
Luna diharuskan istirahat di rumah sakit oleh dokter, dan pagi ini begitu mendengar bahwa Devi sudah melahirkan bayi kembar membuat Luna dengan tidak sabar ingin menengok sampai memaksa Leo untuk segera mengantarkannya ke ruangan Devi.
Leo yang masih mengantuk pun sebenarnya keberatan dengan keinginan istrinya itu namun begitu istrinya mengatakan akan pergi sendiri membuat Leo dengan cepat bangun dan meminjam kursi roda pada suster. Membawa istrinya ke ruang rawat Devi yang tidak terlalu jauh dengan kamar rawat Luna.
Begitu sampai di depan pintu ruang VIP itu Luna sudah dapat mendengar kehebohan disana yang ia yakini bahwa sudah banyak orang di dalam sana. Dan begitu pintu ia buka, benar saja semua sudah berkumpul bahkan Queen, Rapa dan Ratu pun ada di sana.
“Mami!” teriak Queen yang langsung berhambur memeluk Luna.
“Adik bayinya Dania ada dua, Mi, Queen juga pengen punya dua,” tunjuk Queen ke arah bayi dalam gendongan Ibunya Levin dan ibu dari Devi sendiri.
Leo yang mengerti dengan keantusiasan istrinya segera mendorong kursi roda itu mendekat pada kedua bayi baru lahir itu. Leo memang sudah melihatnya tadi malam begitu si kembar lahir, tapi tetap saja rasa haru itu masih dirinya rasakan saat melihat kedua bayi itu.
“Luna pengen gendong bayinya dong, Tante,” pinta Luna pada ibunya Devi. Tina dengan senyum lembut memberikan bayi mungil laki-laki itu pada Luna.
“Mami, Queen pengen punya dua juga adik bayinya,” rengek Queen di samping Luna, matanya tertuju pada bayi dalam gendongan sang ibu.
Tersenyum lembut Luna mengelus kepala sang putri. “Gimana di kasih Tuhan aja ya, sayang.”
“Kalau sekarang di kasih satu, Papi janji deh nanti Papi buatkan lagi adik bayinya,”
“Beneran ya, Pi?” antusias Queen.
Leo mengangangguk. “Mana pernah Papi bohong sama kamu.”
__ADS_1
“Itu mah memang maunya lo, Le!” dengus Lyra yang di balas kekehan Leo.
“Bang, kasih tahu gue dong goyangannya kayak gimana biar langsung dapat dua,” celetuk Dimas yang duduk di sofa bersama istrinya. Leo menyutujui Dimas dan menunggu dengan tidak sabar jawaban dari Levin.
“Nah benar tuh Bang, biar malam ini juga gue praktekin sama Lyra.” Tambah Pandu yang juga ikut-ikutan, tidak peduli walau sang istri sudah melayangkan plototan tajam.
“Ikut-ikutan aja kalian itu,” Leon geleng kepala. “Bayi kembar bukan di hasilkan karena goyangannya, tapi gimana Tuhan memberi kepercayaannya. Percuma juga goyangan udah aduhai, tapi Tuhan memang mempercayakan cuma satu untuk kalian, bisa apa coba?”
“Denger noh yang Bapak gue bilang!” jitakan Levin berikan pada adik ipar juga lemparan buah anggur pada Dimas dan Leo yang berada jauh darinya. “Tapi kalau kalian emang penasaran, nanti deh gue kasih tutorialnya,” lanjut Levin yang kali ini dia sendiri yang mendapat jitakan dari Leon dan Lyra.
“Sableng emang!” dengus Leo.
“Namanya siapa Dev?” Luna bertanya, pada Devi yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit.
“Yang perempuan itu yang pertama lahir, namanya Devina Ariaputri nah yang laki-laki namanya Devin Adiatamaya Putra.” Jawab Devi memberitahukan nama anaknya yang lahir hanya berselang sepuluh menit.
Yang di ucapkan Luna memang awalnya mengharukan, tapi sepertinya karena sudah tertular Leo jadi lah sahabatnya satu itu ikutan menyebalkan.
