
Semenjak kepulangan dari Bali beberapa minggu lalu, Luna merasa bahwa tubuhnya sering tak enak dan kepalnya pun sering kali terasa pusing. Leo berkali-kali membujuk untuk di bawa kerumah sakit namun Luna selalu menolak dengan alasan bahwa dirinya hanya masuk angin.
Hari ini Luna berada di rumah seorang diri, karena Leo sejak pagi sudah berangkat ke kantor Ayahnya. Tadinya ia berniat untuk main ke rumah Lyra tapi saat baru saja akan menuruni tangga rasa pusing juga mual menyerangnya membuat Luna kembali lari ke kamar dan masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya.
Sudah tiga pagi selalu seperti ini, tapi anehnya saat siang datang kaadaan Luna baik-baik saja. Ketika mualnya sudah tidak lagi ia rasakan Luna keluar dan membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memainkan ponselnya. Selesai membaca artikel di google, kini Luna terdiam, mencerna juga menduga-duga sampai beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju dapur dan memanggil asisten rumah tangganya untuk ia pinta membeli sesuatu ke apotik.
Dalam hati ia berharap bahwa akan mendapatkan kabar bahagia setelah ini. Luna duduk di sofa ruang tamu, menunggu ARTnya itu kembali dengan tidak sabar. Setengah jam akhirnya yang di tunggu datang dan Luna langsung menghampiri wanita paruh baya itu.
“Bibi jangan dulu bilang-bilang ya, apa lagi sama Leo,” ucap Luna yang mendapat acungan jempol dari wanita baya itu.
Naik kembali ke kamar, Luna masuk kedalam kamar mandi untuk menggunakan alat persegi panjang kecil itu setelah lebih dulu mengeceknya. Menunggu sambil mondar mandir di dalam kamar mandi, Luna terus berdoa bahwa hasilnya akan seperti harapannya.
Dan tepat lima menit, Luna melihat hasil dari benda tersebut dengan perlahan dan begitu mendapatkannya refleks Luna menjerit tertahan dan air matanya mengalir begitu deras. Antara percaya dan tidak Luna terus menatap benda tersebut bahkan saat di kamar sekali pun benda itu tidak lepas dari tangannya, senyum pun tidak luntur saking bahagianya ia hingga suara ceklek pintu terbuka membuat Luna terkejut dan buru-buru menyembunyikan benda itu di bawah bantalnya.
Senyum lebar ia berikan saat Leo berjalan menuju kearahnya. Luna bangkit dari duduknya menghampiri sang suami dan menyalami punggung tangan Leo yang di balas laki-laki itu dengan kecupan pada kening Luna.
__ADS_1
“Cape?” Luna bertanya, setelah meraih tas Leo dan meletakannya di atas meja belajar yang berada di sudut kiri kamarnya.
“Lumayan,” jawabnya tersenyum. “Keadaan kamu gimana? Udah baikan? Pusingnya?” lanjut Leo seraya menyentuh kening Luna dengan raut khawatir.
“Aku udah gak apa-apa sayang, udah enakan kok sekarang.” Jawab Luna tersenyum berusaha meyakinkan suaminya itu.
Menghela napas lega Leo lakukan kemudian mendaratkan kecupan pada kening istrinya dengan cukup lama dan penuh sayang. Dalam hati Luna terus memikirkan kapan kira-kira waktu yang tepat untuk memberi tahu Leo tentang kabar bahagia ini. Sampai sebuah kecupan di bibirnya menyadarkan ia dari lamunan.
“Ngelamun?” cepat Luna menggelengkan kepala.
Luna mengangguk. “Kalau nyari, kau di bawah ya, mau masak untuk makan malam nanti,” Leo mengangguk kemudian masuk kedalam kamar mandi sedangkan Luna berjalan menuju lemar, menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya sebelum turun untuk menyiapkan makan malam yang memang hari ini jadwalnya di rumah ini.
Mengeluarkan segala macam bahan untuk memasak Luna dengan di bantu Asisten Rumah Tangganya mulai memotong-motong bawang, mencuci beras, memotong sayuran juga bahan-bahan lain yang di perlukan. Luna menyalakan kompor yang diatasnya sudah ada wajah, menuangkan minyak goreng dan menunggu sebentar hingga panas sebelum akhirnya memasukan bawang putih dan bawang bombai yang sudah di potong-potong dan menumisnya hingga harum.
“Gimana hasilnya, Non?” tanya Bi Atin, ART di rumah ini.
__ADS_1
“Shuttt, jangan kencang-kencang Bi, takutnya Leo tiba-tiba datang,” ucap Luna seraya menyimpan telunjuknya di bibir. Menatap sekeliling untuk memastikan tidak ada siapapun disini.
“Hasilnya sesuai dengan harapan, Bi, tapi jangan dulu kasih tahu siapa-siapa ya,” Bi Atin tersenyum dan mengangguk mengacungkan jempol tangannya, sedangkan Luna kembali melanjutkan masaknya dengan senyum yang terus mengembang.
Setelah masakannya siap semua, Luna menata di meja makan, tersenyum melihat hasilnya kemudian melangkah menuju ruang tengah menemui suaminya yang saat ini tengah bermain game bersama Pandu yang entah kapan datangnya. Luna menghampiri Lyra yang sedang mengajak Rapa bercanda, begitu saja Luna mengambil bocah itu dan mendudukan di pangkuannya. Menggesek-gesekan hidungnya dengan hidung Rapa membuat bocah itu tertawa kegelian.
Desiran hangat mengalir dan dalam hati ia memaksa bahwa dewasa nanti bocah dalam pangkuannya kini harus menjadi menantunya, menjadi laki-laki yang hanya mencintai anaknya yang baru terdeteksi keberadaannya ini.
Walau belum memeriksakannya kedokter, tapi dalam hati Luna yakin bahwa Bayi yang nanti akan ia lahirkan adalah seorang perempuan. Menoleh pada orang-orang berada di sana satu persatu Luna jadi berpikir haruskah sekarang ia memberi tahukan kabar ini? Tapi kemudian ia kembali menggelengkan kepala, merasa bahwa ini bukanlah waktu yang pas apa lagi melihat suaminya yang tengah asik bertanding game bersama Pandu.
“Lo kenapa, Lun?” Lyra bertanya saat di lihatnya Luna melamun.
“Gak apa-apa,” jawabnya melemparkan senyum. “Oh ya, mau makan kapan nih?” tanya Luna menatap satu persatu ketiga orang itu.
“Bentar lagi, Yang lagi tanggung nih,” sahut Leo yang matanya terpokus pada layar di depannya.
__ADS_1
Lyra hanya berdecak kesal melihat suami dan sahabatanya itu yang kadang lupa waktu jika sudah berurusan dengan game. Tak lama Levin dan Devi datang menyusul langsung bergabung duduk si sofa ruang tengah rumah Luna-Leo. Sama-sama akan menumpang makan.