
“Le, selesai dulu mainnya, ajak anak-anak untuk makan,” teriak Luna pada suaminya. Leo yang mendengar pun langsung memberikan acungan jempol dan menggiring anak-anaknya untuk menghampiri para ibu yang tengah menghidangkan semua bekalan yang mereka bawa.
“Pada cuci tangan dulu,” ucap Lyra pada mereka yang baru saja datang sambil memberikan sebotol air mineral juga tisu basah. Pandu membimbing anak-anaknya untuk cuci tangan setelah ini satu per satu dari mereka duduk mengisi celah yang masih kosong. Dan bergantian menerima piring yang di berikan Luna.
Makan ramai dengan disertai canda yang membuat semua yang ada di sana tertawa, membuat banyak orang menoleh kearah mereka, menatap heran juga ingin tahu. Luna yang menyadari itu justru menawarkan makanan yang dirinya bawa untuk sekedar basa-basi dan beramah tamah pada pengunjung lain.
“Diam dulu, hey, mau pada ke mana?” tegur Luna pada keempat anak itu yang bangkit dan hendak berlari pergi. “Diam, duduk dulu. Baru habis makan itu jangan lari-lari, nanti perutnya sakit.”
Keempatnya akhirnya menurut dan kembali duduk, menikmati potongan buah yang di berikan Lyra sampai beberapa menit berlalu barulah ke empat bocah itu di izinkan kembali bermain, sedangkan para ayah yang sepertinya kelelahan memilih untuk tiduran di atas hamparan tikar setelah semua bekas makan kembali di masukan ke tempatnya semula.
Melihat anak-anak berlarian terutama Queen dan Rapa membuat Leo bangkit dari tidurannya dan mengubah posisi menjadi duduk sambil memperhatikan anaknya. “Ly, gue ngeliat Rapa sama Queen kok jadi keingat masa kecil kita dulu ya?”
“Iya, tapi bedanya dulu lo yang selalu gue jahilin,” Leo terkekeh geli jika mengingat masa itu bersama Lyra.
“Dih gak sadar, siapa coba yang selalu nangis saat kuncirannya lepas? Siapa yang selalu marah saat sebelah sepatunya ilang, dan siapa yang selalu ngadu kalau ban sepedanya bocor?” ucap Leo meledek sahabat kecilnya itu.
Lyra mendengus kesal. “Iya, dan gara-gara lo, selama satu minggu penuh gue harus bolak-balik bengkel cuma untuk ganti ban sepeda!”
“Ingat gak Ly, saat dimana lo kecebur kolam ikan di taman komplek?”
“Jangan ingetin lagi ****!” murka Lyra memukul-mukul pundak Leo yang justru tertawa.
__ADS_1
“Mau ngulang gak, Ly?”
“Ingat umur ****!” toyor Levin tepat pada belakang kepala Leo membuat laki-laki itu meringis. Namun kemudian tertawa.
“Lagi pada nostalgia nih ceritanya?” cibir Luna dan Pandu bersamaan.
Lyra menoleh pada suaminya dan mengedipkan sebelah matanya, tahu bahwa sang suami tengah cemburu. Terlihat jelas telinga pria itu yang sudah memerah. Dan bodohnya Leo malah melanjutkan cerita masa kecilnya.
“Iya, Yang, dulu aku sama Lily gak beda jauh sama Rapa dan Queen sekarang. Keluarga kita hampir tiap minggu ajak piknik dan biarin anak-anaknya main sampai lelah. Aku paling suka kalau udah lomba lari sama Lily, dia selalu ketinggalan, tapi tetap aja aku yang selalu berakhir kalah ….” Leo kembali tertawa mengingat itu.
“Iya, kalau gak gue lempar bola, ya, sepatu yang gue lempar, yang penting gue menang,” tambah Lyra kemudian ikut tertawa.
“Jangan lupa, lo juga selalu nendang gue biar jatuh dan akhirnya gak bisa lari. Sialan emang!”
