Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
64. Sakit


__ADS_3

Di meja makan sudah duduk Queen, Rapa, Ratu, Lyra juga Pandu. Tawa dari kelima orang itu terdengar nyaring, entah apa yang tengah orang-orang itu bahas sampai menciptakan tawa ringan yang begitu enak di dengar.


“Pada ngobrolin apa sih, ketawanya sampai gitu banget?” Leo bertanya seraya menarik kursi yang belum terisi untuk istrinya duduki juga untuk dirinya sendiri.


“Kepo!” serempak kelimanya menjawab kemudian gelak tawa kembali berderai, membuat Leo mencebikan bibirnya, cemberut, sedangkan Luna hanya terkekeh pelan.


“Awas kalian!” delik Leo mengancam pada ketiga bocah yang duduk di seberangnya itu.


Luna mulai mengalas nasi juga lauknya ke piring Leo dan anak-anaknya, tidak lupa juga mengisi piringnya sendiri yang di ikuti oleh Lyra dan Pandu. Semua makan dengan tenang, walau sesekali di selingi dengan obrolan-obrolan ringan juga seputar keseharian anak-anaknya di sekolah, pembicaraan wajib setiap harinya untuk mengetahui perkembangan ketiga bocah itu juga untuk membuat suasana semakin hangat.


Selesai makan malam seperti biasa di lanjutkan dengan mengobrol dan bercanda sembari menonton televisi, atau juga membacakan dongeng pengantar tidur untuk ketiga bocah itu.


“Lo gak niat hamil lagi, Ly? Barengan lagi kayak Queen sama Ratu,”


“Gak deh, gue mau jadi warga Negara Indonesia yang baik dimana dua anak lebih baik,” jawab Lyra dengan ringan, tidak perduli bahwa laki-laki di sebelahnya melotot protes.


“Padahal gue masih pengen produksi dan panen, Le. Setidaknya dua atau tiga anak lagi gitu, eh malah udah di stop aja,” Pandu berkata dengan lesu.


“Jangan serakah, ***. Orang-orang banyak yang pengen punya anak, tapi belum di kasih juga sama Tuhan, kita harus bersyukur memiliki dua anak, lengkap pula, ada perempuan dan laki-laki jadi, gak usah merasa penasaran lagi.” Lyra berucap dengan lembut, memberi pengertian, mengusap lembut rahang laki-laki itu kemudian mendaratkan kecupan kilat di bibir tipis suaminya yang maju beberapa centi. “Produksinya masih boleh kok, kapanpun kamu mau,” lanjut Lyra mengedipkan sebelah matanya menggoda.


“Kayak perempuan penggoda aja lo, Ra!” cibir Luna mendelik jijik.


“Bodo amat, yang penting suami sendiri yang gue goda.” Jawabnya dengan cuek dan kembali melayangkan kecupan pada rahang dan bibir Pandu dengan cepat. Luna, Leo dan Lyra tertawa begitu puas begitu melihat wajah Pandu yang memerah dan tubuh yang tiba-tiba menegang.


“Anak-anak gue nginap di sini, Le,” ucap Pandu seraya menarik istrinya yang masih tertawa itu keluar dari rumah Leo-Luna.

__ADS_1


Tawa Leo semakin pecah, bahkan sampai memukul-mukul sofa juga memegangi perutnya saking puasnya dia tertawa, sedangkan Luna terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya.


“Udah ah, ketawanya Le, pindahin ke kamar itu anak-anak, kasihan gak nyaman tidurnya,” masih dengan sisa-sisa tawanya Leo mengangguk dan menggendong satu persatu anak itu menuju kamar Queen di lantai atas.


Tak lama Leo kembali setelah memindahkan ketiga bocah itu dengan memegangi pinggangnya yang terasa sakit akibat turun naik tangga sambil menggendong mereka bergantian yang bobotnya cukup berat.


