Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
87. Memangnya Tidak Sakit Hati?


__ADS_3

"Lama banget sih, Ra! Gak tahu apa anak-anak udah pada kelaparan?" dengus Luna saat sahabatnya itu datang setelah lebih dari setengah jam pergi.


“Sorry, tadi gue gak sengaja lihat laki gue lagi kencan, jadi gue samperin dulu,” ucap Lyra seraya menoleh pada suaminya dan memberikan delikan tajam.


“Aku gak kencan, Bun. Aku kerja!” bantah Pandu.


“Iya, kerja kan cuma kedoknya doang!” balas Lyra yang lagi-lagi memberikan delikannya.


Luna menatap kedua sahabatnya itu dengan bingung, tidak mengerti dengan apa yang sedang di perdebatkan. Kerja? Kencan? Entah lah, Luna memilih memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk makan.


“Ayah, kok, ada disini?” Rapa bertanya begitu menghampiri kedua ibunya.


“Ayah kamu habis ketemu calon Mama baru buat kamu, Bang.” Lyra yang menjawab dengan wajah kesalnya.


“Beneran, Yah? Ayah ketemu calon Mama baru buat Abang sama Adek? Wih, asik ini. Gimana-gimana cantikan Bunda apa calon Mama?” tanya Rapa dengan antusias, seolah bahagia mendengar kabar ini. Berbeda dengan Ratu dan Queen yang sepertinya tidak terlalu ingin tahu urusan orang dewasa, karena bagi kedua bocah itu urusan perut nomor satu. Lagi pula, urusan orang dewasa tidak bisa mereka pahami, berbeda dengan Rapa yang sepertinya dewasa sebelum waktunya.


Lyra yang mendengar ucapan anaknya melotot tajam dengan mulut mengaga, sedangkan Luna hanya mampu tepuk jidat. Tidak menyangka respons Rapa akan sebahagia ini. Lyra jadi menyesali ucapannya tadi.


“Ayah gak ketemu calon Mama baru, kok, Bang dan gak akan ada Mama baru. Mama kamu udah cukup Bunda sama Mami Luna aja,” ucap Pandu lembut, mengusap puncak kepala sang anak dan menyuruh anak petamanya itu untuk makan. Bocah itu menurut walau dengan desahan kecewa.


Pandu beralih pada Lyra, menatap tajam istrinya itu. “Jangan pernah lagi bicara sembarangan depan anak-anak, apa lagi Rapa.”

__ADS_1


“Gue kira tuh bocal bakal marah. Kenapa malah jadi kesenengan? Tadinya mau nyari pembelaan padahal...." Desah Lyra kecewa, dan mengabaikan peringatan suaminya.


“Makanya, Ra, bicaranya di jaga, gimana kalau emang anak-anak lo kepengen punya Mama baru? Emang lo rela izinin laki lo kawin lagi?” kata Luna menaikan satu alisnya.


“Amit-amit deh. Hii, jangan sampai itu terjadi!” seru Lyra panik sambil menggetok-getok kepala dan meja di depannya.


“Emang apa sih yang barusan terjadi? Lo, kok bisa ketemu Pandu? Bukannya dia kerja bantuin Leo? Terus laki gue mana?” tanya Luna bertubi-tubi, menatal sekeliling untuk mencari keberadaan suaminya yang ia harapkan datang menyusul.


Lyra akhirnya menceritakan dengan bersungut-sungut, sesekali juga memberikan lirikan tajam pada suaminya itu yang kemudian di bumbui dengan perdebatan keduanya. Luna yang mendengarkan sampai geleng kepala dan sesekali tepuk jidat. Pasangan Lyra-Pandu ini memang tidak beda jauh dengan pasangan Levin-Devi, hanya saja Pandu lebih banyak mengalah di bandingkan Levin. Pandu hanya akan diam untuk mendengarkan dan akan berbicara jika Lyra terlalu memojokan, tapi tetap saja perdebatan pasangan ini akan di menangkan oleh Lyra.


“Lagian gue heran sama Bang Levin, dia **** apa gimana, sih? Calon pelakor, kok di jadiin sekretaris. Kalau Si Devi tahu ... abis itu Si Levin.” Lyra geleng-geleng kepala tak habis pikir.