“Cie cemburu,” goda Leo menusuk-nusuk pipi tembang Luna dengan telunjuknya.
“Dih siapa yang cemburu coba!” elak Luna menyingkirkan tangan suaminya.
“Lucu banget sih kalau cemburu gitu, bikin gemas!” menjawil hidung mancung istrinya kemudian Leo mendaratkan kecupan pada pipi Luna yang membuatnya semakin memerah karena malu.
“Ish, apaan sih, jauh-jauh sana!” usir Luna yang tak berani menatap wajah suaminya yang terus melayangkan godaan. Luna terlalu malu untuk menunjukan wajahnya yang tengah memerah ini.
__ADS_1
Grep. Leo memeluk tubuh istrinya yang tak ramping lagi itu, seraya membisikan kata ‘I Love You’ di telinga Luna membuat pipinya semakin merona bahkan mungkin merahnya tomat busuk saja kalah dengan rona di pipi Luna saat ini. Perempuan memang lemah jika sudah di beri bisikan seperti itu oleh laki-laki tercintanya.
“Ini tempat umum woy, bukan kamar hotel!” dengus Levin kesal melihat keromantisan Luna dan Leo.
“Sirik aja lo, Bang mentang-mentang bentar lagi puasa,” balas Leo mencebikan bibirnya ke arah Levin yang langsung mendapat jitakan dari laki-laki yang lebih tua darinya itu.
“Dih gak sadar lo-nya juga bakal segera puasa.” Balas Devi membela sang suami yang sudah manyun di belakangnya.
“Gue mah masih lama, itu Bang Levin? Kalau gak menghitung hari, ya, hitung minggu. Haha.” Puas Leo menertawakan Levin yang semakin murung di ceruk leher istrnya.
Sambil memeluk istrinya, Leo kembali memperhatikan anak-anak yang tengah bermain, tatapannya tak lepas dari Queen dan Rapa. “Dulu kita semua yang seperti itu, usia dimana hanya tahu bermain, tertawa dan menangis karena jatuh. Berlarian tanpa adanya beban yang di pikul, tanpa tahu adanya masalah yang harus di hadapi. Sekarang … gak kerasa malah udah jadi orang tua.”
Semua membenarkan apa yang di ucapkan Leo, dan tersenyum begitu kisah tentang masa kecil masing-masing terlintas dalam ingatan. Memang benar, masa kanak-kanak adalah masa dimana mereka berbahagia, walaupun menangis, ya, karena jatuh, bukan karena sakit hati ketika mulai mengenal cinta,
“Dulu kita sekecil itu masih main kejar-kejaran Le, dan gak nyangka sekarang kita sudah memiliki kehidupan rumah tangga masing-masing, punya anak masing-masing, dan sepertinya lima belas tahun lagi kita malah jadi besanan,” ucap Lyra terkekeh geli begitu juga dengan Leo.
“Sempat gue kira dulu keluarga bakal jodohin lo pada. Gak kebayang aja rasanya kalau si jahil di satuin sama yang jahil juga,” kekeh Levin ikut tertawa.
“Ancur yang ada rumah tangga mereka. Bukannya saling melengkapi malah saling membuli,” timpal Devi. Dan keenamnya kembali tertawa.
“Tuhan itu adil, memasangkan umatnya dengan kepribadian yang berbeda, sifat yang berbeda, juga tingkah yang gak serupa, karena Tuhan memang menciptakan umatnya tidak dalam kesempurnaan, tapi menyatukan perbedaan dan kekurangan masing-masing untuk menjadikan mereka pasangan yang saling melengkapi hingga membuatnya menjadi sempurna.” Luna menambahi.
__ADS_1
Pelukan Leo semakin erat di pinggang istrinya kemudian melayangkan kecupan singkat di pipi wanita hamil itu. “Maka dari itu Tuhan memberikan kamu untuk menjadi pasanganku, karena Tuhan tahu hanya bersamamu-lah hidupku menjadi sempurna.”