“Udah tua aja ternyata gue, gendong bocah aja sampe sakit pinggang segala,” keluhnya sambil memijat-mijat pinggangnya, berjalan masuk ke dalam kamar dimana sang istri sudah duduk di tempat tidur.


Lebih dulu Leo masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka juga menggosok gigi, baru setelah itu menyusul Luna naik ketempat tidur dan berbaring di samping istrnya yang langsung merebahkan kepala di dada bidang Leo yang keras dengan tangan Leo yang melingkari pinggang Luna.


“Anak kita yang ini cewek apa cowok kira-kira?” Leo bertanya, tangannya asik mengusap rambut panjang Luna yang halus.


“Hmm, aku gak tahu. Kamu kamunya cewek apa cowok?” balik Luna bertanya.


“Apa aja sedikasihnya sama Tuhan. Aku gak akan nolak dan gak akan keberatan, bagi aku, mau perempuan atau pun laki-laki sama aja, yang penting itu mereka sehat begitu juga dengan kamunya,” ucap Leo dengan lembut


“Apapun, sayang, demi kamu aku akan berusaha selalu sehat.” Jawab Leo seraya melayangkan kecupan di puncak kepala sang istri.


♥♥♥


Hoekk… hoeekk


Luna terbangun dari tidur nyenyaknya begitu mendengar suara seseorang yang tengah muntah, langsung saja ia turun dari ranjangnya dan menghampiri asal suara. Di kamar mandi, nyatanya Leo sudah berdiri di depan wastafel dengan wajah lesu dan pucat membuat Luna khawatir dan langsung membawa minyak angin dari laci nakas dan kembali menghampiri sang suami, memijat pelan tengkuk Leo.


“Kenapa bisa muntah-muntah gini sih, Le?” cemas Luna.

__ADS_1


“Gak tahu aku juga, Yang, masuk angin deh kayaknya,”


“Makanya kamu tuh aku bilangin yang nurut dong, Le! Berapa kali aku bilang kalau tidur itu pakai baju, kamu malah ngeyel,”


“Ya, maaf, kan biasa… hoeekkk… nya gak kayak gini, Yang… hhoeekk.”


“BI, AMBILIN TEH HANGAT DONG!” teriak Luna masih dari kamar mandi, dengan harapan semoga saja teriakannya di dengar.


“Baru aja semalam kamu bilang gak akan sakit demi aku, ini belum juga dua puluh empat jam udah mulai sakitnya,”


“Ya, aku mana tahu, Yang, namanya juga manusia, cuma bisa berencana, sedangkan yang menentukan tetap Tuhan, bukan aku,”


Luna tidak lagi menjawab, memilih membantu suaminya itu untuk berjalan menuju tempat tidur. “Kamu diam disini dulu, aku ambil air hangat untuk kamu, Bibi gak dengar kayaknya,”


Hanya anggukan lemah yang Leo berikan untuk menjawab istrinya, merebahkan tubuh di empuknya kasur, Leo memijat kepalanya yang terasa pusing seraya memejamkan matanya berharap pusingnya reda.


Tak lama Luna kembali dengan segelas teh yang masih mengepul, duduk di sisi ranjang dan membantu Leo untuk mengangkat kepalanya agar bisa meminum air yang tengah di bawanya.


“Gimana? Mendingan?”


Leo mengangguk seraya kembali meletakan kepalanya di atas bantal, memejamkan mata untuk beberapa saat sebelum rasa mual itu kembali menyerang dan membuat Leo harus kembali lari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Luna mengikuti dengan raut wajah cemas, kembali memijat tengkut suaminya dan memberinya minyak angin. Sepuluh menit berada di depan watafel membuat Leo pegal juga semakin lemas dan wajahnya pun semakin pucat, menambah rasa khawatir Luna.


“Jangan sakit dong, Le, aku sedih tahu gak?”

__ADS_1


“Maaf buat kamu cemas, Yang,” sesal Leo menyeka air mata yang menggenang di sudut mata istrinya.


__ADS_2