
Acara tujuh bulanan Luna di adakan di rumah Lukman-Sari selaku orang tua Luna. Leo menurut saja apa kata para orang tua, toh dirinya juga memang tidak terlalu paham soal acara-acara seperti ini, di tambah lagi acara ini memang Sari yang menginginkan. Ibu mertuanya itu bilang agar sahabatnya pada iri karena dirinya sudah akan memiliki cucu, sedangkan teman-teman arisan Sari lebih mementingkan anak-anaknya menunjang pendidikan dari pada menikah.
Tidak jauh berbeda dengan Melinda yang juga memiliki pemikiran yang sama. Melinda ingin memberitahu semua teman arisannya bahwa dirinya juga akan mendapatkan cucu. Selama ini telinga Melinda terasa panas karena teman-teman arisannya selalu menyombongkan tentang cucu, dan anaknya atau menantunya yang hamil. Luna dan Leo bahkan sampai geleng kepala dan tepuk jidat mendengar alasan kedua ibunya itu. Ternyata wanita-wanita berusia lebih dari kata matang itu senang sekali pamer.
Acara di adakan pukul empat sore, satu persatu tamu undangan juga tetangga komplek sudah berdatangan yang langsung di sambut Sari dan Melinda di ambang pintu masuk rumah sedangkan Lukman dan Wisnu menyambut tamu di depan gerbang.
“Gila, ini sih pantasnya di sebut hajatan kedua dari pada acara tujuh bulanan,” ucap Lyra menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.
“Tamunya banyak banget, emang terniat deh nyokap lo, Lun.” Devi menambahi.
Delapan orang, alias empat pasangan itu duduk di sofa pojok memperhatikan orang-orang yang datang dan Sari persilahkan duduk di karpet yang sudah melapisi lantai marmer dingin itu. Sofa-sofa yang biasa di letakan di ruang utama sudah singkirkan lebih dulu begitu juga dengan lemari-lemari kaca sudah diamankan lebih dulu membuat ruangan depan itu menjadi luas dan mudah-mudahan cukup di isi oleh para tamu undangan juga tetangga.
“Lo habis berapa duit, Le untuk acara ini?” Levin bertanya pada laki-laki yang berada di sampingnya, setia mengelus perut Luna yang buncit.
“Gak tahu gue,” jawab Leo mengedikan bahunya.
“Kok gak tahu?”
“Para tetua yang mengeluarkan dana untuk ini. Makanya gue gak banayk protes mau sebanyak apa pun mereka ngundang orang.”
Satu toyoran melambung pada pelipis Leo yang di berikan Pandu. “Buat anak sendiri masih aja lo pelit buat ngeluarin dana.”
“Pelit dan ngirit kan nama tengah laki gue ***,” Luna berucap, dan diangguki setuju semua orang di sana, sedangkan Leo sendirihanya tertawa kecil dan mengacungkan kedua jempolnya di depan Luna.
__ADS_1
“Aku lagi kumpulin uangnya buat persalinan kamu nanti, Yang, ya, kecuali kalau Amel mau ngasih diskon besar-besaran nanti,” kata Leo menaik turunkan alisnya, menatap pada Amel yang duduk agak jauh darinya.
“Boleh…” jawab Amel menggantung. Leo jelas sudah mengembangkan senyumnya begitu juga Luna, sedangkan yang lain menatap iri dan hendak melayangkan protes sebelum mendengar kelanjutan jawaban Amel, “… asal setelah lahir, bayinya buat gue.”
Potongan apel yang semula hendak Leo suapkan pada istrinya berbelok ia gunakan untuk melempar sahabat satunyanya. “Lo kira bayi gue, anak kucing,” dengus Leo yang langsung mendapat cubitan dari Luna karena sudah bicara sembarangan.
“Eh, ngomong-ngomong, lo belum hamil juga, Dev?” Leo menoleh pada Devi yang sedang menonton lagu anak-anak di ponselnya bersama Rapa yang terlihat semakin akrab dengan tantenya itu.
“Segera,” hanya jawaban singkat itu yang Devi berikan bahkan tanpa menoleh sedikit pun.
