Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 52 Mustika pedang


__ADS_3

Wawan baru saja beranjak dari ruang konseling saat bel istirahat berbunyi.


" Hari yang melelahkan...." Ucap Wawan sambil berjalan menuju kantin


Kantin nampak ramai sekali. Pembicaraan mereka semua sama yaitu bersyukur bahwa sekolah sekarang lebih tenang dengan tidak adanya Roni si pembuat onar.


Semua orang yang berpapasan dengan nya mengangguk dan tersenyum. Tidak ada wajah bermusuhan. Semua menghormati nya.


Setelah memesan semangkuk bakso yang panas dan pedas serta teh manis Wawan duduk di meja paling pojok sambil memperhatikan semua siswa yang sedang makan dan bersenda gurau.


Ketenangan nya terusik manakala seorang siswi datang dan menghampiri dirinya.


" Bolehkah saya duduk disini ? "


" Silahkan.... Disini khan tempat umum." Jawab Wawan datar


" Kenalin mas nama saya Maria. " Sambil menyodorkan tangan untuk mengajak bersalaman


" Wawan.... " membalas ajakan Maria untuk bersalaman


" Senang rasanya bisa bernafas lega melihat mereka mendapatkan pelajaran. "


Ucap Maria sambil menatap wajah Wawan.


" Mas Wawan tinggalnya dimana ? "


" Pindahan dari sekolah mana ? " Maria memberondong Wawan dengan banyak pertanyaan. Tapi dengan sabar dijawabnya.


" Rumah saya di daerah Wonokromo. Saya pindahan dari Yogyakarta. "


" Aku juga di daerah Wonokromo Mas. "


" Berarti rumah kita dekat dong. Kalo berangkat pakai apa Mas ? "


Wawan mulai tidak nyaman saat semua mata memperhatikan dirinya. Keberadaan Maria saja sudah cukup menjadi pusat perhatian apalagi ditambah dirinya.


Tanpa berpamitan dirinya segera bangkit dari tempat duduk dan meninggalkan Maria seorang diri.


Maria hanya tersenyum ketika dirinya diabaikan oleh Wawan.


" Maria kenapa kamu tersenyum ? "


Tanya Friska sahabat nya


" Ini pria yang benar-benar layak untuk diperjuangkan. "


" Pendiam, dingin akan tetapi memiliki aura yang sangat kuat. "


" Baru kali ini aku diabaikan. " kata Maria


" Kamu tahu khan banyak teman cowok bersedia menjatuhkan harga dirinya demi mendapatkan perhatian ku." Friska mengangguk


" Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan ? "


" Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan perhatian nya. "


Maria segera menghampiri Wawan dan berjalan di samping nya menuju gerbang sekolah.


" Mas Wawan mau ngga pulang bareng sama Maria. " Ketika dia melihat sebuah mobil parkir di belakang mobil mewah berwarna hitam keluaran eropa.


Wawan masih tetap terus berjalan bersamanya hingga dia berhenti di mobil hitam yang parkir tepat di depan mobil milik Maria.


" Kamu jadi ikut pulang bersamaku..... "


Ajak Wawan untuk ikut bersamanya sedangkan Maria menatap seseorang yang duduk di belakang setir pengemudi.


" Maaf mas, kupikir mas Wawan ngga bawa mobil sendiri. " Jawab Maria tersipu malu.


" Gila...... Tajir banget.... " Batin Maria melihat mobil keluaran terbaru edisi terbatas yang digunakan Wawan.


Wawan masih melihat Maria duduk di samping pengemudi kala dia sendiri duduk di kursi penumpang bagian belakang.


" Maria apakah dia temanmu ? " Dijawab hanya dengan mengangguk malu


" Mamah pikir kamu akan ikut dia. " Maria hanya menggeleng.


" Kamu suka sama dia ya.... " Pertanyaan mamahnya membuat muka Maria seperti kepiting rebus karena malu.


" Masih terlalu dini mah..... Karena Maria belum tahu isi hatinya. Dia keren lho mah.. bla... bla.... bla..... bla. " Maria mulai bercerita tentang Wawan kepada mamahnya.

