Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
70. Kondisi Dimas


__ADS_3

Pagi ini sarapan di adakan di rumah Lyra-Pandu membuat Queen kegirangan apa lagi Rapa sudah datang untuk menjemput gadis kecil itu membuat, Luna dan Leo geleng kepala di belakang kedua bocah kencur itu.


Baru saja hendak masuk, Pandu dan Lyra lebih dulu keluar dengan kepanikan yang begitu ketara, membuat rasa penasaran Leo dan Luna begitu besar dan langsung bertanya mengenai apa yang terjadi.


“Dimas kecelakaan sama Bus tadi malam.”


Apa yang di ucapkan Pandu berusan seolah petir di siang bolong, dan membuat Luna dan Leo ikut panik dan cemas.


“Semalam dia dari rumah gue, nyari bininya,” ucap Leo yang masih enggan mempercayai.


“Barusan gue lihat di berita pagi, nomor kendaraan itu jelas punya Dimas dan semakin kuat dengan bukti KTP dan alamat yang di sebutkan.”


“Di bawa ke rumah sakit mana semua korban?”


“Harapan.”


“Rumah sakit itu jelas berlawanan arah sama jalan pulang dia, bego!”


“Tapi siapa tahu itu benar, lebih baik kita ke sana dulu untuk memastikan. Bukannya semalam dia bilang mau lanjut cari Amel?” Luna buka suara, memberi usulan yang kemudian diangguki oleh Lyra.


“Ya sudah, kalau gitu kamu sama Lyra tunggu di rumah aja jaga anak-anak. Nanti setelah aku sama Pandu bisa pastiin itu benar-benar Dimas, aku kasih kabar kamu,” dengan cepat Luna mengangguk menyetujui dan Leo serta Pandu pun tak kalah cepatnya mesuk kedalam mobil.


“Hati-hati!” teriak Luna dan Lyra bersamaan sebelum mobil yang di kendarai Pandu melesat keluar dari garasi rumahnya.


Luna dan Lyra masuk kedalam rumah menyusul Queen dan Rapa yang sudah lebih dulu masuk. Melangkah menuju ruang makan, kedua ibu itu geleng kepala saat di lihatnya ketiga bocah kesayangan mereka tengah main kejar-kejaran mengelilingi meja makan dengan wajah Queen yang sudah cemong dengan mayones juga bubuk susu coklat milik Ratu. Baju Rapa pun sama kotornya begitu juga tangan Ratu.


Lantai yang semula sudah Bi Nani pel kembali kotor, dan itu membuat ARTnya itu mencak-mencak kesal pada ketiga bocah bandel itu. Ratu berlari ke arah sang Bunda, bersembunyi di belakang Lyra untuk menghindari serangan pembalasan yang dilayangkan Rapa dan Queen.

__ADS_1


Dengan tawa yang berderai dari Ratu membuat suasana rumah menjadi riuh. Luna yang pusing langsung menangkap anaknya yang hendak mendekati Ratu. “Udah-udah Nak, sekarang sarapan dulu, ya, mainnya di lanjut nanti.” Lerai Luna memeluk tubuh anaknya yang kini napasnya tidak teratur. Rapa yang ikutan lelah pun berhenti berlari dan memilih duduk di kursi meja makan yang di atasnya sudah terhidang berbagai masakan yang menjadi menu sarapan pagi ini.


“Cuci tangan dulu, Tu, kamu juga Bang!” titah Lyra begitu melihat betapa kotornya tangan sang anak, sedangkan Luna membawa anaknya menuju toilet untuk membersihkan wajah Queen yang kotor. Setelah itu baru lah semua kembali ke meja makan.


“Papi sama Ayah kemana Mi, Bun?” Ratu bertanya begitu menyadari kedua pria dewasa kesayangannya tidak terlihat.


“Ke rumah sakit, Nak, cari Om Dimas.” Jawab Luna seadanya.


“Emang Om Dim sakit, ya, Mi? bukannya semalam main kerumah?” heran Queen. Luna yang hendak menjawab, urung begitu di rasa ponsel di saku daster yang di pakainya berbunyi nyaring.


Sendok yang semula di pegangnya ia letakan kembali dan menggeser tombol hijau pada layar datar benda pipih itu begitu melihat bahwa suaminya lah yang menghubungi.


Setalah berbicara beberapa saat bersama Leo di seberang telepon sana, wajah Luna tiba-tiba berubah panik dan itu jelas membuat Lyra penasaran.


“Dimas benar-benar mengalami kecelakan itu, Ra.”


“Ya sudah, setelah ini kita langsung ke rumah sakit.” Luna mengangguk setuju.


“Kalian mau ikut ke Rumah sakit apa tunggu di rumah?”


“Tunggu di rumah aja, Mi, ada Bi Nani juga kan yang nemenin,” Rapa anak yang paling besar, paham bahwa kedua orang tuanya tengah cemas. Di tambah mengingat bahwa rumah sakit bukanlah tempat yang menyenangkan bagi bocah seusianya dan adiknya.


