Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
6. Butik


__ADS_3

Pagi ini Leo kembali datang kerumah calon mertuanya, jelas menuruti titah dari sang kanjeng Ratu, dan Baginda Raja yang tidak lain dan tidak bukan adalah kedua orang tuanya. Setelah mematikan mesin, Leo turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah Luna yang kosong karena Sari, ibu dari calon istrinya sudah lebih dulu berangkat ke butik bersama Melinda.


Kenapa Leo bisa tahu bahwa calon mertuanya itu tidak ada dan berani sekali masuk kedalam rumah ini? Jawabannya karena Leo sudah mendapat izin dari sang nyonya rumah saat dirinya masih di perjalanan tadi.


Langkah Leo membawanya menuju kamar Luna, mengetuk beberapa kali yang tidak juga mendapat jawaban membuat Leo berinisiatif untuk masuk tanpa di persilahkan.


“Bangun woy!” Leo berteriak cukup keras tepat di telinga Luna yang masih anteng bergelung dalam selimut tebal berwarna merah mudanya. Mendengar suara lantang itu jelas membuat Luna terkejut dan langsung duduk di tempat tidurnya, menatap tajam Leo yang sama sekali tidak merasa bersalah.


“Setan! Gak bisa apa lo bangunin gue secara lembut?” berang Luna yang tidak terima tidurnya terganggu.


“Buruan mandi terus siap-siap, Emak-Emak udah nunggu di butik,” ucap Leo tanpa menghiraukan kemarahan Luna.


“Ck. Bodo amat ah, lagian siapa juga yang pengen nikah,” cuek Luna menjawab dan kembali berbaring.


“Lo bangun dan mandi sendiri atau gue yang seret lo ke kamar mandi dan sekalian gue mandiin?” ucapan yang terdengar sebagai ancaman itu tidak Luna hiraukan. Toh bagaimana mungkin laki-laki itu berani menyeret dan juga memandikannya? Ancaman basi!


Leo mengetatkan rahangnya saat melihat Luna yang malah menarik kembali selimut hingga menutupi kepala. Tanpa bicara lagi, Leo langsung menganggat tubuh ramping itu dan membawanya kekamar mandi, tidak perduli Luna meronta dan memukul-mukul dadanya minta di lepaskan. Gadis itu sudah meremehkan ancamannya, maka biar Leo tunjukan bahwa itu bukan sekedar ancaman biasa.


“Turunin gue, Leo setan! Woy turunin!”


Luna terus meronta, tapi Leo tetap tidak mendengarkan dan baru menurunkan calon istrinya itu saat sampai di bawah sower dan ia langsung menyalakannya hingga air mengucur dan membasahi baju yang masih Luna kenakan juga sedikit mengenai kaos yang di pakainya karena Luna yang sempat menjerit dan menghindar dari dinginnya air tersebut.

__ADS_1


“Lo mau mandi sendiri apa gue yang mandiin?” Leo bertanya dengan nada menyebalkan yang membuat Luna mendaratkan sebuah tendangan pada kaki laki-laki tampan itu.


“Aw, sakit bego!” jarit Leo tak terima.


“Makanya jangan sembarangan kalau ngomong. Sana pergi lo, gue mau mandi.” Leo akhirnya mengalah dan pergi dari sana membiarkan sang calon istri mandi, sedangkan dirinya pun harus berusaha mengeringkan kaos yang di kenakannya karena sedikit basah.


Satu jam sudah Leo menunggu calon istrinya itu di sofa ruang tengah, namun tidak juga ada tanda-tanda akan kemunculan perempuan cantik itu. Kembali menghela napas entah untuk keberapa kalinya Leo bangkit dan berjalan menaiki anak tangga mengetuk pintu bercat pink yang beda dari yang lain itu beberapa kali sampai akhirnya Leo memutuskan untuk membuka pintu tersebut karena tidak juga ada jawaban dari pemilik kamar.


Betapa kesalnya Leo saat menemukan perempuan itu tengah asik memainkan ponsel dengan headpone menutupi kedua telinganya, pantas dari tadi ia mengetuk pintu tidak mendapat jawaban apapun.


“Dari tadi gue nunggu, dan lo malah asik sendiri? Lo gak dengar tadi gue ngomong apa?” Leo melepas Headpone yang menyumpal telinga Luna dan melemparnya sembarang, menatap gadis itu dengan datar dan dingin.


“Lo apa-apaan sih, Le main lepas aja. Ganggu tahu gak?!”


