Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
25. Papi Leo


__ADS_3

Waktu memang tidak terasa berjalan begitu cepat bahkan sampai Luna dan Leo tidak menyadari bahwa Lyra, sahabatnya itu sudah melahirkan. Leo benar-benar terharu apa lagi saat menggendong bayi mungil itu, sisi hatinya menghangat dan sebuah harapan ia panjatkan dalam hati untuk segera di berikan makhluk kecil seperti bayi mungil milik Lyra-Pandu.


Tidak jauh berbeda dengan Luna gadis cantik itu pun juga merasakan hal yang sama dengan suaminya. Mungkin ini lah sisi hati seorang perempuan yang yang sudah menikah.


“Yang, aku pesan satu yang kayak Rapa, boleh?”


Wajah Luna seketika saja memerah mendengar bisikan dari suaminya, dan tentu saja itu tidak lepas dari penglihatan Leo yang langsung saja memberikan cubitan gemas di kedua pipi istrinya.


“Emang kamu udah siap jadi Ayah?” Luna bertanya.


“Aku akan selalu siap jika itu bersamamu,” jawab Leo tidak nyambung, tapi itu sukses membuat pipi Luna memerah malu. Beruntung mereka saat ini sudah berada di rumah karena jika masih di rumah sakit entah akan semalu apa dirinya nanti karena ia yakin bahwa semua orang di sana akan meladek mereka berdua apa lagi Leon yang memang begitu suka membuli Leo.


☺☺☺


Semenjak Rapa lahir Luna, Leo, Devi lebih sering datang berkunjung selain untuk menumpang makan juga untuk mengajak main bayi menggemaskan itu bahkan Levin ikut tinggal di rumah pasangan orang tua muda itu membuat Rumah Lyra semakin ramai.


Keinginan Leo menjadi orang tua pun semakin besar, bahkan dirinya sudah membayang kan dimana nanti Luna hamil, menuruti ngidam dan manjanya perempuan cantik itu mengingat saat Lyra hamil begitu nempel pada suaminya dan Leo harap istrinya pun nanti akan semakin menempel padanya saat hamil. Karena sesungguhnya kebahagian seorang suami adalah dimana saat istrinya manja, mungkin tidak semua suami seperti itu, tapi bagi Leo dengan kemanjaan sang istri itu artinya ia sangat di butuhkan oleh pasangan dan akan merasa berguna sebagai suami.


“Rapa ganteng sini sama Papi Leo,” Leo mengambil alih gendongan Rapa dari pangkuan Luna.

__ADS_1


Luna, Devi, Pandu dan Lyra sedang berada di ruang tengah seperti biasa berkumpul dan mengobrol sambil menunggu makan malam. Keempat orang itu menoleh pada Leo yang sudah senyum-senyum pada Rapa yang masih berusia 3 bulan.


“Lo barusan bilang apa, Le? Papi?” Pandu bertanya untuk sekedar memastikan jika pendengarannya tidak salah. Laki-laki tampan yang tengah memangku bocah laki-laki menggemaskan itu mengangguk seraya memberikan senyum manisnya.


“Kenapa emang?” polosnya bertanya.


“Rapa anak gue, Le kalau lo lupa,” jawab Pandu.


“Anaknya Lyra berarti anak gue juga, *** …”


“Enak aja! Yang bikin cuma gue sama Lyra berdua, itu berarti Rapa cuma anak gue sama Lyra. Kalau lo mau, bikin sendiri!” kesal Pandu kemudian mengambil alih Rapa dengan cepat.


“Ck, dasar orang tua posesif. Ly, boleh kan ya, gue jadi Papinya Rapa?”


“Ayo lah Ly, boleh ya?” mohon Leo memelas.


“Pokoknya enggak! Lo kalau pengen di panggil Papi bikin dong anak lo sendiri, noh ada Si Luna, bikin tuh istri lo hamil.” Lyra menunjuk Luna dengan dagunya.


“Tiap malam gue bikin Ly, tapi kan belum jadi. Lo kira ngehamilin segampang bikin perkedel! Bodo amat pokonya, Rapa harus manggil gue Papi, dan Mami ke Luna. Bodo amat meskipun lo gak setuju.” Kekeh Leo membuat Lyra geram sendiri sedangkan Devi dan Luna hanya tertawa mendengar perdebatan mereka.

__ADS_1


“Gak ridho gue anak gue manggil lo papi,” ucap Pandu.


“Harusnya lo bangga ***, karena gue mau jadi ayah kedua buat anak lo. Kita semua kan gak tahu umur kita panjang apa nggak, gak tahu juga nasib kita kedepannya.”


Lemparan bantal sofa mendarat mengenai wajah Leo yang tidak sempat menghindar karena sakig cepatnya benda itu mendarat.


“Sembarangan aja lo doain gue mati.” Kesal Pandu menatap tajam sahabatnya, sedangkan Leo tertawa melihat itu.


“Walau pun nanti gue jadi janda, gue ogah Le sama lo,” ucap Lyra.


“Ya, siapa juga yang mau sama lo, dih najis. Sorry, lo bukan lagi levelnya gue, Ly. Yayang Luna udah cukup buat gue, dan cuma dia yang akan menjadi pedamping gue sampai maut datang.”


“Aw, aw, aw gue baper masa.” Pekik Devi berlebihan dan mendapat cubitan dari Luna yang wajahnya kini sudah memerah.


“Ck, dasar jomblo!” jitak Lyra tepat di kening Devi membuat perempuan cantik yang masih jomblo itu meringis.


Leo bangkit dari duduknya, melirik pada Luna yang masih duduk. “Pulang yuk Yang,” ajak Leo. Luna mengangguk kecil kemudian bangkit dari duduknya melangkah menuju Rapa yang ada di pangkuan Pandu dan memberikan bayi mungil itu kecupan.


“Rapa, Papi Leo sama Mami Luna pulang dulu ya, besok kesini lagi ajak main Rapa,” ucap Leo yang juga memberikan kecupan pada pipi tembam Rapa.

__ADS_1


“Ini masih siang Le, tumben udah pamit pulang? Gak makan malam disini?” Pandu bertanya heran.


“Gak deh, gue makan di rumah aja nanti, sekarang udah kebelet pengen ngadon bayi,” ucapan asal Leo itu jelas membuat wajah Luna memerah, tentu saja ia malu apa lagi melihat Devi yang sudah mesem-mesem mesum menggodanya.


__ADS_2