Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
Bonus Chapter


__ADS_3

"Le, Leo bangun, Le,” Luna sedikit mengguncang tubuh suaminya yang masih saja lelap dalam tidurnya, beberapa kali menghela napas lelah dan meringis saat rasa sakit di perutnya lagi-lagi dirinya rasakan.


“Pi, bangun dong, ini Mami udah gak kuat lagi,” ucap Luna meringis pelan.


“Astaga, kenapa gue punya suami kebo gini, Ya Tuhan!” menarik napas perlahan, Luna kemudian berteriak untuk membangunkan suaminya itu, sampai membuat Leo langsung terduduk di tempat tidurnya dengan mata memerah karena di paksa untuk terbuka.


“Le, please aku udah sakit ini, anak kita udah pengen keluar,” ucap Luna dengan suara lirih.


“Kamu mau lahiran, Yang? Bukannya dokter bilang satu minggu lagi?”


“Astaga Leo, bisa gak sih bawa aku ke rumah sakit aja sekarang! Kamu gak tahu ini aku udah gak tahan?!” sentak Luna keras dan itu sukses membuat Leo terperanjat kaget, kemudian refleks bangun untuk mengangkat tubuh istrinya yang cukup berat itu.


“Bi Atin ambil perlengkapan Luna sekarang, cepat kita ke rumah sakit!" teriak Leo membuat seisi rumah berhamburan keluar dari kamar masing-masing, beruntung hari sudah beranjak pagi, jadi Bi Atin yang memang sudah bangun dengan cepat menuju kamar majikannya dan meraih tas perlengkapan persalinan yang sudah di siapkan dari seminggu yang lalu.


“Papi, Queen ikut!” teriak anak perempuan itu berlari menuruni tangga.


“Pak bukain!” teriak Leo pada satpamnya. Dengan sigap satpam tersebut berlari membukakan pintu mobil Leo dan kembali berlari lagi untuk membuka gerbang.


Queen sudah duduk di jok belakang, berdiri berpegangan pada sandaran kursi yang di duduki sang mami yang wajahnya sudah basah oleh keringat, dengan telaten bocah itu mengusap pelipis Luna menggunakan tisu.


Leo menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, meskipun panik dan ingin segera sampai di rumah sakit, tapi Leo tetap memilih untuk tetap hati-hati, karena bagaimana pun ia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan membahayakan nyawa orang-orang yang dibawanya.


Sesampainya di rumah sakit, Leo langsung meminta suster jaga untuk membawa brangkar, berusaha setenang mungkin walau kenyataan tangan dan kakinya gemetar karena panik.


Queen berlari mengikuti sang papi yang berjalan dengan cepat dengan beberapa suster yang mendorong brangkar Luna, begitu pun dengan Bi Atin yang mengikuti mereka dengan napas terengah dan jantung yang berdebar hebat, panik juga lelah akibat berjalan cepat mengikuti majikannya.


Satu minggu lalu ketika Luna periksa kandungan, memang dokter mengatakan bahwa kemungkinan Luna kembali menjalani operasi Cessar, dan beruntungnya itu semua sudah Leo persiapkan, jadi Luna bisa langsung di tangani oleh dokter.


Rasa panik yang enam tahun lalu dirinya rasakan kini kembali lagi, hanya saja saat ini tidak sepanik dulu ketika Queen akan di lahirkan.


“Papi, Mami baik-baik aja ‘kan?” tanya Queen menghampiri Leo yang duduk dengan cemas di ruang tunggu depan kamar operasi.


“Mami baik-baik aja, Nak, pasti!” ucap Leo yang juga menyakinkan dirinya.


Leo membawa Queen dalam pangkuannya, memeluk anak pertamanya itu, dan sesekali melayangkan kecupan-kecupan pada puncak kepala Queen.

__ADS_1


Dokter yang akan melakukan operasi pada Luna baru saja masuk ke dalam ruangan dan itu membuat Leo semakin merasa cemas. Dalam hati, Leo terus merapalkan doa untuk keselamatan istrinya yang tengah berjuang untuk melahirkan anak kedua mereka.


🍒🍒🍒


Akibat ponsel tertinggal, Leo jadi tidak bisa mengabari orang rumah padahal ia ingin sekali memberitahukan pada keluarga juga sahabatnya bahwa Luna sudah berhasil melahirnya putri kedua mereka.


Meskipun awalnya Leo menginginkan anak laki-laki, tapi ia tidak menyesal begitu mendengar kabar bahwa anaknya kembali perempuan. Leo bahagia asal anak dan istrinya dalam keadaan sehat. Bersama Queen, Leo menengok anak keduanya di ruangan khusus bayi. Queen yang terlihat begitu bahagia, walau pada awalnya sedikit kecewa karena adik bayinya hanya ada satu.