Obrolan seru yang selalu dibahas begitu ada yang melahirkan pasti tidak jauh dari bagaimana rasanya, sakitnya dan segala hal yang menyangkut pada proses melahirkan, itu adalah obrolan para wanita sedangkan pria lebih memilih membahas topik pekerjaan mereka. Sebenarnya Luna sudah di minta kembali ke kamar rawatnya karena harus istirahat, tapi Luna yang sudah kepalang asik di ruangan Devi menolak untuk kembali ke kamarnya dan hanya merima pemeriksaan saja setelah itu kembali bergabung dengan yang lainnya. Lagi pula tidak ada yang perlu di khawatirkan karena mereka masih berada dalam lingkungan rumah sakit di tambah lagi ada Amel yang akan dengan sigap membantu jika terjadi sesuatu pada kondisinya.
“Lun, anak lo gak mau lo jodohin lagi? Noh anaknya Si Devi ada dua, bisa lo jodohin sama yang mana aja,” ucap Amel sambil menunjuk anak-anak Devi yang tertidur di box bayinya.
“Emang boleh?” tanya Luna dengan polos.
__ADS_1
“Emang lo beneran mau jodohin anak lo lagi?” Devi menaikan sebelah alisnya.
“Belum kepikira sih, tapi kalau memang boleh, ya, gue gak keberatan,”
Devi dengan cepat menggeleng. “Jangan deh, Lun. Anak-anak gue biar cari pasangannya masing-masing aja di saat dewasa nanti, tapi kalau emang suatu saat nanti naksir sama anak lo, ya gue restuin.”
Luna tersenyum mendengar ucapan Devi kemudian mengangguk begitu juga dengan yang lainnya.
Obrolan terus berlanjut dengan tawa yang selalu menjadi pelengkap kebersamaan mereka. Persahabat yang semakin hari terjalin semakin erat membuat mereka sudah seperti kelurga. Selalu ada tawa dan canda, saling membantu dan saling menasehati satu sama lain.
Persahabatan yang mungkin tidak terjadi pada banyak orang, membuat mereka bersyukur memiliki satu sama lain. Bersahabat bukan karena seberapa lama kita mengenal, tapi sedalam apa kita memahami dan mengerti satu sama lain. Akan percuma bukan jika lama mengenal tapi tidak saling memahami dan mengerti? Persahabatan hanya akan menjadi sebuah status tanpa ada kebahagiaan di dalamnya.
“Lo harus jaga kesehatan, Lun, jaga juga kandungan lo. Gue jadi khawatir setiap ada yang ke rumah sakit, lo jadi ikut-ikutan juga,” ucap Amel mengutarakan ke khawatirannya.
“Benar noh yang di bilang mantan pelakor,” Lyra menyetujui. Amel yang mendapat julukan itu mendengus kesal sedangkan sang tersangka hanya terkekeh.
“Kayaknya masih ngenes aja lo sama gue, Ra. Dulu perasaan gak ngasih sindiran apa-apa?”
“Dulu kan lo, gue diemin karena gue masih marah, kalau sekarang mah udah biasa aja, tapi tetap aja gak bisa lupa,” jawab Lyra yang kembali cengengesan. “Asal lo tahu, diamnya seseorang yang cerewet dan bar-bar kaya gue lebih nyakitin dari pada berkoar dan ngamuk-ngamuk. Dan gue yakin lo sendiri pun merasakan itu.”
“Udah, ah, jangan bahas masalah lo pada lagi, lagian itu udah berlalu, udah kedaluarsa.” Devi menghentikan Lyra dan Amel yang pasti akan memulai perdebatan tidak berpaedahnya mereka.
Bersahabat juga bukan hanya dilihat dari saling membantu dan kebaikannya, tapi juga bagaimana kita mengulurkan tangan setelah melayangkan ejekan, karena itu lebih berharga dari pada menarik kemudian menertawakan. Ingat! Tidak semua yang di awali dengan kebaikan akan berakhir baik.
__ADS_1
Namun tidak juga yang di awali kejahatan akan berakhir dengan tidak baik. Hubungan Lyra dan Amel di masa dulu boleh tidak baik akibat sebuah penghiatan, tapi itu tidak menjamin bahwa Lyra akan selamanya membenci Amel karena dia tahu mana yang pantas di tinggalkan dan mana yang pantas ia tarik kembali untuk di pertahankan. Manusia itu bisa berubah, karena kehidupan itu seperti bola, berputar. Bukan seperti batu bata, meski kuat tetap saja jika di lempar akan hancur.
Luna menoleh pada sang putri yang tengah bermain game bersama Ratu, Dania, dan Rapa dalam hati Luna berharap bahwa kelak anaknya itu akan mendapatkan sahabat seperti dirinya. Sahabat yang begitu luar biasa dan selalu ada dalam keadaan apapun.