
Satu minggu sejak perginya piknik itu berlalu, Levin semakin tidak tega meninggalkan istrinya, karena wanita itu selalu mengeluh mulas dan panas di punggung bawahnya. Levin yang sudah pernah merasakan pengalaman ini jelas masih ingat bahwa yang di rasakan istrinya kini sebagai tanda bahwa tak lama lagi Devi akan melahirkan, membuatnya semakin tidak tega untuk pergi walau pekerjaan tengah menumpuk di kantornya. Maka, Levin lebih memilih melemparkan itu pada adik iparnya.
Tidak perduli meski Pandu pun memiliki kesibukan yang sama. Bagi Levin saat ini adalah istrinya, ia ingin menjadi suami yang siaga kali ini, tidak seperti waktu beberapa tahun lalu dimana Dania lahir, dirinya saat itu baru saja pergi melakukan perjalanan bisnis keluar negeri yang tidak memungkinkan sampai dalam waktu satu atau dua jam untuk kembali dan menemani istrinya melahirkan. Saat itu lah penyesalah Levin yang sesungguhnya, walau Devi dengan pengertiannya memaklumi kesibukan suaminya.
Sekarang Levin tidak ingin lagi kehilangan moment itu, kali ini ia akan menjadi orang pertama yang memeluk anaknya, menciumnya dan menggendongnya. Jadi, untuk saat ini Levin mengatakan selamat tinggal pada pekerjaannya. Anaknya lebih penting.
Rapa, Queen dan Ratu berada di rumah Levin-Devi bermain dengan Dania di halaman belakang yang di sulap menjadi taman bermain. Sedangkan Luna dan Lyra berada di kamar, membantu ibu hamil itu untuk mempersiapkan perlengkapan bayi dan sang ibu untuk di bawa ke rumah sakit.
Tadi pagi Levin sudah membawa istrinya itu ke ruamh sakit dan dokter bilang bahwa saat ini Devi belum ada pembukaan meski rasa mulas kerap kali wanita hamil besar itu rasakan. Dokter hanya menyarankan untuk pulang lebih dulu dan sore nanti baru kembali datang. Itu sebabnya sekarang mereka tengah berkemas.
“Pa, sini dong elusin punggung Mama,” teriak Devi memanggil Levin yang berada di ruang tengah, menonton televisi.
Levin dengan cepat datang, tanpa menunggu istrinya itu memanggil untuk kedua kalinya. Duduk di ranjang dimana ada Devi berbaring menyamping. Tanpa di beri perintah lagi, Levin langsung mengusap lembut punggung sang istri.
“Kamu mau godain Aku apa niat bantu elusin sih, Lev?”
“Ya, bantu elusin lah, Yang.” Jawab Levin menaikan sebelah alisnya.
“Kenapa pelan banget? Mana berasa elah, yang ada nanti adik kamu yang bangun.” Protes Devi, membuat Levin mengelus dada sambil berucap sabar. Menenangkan hati dan jiwanya agar tidak mengumpati sang istri. Memang sudah tiga hari ini Levin di kerjai sang istri seperti ini, di suruh ini itu, dan Levin yang amat cinta istri itu hanya mengangguk patuh tanpa membantah.
“Beneran takluk lo Bang sama tuh macan,” Luna berucap seraya terkekeh.
“Playboy tobat, ya begini tampilannya,” tambah Lyra ikut terkekeh. Levin hanya mendengus, sedangkan Devi masih asik mengunyah jeruk yang baru di kupas oleh Luna.
“Aw, aw… kenapa perut gue malah makin sakit?” pekik Devi memegangi perutnya. Levin yang panik langsung melompat turun dari ranjang dan memangku sang istri, membawanya keluar dari kamar.
__ADS_1
Lyra dan Luna melongo melihat itu, sebelum beberapa detik kemudian sadar begitu mendengar teriakan Levin. “Ly kunci mobil, cepat!”
“Lo disini aja, Lun hubungi laki gue supaya nyusul. Biar gue aja yang antar Bang Levin ke rumah sakit.” Luna hanya mengangguk dan membiarkan sahabatnya itu pergi.
Selesai menghubungi Pandu dan Leo juga keluarga Devi serta Levin, Luna memanggil anak-anak untuk berhenti bermain dan bersiap untuk berangkat ke Rumah Sakit sambil menunggu Leo datang menjemput.