“Loh, Le, kok lo ada disini? Ngapain?”


“Kebetulan lo ada, gue pinjam ponsel lo, mau hubungin keluarga juga yang lainnya. Luna udah lahiran, tadi pagi." Kata Leo menengadahkan tangannya. Senyum terukir bahagia di wajah laki-laki itu dan sedetik kemudian Amel mengeluaran ponselnya dan memberikan pada sahabatnya itu.


“Sekarang Luna di rawat dimana? Anak lo laki apa perempuan?” tanya Amel dengan antusias.


“Adik bayinya Queen perempuan Aunty, tuh, yang itu,” tunjuk Queen ke arah box bayi yang berada di dalam ruangan khusus itu. Amel mengikuti telunjuk mungil Queen.


“Yang pink itu,” tanya Amel, yang di jawab anggukan oleh bocah perempuan itu.


Mata Amel tertuju pada bayi mungil di depan sana, menatapnya dengan senyum yang terukir indah dan mengucapkan serangkaian doa terbaik untuk bayi Luna yang berada di dalam.


“Nih, Mel. Thanks, ya,” ucap Leo menyerahkan ponsel itu kepada sahabatnya dan menoleh pada box bayinya sekilas sebelum mengajak Queen untuk kembali ke kamar rawat Luna.


🍒🍒🍒


Siang hari kamar rawat Luna sudah penuh oleh orang tua dan sahabat-sahabatnya, meramaikan suasana yang semula sepi. Luna sudah bangun dari tidurnya sejak dua jam yang lalu, bayi mereka pun sudah suster pindahkan keruangan ini, karena tidak ada yang mesti di khawatirkan dari bayi perempuan mungil itu.


“Beneran ini mah, Le, lo di suruh coba lagi,” kata Pandu menoleh pada sahabat satunya itu.


“Iya kayaknya. Ya, semoga aja pabriknya masih bersedia produksi,” balas Leo yang kemudian mendapat jitakan dari sang istri.


“Anak baru lahir, udah ngomongin produksi lagi aja lo, Le, ingat puasa, woy!” seru Levin menoyor kepala Leo.


“Dih sirik aja lo, Bang mentang-mentang udah di stop!” cibir Leo.


“Sialan!” dengus Levin kesal, dan itu sukses membuat semua yang ada di sana tertawa.

__ADS_1


Devi dan Lyra memang sudah meminta suaminya itu untuk berhenti membuat para istri berkembang biak, kedua perempuan itu bilang bahwa para suami harus bersyukur dengan adanya anak-anak yang sekarang ini.


“Udah di kasih nama belum, Le, Lun?” tanya Lyra pada kedua sahabatnya. Keduanya menggelengkan kepala.


“Gue aja deh yang ngasih nama,” kata Dimas mengangkat tangan.


“Gak perlu Dim, gue masih mampu kok,” jawab Leo dengan cepat.


“Ck, gue manyumbang nama ini, malah lo tolak!”


“Gue butuhnya sumabangan dana, bukan nama,” balasnya mendelik.


“Waktu lahiran Queen udah gue sumbang sebanyak itu, Le kalau-kalau lo lupa!” delik Dimas kemudian memutar bola matanya. Sahabatnya itu memang kadang tidak tahu diri.


“Mau pamrih lo?”


“Udah gak usah mulai berdebat, deh. Biar gue aja yang kasih nama,” kata Lyra menengahi.


“Ck, gak perlu, biar gue aja yang kasih nama,” kata Leo yang masih kekeh akan memberi nama pada anaknya sendiri.


“Diam Le, gue gak nerima penolakan. Pokoknya tetap gue yang akan ngasih nama.” Finalnya tak bisa di bantah.


“Siapa namanya, Ra?” Luna membuka suara.


“Laura Priela Arsyatami,” kata Lyra setelah beberapa saat terdiam.


“Artinya apa?” Devi bertanya dengan kening berkerut.


“Gak tahu gue, hehe. Jangan di ganti! Bagus tahu namanya,” kata Lyra mencegah siapa saja yang hendak melayangkan protesan.


Luna yang memberikan anggukan pertama kali setelah berpikir bahwa nama yang di berikan Lyra pada anaknya itu tidak terlalu buruk di dengar.


“Hallo baby, Priela. Panggil aku Kakak Queen, ya,” kata Queen tiba-tiba, mengalihkan tatapan semua orang yang berada di sana dan tersenyum menyetujui panggilan yang di berikan bocah itu.


“Bang Rapa jangan suka Priela, ya, kan Abang punyanya Queen,” ucap polos Queen, menoleh pada Rapa yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Cuma Queen, kok yang akan tetap Abang suka meskipun Priela lebih lucu.”


END


__ADS_2