
Pagi tadi Luna sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Namun wanita cantik yang baru saja menyandang gelar orang tua itu belum juga membuka matanya, dokter bilang keadaan Luna memang sudah berangsur membaik tapi belum juga memberikan tanda-tanda bahwa wanita itu akan bangun.
Lyra dan Pandu pulang terlebih dulu bersama Bi Atin, bukan karena ketiganya tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit, tapi keadaan Lyra yang tengah hamil pun menjadi perhatian Pandu dan Lyra sendiri tidak bisa membantah itu, sedangkan Bi Atin memang Sari minta untuk pulang dan memasang untuk di bawa ke rumah sakit karena kemungkinan besar Leo tidak akan mau pulang hingga istrinya itu sadar.
“Le, gue juga pulang dulu ya, kebetulan hari ini gue tugas pagi,” Amel ikut pamit beserta suami.
“Bilang sama pihak administrasi untuk diskon pembayaran gue, Mel.”
“Lo masih aja minta diskonan, Le!” Levin memutar bola matanya malas.
“Biaya bersalin mahal, Bang apa lagi Luna melakukan cessar. Gue gak mampu bayar,” ucap Leo memelas.
Satu geplakan Lukman berikan pada menantunya itu. “Jangan ngemis diskonan Le, malu sama Hotel Wiratama yang berdiri menjulang menembus langit.”
“Tuh benar apa kata mertua kamu itu, Le,” Wisnu menyetujui.
“Dih Ayah gimana sih, kan Ayah sendiri yang selalu bilang sama Abang kita itu harus hemat. Meskipun punya Hotel yang menjulang menempus awan, tetap gak boleh sombong dengan mengatakan kebenaran itu pada orang lain.”
Sari dan Melinda hanya menggelengkan kepala tak habis pikir pada anak juga suaminya, sedangkan Levin, Devi, Dimas dan Amel melenggang pergi begitu saja, malas mendengarkan ocehan Leo yang tidak berbobot.
Pukul 10:15 Sari dan Lukman pulang dan akan bergiliran bersama Wisnu-Melinda nanti sedangkan Leo sudah tidur di sofa karena rasa kantuk mulai menyerang, semalam dirinya tidur tepat pukul sebelas malas dan bangun ketika mendengar jeritan Luna, dan saat itu jam masih menunjukan pukul 01:30 dini hari sebab kepanikannya lah membuat rasa kantuk Leo pergi entah kemana dan baru terasa lagi sekarang.
Saat siang menjelang Bi Atin kembali datang dan membawa makanan serta pakaian Leo untuk ganti. Melinda membangunkan anaknya yang masih saja nyenyak dalam tidurnya meminta laki-laki itu untuk mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya Leo dapatkan, ia melangkah menuju kamar mandi, tapi naas karena tidak hati-hati membuat kaki laki-laki itu tersandung kakinya sendiri bertepatan dengan masuknya segerombolan orang yang tak lain adalah sahabat-sahabatnya juga orang tua mereka. Leo jelas menjadi objek tertawaan renyah bagi mereka apalagi dengan laki-laki itu terjatuh dengan kepala yang lebih awal menghantam pintu kamar mandi dan tubuhnya kini tengkurap disana. Beruntung Leo segera menahan wajahnya agar tidak mencium dinginnya lantai kamar mandi yang baru saja terbuka akibat benturan kepalanya.
“Jatuh lo gak elit banget, Le,” kata Levin di tengah tawanya.
“Bisa di ulang gak, Le, Om belum sempat videoin soalnya,” tambah Leon kemudian kembali tertawa dan bertos ria dengan anak laki-lakinya.
“Gak Bapaknya gak Anaknya senang banget bully gue,” cibir Leo di tengah rasa pusing yang di rasakannya akibat benturan pada pintu itu.
Wisnu dan Pendu membantu Leo berdiri kemudian membawa laki-laki itu untuk duduk di sofa panjang yang ada di sudut kamar rawat VVIP ini.
“Kenapa bisa jatuh sih, Le malu-maluin aja tahu gak? Baru juga punya anak. Ck, dasar ceroboh.” Linda menggeleng-gelengkan kepala pelan.
