
Leo resmi mengajukan cuti dari kantor tempatnya bekerja, Ayahnya memberi izin untuk dirinya menjaga Luna sepenuhnya yang bisa kapan saja melahirkan karena Dokter bilang bahwa tidak semua sesuai dengan hitungan, bisa cepat atau bisa juga kurang dari waktu yang di prediksikan.
Setiap pagi Leo akan menemani istrinya jalan-jalan di sekitaran komplek, kadang Lyra pun ikut berjalan-jalan dengannya sampai orang-orang yang berpas-pasan dengan mereka selalu menggodanya beristri dua yang sama-sama tengah hamil. Tentu saja Leo menanggapi itu dengan candaan juga.
Sepulang dari jalan-jalan pagi Leo langsung menyiapkan sarapan juga susu untuk istrinya itu plus sahabatnya yang sama-sama tengah mengandung. Meskipun selalu dengan sedikit gerutuan, tapi dalam hati sama sekali Leo tidak keberatan dengan semua ini, ia justru bahagia bisa mengurusi kedua ibu hamil itu terutama istrinya.
“Sayang cumi gorengnya yang biasa apa yang pedas?” teriak Leo dari arah dapur.
“Biasa aja, Le.” balas Luna berteriak pula.
Leo tidak habis pikir pada istri berperut besarnya itu, sejak tadi pagi ibu hamil itu tidak juga berhenti mengunyah, bukan hanya satu tapi dua-duanya. Tidak Lyra tidak juga Luna, terus saja meminta ini dan itu membuat Leo rasanya ingin sekali mengumpat. Kebetulan yang sangat menjengkelkan untuk Leo. Bi Atin izin pulang karena anaknya sakit membuat Leo mau tidak mau melakukannya sendiri, membuatkan cumi goreng tepung yang menjadi favorit Luna juga membakar sosis yang hingga saat ini masih menjadi kegemaran sahabatnya.
“Silahkan di makan tuan putri,” ucap Leo seraya menyajikan sepiring cumi goreng yang masih hangat.
“Saos sama mayonesnya mana?”
“Sebentar aku ambil dulu,” Leo kembali melangkah menuju dapur untuk mengambil apa yang di inginkan istrinya.
Tak lama Leo kembali dan duduk di samping istrinya, menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa dan menyeka keringat yang keluar di pelipisnya. Luna yang melihat wajah lelah suaminya tentu saja kasihan dan merasa bersalah.
“Maafin aku ya, selalu ngerepotin kamu,” ucap Luna seraya menunduk.
Leo duduk tegak menarik pelan istrinya untuk ia peluk dan ia kecup keningnya. “Kenapa minta maaf, hm? Aku gak sama sekali merasa repot kok, sayang, meskipun kadang merasa kesal, tapi itu tidak masalah karena dengan begitu aku merasa berguna untuk kamu.”
__ADS_1
“Kenapa gue terharu dengar omongan lo Le? Ah, Lelenya gue sekarang sudah dewasa. Gue gak nyangka lo bisa se sweet ini dan bisa sepengertian ini, jadi nyesel gue kenapa dulu gak lo aja yang gue nikahain,”
Luna melepaskan pelukan suaminya dan mengambil potongan cumi goreng dari piring kemudian melemparkannya pada Lyra. “Kalau dulu lo nikahin laki gue, terus gue sama siapa, hah?!”
Lyra dan Leo tertawa, memang sejak hamil Luna menjadi semakin menggemaskan di mata Leo, kecemburuan wanita itu membuat Leo merasa berbunga-bunga seperti remaja labil yang kasmaran karena seseorang yang di taksir memberikan respon.
☻☻☻
“Aarrgghhh!”
Suara jeritan itu membuat Leo langsung terbangun dari tidurnya, terkejut bukan main Leo langsung turun dari ranjang dan berlari menuju asal suara, betapa terkejutnya ia saat di kamar mandi menemukan istrinya terduduk di lantai dengan darah yang mengalir dari pahanya.
“Astaga Luna!”
“Sakit Le, perut Aku sakit.” Lirih Luna dengan nada bergetar, wajahnya pucat dan darah semakin banyak keluar menembus daster yang wanita hamil itu kenakan.
