
Waktu menunjukkan pukul 13.30 saat bel sekolah berbunyi.
Setelah membereskan alat tulis Wawan bergegas keluar kelas bersama dengan para sahabat nya.
Nampak di depan gerbang anak-anak dari kelas 1,2,3 sudah bergerombol diluar. Menunggu kelanjutan cerita yang belum usai.
Wawan mencari-cari keberadaan Dimas sampai akhirnya dia bertanya ke salah satu anak yang diketahuinya adalah teman Dimas.
" Mas mau tanya... Dimas dimana..? "
" Dia sudah nunggu di tempat yang sudah ditentukan. " jawabnya.
" Tolong sampaikan ke dia... kita tunggu sampai semua guru meninggalkan sekolah. "
" Saya ngga ingin dilerai saat berhadapan dengan Dimas. "
Mendengar ucapan Wawan tidak sedikit yang merasa sewot.
" Sombong amat nie anak... " kata teman Dimas.
" Ya sudah..... saya suruhan teman kesana. Tapi kamu jangan kabur ya. "
****
" Kurang ajar tu anak berani membuat aturan. Sekarang anaknya dimana Mat..? " kata Dimas
" Ada di depan sekolah Mas. Nunggu semua guru pada pulang. " jawab Rahmat
" Yang penting kamu awasi dia jangan sampai dia kabur. "
" Sudah dikondisikan Mas... Kamu jangan khawatir. " ujar Rahmat
****
Tiga puluh menit kemudian bersama dengan ketiga sahabatnya Wawan menghampiri Dimas yang mana di tempat itu sudah berkumpul banyak orang.
" Punya nyali juga kamu datang kesini. " Ucap Dimas
" Kamu gimana sich...... Tadi minta ketemuan disini sampai nyuruh orang untuk menjaga kita."
" Giliran disamperin dibilang punya nyali. " Wawan berusaha tenang.
" Sekarang aturannya gimana Mas. Kita duel berdua atau teman-temanmu ikut serta. "
" Ini urusan kita. Mereka tidak terlibat sama sekali. " jawab Dimas.
" Kalo begitu temanku akan berdiri di pinggir lapangan sebagai penonton."
" Kalian sudah mendengar syarat yang diajukan Dimas khan. Tolong segera pergi ke pinggir lapangan. "
" Hati-hati Wan...... Semoga menang. "kata Dwi
" Beres. " jawab Wawan
" Semangat Wan." kata Anton dijawab anggukan kepala oleh Wawan
Ton, Dwi yuk kita cari tempat yang teduh dipinggir sana. " kata Kartika
Semua mata saat ini hanya fokus ke mereka berdua dengan tujuan masing-masing. Ada yang berharap jagoannya menang dan mendapatkan keuntungan dari taruhan.
Ada juga yang ingin melihat salah satu diantaranya dipermalukan dan adapula yang sengaja melihat idolanya bertarung menunjukkan kekuatannya. Satu diantaranya adalah Rini.
Bersama dengan Rina berdiri disudut lapangan.
Dimas melihat pujaan hatinya berjalan menuju sudut lapangan berdiri dan memperhatikan dirinya dan Wawan yang sudah di kelilingi ratusan anak membentuk pagar hidup.
Dia bertekad untuk memenangkan pertandingan tersebut. Karena sudah terbiasa bertanding, Dimas tidak berani meremehkan kekuatan lawan. Dimas selalu hati-hati dan penuh perhitungan.
Untuk mempersingkat waktu dan memberi pelajaran ke Wawan, Dimas merapalkan doa tertentu sehingga membuat kedua tangannya dilapisi aura berwarna merah. Perlahan dibelakang tubuhnya berdiri seseorang yang terbentuk dari kumpulan energi berwarna hitam pekat.
Fenomena ini hanya diketahui oleh orang-orang yang memiliki tingkatan ilmu yang lebih dari Dia.
Disisi lain Wawan hanya melihat segala kesibukan yang dilakukan Dimas. Saat tangan Dimas terpancar aura merah ditambah ada energi negatif dibelakang Dimas, Wawan baru tersadar bahwa tujuan utama Dimas selain mempermalukan dia juga berniat untuk mencelakainya.
__ADS_1
Wawan tersenyum.
" Kalo memang tujuan Dimas seperti itu maka aku tidak segan-segan dalam mengeluarkan tenaga untuk meladeninya."
