Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
51. Majikan Sableng


__ADS_3

Ternyata memang benar perubuhan setelah memiliki anak itu begitu nyata, Luna dan Leo sendiri merasakannya. Yang biasanya tidur mereka selalu Pandu katakan seperti orang mati, semenjak memiliki Queen, Leo juga Luna menjadi lebih peka dengan tangis bayinya saat malam hari dimana orang-orang nyenyak dalam tidur.


Selelah apapun Leo, laki-laki itu akan tetap bangun begitu mendengar rengekan sang putri, tidak membiarkan Luna berkerja sendiri mengurus anaknya pada malam hari yang Leo tahu istrinya itu juga lelah mengurusi anaknya dari begitu mata terbuka. Sejak adanya Queen juga lah mereka merasakan kerja sama dalam pernikahan yang sesungguhnya.


“Sekarang kalian masih bisa santai-santai ngurus Queen, Le, Lun karena anak lo memang belum bisa ngapa-ngapain selain menggeliat, tapi nanti setelah anak lo mulai aktif menggerakan seluruh tubuhnya baru lo akan merasakan lelah yang sesungguhnya.”


Luna menganggukan kepala menyetujui apa yang di katakan Lyra, karena sedikit banyaknya juga dirinya dan Leo ikut mengikuti perkembangan Rapa, dan merasakan bagaimana pusing dan lelahnya.


“Gue gak sabar menunggu waktu itu, Ra,” Luna berucap dengan senyum terukir kearah bayinya yang di tidurkan di sofa.


“Nanti anak lo mulai belajar tengkurap gue ngelahirin. Gak kebayang gue gimana heboh dan berantakannya rumah kita nanti saat anak-anak kita mulai aktif. Di tambah sama anaknya Devi juga, oh my good gue benar-benar ngeri membayangkannya! Baru ada Rapa seorang aja gue udah di buat pusing, gimana nanti? Tiga, empat anak?” Lyra berbicara heboh, menepuk jidatnya, menggelengkan kepala membayangkan kehebohan yang akan di hadapinya nanti satu tahun ke depan.


“Ra, nanti anak-anak kita kasih tahu sejak kecil ya bahwa mereka sudah kita jodohkan,”


“Lo serius soal perjodohan ini?”


“Ya, serius lah!” jawab Luna seraya mendelikan matanya pada Lyra.

__ADS_1


“Gue kira gak seserius ini! Tapi boleh deh, anak lo juga cantik, gak malu-maluin lah bersanding sama anak gue nanti,” ucap Lyra sambil mengangguk angguk kecil. “Apa alasan lo mau jodohin anak kita?” lanjut Lyra bertanya.


Tersenyum kecil Luna menatap Lyra kemudian beralih menatap sang putri yang sudah tertidur damai sambil mengemuti jarinya. “Gue pengen menjaga persahabatan kita, Ra itu alasan pertama gue, dan mungkin lewat anak-anak kita lah hubungan kita akan semakin erat. Alasan keduanya karena gue pengen anak gue memiliki pasangan yang sudah gue kenal dengan baik dan entah kenapa sejak melihat Rapa gue ngerasa udah jatuh cinta aja gitu sama dia.”


Lyra bergidik ngeri mendengar kalimat terakhir Luna, tapi tidak urung iya juga tersenyum, alasan Luna memang cukup masuk akal dan Lyra senang mendengarnya.


“Thanks Lun, karena lo sudah mempercayai anak gue meskipun lo belum tahu akan seperti apa Rapa nanti, tapi gue sebagai orang tua jelas menginginkan dia menjadi anak yang baik, bertanggung jawab, menjadi pelindung untuk adiknya juga keluarganya dan menjadi laki-laki seperti apa yang lo harapkan untuk menjadi pedamping Queen dewasa nanti.”


“Serius amat kayaknya lo pada membicarakan masa depan anak-anak lo.” Devi yang tidak di ketahui kapan datangnya itu langsung menyambar dan duduk di sofa yang kosong sebelah Lyra.


