
Queen memakan pesanannya yang baru saja datang itu dengan lahap, membuat Luna geleng kepala juga merasa kasihan karena anaknya yang ternyata benar-benar kelaparan. Memang dasarnya Queen yang kadang lupa waktu jika sudah berbelanja, juga Leo yang memang kadang tidak bisa mencegah anaknya untuk berhenti, membuat Luna kadang kesal pada kedua orang terkasihnya itu.
Leo akan selalu menuruti apa pun maunya Queen, dan setelah sampai di rumah barulah dia merutuk panjang lebar karena kebobolan. Memang Leo yang jiwanya sejak dulu memegang teguh kehematan, selalu akan ada dumelan setelah menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, tapi jika Luna mengingatkan saat masih di toko tempat anaknya memborong apa saja keinginannya, Leo selalu mengatakan bahwa itu tidak masalah, karena menurutnya uang segitu bukanlah apa-apa, selama itu membuat Queen bahagia.
Serba salah memang, tapi Luna memilih selalu diam, karena jika di ladeni hanya akan menjadi perang dunia yang entah sampai kapan selesainya.
Setelah menghabiskan makanan masing-masing, Leo mengajak anak istrinya itu untuk pulang, setelah lebih dulu membayar tagihan café.
Sejak tadi, Leo tidak lagi membahas kehadiran Brian, dan itu membuat Luna lega. Sampai di rumah pun, mereka masih biasa-biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Queen sudah masuk ke kamarnya, dengan barang belanjaan yang sudah Leo antarkan ke kamar anak pertamanya itu.
Luna sudah membaringkan tubuhnya di ranjang, setelah sebelumnya membersihkan diri dari keringat yang menempel seharian ini, dan Leo baru saja keluar dari kamar mandi masih dengan keadaan rambut yang basah. Kebiasaan Leo yang membuat Luna bosan menceramahi suaminya itu.
“Sini handuknya, biar aku yang keringin rambut kamu,” ucap Luna, yang mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk.
Leo menurut dan duduk di lantai, diantara kaki Luna. Membiarkan istrinya itu mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
“Yang, kok tadi kamu bisa sama Brian?” tanya Leo yang sudah Luna duga sebelumnya, bahwa suaminya itu sudah pasti akan membahas masalah tadi, meskipun sebelumnya baik-baik saja, tapi ini lah Leo, selalu membahas masalah yang sudah dingin.
“Gak sengaja ketemu tadi di café,” Luna menjawab dengan sejujurnya.
__ADS_1
“Masa? Kenapa kamu pilih café yang tadi coba, sedangkan di dalam mall itu masih banyak café lain yang lebih bagus. Apa emang sengaja janjian sama Si Brian itu?” tuduh Leo yang langsung saja mendapat pukulan sisir di kepalanya oleh Luna.
“Sembarangan aja kalau ngomong! Kamu sendiri kan tahu, aku gak pernah lagi tukar kabar sama teman-teman kampus kecuali Devi. Lagian tadi juga aku sempat gak kenal sama dia.”
“Kamu bohong gak?” tanya Leo untuk memastikan.
“Ya, kalau kamu mau nganggep aku bohong juga terserah,” jawab Luna mengedikan bahunya.
“Kok gitu? Berarti kamu beneran bohong dong?”
“Terserah kamu mau nganggap aku bohong atau jujur, yang penting aku udah jelasin yang sebenarnya, tapi jangan sampai nanti ketidak percayaan kamu itu membuat kamu terluka sendiri.”
Setelah mengucapkan itu, Luna pergi dari hadapan suaminya. Tugas mengeringkan dan merapikan rambut suaminya pun sudah selesai jadi tidak ada alasan untuknya masih duduk di sana, sedangkan hari sudah beranjak malam dan Luna belum sama sekali meyiapkan apa-apa untuk makan malam mereka nanti.