“Kalau gitu Mami siap-siap dulu. Abang tololongn mami jaga Queen ya?” acungan jempol juga anggukan pria kecil itu berikan sebelum Luna benar-benar pergi tanpa menghabiskan sarapannya lebih dulu.


Untuk kesekian kalinya Lyra menjadi supir dari sahabatnya itu, tapi jelas itu bukan sebuah masalah karena bagaimanapun saat ini Luna tengah mengandung dan bukan hanya itu saja yang menjadi alasannya, namun karena mereka adalah sahabat dimana saling membantu dan menolong sudah menjadi sebuah keharusan dalam sebuah pertemanan.


“Apa Amel udah tahu keadaan lakinya?” Lyra yang sibuk menyetir bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya.

__ADS_1


Luna menggeleng. “Nomor Amel masih gak bisa di hubungi.”


“Ck! Dulu aja berani pelakorin gue, giliran ada yang pelakorin dia malah minggat!” kesal Lyra. “Untung dulu gue gak bersikap kayak dia sekarang ini,” lanjut Lyra menggerutu sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit.


Terlebih dulu Lyra memarkirkan mobilnya sebelum memasuki rumah sakit tersebut yang nyatanya leo sudah menunggu mereka berdua di lobi.


“Keadaan Dimas gimana, Le?” tanya Luna langsung begitu suaminya menghampiri dan memeluknya.


“Dimas udah di tangani ahlinya kok, gak perlu cemas,” Leo menjawab dengan senyum terukir agar istrinya yang tengah hamil itu lebih tenang.


“Si Amel ada gak?”


“Pas gue sama Pandu datang pun Amel udah disini sama orang tua Dimas.” Lyra dan Luna menghela napas lega dan melanjutkan langkah menuju ruangan dimana sahabatnya itu berada.


Pandu yang melihat kedatangan sang istri menghampiri dan memeluk sayang Lyra kemudian membawa istrinya itu untuk duduk di kursi tunggu depan. Kedua orang tua Dimas duduk dnegan kesedihan yang begitu ketara, Amel menengis dalam pelukan sang ibu mertuanya dan Damar, adik dari laki-laki yang tengah berbaring di dalam ruangan ICU sana terlihat lebih tegar sambil memangku bocah perempuan bersia 2 tahun itu.


Luna menarik kuat Amel hingga terlepas dari pelukan Desti, ibu dari Dimas, dan langsung, mendaratkan tamparan keras pada wajah ayu Amel yang terlihat sembab, bahkan basah oleh air mata yang masih terus mengalir.


Apa yang dilakukan Luna tersebut membuat semua orang yang ada di sana terkejut, apalagi kedua mertua sahabatnya itu.


“Cemburu boleh, Mel, tapi jangan buat diri lo bodoh! Sekarang lihat? Dimas di sini dan itu semua gara-gara lo!” marah Luna sambil menunjuk tepat di wajah Amel. “Kalau lo gak pakai acara minggat, Dimas gak akan sampai kecelakaan gini.”


Leo menarik istrinya yang hendak melayangkan kembali tamparan pada Amel yang menunduk dengan air mata yang berderai. Leo berusaha menahan istrinya yang tengah emosi ini dengan cara memeluk, tapi tetap saja emosi membuat Luna lebih kuat dan sulit di tenangkan.


Kedua orang tua Dimas tentu saja bingung begitu juga dengan Damar yang duduk diam memperhatikan.


“Lo tahu, Mel gimana lelahnya Dimas nyari Lo, khawatirin lo, sampai semua tempat dia datangi, bahkan sampai larut malam dimana orang-orang banyak yang sudah tertidur dia tetap ingin dan kekeh mencari lo? Gue tahu lo marah, lo kecewa, tapi setidaknya bukan dengan cara minggat seperti semalam, Mel …!” suara Luna melemah, menarik sahabatnya itu kedalam pelukan dan keduanya menangis bersama sampai suara pintu terbuka mengalihkan semua orang di sana.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” Ayah Dimas menghampiri Dokter tersebut.


“Anak bapak semalam memang memiliki luka yang sangat parah akibat kecelakaan itu dan kami sudah langsung melakukan operasi pada saat itu juga. Maaf jika hanya persetujuan polisi yang kami minta untuk melangsungkan operasi tersebut karena untuk menunggu keluarga datang itu sangat tidak memungkinkan. Sekarang keadaan Anak Bapak masih menjadi pantauan kami mengingat banturan di kepala yang cukup parah, dan untuk saat ini Anak Bapak masih dalam keadaan kritis.” Dokter menjelaskan dengan panjang lebar dan kabar itu memapu membuat semua orang shock termasuk Amel yang langsung tidak sadarkan diri, sedangkan Ibu dari Dimas itu menangis dalam pelukan suaminya.


__ADS_2