
Melinda dan Wisnu masuk lebih dulu dengan membawa serta baby Queen, sedangkan Leo berjalan belakangan karena harus membopong Luna yang masih belum sepenuhnya pulih dari operasi cessarnya. Meskipun wanita itu berkata bahwa dia bisa sendiri, sebagai suami tentu saja Leo tidak akan membiarkan itu.
Di dalam rumah sudah ada para orang tua juga Rapa, Devi dan Lyra sedangkan yang lainnya akan datang pada sore hari sepulang dari bekerja. Leo mendudukan Luna di atas ranjang dengan tumpukan bantal di belakangnya agar wanita itu bisa bersandar nyaman, sedangkan baby Queen di tidurkan di sebelah Luna oleh Melinda.
“Aik, Nda aik asul … uin …”
Lyra yang paham dengan apa yang di maksud anaknya itu langsung mengangkat tubuh gempal Rapa dan mendudukannya di kasur dekat dengan baby Queen. Bocah itu mendekat dan mengelus pipi bayi mungil itu dengan lembut, memberikan kecupan kecil kemudian bertepuk tangan sendiri sambil tertawa-tawa. Tingkah lucu Rapa itu membuat semua orang yang ada di sana gemas, apa lagi Lyra selaku orang tuanya.
“Abang, suka baby Queen?” Lyra bertanya pada anak lelakinya itu. Rapa mengangguk dan kembali menyentuh wajah cantik bayi yang usianya belum genap satu minggu itu.
Memang sejak kehamilannya mulai membesar Lyra dan Pandu membiasakan memanggil bocah laki-laki itu dengan sebutan Abang karena bagaimana pun sebentar lagi adiknya akan lahir.
“Kecil-kecil tahu aja lo sama cewek cantik,” ucap Devi seraya mencubit gemas pipi tembam keponakannya itu. Rapa hanya tertawa-tawa lucu, merasa geli dengan gesekan-gesekan wajah Devi pada wajahnya.
“Gak iri kamu, Dev sama Lyra dan Luna?” tanya Tina pada anak semata wayangnya itu.
“Iri kenapa memangnya Ma?” Devi balik bertanya karena tidak paham.
__ADS_1
“Punya bayi,”
“Lah, Devi juga kan lagi hamil Ma, kenapa harus iri sama mereka coba?”
“Kamu hamil? / Lo hamil Dev?” Teriak semua orang disana bersamaan.
“Lah, emang Devi belum ngasih tahu, ya?” Devi bertanya polos kemudian cengengesan saat dilihatnya semua orang yang ada di sana menatap horror meminta penjelasan.
“Devi emang lagi hamil kok, Ma dua hari yang lalu baru di periksa dokter saat pulang jenguk Luna. Levin penasaran soalnya Devi jadi banyak makan dan pengennya rujak manga hampir setiap pag jadi, dia curiga karena perubahan badan Devi. Awalnya beli tespack, tapi sudah tiga kali coba tetap aja hasilnya negatif, tapi setelah di periksa ke dokter hasilnya justru positif dan usia kandungan Devi udah 14 minggu.” Devi menjelaskan sambil tersenyum-senyum bahagia.
“Selama itu kamu gak menyadari bahwa kamu hamil?” Tina bertanya tak percaya.
“Mama juga sebenarnya udah curiga, Dev dari awal kamu selalu minta rujak manga, tapi kamu selalu nyangkal gara-gara hasil tespack yang selalu negatif. Padahal Mama sering minta kamu untuk periksa kedokter, tapi malah gak mau terus.” Linda cemberut di tempatnya.
“Maafin Devi, ya, Ma, abis Devi takut kecewa dengan hasilnya yang gak sesuai harapan.” Jawab Devi mengutarakan apa yang sempat di takutkannya.
Semua mencoba mengerti dengan alasan yang di berikan wanita itu. Satu persatu dari mereka mengucapkan selamat atas kehamilan Devi, yang sebentar lagi akan menyusul Luna dan Lyra.
__ADS_1
“Jaga baik-baik kandungan kamu ya, Nak, Mama gak mau sampai cucu Mama kenapa-napa.” Devi melakukan hormat dengan tegas seraya tersenyum menyetujui perkataan sang Mama.
“Lo gak ada mual-mual gitu, Dev?” tanya Lyra yang memang sejak kehamilan pertama dan keduanya mengalami gejala itu meskipun yang kedua ini tidak separah sebelumnya.
“Di gue mah hamilnya gak lebay seperti kalian, yang setiap pagi mual-mual ngidam ini itu, apa lagi si Luna sampai gak mau dekat-dekat Leo. Gue mah baik-baik aja.” Dengan sombongnya Devi berucap.
“Iya, kehamilan lo memang gak lebay-lebay Dev, tapi sayang lo gak ada moment ngerjain laki lo, ngebuat laki lo kalang kabut, uring-uringan dan stress nurutin ngidam lo. Gue mah puas Si Leo hampir gila waktu itu.”
“Nah bener tuh kata Luna, kapan lagi coba ngerjain suami kalau bukan pas lagi ngidam?” Lyra menyetujui.
“Ya, gimana dong, bayi gue nya baik sih, jadi gak ada permintaan tertentu juga gak pernah ngerasa mual-mual, masa iya gue harus pura-pura? Dih ogah banget gue nyiksa diri sendiri.” Devi bergidik ngeri hanya sekedar membayangkannya saja.
“Tapi benar loh Dev, meskipun saat itu gue ngerasa kesal dan pengen banget nendang bini gue yang ngidamnya naudzubilah itu, tapi gue ngeras bahagia aja gitu ngelakuinnya.” Kata Leo mengingat masa-masa menyebalkan istrinya.
“Memang tidak semua wanita hamil itu mengalami masa ngidam, morning sickness, perubahan sifat, mood dan lain sebagainya. Sama seperti kehamilan Devi ini, tapi itu normal, kok. Yang penting Devi tetap makan makanan yang bergizi dan kaya akan vitamin untuk menjaga kehamilan kamu, juga menjaga daya tahan tubuh kamu sendiri, meskipun begitu tetap ada beberapa makanan yang harus kamu hindari seperti memakan nanas, durian, telur mentah, ikan mentah, nah ibu hamil muda juga jangan terlalu banyak minum-minuman yang berkafein, coklat juga, kerena itu berpoensi mengganggu perkembangan janin.” Tina yang memang dulu pernah kuliah jurusan keperawatan itu sedikit-sedikit tahu dan paham. Devi mengangguk mengerti begitu juga kedua wanita muda lainnya yang memang pengetahuannya masih belum seluas para orang tua mereka.
Tak lama Bi Atin juga Bi Nani datang dengan masing-masing nampan di tangannya membawa minuman juga cemilan untuk menemani ngobrol mereka yang ada di kamar Luna. Kedua ART itu juga ikut bergabung dan ngobrol, membahas bagaimana perasaan Luna setelah melahirkan bayinya, menjadi orang tua baru di usia yang masih terbilang muda, juga suka dukanya saat mengandung Queen.
__ADS_1
Memang binar kebahagian itu tidak Luna dan Leo sembunyikan karena bagaimanapun mereka ingin semua orang bahkan dunia tahu bahwa diri keduanya bahagia dengan kehadiran malaikat kecil yang hadir di tengah-tengah pernikahan mereka. Dan kebahagian semua orang itu bertambah dengan kabar kehamilan Devi.