__ADS_1


Sedangkan ibunya Maria yang bernama Maudy berfikir sendiri.


" Siapa anak itu..... seperti nya aku tidak asing. "


" Mah... Mamah.... "


" Kok mamah malah ngalamun.... Ngga dengar cerita Maria ya.... "


****


Wawan mencium bau masakan yang sangat menggugah selera.


" Bang, tumben masakan bibik aroma nya sampai tercium dari sini. " Saat mereka hendak membuka pintu.


" Wan, ada setan di dalam..... Sebaiknya kamu jangan masuk. " Cegah Yudi


" Maksudnya gimana Bang ? "


Yudi dan Dicky seperti kebingungan harus mulai dari mana.


" Tadi pas kita mau jemput kamu kebetulan kita berpapasan di depan. Kemudian seorang polisi wanita turun dari mobil dan mengetuk kaca pintu. "


" Anehnya bagaimana dia bisa tahu biodata kita berdua. "


" Dibahasnya nanti saja...Aku lapar Bang."


" Kalian sudah pulang. Ayo buruan makan selagi hangat. "


Kali ini Paramitha hanya mengenakan kaos longgar dan celana jeans menggantikan seragamnya.


Rambutnya diurai hingga mencapai punggung memberikan kesan ibu rumah tangga uang energik.


" Hai.... Kenapa kalian masih berdiri disitu. "


" Yudi..... Dicky..... ajak Wawan untuk mendekat kemari !!!! "


Paramitha meladeni mereka semua. Dengan cekatan membagi nasi dan lauk ke dalam piring dengan porsi besar.


" Ayo makan yang cepat."


" Semua harus dihabiskan."


" Jadi laki-laki itu harus makan yang banyak biar punya tenaga untuk melakukan sesuatu. "


" Enak ngga makanan buatan ku ? "


Dijawab dengan anggukan oleh semua.


" Lho, Bu Paramitha ngga makan ? "


" Saya lagi diet. " Jawab nya singkat sambil membereskan semua piring kotor ke dapur.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika pintu kamar Wawan ada yang mengetuk beberapa kali membuyarkan meditasi Wawan.


" Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini ? "


Berdiri di depan pintu sosok Paramitha yang sudah mengenakan seragam lengkap.


" Bu Paramitha mau kemana ? "


" Ada panggilan darurat dari pusat. "


" Saya pergi dulu ya. " Sambil mencium pipi Wawan. Paramitha meninggalkan Wawan sambil tersenyum.


Wawan baru menutup pintu saat sebuah gambaran muncul.


Dengan mengendarai sepeda motor sepasang pria dan wanita dewasa berniat belok ke kiri di sebuah perempatan saat sebuah truk dengan kecepatan sedang menabrak dari belakang.


Salah satu pengendara mobil melihat kejadian tersebut dan berusaha menggunting dari arah depan hingga mobil tersebut berhenti mendadak.


Muncul sosok yang di kenal Wawan menghampiri pengemudi saat tiba-tiba dari arah belakang memukul kepala nya hingga tersungkur ke depan. Saat hendak berdiri rambutnya dijambak dan sebuah benda berkilau hendak digoreskan ke lehernya


Wawan tahu dimana perempatan tersebut berada. Jaraknya dari sini tidak jauh.


" Aku harus bergerak cepat mengingat jarak dan tempat kejadian paling lama hanya sepuluh menit. "


Wawan bergegas menggunakan baju dan celana setelah merapal kan doa dan dirinya menghilang.


Wawan melihat rambut Paramitha sedang dijambak hingga kepalanya mendongak saat dirinya muncul di lokasi.

__ADS_1


Dia segera menghentikan waktu saat leher Paramitha hendak digores oleh sebuah pisau dari arah belakang oleh seorang pria kekar.


Wawan baru menyentuh tangan pria itu dan hendak merebutnya saat tiba-tiba waktu yang dihentikan nya berjalan kembali.


" Dor.... Dor..... Dor..... " Dua timah panas berhasil bersarang di kepala dan dada pria kekar tersebut sedangkan satu lagi bersarang di jantung Wawan.


