
“Bunda mau nemenin Luna jalan-jalan di sekitaran komplek gak?” tanya Luna pada Ibu mertuanya yang beberapa menit lalu datang. Leo baru saja pergi ke kantor bersama Wisnu.
Memang sejak acara tujuh bulanan beberapa minggu lalu Sari dan Melinda sepakat untuk datang dan menemani ibu hamil itu. Tadinya kedua orang tua itu berebut mengusulkan agar Luna tinggal bersama mereka hingga persalinan nanti, tapi Leo dan Luna menolak karena sudah merasa nyaman dengan tempat tinggalnya sekarang.
“Sebentar, Bunda ngambil air minum dulu utuk bekal,” ucap Melinda setelah memberi anggukan tanda setuju.
Luna menunggu Melinda di kursi teras depan, tak lama mertuanya itu datang dengan sebotol air mineral juga beberapa buah, wanita setengah baya itu bilang untuk cemilan Luna di perjalanan. Luna begitu bersyukur memiliki mertua yang begitu menyayanginya dan juga perhatian.
“Samper Lyra sekalian, Nak biar barengan jalan-jalannya,” kata Melinda saat mereka berada dekat dengan gerbang rumah Lyra. Luna mengangguk dan meminta satpam rumah Lyra untuk membuka kan gerbang.
Pintu utama rumah itu terbuka, membuat Luna dan Melinda nyelonong masuk tanpa repot-repot mengetuk pintu dan menunggu si tuan rumah keluar.
“Ra, Lyra!” panggil Luna.
“Gue di ruang tengah, Lun.”
Luna dan Melinda berjalan menuju arah suara, dan terlihat disana ibu hamil satu itu tengah bersantai menonton tayangan kartun seorang diri membuat Melinda menggelengkan kepala.
“Ly, jalan-jalan ayok mumpung belum terlalu panas. Ibu hamil itu jangan duduk malas-malasan gini, harus di gerakan biar pas persalinan nanti mudah,” kata Melinda memberi wejangan.
“Lily kan lahirannya masih lama, Bunda jadi, bisa lah santai-santai dulu,” balas Lyra menaik turunkan alisnya.
“Ck, dasar kamu itu, ayok ah kita jalan-jalan biar sehat.”
__ADS_1
Lyra walau dengan malas-malasan akhirnya bangkit juga, mengikuti Melinda yang jalan lebih dulu bersama Luna.
“Kamu sudah belanja perlengkapan untuk bayi kamu belum Lun?” tanya Melinda sudah keluar dari gerbang rumah Lyra.
“Belum Bun, nanti nunggu Leo libur, karena dia yang pengen pilih-pilih katanya,” jawab Luna. Melinda mengangguk paham.
“Bunda asal tahu aja, waktu Lily mau belanja perlengkapan Rapa saat itu, Leo paling antusias dan bahkan hendak borong semua yang ada di toko,” cerita Lyra terkekeh kecil mengingat saat itu, Luna mengangguk dan ikut tertawa bersama Lyra.
“Makanya Bun, Leo ngotot banget minta aku jangan belanja dulu sebelum dia ada waktu, Leo bilang pokoknya harus bareng dia belanjanya,” kata Luna mengingat ucapan Leo tempo hari.
“Ya sudah, sabtu nanti kita belanja perlengkapan untuk bayi kamu. Beli yang memang di butuhkan aja, karena pakaian bayi itu tidak lama terpakainya. Kalau biarin Abang yang belanja Bunda yakin, deh, semua akan dia beli tanpa tahu itu di butuhkan atau tidaknya.” Luna mengangguk setuju.
Panas semakin terik, Melinda memutuskan membawa kedua ibu hamil itu untuk pulang. sepanjang perjalanan diisi dengan obrolan-obrolan ringan, petuah Melinda mengenai kehamilan dan masih banyak lagi obrolan lainnya yang begitu bermanfaat untuk kedua ibu hamil yang masih harus banyak belajar itu.
Lyra tidak pulang kerumahnya melainkan ikut pulang kerumah Luna yang serada di sebelahnya, berhubung di rumah pun tidak ada teman dan juga kerjaan hanya akan membuatnya bosan apa lagi dengan tidak adanya Rapa karena bocah itu di bawa oleh sang Mama.
“Selamat siang, ibu hamil,” sapa orang yang baru datang itu dengan ceria.
“Ck, gue kirain siapa. Ganggu orang santai aja tahu gak?” kata Luna, melengos begitu saja.
“Heran gue, gak datang ke rumah Si Lyra gak ke rumah Si Luna sambutannya sama-sama gak ngenakin.” Cibir Devi, yang tak lain adalah tamu tak di undang yang selalu datang seenaknya dan pergi sesukanya.
“Dev lo bawa apa?” Lyra bertanya saat melihat kakak iparnya itu datang tidak dengan tangan kosong.
__ADS_1
“Suruh gue masuk dulu kek, lo jadi adik ipar gak sopan benget biarin gue berdiri di ambang pintu gini,” dengus Devi mendelik pada Lyra yang berdiri menghalangi jalan masuk.
“Hehe gue lupa,” ucapnya cengengesan kemudian menggeser tubuhnya agar Devi bisa masuk kedalam rumah Luna.
Devi dan Lyra menyusul Luna yang lebih dulu ke ruang tengah, dan ikut duduk di sofa panjang yang cukup di duduki empat orang. Devi meletakan kotak makan yang di bawanya, dan di bukanya tutup berwarna biru muda itu membuat apa yang ada di dalamnya terlihat.
“Rujak manga?” kata Luna dan Lyra bersamaan.
“Kemarin Levin pulang kerja bawa Manga, tahu nya Manga muda. Dasar emang gue punya laki gak bisa bedain mana yang muda dan mana yang tua, tapi ada untungnya juga sih, karena tadi pagi gue rasanya pengen aja ngerujak Manga ya, akhirnya bikin deh. Sengaja gue bawa kesini biar ada teman makannya.” Jelas Devi.
Luna dan Lyra belum bereaksi apa-apa pasalnya mereka tahu bahwa Devi tidak menyukai sesuatu yang asam apa lagi Manga muda yang warnanya saja masih putih dan dapat dengan cepat di tebak bahwa rasanya sangat asam.
“Wih, siapa nih yang ngidam?” kata Melinda yang baru saja kembali dari dapur setelah selesai membuat cumi goreng yang menjadi cemilan favorite Luna semenjak hamil.
“Hallo Tante,” sapa Devi yang tengah asik sendiri melahap rujak manga di depannya.
“Hallo sayang. Kamu ngidam Dev?” tanya Melinda yang melihat teman dari anak menantunya begitu menikmati buah asam itu.
Luna dan Lyra saling menatap kemudian menoleh pada Devi yang menggelengkan kepala dan terkekeh kecil.
“Enggak kok Tante, Devi emang lagi kepengen aja. Emang setiap makan rujak manga selalu ngidam ya?” tanya Devi menaikan sebelah alisnya menatap Melinda.
Tersenyum kecil Melinda menggelengkan kepala. “Enggak selalu sih, tapi ya, mungkin aja ‘kan?”
__ADS_1
“Cepat periksa, Dev siapa tahu memang benar-benar lo hamil,” ucap Luna yang diangguki setuju oleh Lyra.
Devi menggelengkan kepala. “Gak mungkin gue hamil, orang baru kemarin tamu bulanan gue selesai,” sangkal Devi. Bukan karena Devi menolak seorang bayi dalam perutnya tapi Devi tidak ingin terlalu menduga-duga dan berakhir dengan kecewa.