
Nyatanya tanpa Luna, Devi dan Amel ketahui, Lyra belum benar-benar pergi dari sana. Lyra menguping di belakang pintu yang tertutup itu, niat untuk menjemput anak-anaknya ia urungkan dan meminta satpam juga Bi Atin menjemput Queen, Rapa dan Ratu, sedangkan dirinya memilih untuk menguping. Tidak menyangka kenyataan ini akan dirinya dengar hari ini.
Dengan air mata berderai Lyra masuk kembali kedalam kamar Luna, membuat ketiga orang disana terkejut terutama Amel apa lagi saat wanita itu langsung menubruk Amel, memeluknya sambil menangis.
“Maafin gue, Mel, maaf udah jadi teman yang buruk buat lo, maaf udah jadi sahabat yang tidak berguna untuk lo dan maaf sempat membenci lo,” ucap Lyra dengan isak tangis yang begitu menggambarkan penyesalan.
“Justru gue yang minta maaf, Ra, gue salah sempat merebut kabahagian lo, gue salah sempat iri dan berniat merebut semua yang lo miliki. Maaf menjadi sahabat yang tidak baik, dan maaf untuk semua yang gue lakuin dulu, mengecewakan lo dan menyakiti perasaan lo.”
Amel membalas pelukan Lyra dan menangis bersama sahabatnya itu, menumpahkan segala perasaan menyesalnya sampai keduanya saling melepaskan pelukan dan saling menyeka air mata satu sama lain. Pemandangan yang mengharukan untuk Devi dan Luna yang kini memeluk mereka, dan jadilah ke empatnya berpelukan, dengan air mata yang sama-sama mengalir, tapi kali ini di barengi dengan senyuman, senyum lega karena akhirnya masalah yang dulu sempat ada kini sudah terselesaikan.
“Harusnya dulu lo cerita, Mel, setidaknya mungkin gue bisa berbagi kasih sayang bersama lo. Lo tahu sendiri kalau gue kelebihan kasih sayang, apa lagi kasih sayang Daddy, Leo dan Bang Levin, sampai gue heran kenapa semua laki-laki itu mencintai gue? Di tambah dengan hadirnya Pandu yang memberi gue kasih sayang dan cinta yang baru. Gue sampai bingung mau ngantonginnya dimana.” Lyra terkekeh saat melihat wajah malas dari ketiga sahabatnya itu.
“Sejak dekat dengan Dimas, kasih sayang gue tercukupi kok, dia juga yang meyakinkan gue untuk kembali menghubungi lo saat lulus dari SMA itu, meskipun awalnya canggung, tapi niat gue bulat untuk memperbaiki hubungan persahabat antara kita, hanya saja saat itu gue belum siap menceritakan semua ini, gue gak mau di kasihani.”
“Tapi Mel, gue masih heran kenapa Dimas bisa tahu masalah lo? Lo bilang ‘kan Dimas yang membuat lo sadar? Sedangkan gue tahu sendiri dulu lo gak pernah sama sekali menceritakan masalah dalam hidup lo, bahkan sama gue yang lebih dekat dan lebih lama berteman,” heran Luna bertanya.
__ADS_1
Amel delikan matanya pada sahabat satunya itu. “Karena dia peka, gak kayak lo yang apa-apa harus di ceritain dulu!” kesal Amel, Luna menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya cengengesan.
“Iya juga sih, secara Dimas pengagum rahasia lo. Dia, pasti selalu mengamati lo, gerak gerik lo dan segala macam tentang lo,” Luna mengangguk-anggukan kepala paham.
“Lupa lo kalau Pandu juga pemuja gue?” sombong Amel berucap. “Tapi sayang dia gak sepeka Dimas,” lanjutnya lesu.
“Jadi maksud lo, lo menyayangkan itu? Lo kecewa karena orang itu bukan Pandu?” tuduh Lyra tajam, membuat Luna, Devi dan Amel justru tertawa bukannya takut padahal mata bulat milik perempuan cantik itu hampir keluar semua.