" Wawan..... " Paramitha segera berlari menghampiri tubuh Wawan saat sebuah pisau berhasil dibenamkan pada punggung Paramitha.


" Aaaargh. " Tubuhnya jatuh menelungkup di atas tubuh Wawan.


" Sekali tepuk dua lalat langsung mati. "


" Ha-ha-ha-ha. " Pria bertubuh sedikit gemuk tertawa bahagia.


" Untung aku selalu membawa mustika ini. Karena aku sadar bahwa setiap target pasti mempunyai keahlian masing-masing. "


Pria gemuk itu hendak membenamkan kembali pisaunya untuk memastikan bahwa korbannya sudah meninggal atau belum saat Paramitha menyarangkan tiga timah panas ke dada pria tersebut. Sebelum pingsan


" Dor..... Dor..... Dor..... "


Suasana menjadi hening. Dari bawah tubuh Paramitha sesuatu bergerak. Dengan kedua tangan nya berusaha menyingkirkan sesuatu yang menindihnya.


" Kenapa ilmu ku bisa dipatahkan oleh seseorang. " Sambil mengusap darah yang membasahi mukanya sehingga pandangan matanya terhalang.


Setelah semua nampak jelas Wawan melihat baju seragam Paramitha sebelah kanan robek dan dari situ merembes darah segar sedang di dada sebelah kiri ada bekas telapak tangan.


Wawan segera memeriksa denyut nadi paramitha. Meski pelan tapi Wawan tahu jika dia masih hidup.


Dengan pisau Wawan segera menggores telapak tangannya dan diarahkan ke dalam mulut Paramitha. Setelah dirasa cukup Wawan menghampiri pria gendut yang mati karena tiga buah timah panas bersarang di kepalanya.


Wawan memeriksa tubuh pria tersebut dan menemukan sebuah pedang kecil yang terbuat dari batu berwarna biru.


" Mustika apa ini ? " Ucap Wawan saat melihat Batu yang berada di telapak tangannya yang masih ada sisa darahnya.


Tubuh Wawan seperti hilang daya kemudian jatuh pingsan.


Sisa darah yang tersisa di telapak tangan Wawan langsung hilang diserap oleh mustika tersebut sebelum terbenam ke dalam tangan Wawan.


*****


Paramitha melihat mamah dan papah sedang duduk saat dirinya membuka mata.


"Mah... Pah.... Mitha dimana ? "


" Kamu sudah sadar sayang. " Jawab Tari lembut sambil mengusap rambut putrinya.


Paramitha tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Justru yang dia rasakan saat ini tumbuhnya terasa ringan dan segar.


Dia segera memeriksa bekas luka yang ada pada dada sebelah kanannya disaksikan kedua orang tuanya.


" Kamu sedang memeriksa apa ? " Tanya Tari kala putrinya membuka baju memeriksa gundukan yang sangat indah.


" Beberapa waktu yang lalu Mitha mengalami luka tusuk dari belakang dan tembus ke depan."


" Bagaimana mungkin luka tersebut bisa hilang ? "


" Berapa lama Mitha tidak sadarkan diri mah ? " Tanyanya bingung.


Pak Nuruddin berdiri dan berjalan mendekat kearah putrinya.


" *Kamu baru tertidur selama dua hari."


" Papah tahu jika kamu mengalami luka di punggung dan tembus ke dada dilihat dari bekas robek di seragam mu*. "


" Tim medis sempat heran kala memeriksa tubuhmu tidak menemukan "


" Padahal jelas-jelas seragam mu basah oleh darah. "


" Ditambah lagi saat mereka membersihkan mulutmu mereka menemukan darah yang aneh. "


" Aneh yang bagaimana pah ? "


" Mereka menemukan darah berwarna emas di sekitar mulut dan tenggorokan mu. "


" Sesuai dengan darah yang terdapat di sekitar baju Wawan. "


" Setelah dilakukan pengecekan memang itu darah Wawan. "


" Sekarang Wawan dimana Pah. "

__ADS_1


Pak Nuruddin hanya terdiam.


*******


__ADS_2