Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
33. Siksaan Terberat Leo


__ADS_3

Mengurusi ibu hamil nyatanya tidak lah semudah dan semenyenangkan seperti dalam bayangannya selama ini, karena Leo bahkan seringkali di buat pusing dan kesal oleh istrinya yang tengah hamil muda itu. Leo bahkan sering bertanya pada dirinya sendiri apa seperti ini nasib para pria yang akan mengubah statusnya menjadi seorang Ayah?


Jika diingat kembali saat Lyra mengandung dulu, Leo kira tidak separah dirinya saat ini Pandu meladeni istrinya yang jelas-jelas bar-bar, petakilan dan kecentilan juga manja yang begitu amat sangat, tapi Leo melihat bahwa Pandu baik-baik saja bahkan masih dapat bermesraan dengan sang istri. Apa lagi kehamilan Lyra yang sekarang, Leo lihat wanita itu tidak banyak maunya seperti Luna, tidak rewel dan terlihat anteng-anteng saja.


Padahal dulu ia membayangkan hal itu terjadi juga padanya tapi memang kenyataan tidak pernah sesuai dengan harapan jadilah Leo harus tersiksa karena Luna lebih memilih jauh darinya ketimbang harus bermesraan atau bermanja dengannya. Siksaan terberat Leo yang tidak ingin jauh-jauh dari sang istri.


Kehamilan Luna sudah masuk usia 15 minggu. Jika beberapa minggu kebelakang wanita hamil itu susah makan dan sering mual dan muntah, tapi tidak dengan usia kehamilannya saat ini, justru makannya saat ini melebihi porsi biasanya. Perut yang semula rata pun perlahan mulai menunjukan perubahan dan sampai saat ini Leo belum bisa menyentuh perut istrinya itu karena Luna yang selalu mual saat Leo hendak mendekat.


Pandu, Lyra dan yang lainnya selalu menertawakan Leo apalagi Leon yang bahkan lebih puas dan paling kejam saat Luna melayangkan penolakan atas sentuhannya. Lukman yang paham dan dulu juga sempat merasakan hal yang sama hanya bisa berkata sabar pada menantunya yang terlihat frustasi itu.


Leo hanya berharap dalam doanya supaya siksaan ini cepat berakhir dan ia bisa kembali bermanja dengan sang istri yang sudah sangat ia rindukan. Luna sedang tertidur saat ini dan Leo hanya bisa menatap wanita cantik itu dari sofa yang jaraknya memang tidak terlalu jauh, tapi tetap saja inginnya Leo berbaring di samping Luna, memeluk perut istrinya dan mengecup kening itu seperti biasa, tapi itu hanyalah keinginanya Leo saja sedangkan Luna tidak menginginkan itu.


Untung saja Leo tipe laki-laki sabar dan setia, jika tidak sudah dapat di pastikan bahwa saat ini laki-laki itu sudah mencari gandengan lain dan meninggalkan Luna.


“Kenapa nasib gue gak seberuntung Pandu saat bini nya hamil?” keluh Leo dengan lemah.


“Jadi kamu nyesal nikahin aku, Le?” suara itu membuat Leo langsung menoleh ke asal suara. Melihat istrinya yang sudah duduk di tepi ranjang membuat Leo gelagapan, bingung akan menjawab apa.


“Kenapa gak jawab? Kamu nyesal nikahi aku?” ulang Luna dengan suara pelan, matanya sudah berkaca-kaca dan wajahnya menyiratkan kesedihan.

__ADS_1


“Bu- bukan gitu, Yang aku gak pernah menyesal nikah sama kamu,” jawab Leo gelagapan.


“Terus maksud kamu gak seberuntung Pandu apa? Kalau sejak awal kamu memang gak bisa cinta sama aku jangan selalu ngumbar janji sama aku, Le aku … ak...”


Melihat istrinya yang menangis dengan cepat Leo menghampiri Luna, dan memeluk tubuh istrinya untuk meminta maaf dan menenangkan ibu hamil yang tengah sensitive itu, tapi baru beberapa detik memeluk, Luna dengan cepat mendorong Leo hingga pelukannya terlepas dan wanita hamil itu berlari menuju kamar mandi mengeluarkan isi perutnya.