Leo tidak menghiraukannya, terus menarik gadis itu keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan sampai di depan mobil yang tadi Leo kendarai.


“Masuk!” titah Leo dingin.


“Gak!” Luna menolak dengan keras kepalanya, gadis itu membalas tatapan laki-laki di depannya dengan menantang.


“Gue baru tahu kalau lo ternyata batu,” ucap Leo dengan nada datar. Menghela napas lelah sembari memejamkan matanya kemudian kembali menatap perempuan cantik yang dalam hitungan hari akan menjadi istrinya.

__ADS_1


“Lo mau masuk sendiri apa gue yang masukin lo?” ucapan Leo yang terdengar ambigu itu membuat Luna bergidik, pikirannya melayang ke hal yang iya-iya sampai akhirnya Luna memilih untuk masuk kedalam mobil Porsche putih milik Leo dan kembali menutup pintu mobil dengan sedikit membanting sampai Leo yang masih berada dekat dengan pintu tersebut terlonjak kaget.


“Kalau sampai mobil gue rusak awas lo, Lun!” teriak Leo dari luar yang masih mengelus-elus mobil kesayangannya, dan meneliti setiap jengkal takut-takut ada yang lecet setelah memastikan semuanya baik barulah Leo bergerak menuju pintu satunya dan masuk, duduk di balik kemudi.


Menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan si putihnya ke luar dari pekarangan rumah Luna, menyusuri jalanan yang cukup lenggang dalam kesunyian karena tidak ada yang ingin memulai sebuah obrolan. Luna duduk anteng tanpa pernah sedikit pun menoleh pada Leo, sedangkan laki-laki tampan yang tengah mengemudi itu sesekali menoleh pada perempuan yang duduk di sampingnya dan kemudian akan mendengus masih kesal saat kembali teringat bahwa tadi perempuan itu sudah membuatnya menunggu dengan bosan.


“Turun!” perintah Leo saat mobilnya sudah terparkir di sebuah butik tempat orang tuanya menunggu sedari tadi.


Dengan malas, Luna keluar dan berjalan mengikuti Leo yang jalan lebih dulu, masuk kedalam butik yang di dalamnya berjejer begitu banyak gaun pernikahan yang begitu indah.


“Kalian kemana dulu sih jam segini baru datang?” Sari, Mama Luna menarik anaknya untuk lebih masuk kedalam butik dan langsung meminta anaknya itu untuk mencoba gaun yang sudah jauh-jauh hari di pesan. Luna hanya menurut tanpa protes sedikit pun, bukan karena menerima begitu saja pernikahan ini. Namun Luna terlalu lelah untuk kembali berdebat yang tentu saja tidak akan pernah ia menangkan.


Leo yang di sodorkan sebuah jas berwarna hitam oleh sang Bunda pun segera masuk ke dalam kamar pas tanpa membantah sedikit pun, jika boleh jujur sebenarnya Leo bahagia, tapi ia tidak ingin menunjukan kebahagiaannya ini di depan keluarganya apalagi di depan gadis yang akan ia nikahi, bisa-bisa besar kepala perempuan batu itu nanti.


Tak lama Leo keluar, dan memperlihatkan tampilannya pada sang Bunda juga si pemilik butik yang juga berada di tempat itu bersama ibu dan calon mertuanya.


“Duh ganteng banget anaknya Bunda,” puji Melinda, berdiri dan menatap tampilan anaknya secara menyeluruh.


“Anak Bunda udah ganteng dari brojol jadi, Bunda gak usah kaget gitu,” ucapan percaya diri itu membuat si pemilik Butik tersenyum begitu juga dengan Sari berbeda dengan Melinda yang malah melayangkan cubitan di tangan sang putra.


Beberapa menit kemudian Luna pun keluar dalam balutan gaun pengantin berwana putih berpotongan Sabrina. Leo akui walau tanpa polesan make up calon istrinya itu tetap terlihat cantik. Jelas Leo hanya memujinya dalam hati, sakali lagi Leo tidak ingin wanita yang akan di nikahinya itu besar kepala.

__ADS_1


“Lihat Bang calon istri kamu, cantik kan?” Melinda berkata dengan ceria. Luna tentu tersenyum mendengar pujian yang di layangkan calon mertuanya.


“Biasa aja,” jawaban singkat dan datar Leo itu lah yang membuat senyum di bibir Luna surut dan di ganti dengan dengusan kesal. Walau laki-laki itu bicara seperti itu, Sari dan Melinda bisa melihat bahwa mata Leo tidak bisa berbohong, laki-laki muda itu terpesona.


__ADS_2