“Terus aja lo belain! Mentang-mentang itu cewek cantik dan body-nya aduhai, di tambah lagi dia pintar. Tipe lo banget itu, Pan! Kayak mantan lo dulu ‘kan? Si Amel dulu buat lo jatuh cinta, karena dia cantik, pintar.…”


Cup. Ucapan Lyra terhenti begitu Pandu memberikan kecupan singkat di bibirnya. Hanya ini jurus Pandu satu-satunya untuk membuat Lyra bungkam dengan cepat. Istrinya itu tidak akan berhenti nyeroscos apa lagi jika sudah menyangkut pautkan dengan masa lalu. Di ladeni malah akan semakin lebar wanita itu berbicara.


Mungkin jika saja mereka ada di rumah, bukan hanya kecupan yang akan Pandu berikan untuk menghentikan istrinya berbicara seperti itu, tapi untunglah ini di tempat umum dan Pandu masih sadar akan sekelilingnya saat ini.


“Tiap-tiap bahas Am…”


Cup. Satu lagi kecupan singkat Pandu berikan, lalu menatap menantang pada istrinya yang sekarang sudah memelototkan mata bulatnya itu sebagai bentuk protes.

__ADS_1


“Kamu bahas itu lagi, aku cium lagi.” Ancam Pandu.


“Ini tempat umum Pandu!”


“Aku tahu, terus apa masalahnya?” kata Pandu menaikan sebelah alisnya, menatap sang istri yang sepertinya tidak lagi mampu membalas.


“Masa lalu itu untuk di jadikan pelajaran, bukan untuk di kenang apa lagi selalu di bahasa. Memangnya kamu gak sakit hati setiap kali mengungkit tentang aku dan Amel? Jangan sakiti hati kamu sendiri, Yang, karena selama ini saja, aku berusaha untuk tidak lagi menyakiti kamu seperti dulu …,”


“… jika kamu memang masih kesal karena penghianatanku dulu, silahkan marahi aku, pukul aku, hukum aku semau kamu, tapi jangan selalu kamu bahas. Bukan hanya aku yang akan terluka dengan mengingat masa lalu, tapi kamu juga terluka dengan semua itu, Ra. Selama ini aku sudah menanggung rasa bersalah atas keberengsekan aku dulu, aku menyesalinya, bahkan hingga saat ini. Dengan kamu selalu membahasnya, atau menyangkut pautkan dengan masalah yang di hadapi saat ini, sama saja dengan kamu dan aku membuka kembali luka yang lama. Luka itu tidak akan pernah mengering, Ra.”


Lyra menundukan kepalanya. Mendengar ucapan panjang lebar suaminya. Membuat Lyra merasa bersalah. Memang benar apa yang di katakana Pandu. Ini sama saja ia membuka lukanya. Lyra benar-benar tidak lagi menyimpan dendam terhadap suami atau pun sahabatnya, Amel. Tapi sepertinya rasa kesal itu memang masih ada dalam kepalanya. Jika seperti ini, apa iya, ia benar-benar sudah memaafkan Pandu dan Amel? Entahlah, Lyra sendiri pun bingung untuk menjawab pertanyaan dirinya sendiri itu.


Pandu membawa istrinya ke dalam pelukan, mengecup lama puncak kepala Lyra sambil terus mengucapkan kata maaf.


Luna terharu dengan yang di saksikannya ini, bahkan tanpa terasa sampai ia sendiri menitikan air mata. Kata maaf memang mudah terucap. Meminta maaf dan memaafkan memang sering kali terjadi, tapi ingat, mulut, pikiran dan hati kadang tidak sejalan.


Mulut boleh mati-matian bilang maaf dan memaafkan, tapi kadang itu tidak sesuai dengan isi hati kita juga pikiran kita. Mulut itu tempatnya berbohong, bahkan saat hati dalam keadaan terluka, dan pikiran tengah banyak beban, tapi mulut masih mampu untuk memberikan senyuman.


Lyra mungkin memang sudah memaafkan masa lalu suami dan sahabatnya, mulut dia sendiri yang mengucapkan itu. Hati Lyra, mungkin memang sudah tidak lagi menyimpan dendam kepada sahabatnya, tapi bisa saja bukan jika pikiran Lyra masih berputar mengulang kejadian di masa dulu, sampai membuat wanita itu terus selalu ingin membahasnya kapanpun, begitu ada kesempatan.


Hati boleh menyimpan luka, pikiran boleh mengulang kejadian, tapi sebisa mungkin jangan biarkan mulut untuk selalu membahasnya, karena itu hanya akan membuat luka di hati tetap terbuka dan pikiran di paksa untuk selalu mengingat, lalu sampai kapan semua itu akan berlalu? Sampai kapan luka itu akan menghilang, dan sampai kapan keihklasan itu akan tercapai?

__ADS_1


__ADS_2