“Kita kedokter sekarang. Kamu bertahan ya sayang, jangan pejamkan mata kamu, aku mohon!”
“Papa! Mama! Bi Atin!”
Di tengah malam seperti ini Leo terpaksa berteriak memanggil semua orang di rumahnya seraya berlari menuju ke luar rumah.
Tiga orang yang di panggil itu berdatangan dengan cepat, sama paniknya apa lagi saat melihat keadaan Luna yang terus meringis menggumankan kesakitan. Air mata sari keluar begitu saja melihat putrinya yang kesakitan seperti ini. Saat melihat darah yang keluar dari balik pakaian yang di kenakan anaknya melewati kaki putih Luna membuat Sari semakin histeris dan segera meminta sang suami untuk menyiapkan mobil, Sari tahu anaknya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
__ADS_1
“Bi Atin tolong siapkan pakaian untuk Luna dan bayinya. Nanti Bibi nyusul ke rumah sakit bareng Pandu ya,” ucap Sari sebelum akhirnya menaiki mobil yang di dalamnya sudah ada Lukman, Leo dan Luna. Bi Atin dengan segera masuk kembali ke rumah, tidak lupa untuk menghubungi orang tua Leo juga Pandu.
Lukman bersyukur karena jalanan lenggang saat ini jadi tidak butuh waktu banyak untuk sampai di rumah sakit. Beberapa perawat menyambut Luna di lobi UGD dengan brangkar yang sudah siap. Leo memindahkan tubuh istrinya yang segera mereka bawa menuju ruang pemeriksaan.
Cengkraman Luna di tangan Leo mengerat seakan memberi tahu bahwa ia begitu kesakitan. Leo tidak hentinya merapalkan doa dalam hati, meminta pada sang pencipta untuk keselamatan istri juga anaknya.
“Bertahan sayang, aku mohon.”
“Maaf Bapak tunggu di luar saja ya,biar kami lakukan pemeriksaannya dulu.”
Leo tertunduk lemah, saat pintu tersebut di tutup dari dalam. Air matanya tidak juga dapat ia hentikan, Leo benar-benar kalut. Tidak jauh berbeda dengan Sari yang kini berada dalam rengkuhan suaminya. Lukman pun bukan tidak sedih, tapi disini ia berusaha tegar untuk istrinya, menantunya juga anaknya yang berada di dalam sana.
Tidak lama dokter keluar dan memberi tahukan bahwa Luna harus dengan segera melakukan operasi karena untuk menjalani persalinan normal tentu sudah tidak memungkinkan melihat kondisi Luna saat ini yang semakin lemah akibat darah yang terus mengalir.
“Lakukan apapun yang terbaik untuk anak dan istri saya dok!” putus Leo cepat.
Leo masuk kedalam ruang dimana Luna berasa, menemui istrinya yang sebentar lagi akan melakukan operasi Cessar. Luna terbaring lemah di brangkar dengan mata sayu yang menyiratkan akan ketakutan. “Aku percaya kamu kuat sayang, maafkan aku yang tidak menjagamu dengan benar,” ucap Leo pelan seraya mengecup kening istrinya cukup lama.
“Jangan salahkan diri kamu Le, justru aku yang harusnya minta maaf karena tidak berhati-hati. Maafkan aku Le, maaf.”
Setelah mengucapkan itu kesadaran Luna hilang, dan tentu saja membuat Leo panik bukan main dan berteriak memanggil dokter juga suster, air mata kembali menetes saking panik dan takutnya. Leo terus berteriak memanggil dokter juga suster mengguncang pelan tubuh istrinya yang tidak juga sadarkan diri.
“Bapak yang tenang, ya, istri Bapak tidak apa-apa, dia hanya tertidur karena obat biusnya sudah bereaksi,” ucap suster yang menghampiri Leo tersenyum maklum, tapi tetap saja merasa geli dengan kepanikan berlebih dari suami dari pasiennya itu.
__ADS_1
Dokter kembali masuk dan sudah siap dengan pakaian operasinya, meminta agar Leo menunggu di luar. Pasrah akhirnya Leo menurut setelah sebelumnya memberikan kecupan di kening istrinya itu. “Aku mencintaimu sayang, kumohon untuk kuat dan tetap bertahan. Aku menunggumu, menunggu kalian.”