“Lo gak sampai hilang ingatan kan, Le? Gue takut tiba-tiba lo Amnesia, kasihan Luna nanti saat dia bangun lo malah gak kenal bini lo sendiri lagi,” Amel bertanya, lebih tepatnya mengejek membuat semua yang ada di sana kembali tertawa, sedangkan Leo mendengus kesal.
Menghentakan kakinya Leo bangun dari duduknya dan masuk kedalam kamar mandi membiarkan entah berapa orang itu menertawakannya hingga mereka puas sendiri.
“Bunda mana?” Leo bertanya saat tidak melihat keberadaan ibunya di sana.
“Bunda kamu keluar sebentar, Le.” Tina yang menjawab. Leo hanya membalas dengan anggukan kemudian fokusnya kembali beralih pada Luna yang masih saja betah dalam tidurnya.
“Bangun Yang, kamu bisa dengar ‘kan disini ramai? Banyak banget orang yang lagi nunggu kamu bangun, apa lagi aku dan baby Queen sangat menunggu kamu, kita butuh kamu, Yang. Cepat bangun jangan biarkan Baby kita terlalu lama mengkonsumsi susu formula, aku gak mau loh nanti anak kita di panggil anak sapi gara-gara minum itu susu.”
“Maksud lo apa ngomong gitu, heh? Sembarangan aja lo ngatain anak gue anak sapi!” Lyra yang merasa tersinggung melayangkan protes.
__ADS_1
“Lah, emang kapan gue ngatain anak lo?”
“Barusan lo bilang! Jangan pura-pura bego lo, curut!” murka Lyra seraya melemparkan bantal sofa kearah Leo yang sayangnya tidak sama sekali mengenai laki-laki itu.
“Astaga, Ly, gue gak bermaksud ngatain anak lo, sumpah!”
“Ada apa ini ribut-ribut?” Melinda yang baru saja datang bersama Wisnu dengan sesuatu dalam gendongannya menghentikan Lyra yang hendak membalas perdebatannya dengan Leo, tapi terhenti saat tahu apa yang di bawa wanita setengah baya itu.
Melinda melangkah masuk dan membawa bayi mungil yang baru lahir itu menuju ranjang Luna dan menidurkannya disana. Semua yang semula duduk di sofa mendekat pada ranjang rawat Luna dan berdiri mengelilingi brangkar.
“Bangun Lun, lo harus lihat secantik apa anak yang lo kandung selama Sembilan bulan ini,” ucap Devi seraya menggenggam pelan jari tangan Luna yang bebas dari selang infus.
“Calon mantu gue benar-benar cantik Lun, gue setuju, deh, jodohin Rapa sama anak lo, kan sayang kalau cewek secantik ini di kasih ke orang lain,” Lyra berucap tepat di sisi bayi itu yang di tidurkan di samping Luna.
Leo mengambil alih Rapa dari gendongan Pandu dan membawa bocah berusia 17 bulan itu mendekat kearah bayi mungil yang cantik perpaduan antara Leo dan Luna.
“Ini calon istri kamu nanti Rap, di jaga ya, jangan kamu buat anak Papi terluka apa lagi sampai kamu khianati dia. Mulai saat ini Papi percayakan Queen sama kamu, tapi jangan kamu hamilin dulu karena baby Queen baru lahir …!”
Pletak
Satu jitakan keras Leo terima dan itu berasal dari Pandu yang berdiri di sampingnya. Pelototan tajam juga Lyra berikan. “Lo kalau ngomong gak pernah di saring dulu, Le.”
“Gue geli, jir, dengar perjodohan ini. Sableng emang lo pada jadi orang tua.” Dimas menggelengkan kepala tak habis pikir.
__ADS_1
“Bilang aja lo sirik Dim sama gue karena meskipun bayi gue baru lahir, tapi udah punya calon laki. Jadi Papi mertua nih gue,” Leo menaik turunkan alisnya bangga. “Rapa mau kan jadi suaminya baby Queen?” lanjut Leo bertanya pada bocah dalam gendongannya. Satu anggukan Rapa berikan seolah mengerti dengan apa yang di ucapkan Leo.
“Mulai sekarang lo harus nabung ***, buat hajatan nikahan anak-anak kita dua puluh tahun kemudian. Gue gak mau tahu nikahan mereka harus mewah pokoknya. Awas aja lo kalau ngecewain gue nanti!”