar, padahal jelas Luna tahu bahwa barusan suaminya itu baru saja tertidur.
“Iya udah jadi, sana makan. Awas aja kalau gak kamu habiskan!”
Dengan gembira Leo langsung berlari melewati kedua perempuan beda usia itu menuju dapur.
Luna dan Melinda hanya menggelengkan kepala kemudin berajalan menyusul. Di depan meja makan Leo sudah duduk dengan raut wajah bahagia, matanya menatap tepat pada kue yang di buat Melinda dengan tatapan laparnya, seolah tidak sabar untuk melahap buruannya itu.
Sari yang melihat itu menyunggingkan senyum, mulai memotong Cheesecake tersebut dan memeberikan pada menantunya itu.
Dengan semangat dan rasa lapar yang sudah begitu sangat, Leo menyendokan potongan Cheesecake tersebut dan melahapnya dengan suapan besar, tapi baru saja satu kunyahan dirinya lakukan, tiba-tiba rasa mual kembali menyerang dan itu sukses membuat semua yang ada di sana panik begitu Leo lari ke kamar mandi yang ada di dapur, memuntahkan semua isi perutnya dengan susah payah.
“Minum dulu, Nak,” Sari menyodorkan segelas air hangat pada menantunya itu, sedangkan Melinda memijat tengkuk putranya.
“Benar-benar ngidam kamu, Bang! Gini caranya terpaksa Ayah kembali ke kantor gantiin kamu,” ucap lesu Wisnu seraya menggelengkan kepalanya.
Tak lama setelah merasa enakan, Melinda menuntun anaknya menuju ruang makan dan mendudukannya di sana, mengolesi tengguk juga perut anaknya itu dengan minyak angin agar rasa mual yang Leo rasakan berkurang.
“Bun, Abang pengen di bikinin brownis,” ucapnya dengan lemah.
Melinda menghentikan gerakannya membalur punggung Leo, mendesah lelah kemudian berucap, “kamu mah bikin cape Bunda doang tahu gak, Bang! Nanti saat selesai di buatin, itu brownis kamu muntahin lagi kayak Cheesecake barusan.”
“Ya, gimana dong Bun, Abang kan mau brownis,” ucapnya dengan melas. Melinda kembali mendesah lela, sedangkan yang lain tertawa.
Wisnu mengusap pelan punggung istrinya sambil berkata, “sabar ya, Bunda, ini juga demi cucumu.”
__ADS_1