“Jangan dekat-dekat, Le,” ucap Luna saat Leo hendak memijat tengkut istrinya itu. Menghela napas pasrah Leo kembali mundur dan hanya bisa melihat itu dari jarak beberapa langkah. Bukan karena Leo tidak menyayangi istrinya tapi ia memilih menjauh karena ia begitu menyayangi Luna, ia tidak ingin istrinya terus-terusan muntah jika memaksakan diri berada dekat dengan perempuan itu.


Lyra yang kebetulan datang saat Luna masih belum juga berhenti mengeluarkan isi perutnya langsung memberikan Rapa pada Leo yang berdiri di ambang pintu, sedangkan dirinya masuk untuk membantu Luna memijat tengkuknya juga mengolesi dengan kayu putih.


“Kenapa sih Lun, lo hamil nyiksa diri sendiri gini? Ngapain punya suami kalau gak bisa lo andelin coba? Gue juga ini lagi hamil loh, tapi gak sampai mual apa lagi pengen jauh dari suami sendiri” ucap Lyra di tengah aktivitas memijat tengkut Luna.


“Ya, mana gue tahu, Ra gue juga pengennya deket Leo, tapi kan anaknya yang nolak,” Jawab Luna lemas.


“Untung gue sayang *** sama dia, kalau enggak … udah pergi gue cari bini baru.”


Mendengar ucapan Leo barusan membuat Luna langsung menoleh dan menatap tajam suaminya itu. “Berani lo nyari bini baru? Gue pastiin dulu tuh burung lo gak bisa bangun.”


Leo meringis ngeri. “Ibu hamil semuanya ganas ya, ***?”

__ADS_1


“Leo minggir, aku mau lewat.” Kata Luna saat rasa mual itu sudah tidak lagi ia rasakan.


Dengan patuh Leo menurut dan melangkah mundur semakin jauh dari Luna. Lyra dan Pandu yang melihat kepasrahan di wajah Leo melepaskan tawanya tidak menyangka bahwa kehamilan Luna bisa membuat Leo menjadi semengenaskan ini.


Luna kembali bersandar di kepala ranjang dengan kaki selonjoran dan tangan yang mengelus-elus perut sedikit buncitnya. Leo duduk di sofa bersama Pandu dan Rapa memperhatikan Luna dengan wajah cemberut. Sedangkan Lyra duduk di pinggiran Rajang sebelah Luna.


“Udah ada pergerakan belum, Lun?” tanya Lyra menunjuk perut Luna dengan dagunya.


“Pergerakan kecil memang sekali-kali ada, Ra. gue kaget banget saat pertama kali mulai ada pergerakan, ada rasa takut juga sebenarnya, tapi setelah baca artikel tentang pertumbuhan janin, jadilah gue paham kalau itu memang wajar.” Lyra mengangguk, tangannya terulur untuk menyentuh perut sahabatnya itu kemudian tersenyum kecil dan beralih mengelus perutnya sendiri yang belum semenonjol perut sahabatnya.


“Perut gue juga bentar lagi buncit nih,” ucap Lyra terkekeh kecil. Luna tersenyum dan ikut mengelus perut Lyra yang masih rata. Tidak pernah menyangkan bahwa mereka akan hamil barengan, mungkin akan berbeda dua bulanan saat lahiran nanti.


“Pengen rasain pergerakannya boleh gak, Yang?” Leo buka suara, mengeluarkan keinginannya yang sudah lama Leo harapkan.


“Boleh …” wajah sendu Leo semula berubah menjadi cerah, matanya berbinar dan hendak mendekat sebelum sebuah permintaan dari Luna menghentikan lagkah pria itu. “… tapi buatin dulu aku cumi goreng tepung,”


“Harus aku yang bikin?” tanya Leo dengan polosnya. Luna dengan cepat mengangguk yakin.


“Oke, aku yang buat asal nanti aku boleh elus perut kamu, dan gak ada kata mual-mual lagi. Gimana Deal gak nih?”

__ADS_1


“Tapi kalau memang bayinya yang gak mau gimana?”


“Aku gak mau tahu pokoknya bagaimana pun caranya kamu harus bisa bujuk Baby agar mau aku deketin dan aku sentuh. Kalau gak berhasil aku gak mau lagi nurutin ngidamnya kamu!"


__ADS_2