
Leo begitu melihat Luna pergi langsung berlari meninggalkan Pandu dan perempuan yang baru saja mengajaknya kenalan tidak perduli dengan sapaan orang-orang di koridor ini, karena yang penting sekarang adalah istrinya. Ia yakin bahwa Luna marah.
“Yang,”
Dengan napas yang ngos-ngosan Leo berdiri di samping istrinya yang duduk di kursi kantin, dapat ia lihat wajah perempuan cantik itu merenggut kesal dan langsung memalingkan wajahnya.
“Sayang,”
“Ck, apa sih? Pergi sana, aku gak mau lihat kamu!”
“Jangan marah dong, Yang. Tadi dia ngajak kenalan masa iya gak aku respon, kan gak baik nanti di sangka sombong …”
“Ya udah, sana kamu ladenin tuh cewek-cewek yang minta kenalan, dasar genit!” potong Luna cepat.
Devi yang menyaksikan perdebatan sepasang suami istri itu hanya diam menonton sambil menyuapkan bakso yang semula di pesannya, bagai berada di bioskop versi nyata. Geli juga sebenarnya melihat ini, tapi Devi juga penasaran dengan endingnya.
Tak lama Pandu duduk bergabung di samping Devi dengan membawa semangkuk soto dan langsung melahapnya tanpa memperdulikan kedua orang di depannya yang masih juga asik berdebat. Bahkan beberapa orang yang mejanya dekatpun ikut menyaksikan dan penasaran dengan hubungan antara Luna dan si anak baru yang baru hari ini masuk. Namun sudah menjadi pembicaraan banyak orang termasuk kalangan perempuan.
“Aku gak genit sayang, hanya mencoba ramah aja. Kamu kan tahu aku orangnya emang gak bisa datar dan cuek kayak Pandu.”
Leo terus membujuk sang istri yang tengah cemburu. Ada rasa bahagia karena merasa di cemburui, tapi juga sedikit kesal dan pusing menghadapi perempuan cemburu karena jujur ini pengalaman pertamanya jadi, Leo tidak tahu harus membujuknya seperti apa.
“Pan, lo jangan diam aja dong, bantu gue napa? Lo kan tahu sendiri tadi yang ngajak kenalan duluan si Mira itu,” ucap Leo meminta pembelaan pada Pandu yang malah tidak sama sekali merespon dan malah terus melahap soto di hadapannya.
__ADS_1
Leo yang merasa di acuhkan pun mendesah frustasi menggeser kursinya untuk lebih dekat pada Luna yang masih saja enggan menatap wajahnya. “Ok aku minta maaf, janji gak akan ladenin perempuan-perempuan yang pada minta kenalan itu lagi,”
“Dev, pergi yuk,” ajak Luna pada Devi yang baru saja menghabiskan makanannya. Mengabaikan Leo yang terus merengek meminta maaf, Luna bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu. Devi lebih dulu menghabiskan minumannya sebelum menyusul Luna. Dan Leo menggaruk kepalanya tidak tahu harus bagaimana.
“Makanya Le, lebih baik jadi laki-laki cuek dari pada Ramah apa lagi sudah punya istri. Ribet sendiri kan jadinya sekarang?”
Leo bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Pandu untuk mengejar istrinya. Luna dan Devi memang tidak berjalan cepat apa lagi berlari jadi masih dapat dengan cepat Leo raih tangan istrinya itu dan menariknya untuk masuk kedalam pelukannya. Luna tentu saja terkejut bahkan sempat menjerit saking kagetnya menarik perhatian orang-orang yang kebetulan berada di sekitar mereka.
“Lepas Leo!”
“Gak! Pokoknya kamu harus maafin aku dulu, Yang, aku gak akan tenang kalau kamu masih marah gini. Maafin aku please, janji gak akan ladenin perempuan manapun lagi. Maafin aku please!” mohon Leo memelas masih dalam posisi memeluk istrinya. Tentu saja banyak orang yang menonton dan bertanya-tanya.