“Wajib di pertanyakan ini tentang kesuburannya Bang Levin, Devi kan udah jelas masih segar dan sehat, sedangkan Bang Levin kan udah mendekati tua,” celetuk Dimas yang sejak tadi diam. Tatapan membunuh Levin berikan pada sahabat dari adiknya itu.
“Sembarangan aja lo ngomong! Mau lo tanding sama gue?” tanya Levin.
Levin melempar Dimas dengan batal sofa yang di pegang Lyra dan dengan cepat Dimas tepis hingga bantal itu tergeletak begitu saja di lantai.
“Tanding siapa yang duluan hamil,” kata Levin sedikit mendelik.
“Dih ogah gue mah. Asal lo tahu Bang gue itu laki-laki tulen jadi, mana mungkin bisa hamil.” Jawab Dimas cepat seraya bergidik ngeri.
Satu lagi bantal sofa yang Levin lempar ke arah Dimas dan berhasil laki-laki itu tangkis. Semua yang ada di sana tertawa, menertawakan wajah kesal Levin.
“Maksud gue istri kita, bego!” geram Levin mendelik kesal.
__ADS_1
“Jangan ah, Bang lagian kan gak boleh. Itu sama aja dengan taruhan, nanti tuhan marah,” ucap Dimas dengan wajah yang di setting sepolos mungkin membuat Levin bergidik jiji. “Tapi ngomong-ngomong hadiahnya apa dulu nih Bang? Kalau memuaskan, ya gue terima tantangannya,” lanjut Dimas menaik turunkan alisnya.
“Najong lo, Dim. Awalnya so suci banget, tetap aja pada akhirnya gue pengen banget jontorin bibir lo!” delik Devi tajam.
“Huss, udah ngerumpinya, acara sebentar lagi akan di mulai. Ayo pada gabung sama yang lain,” lerai Sari dan menyuruh para pasangan muda itu untuk duduk bergabung dengan para tamu lainnya.
Luna duduk berdampingan bersisian dengan Leo, di sebelah Leo ada Wisnu dan Melinda sedangkan di sebelah Luna ada kedua orang tuanya juga. Acara tujuh bulanan berjalan dengan khidmat semua orang mendoakan kandungan Luna agar tetap sehat bayi dan juga si ibu, di lancarkan hingga persalinan nanti dan masih banyak lagi doa-doa lainnya yang menjurus pada kebaikan Luna dan kandungannya.
Satu persatu tamu pulang saat acara sudah selesai di laksanakan, ada juga yang masih mengobrol dengan pemilik rumah dan tidak sedikit juga para ibu yang kebetulan teman arisan sang Mama mendoakan langsung kandungan Luna sembari menyentuh perut buncit itu. Luna membalas dengan tersenyum dan tentu saja mengaminkan doa-doa dari semua orang.
“Manfaatnya tujuh bulanan ternyata ini,ya. Banyak yang mendoakan kehamilan kamu,” kata Leo seraya mengelus lembut perut buncit yang terlindungi baju yang wanita hamil itu kenakan. Luna mengangguk sebagai jawaban.
Setelah semua tamu pulang, Leo dan Luna kembali duduk di sofa yang tadi mereka duduki dengan sahabat-sahabatnya, hanya mereka berdua di sana karena yang lain sudah pergi ke dapur lebih dulu, mengantri untuk mengambil makan.
“Udah USG jenis kelamin belum, Lun?” Tina yang baru saja duduk bergabung langsung melayangkan tanya.
“Udah Tan, mudah-mudahan perkiraannya tidak meleset,” jawab Luna sembari tersenyum.
“Kalau nanti anak lo cowok, masih mau lo jodohin sama Rapa, Lun?” suara yang tiba-tiba itu membuat Luna, Leo dan Tina menoleh.
“Kan masih ada anak ke dua, ke tiga nanti, Bang.” Jawab Leo tenang.
“Yang satu aja belum lahir, udah mikirin ke dua ke tiga,” ucap Levin mencebik.
__ADS_1
“Sirik aja lo, mentang-mentang adonan lo belum jadi,” balas Leo tak mau kalah.