Rasa panik entah kenapa ikut dirinya rasakan sampai sakit di perutnya menyerang, dan ringisan Luna membuat ke empat bocah itu panik terutama Queen yang langsung menangis dan memeluk sang Mami.
Rapa mengambil ponsel yang ada di atas meja, mencarai nomor Leo dan langsung ia hubungi. Dengan tidak sabar, Rapa menunggu sambungan di angkat oleh Papinya itu, sekali-kali menoleh pada Luna yang sayangnya malah menambah rasa khawati dan paniknya.
“Hallo Yang …”
“Papi ini Abang, Papi dimana?” cepat Rapa memotong ucapan Leo.
“Papi lagi di jalan, kenapa Bang?”
“Oke Rapa tolong jagain dulu Mami, ya, Nak, Papi ini masih di jalan sebentar lagi sampai.”
Setelah mematikan sambungan telpon dan kembali meletakan ponsel milik Luna ke tempat semula, Rapa pun berlari menuju dapur dan mengambilkan air untuk ia berikan pada Luna. Setelah itu duduk di sampingnya, membantu memijat lengan Luna.
Memang bocah seusia itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan apa lagi tidak ada orang dewasa sama sekali di rumah ini karena ART Devi sedang pergi ke supermarket.
Tak lama Leo datang, berlari menghampiri Luna dengan raut cemas dan rasa panik yang amat ketara. Leo berlutut di depan sang istri dan ke khawatirannya semakin bertambah begitu melihat wajah pucat dengan kening yang di penuhi keringat.
“Papi, Mami kenapa, Pi? Hik…” tanya Queen dengan isak tangisnya.
__ADS_1
“Papi juga gak tahu, Nak lebih baik sekarang kita bawa Mami ke rumah sakit dulu.” Queen mengangguk dan dengan cepat berlari keluar membukakan pintu mobil untuk memudahkan Leo mendudukan Luna di kursi punumpang depan, tak lupa memasangkan sabuk pengaman.
“Queen tunggu di rumah aja sama Bang Rapa, Ratu dan Dania, ya, setelah Papi tahu kondisi Mami, nanti Papi telpon kamu. Jangan nangis. Do'akan Mami sama Adik bayinya supaya baik-baik aja,” Queen mengangguk, memberikan kecupan di perut Luna sebelum mundur membiarkan sang Papi melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit, Luna langsung di bawa ke IGD dan di periksa oleh Amel yang kebetulan sahabatnya itu ada di sana.
“Si Luna ikut lahiran hari ini juga, Le?” Lyra yang menghampiri Leo begitu melihat laki-laki itu berlari dengan kepanikan bertanya.
“Masa iya? Usia kandungannya kan baru empat bulan,” heran Leo menaikan sebelah alisnya
Menggetok kepala sahabatnya itu Lyra jadi gemas sendiri. “Gue kan nanya, Le!”
“Ya, lo salah kalau nanya gue, orang gue aja gak tahu tiba-tiba Luna kesakitan perutnya.”
“Gimana Mel, calon besan gue?” tanya Lyra begitu Amel selesai memeriksa Luna.
“Dia gak kenapa-napa, cuma kram doang karena terlalu panik.” Jelas Amel singkat.
“Pasti nih gara-gara si Levin!” tuduh Leo tiba-tiba. “Hampir aja gue jantungan, takut anak gue kenapa-napa,” lanjut Leo menyeka keringat di pelipisnya kemudian membuang napasnya lega.
“Tapi sebisa mungkin lo harus pastikan Luna gak kecapean, Le. Lo tahu sendiri kondisi kandungan istri lo, dia juga gak boleh stress dan panik berlebihan, itu bisa berpengaruh pada kondisi kehamilannya.”
“Dengar noh, Le, jangan di bikin cape! Lo malah minta tiap malam,” cibir Lyra menggelengkan kepala.
“Dih so tahu lo. Gue mah udah puasa sejak Luna pulang dari rumah sakit tempo hari karena dokter bilang Luna gak boleh dulu gue tidurin, bisa beresiko sama kandungannya.” Jawab Leo dengan lesu dan itu sukses membuat Lyra juga Amel tertawa mengejek.
__ADS_1
“Yang sabar lo, Le, hahaha.” Tawa Lyra begitu puas.