Wawan memejamkan mata sejenak kemudian muncul disisi kanan dan kirinya satu pasang khodam berwujud macan kumbang berwarna hitam pekat yang dia peroleh belum lama ini lewat proses tirakat puasa ngebleng yaitu tidak makan selama tiga hari berturut-turut.
Macan kumbang tersebut berukuran setinggi pria dewasa dan dengan badan kekar berotot seperti banteng. Matanya berwarna biru.
Memberi hormat ke arah Wawan sebelum bersikap siaga. Sesekali matanya melihat sekeliling.
Rini dan Rina dari jauh terkejut saat tangan Dimas berwarna merah ditambah lagi muncul gumpalan asap hitam berdiri dibelakangnya. Belum reda dari keterkejutannya mereka melihat bahwa disamping Wawan muncul binatang besar berwarna hitam menyerupai macan bermata biru.
" *Sepertinya Dimas berniat memberi pelajaran ke Wawan ya Mba. Tidak tanggung-tanggung dia dalam hal ini."
" Untuk melawan Wawan, Dimas menghadirkan pendampingnya dalam perkelahian saat ini*. " komentar Rina
" *Lihat dhek, demi mengimbangi Dimas Wawan pun juga mengeluarkan pendampingnya. "
" Ngeri aku Mba.....Semoga tidak ada yang terluka parah. " jawab Rini*.
Baru selesai bicara Rini dan Rina merasakan aura mematikan yang sangat pekat berdiri di belakang mereka. Saat menoleh mereka tidak menemukan siapa-siapa. "
" Kalian tidak perlu khawatir.. Dia pikir kalian adalah ancaman. Mengingat nenek dan mereka pernah berseteru di masa lalu. "
" Nanti nenek jelaskan..... "
****
" *Peraturan dalam pertandingan ini yang pertama adalah jika ada yang cidera maka dia tidak akan melaporkan ke siapapun. "
" Yang kedua jika ingin menyerah sekarang maka katakan saja dengan catatan harus menjilat sepatu milik lawan*." ujar Dimas
" Kamu memang dari awal sudah punya keniatan untuk mempermalukan ku. " kata Wawan
" Kalau mau menyerah masih ada waktu. Menyerah lah dan jilat sepatuku...!! " sambil menyodorkan salah satu kaki nya ke depan
" Ngga usah banyak ngomong...." jawab Wawan emosi
Perbedaan keduanya sangat kentara dalam hal perkelahian. Wawan adalah petarung jalanan sedangkan Dimas petarung kompetisi.
Dengan kekuatan penuh Dimas melayangkan tendangan dan tinjuan dengan kecepatan sangat tinggi dan intens.
Tendangan ditangkis pukulan dimentahkan begitu terus yang terjadi.
Saat ini Wawan hanya mampu bertahan, karena serangan Dimas tanpa celah sama sekali. Pergelangan Wawan mulai terasa nyeri karena seringnya melakukan tangkisan dan tendangan.
sedangkan khodam miliknya dibiarkan saja berdiri melihat. Wawan hanya ingin mengukur kekuatan dari Dimas.
Makin kesini bukannya melemah justru serangan Dimas ke Wawan makin brutal dan lebih cepat dari yang pertama berkat bantuan kekuatan energi negatif yang berada di belakang nya.
Wawan semakin kewalahan menghadapi ritme serangan dari Dimas. Saking cepatnya gerakan Wawan tidak bisa diikuti oleh mata biasa. Begitu sedikit lengah akhirnya tubuh Wawan dijadikan samsak hidup oleh Dimas.
Teriakan memilukan dari Wawan adalah alunan musik nanti merdu yang menghampiri telinga Dimas.
Banyak penonton wanita bergegas meninggalkan lapangan. Baju Wawan sudah banyak terkena noda darah. Dimas nampak kesetanan dalam melakukan itu semua. Logika nya sudah hilang. Tidak pernah dia berfikir jika itu orang biasa pasti sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Lengan, kaki, punggung, perut, pipi menjadi sasaran Dimas dan yang terakhir dada membuat Wawan terhempas ke belakang dan mencium tanah.
Rini dan Rina meneteskan air mata menyaksikan Wawan menjadi bulan bulanan Dimas.
" Nenek......Tidak bisakah nenek menolong Wawan. " Rini memohon.
Mendapat pertanyaan tersebut pendamping mereka hanya diam saja.
Kembali ke arena
Beberapa teman Dimas dan Rahmat berusaha menghentikan Dimas.
" Kalian jangan ikut campur. " Ancam Dimas sambil mendorong mereka untuk menjauh.
Meski sudah kepayahan Wawan tetap berusaha bangun.