“Leo lepasin aku. Malu Le,” ucap Luna yang terus mencoba mendorong tubuh suaminya.
“Leo ih lepas!”
“Gak, sebelum kamu maafin aku,” tolak Leo keras kepala.
“Oke aku maafin. Lepas Le,” lembut Luna bicara dan itu sukses membuat Leo melonggarkan pelukannya.
Wajah laki-laki itu mengukir senyum lebar, membuat beberapa perempuan yang menonton mereka menjerit tertahan karena terpesona, sedangkan Devi yang berada di antara sepasang pengantin baru itu hanya memutar bola mata malas.
“Benar maafin aku?” Leo bertanya sekali lagi untuk memastikan. Luna sebenarnya masih sedikit kesal, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak ingin semakin banyak orang berkerumun dan menyaksikan drama antara dirinya dengan Leo. Luna malu karena ia memang tidak suka menjadi sorotan orang-orang.
__ADS_1
“Iya aku maafin.”
“Kok kedengarannya gak ihklas, ya?” Leo melepaskan pelukannya beralih memegang pundak istrinya agar ia bisa melihat raut wajah perempuan cantik itu.
“Ulangi,” pinta Leo membuat Luna mendesah dan Devi memutar mata malas, jengah melihat drama di depannya. Devi menarik tangan Luna dan membawa sahabatnya itu dengan cepat pergi dari kerumunan orang-orang yang menonton, mengabaikan panggilan Leo.
Hendak mengejar, tapi sebuh tangan lebih dulu menepuk pundaknya, Leo menoleh dan terlihat Pandu berdiri di belakangnya.
“Bentar lagi kelas selanjutnya, Le dan Luna pun mungkin masih ada kelas, Selesaikan rumah tangga lo nanti di rumah, jangan di kampus. Malu, orang-orang pada nontonin.”
Mendesah pasrah akhirnya Leo membiarkan istrinya pergi. Satu persatu semua orang yang berkerumun membubarkan diri dengan raut kecewa juga penasaran. Leo hendak pergi bersama Pandu, tapi harus tertahan karena sebuah lengan mungil menahannya, membuat Leo dengan cepat menepis karena tidak ingin Luna kembali salah paham dan berakhir dengan marah, sedangkan yang tadi saja masih selum selesai.
Menaikan sebelah alisnya Leo lakukan seolah bertanya. Dulu sebelum menikah Leo memang senang menjadi pusat perhatian dan menjadi idola para perempuan, tapi saa ini dan melihat kecemburuan Luna tadi membuat Leo jadi merasa risi saat ada perempuan yang mendekainya seperti sekarang. Entah kenapa, tapi epek Luna begitu besar. Leo tidak ingin istrinya salah paham, tidak ingi Luna marah dan lebih tidak ingin membuat perempuan yang di cintainya itu meneteskan air mata karenanya. Maka dari itu mulai sekarang ia akan menjaga jarak dari perempuan mana pun.
“Lo kenal perempuan tadi?” perempuan itu bertanya.
“Kenapa emang?” dingin Leo berucap membuat perempuan di depannya yang tak lain adalah perempuan yang tadi mengajaknya kenalan dan entah siapa itu namanya Leo lupa terkejut dengan nada bicara laki-laki itu.
“Gak apa-apa sih, gue cuma tanya aja.” Gugup perempuan itu menjawab, menunduk saat mendapat tatapan dingin laki-laki yang bahkan satu jam yang lalu masih menampilkan senyum ramahnya.
“Dia Luna Alisya, istri gue.”
Setelah mengatakan itu Leo menoleh pada Pandu memberi isyarat untuk pergi dari sana, yang dengan cepat sahabatnya itu ikuti. Meninggalkan perempuan yang amat sangat ketara terkejut di tempatnya akibat ucapan yang keluar dari mulut Leo.
__ADS_1