Leo sebenarnya bukan tidak percaya pada istrinya, tapi Leo tadinya hanya ingin memancing kekesalan istrinya yang akan membuat perempuan itu mengomel, dan Leo jadikan hiburan melihat wajah menggemaskan Luna yang marah. Tidak menyangka bahwa malah akan seperti ini tanggapan yang Luna berikan.
Mengutak atik ponsel untuk menemani kesendiriannya, Leo tak lama membelakan matanya dan turun dari tempat tidur, berjalan cepat keluar dari kamar menuju dapur dimana terdengar suara anak dan istrinya yang sedang tertawa-tawa. Luna yang lebih dulu menyadari ke hadiran Leo menghentikan tawanya, memperhatikan raut wajah suaminya yang terlihat shock juga kesal. Jangan lupakan juga, mulutnya yang bergerak-gerak, dan ponsel yang terus-terusan laki-laki itu tatap. Bukan lagi, ini sudah pasti Leo akan meng…
“Queen, masa kamu belanja bisa ngabisin uang Papi lebih dari sepuluh juta hari ini? Papi kan udah sering bilang Queen, kita itu harus hemat. Lagian kamu beli apa aja, sih, Nak, sampai bikin Papi kebobolan gini! Harusnya uang segitu cukup untuk kebutuhan kita semua selama enam bulan Queen! Astaga …!”
__ADS_1
Omelan Leo masih terus berlajut sampai Luna yang memasak dengan di bantu Bi Atin dan Queen selesai. Memang mereka bertiga sudah biasa mendengar dumelan Leo ini, Bahkan Queen yang menjadi target omelan Papinya itu terlihat masa bodo, tidak sedikitpun bocah itu merasa bersalah dan menanggapi papinya yang ngoceh sambil mondar mandi di sekitaran meja makan. Karena sang mami sudah pernah mengatakan untuk dirinya diam dan mengabaikan Papinya.
“Papi makan dulu,” kata Queen menepuk pipi Leo yang sudah duduk di kursi meja makan, menghentikan duluman Leo yang masih saja berlanjut.
“Kamu gak lihat ini Papi lagi bicara? Dengerin dong, Queen. Kamu itu kalau belanja yang seperlunya, yang pen…”
“Makan Dulu, Pi. Kata Mami ngomel juga butuh tenaga,” ucap Queen kembali memotong omelan Papinya yang berlanjut.
Leo hendak kembali mengeluarkan suara, tapi Luna lebih dulu menyumpat mulut suaminya yang terbuka dengan perkedel kentang yang di buatnya tadi. Leo melotot, sedangkan Luna hanya cuek saja.
“Makan, Le!” titah Luna memberikan piring yang sudah terisi penuh oleh nasi juga lauknya. Leo mencebikan bibirnya kemudian memakan apa yang ada di hadapannya. Queen hanya terkekeh geli di tempatnya, begitupun dengan Bi Nani yang juga makan bersama mereka.
Selesai makan, Luna mengira bahwa dumelan Leo akan kembali berlanjut, tapi ternyata tidak, karena kini suaminya itu sudah duduk bersama Queen, menonton televisi yang sekali-kali diikuti tawa keduanya.
Rupanya laki-laki itu sudah lupa dengan pengeluaran Queen yang membuatnya kesal, dan sudah kembali akrab seperti biasanya. Luna membawa nampan berisi susu coklat untuk Leo juga susu strawberry untuk anaknya dan duduk bergabung dengan kedua orang itu.
“Minum dulu susunya Pi, Queen,” kata Luna yang sama sekali tidak kedua orang itu hiraukan. Membuat Luna kesal sendiri.
“Tadi ngomel-ngomel, sekarang ketawa-ketawa. Istri di abaikan, waktu cemburu aja marah-marah!”
__ADS_1
“Kamu lagi ngedumel, Yang?”
“Bukan, lagi dzikir!” kesal Luna, lalu pergi dari hadapan suami dan putrinya itu.