Belum sempat berdiri sempurna Dimas berjalan mendekat dan melayangkan tendangan kearah perut Wawan.
__ADS_1
" bug... " membuat tubuh Wawan terlempar kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya.
*****
Dwi, Anton,Kartika khawatir saat melihat Dimas berjalan mendekati Wawan.
Mereka berusaha menerobos masuk ke dalam arena dan ditahan teman-teman Dimas yang memang menginginkan Wawan mampus.
" Awas Wan......!!!!!! "
Teriakan Anton, Dwi dan Kartika bersamaan. Semuanya terlambat.
Dimas sudah menyarangkan tendangan yang sangat keras di bagian perut sahabatnya sebelum sempat menghindar.
" Kalian jangan ikut campur.....!! " ancam salah satu diantaranya.
Anak-anak perempuan yang masih bertahan menutup mata dan sebagian lagi berteriak melihat Wawan terlontar kembali dan mendarat dengan mulus di tanah.
Kembali ke Wawan
Saat ini Wawan merasakan pusing kepala, mual dan nyeri diseluruh tubuh ditambah lagi dibagian perutnya.
" Apa kamu mau menyerah.... " Ejek Dimas penuh percaya diri.
" Selama ini belum pernah ada lawan tanding ku yang pulang dalam kondisi baik-baik saja. "
" Hahaha. " tertawa penuh kemenangan
" Jangan senang dulu. " jawab Wawan dengan terbata-bata.
" Sepanjang nyawaku masih melekat jangan harap kemenangan dariku. " Kedua kumbang bersatu dengan dirinya. Dalam sekejab mata Wawan berubah menjadi hitam semua. Dia merasa ada aliran energi yang sangat besar mengalir masuk ke dalam tubuhnya.
" Sudah puas belum main-mainnya. " kata Wawan
" Sekarang giliranku. " bergerak cepat menghampiri Dimas
Dimas kaget bukan main manakala Wawan sudah berdiri didepannya mengarahkan pukulan kearah wajahnya tanpa sempat menghindar.
" Buk....bak....buk .....bak...buk... "
Pukulan Wawan meski nampak terlihat lemah akan tetapi penuh tenaga saat mengenai wajah, perut dan kembali lagi ke wajah Dimas. Beberapa gigi Dimas langsung tanggal akibat pukulan dari Wawan.
Setelah puas memukul area wajah dan perut Wawan pukulan Wawan berpindah kebagian persendian baik dibahu, lengan dan tempurung kaki
" Krek... krek... " diiringi lolongan Dimas
" Aaaaaaaaaaa... "
Sebelum akhirnya Wawan menyarangkan uppercut ke arah dagu Dimas membuat tubuhnya melayang kearah belakang. Belum sampai menyentuh tanah Wawan mengarahkan pukulan kearah tubuh Dimas.
" Krak. " terdengar suara tulang patah.
Semua penonton berteriak lebih ketakutan dari sebelumnya kala melihat Wawan menghajar Dimas. Mereka menyaksikan darah berhamburan keluar dari mulut Dimas.
Perkelahian dan darah yang selama ini hanya mereka lihat di tivi kini tersaji secara langsung di hadapan mereka. Mereka kembali tersadar manakala terdengar suara tulang yang sengaja dipatahkan diikuti suara debuman tubuh yang jatuh dari atas.
" Brukkkkk. " Dimas jatuh tersungkur dengan muka lebam. Darah mengalir dari mulutnya dan tidak sadarkan diri.
Suasana menjadi hening sesaat. Terlihat Rahmat dan beberapa temannya menghampiri Dimas. Mereka nampak ketakutan saat Wawan menatap mereka.
" Apa pertandingannya sudah selesai...? " tanya Wawan di jawab dengan anggukan dari mereka.
" Apakah peraturan nya tetap berlaku....? " dijawab lagi dengan anggukan
" Kalo begitu kalian silahkan bawa teman kalian ke rumah sakit. "
Kemudian Wawan berteriak dengan keras
" Jika ada yang melaporkan hal ini kepada siapapun akan bernasib sama dengan Dimas. " semua tanpa disuruh menganggukkan kepala. Wawan kemudian berjalan menghampiri temannya.
" Yuk kita pulang. " Kartika dan Anton segera memapah tubuh sahabatnya meninggalkan lapangan diiringi pandangan penuh kekaguman.
" Pemimpin baru telah muncul. " itu komentar yang terlontar dari mulut anak-anak itu.
__ADS_1