Wanita hamil satu ini sepertinya memang tidak pernah mengeluhkan apa-apa karena Devi selalu anteng-anteng saja begitu juga dengan Levin. Hanya napsu makannya saja yang berlebih sampai membuat berat badan Devi naik drastis. Dan jika Lyra dan Luna saat itu mengeluhkan ukuran tubuhnya, berbeda dengan Devi yang justru merasa masa bodo saking cueknya perempuan itu pada segala hal.


Menjelang sore Luna dengan di bantu Lyra dan Devi memandikan Baby Queen agar bayinya itu merasa segar dan dapat tidur nyenyak nanti malam. Jujur saja Luna belum benar-benar bisa memandikan bayinya sendiri karena masih merasa ngeri, maka dari itu peran Lyra yang lebih dulu mendapatkan pengalamannya Luna butuhkan saat ini. biasanya ada Sari atau Melinda yang bergantian memandikan Queen tapi berhubung saat ini kedua wanita yang sudah resmi mendapat gelar nenek itu sedang datang akibat ada urusan masing-masing jadi lah Luna sendiri yang memandikan anaknya dengan di bantu Lyra yang menjelaskan langkah-langkahnya.


“Permisi, Non Devi sama Non Lyra mau makan disini nanti malam?” Bi Atin yang baru saja masuk kedalam kamar Luna bertanya pada kedua sahabat dari majikannya itu.


“Ya jelas makan disini lah Bi, Bi Nani lagi di ajak holiday sama Mama jadi gak ada yang masak di rumah.” jawab Lyra.

__ADS_1


“Holiday kemana Bi Nani, Non? Dia gak bilang sama Bibi kalau mau jalan-jalan,”


“Ke Singapur dong bawa Rapa juga, mereka tiga hari disana,” Lyra menaik turunkan alisnya, tahu bahwa ART sahabatnya itu sedikit merasakan iri, tapi memang ini tujuan Lyra.


“Enak banget dia, coba kalau Bibi yang kerja di rumah Non Lyra. Bisa jalan-jalan keluar negeri ‘kan lumayan.”


“Minta sama bos dong Bi, Leo kan kaya,” Devi ikut memanasi sedangkan Luna masih sibuk memakaikan baju pada Queen.


“Aih, Den Loe mah selalu banyak alasannya kalau Bibi minta holiday, katanya sayang uang lebih baik di tabung dari pada di hambur-hambur gak jelas. Sableng emang majikan Bibi ini Non, tahu sendiri Den Leo pemegang tertinggi komunitas penghematan!” Bi Atin menjelaskan sembari cemberut dan itu membuat Lyra dan Devi tertawa. “Padahal kan Bibi juga butuh refreshing biar gak suntuk,” lanjutnya menghela napas panjang.


“Bibi mau holiday?” tanya Luna saat sudah selesai mengurus anaknya. Bi Atin menganggu polos. “Ya udah besok kita piknik ya,” lanjut Luna membuat wajah Bi Atin yang semula murung kembali berbinar.


“Benar Non besok kita bakalan piknik?” tanyanya untuk memastikan. Luna mengangguk seraya tersenyum meyakinkan.


“Oke deh non, nanti Bibi masak banyak dan yang enak-enak buat bawaan piknik kita, semua pasti ikut ‘kan termasuk Den Leo?” tanya Bi Atin yang wajahnya semakin berbinar, dalam kepalanya dia sudah memikirkan apa-apa saja yang akan dirinya siapkan. Setelah semua itu tersusun rapi dalam pikirannya kembali Bi Atin melangkan tanya, “Pikniknya kemana Non?”


“Di taman belakang rumah, Bi.”

__ADS_1


Dan ketika itu juga ART Leo itu ingin sekali menghujat istri majikannya. Sudah berencana ini itu nyatanya cuma kena prank. Wajah Bi Atin kembali cemberut dan pergi dari sana meninggalkan ketiga perempuan muda itu tanpa kata. Benar-benar majikan sableng.


Tapi, ya, meskipun begitu Bi Atin betah kerja di rumah ini karena kebaikan pasangan suami-istri muda itu meskipun hematnya Leo sudah bukan rahasia umum lagi, tapi percayalah Leo tidak sepelit itu juga.


__ADS_2