
Setelah mendapat persetujuan dari mertua juga pihak rumah sakit, dua hari kemudiannya Amel mengerahkan tim dari Rumah Sakitnya untuk mempersiapkan kepindahan Dimas yang hingga saat ini belum juga sadarkan diri.
Memang usulan Leo benar, di rumah sakitnya sendiri lebih nyaman untuk dirinya, Keluarga yang datang termasuk Meldi, anaknya. Setidaknya selama satu minggu kepindahannya ini juga membuat Amel bisa sekaligus bekerja untuk sedikit melupakan kesedihan yang masih terasa sambil memantau kesehatan suaminya.
Di sabtu sore ini semua berkumpul di rumah sakit, kecuali anak-anak yang memilih di tinggal di rumah. Keadaan Dimas berangsur membaik dan hanya dua hari berada di ruangan ICU setelah di pindahkan dari rumah sakit sebelumnya. Sekarang laki-laki yang masih belum bangun juga itu sudah di pindahkan ke ruang perawatan meskipun belum menunjukan tanda-tanda bahwa Dimas akan sadarkan diri.
Memang dasarnya mereka biang rusuh apa lagi jika sudah berkmpul seperti ini aturan Rumah Sakit yang mengharuskan tenang pun tidak mereka hiraukan, karena bagi mereka sepi hanya membuat orang sakit makit bosan, apa lagi Dimas yang sudah dua minggu ini tertidur, dia tidak akan bangun jika keadaan masih sepi malah bisa jadi semakin nyenyak, itu menurut teori otak Leo dan Lyra serta Levin yang dimana ketiga orang itu adalah yang paling ribut. Mereka bilang bisa berabe jika keadaan masih tetap sunyi dan Dimas malah tidak bangun-bangun.
Hanya di rumah sakit ini mereka bisa berani seperti itu karena yakin tidak akan ada yang menegur, secara anak sultan pemilik rumah sakit ini sahabat mereka dan lagi dia pun ikut dalam kegaduhan ini. dan satu lagi yang harus di ketahui, bahwa Dimas berada di ruangan khusus lantai paling atas rumah sakit Amel ini. Di lantai ini juga di khususkan untuk keluarga, jadi tidak akan mengganggu pasien lain.
“Kalau di Rumah sakit lain gue yakin kita udah di usir dari sini,” ucap Leo yang di angguki yang lainnya.
“Lagian mana ada di rumah sakit boleh piknik gini? Ya, kecuali kalau di tamannya,” tambah Luna yang perutnya sudah sedikit membuncit.
“Beruntung lo yang punya, Mel, kalau bukan? Gak mungkin kita punya pengalaman ini.” Levin bersuara seraya menyuapkan potongan Apel kedalam mulutnya.
“Aw! ssshh…”
Suara ringisan itu mengalihkan semua yang ada di sana, menoleh pada arah suara dan melihat di sana Dimas berusaha untuk bangkit. Amel orang pertama yang berlari menghampiri brangkar suaminya, dan menahan laki-laki itu untuk tidak banyak bergerak lebih dulu.
Dengan mata berkaca-kaca dan senyum terukir bahagia Amel berucap tak percaya, “kamu sudah sadar?”
__ADS_1
Yang lainnya ikut bangkit dari duduknya masing-masing dan mendekat pada ranjang rawat Dimas, berdiri mengelilingi dengan raut wajah yang menampilkan kelegaan.
“Kalian siapa?” tanya Dimas menatap satu persatu orang di sekelilingnya dengan kening berkerut. Semua tampak menganga, tak percaya dengan tanya yang keluar dari mulut sahabatnya yang baru saja bangun itu.
“Kamu beneran gak ingat aku?” tunjuk Amel pada dirinya sendiri. “Mereka?” gelengan Dimas berikan dan itu sukses membuat semua kembali murung termasuk Amel yang bahkan saat ini sudah meluncurkan air matanya. Satu lagi kesedihan yang harus Amel terima, suaminya hilang ingatan.
“Lo benar-benar gak ingat siapa kita?” Luna bertanya untuk kembali memastikan, dengan polos Dimas kembali menggelengkan kepala seolah dia benar-benar tidak mengenal siapa pun diantara mereka.
Lyra dengan sigap menekan tombol di belakang brangkar Dimas untuk memanggil dokter agar cepat datang dan memeriksakan keadaan Dimas, sedangkan Amel sudah terduduk lesu di kursi samping barangkar suaminya. Air mata tak bisa lagi dirinya tahan menimbulkan isakan yang membuat semua yang ada di sana prihatin.
“Yang, kok malah nangis?”
Amel yang mendengar itu mengangkat wajahnya menatap sang suami dengan bingung. “Kamu kenal aku?”
“Terus barusan… kamu bohongin kita semua?”tanya Amel yang berubah kesal.
“Lo gak hilang ingatan, Dim?”
“Gue cuma hilang kesadaran. Ingatan gue masih oke, kok.” Jawabnya terkekeh tidak sama sekali merasa bersalah walau semua teman-temannya memberi delikan kesal.
“Yak, jangan di pukul kepalanya Leo! Kalau nanti beneran amnesia kan berabe,” cegah Amel cepat begitu di lihatnya Leo yang hendak memberikan geplakan pada kening Dimas.
__ADS_1
Leo yang hendak menjawab ucapan Amel urung karena dokter lebih dulu datang membuat mereka semua menyingkir memberi ruang untuk dokter cantik itu memeriksa keadaan Dimas kecuali Amel yang masih duduk di sana tanpa berniat untuk bangkit apa lagi begitu melihat dokter itu mendekat dan menyapa Dimas dengan senyum lebar yang di tampilkannya.
“Gak usah pake senyum-senyum segala lo! Ingat dia laki gue!” kesal Amel.
“Cuma sekedar ramah, Mel,” jawabnya membela diri.
“Ck, gak ada! Ramahnya sama pasien lain aja, jangan sama laki gue. Awas aja lo kalau sampai berani senyumin laki gue lagi? Gue depak lo dari Rumah Sakit ini!” ancam Amel posesif membuat Dimas dan yang lainnya melongo dengan itu.
Dokter bername tag Prisila itu memutar bola mata malas. “Ck, dasar cemburuan.”
“Gue aja yang periksa Dimas. Pergi aja lo sana!” usir Amel begitu dokter Prisila yang berusia hanya berselang satu tahun dengannya hendak melakukan pemeriksaan pada pasiennya itu.
“Gak propesional banget sih lo!” kesal dokter Prisila.
“Bodo amat! Rumah sakit juga punya gue, laki? Laki gue. Gak propesional juga terserah gue yang penting laki gue gak di sentuh cewek genit.”
“Wihhhh, anak sultan mah bebas!” celetuk Leo memecah ketegangan antara Amel dan rekan dokternya.
“Sejak kapan kamu jadi posesif gini?” Dimas buka suara.
“Sejak saat ini,” jawab Amel seraya mulai melakukan pemeriksaan menyeluruh pada suaminya.
__ADS_1
Senyum kecil Dimas terbit, matanya tidak tidak pernah lepas menatap Amel yang tengah serius dengan alat-alat dokternya yang sedang dia gunakan untuk memeriksanya. Memang saat serius seperti ini kecantikan Amel bertambah berkali-kali lipat dan Dimas amat menyukainya.