“Gue bersyukur karena orang itu adalah Dimas, karena jika Pandu gue gak yakin dia akan sehangat ini sama gue, mengingat dinginnya sikap laki-laki itu, apa lagi dia jarang banget ngomong,” ucap Amel mencebikan bibirnya. “Lo tahu sendiri kalau gue terlalu kalem, dan jika disatukan dengan mahkluk seperti Pandu akan sebeku apa suasana? Waktu masih pacaran aja, dia gak banyak ngomong. Cuma, ya, perhatiannya dan tatapan lembutnya itu yang buat gue nyaman, di tambah dia benar-benar perlakuin gue layaknya princess. Dia gak suka mengeluarkan kata romantis, dia lebih suka bertindak, apa lagi pelukan hangatnya yang mampu mencairkan hati beku gue…”
Luna dan Devi hanya cekikikkan geli melihat perdebatan yang sudah lama tidak dirinya lihat. Apa lagi Lyra yang sejak memiliki anak kebringasannya berkurang dan baru kali ini perempuan cantik itu meledak-ledak karena cemburu, sedangkan senyum jahil Amel semakin mengukir bahagia melihat kecemburuan Lyra meledak, tidak seperti dulu yang hanya menampilkan senyum palsu yang membuat Amel merasa bersalah dan malu.
“Lo tahu, Ra saat dimana gue sama Pandu ci…”
“Berhenti ngomong lo, Mel, kesal gue! Asal lo tahu gara-gara kejadian itu gue sampai nekad cium Si Lele depan Pandu. Jir, gue gak nyangka waktu itu malah rasain bibirnya Si Lele. Untung saat itu gue lagi emosi, jadi gak sampai gue nikmatin dan nginget rasanya seperti apa,"
__ADS_1
Ketiga orang itu membelalakan matanya terkejut dengan pengakuan tak langsung Lyra, apa lagi Luna yang tak lain adalah istri dari laki-laki yang di maksud perempuan itu.
“Jadi lo udah pernah cium suami gue?” tanya Luna dengan nada marah, Lyra cengengesan dan mengangguk kecil.
“Abis gue bingung mau nyeret siapa untuk balas dendam sama Pandu. Cuma Si Lele yang gue pikirin, karena gue tahu dia gak akan memanfaatkan kesempatan ketika itu, walau gue tahu Si Lele begitu mencintai gue.”
“Aaaa, berengsek lo Ra, berani-beraninya lo nodain bibir suami gue!” kesal Luna seraya melempar bantal dan guling pada sahabatnya itu, Devi dan Amel tertawa geli dengan itu.
“Sorry-sorry aja nih, saat itu Si Lele belum jadi suami lo, bahkan belum tahu kalau kalian akan menikah, jadi sah-sah aja dong?” Lyra menaik turunkan alisnya, menepis pukulan bantal yang Luna berikan.
“Ya, tapi tetap aja, gue dengarnya saat udah nikah,” cemberut Luna, sedangkan Lyra, Devi dan Amel tertawa.
“Apa cuma gue aja yang gak punya rahasia-rahasia macam itu? Ah, ya iya lah, gue mah mana ada nyakitin satu sama lain sama sahabat, cewek baik-baik nih.” Bangga Devi pada dirinya sendiri.
Kini semua telah selesai, tidak ada lagi sesuatu yang di sembunyikan satu sama lain. masalah yang menimpa Amel dan Lyra sudah di selesaikan dengan tuntas, membuat keduanya kembali akrab, tidak lagi ada kecanggungan dan semoga tidak akan ada lagi sebuah kesalahan seperti dulu.
__ADS_1
Luna jelas sempat merasa marah begitu mendengar pengakuan dari sahabatnya itu, tapi sekali lagi ia sadar, itu sudah berlalu dan kini semua sudah memiliki pasangan masing-masing, bahagia bersama keluarga masing-masing. Tidak baik juga jika menyimpan dendam, tidak baik untuk saling membenci dan tidak baik untuk mempersalahkan masa lalu karena bagaimanapun masa itu ada sebelum kita mengetahui jalan hidup yang saat ini di jalani.