Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 59 Perburuan Mustika 3


__ADS_3

Pak Arifin berbaring di atas tempat tidur saat Reksageni dan Sengkulu memulai tindakannya. Secara perlahan perut Pak Arifin di sayat menggunakan kuku panjangnya disaksikan oleh Wawan, Kakek Kencana dan Dewi Rengganis.


Pak Arifin nampak tenang kala perutnya sedang disobek namun ekspresi nya sedikit berubah kala cincin yang terdapat di dalam perutnya mulai di pegang oleh Reksageni.


Tubuhnya mengalami kontraksi hebat sedang kan matanya mendelik ke atas.


Entah dari mana asalnya tiba-tiba muncul sebuah benang-benang halus mengikat pergelangan tangan dan kaki Pak Arifin.


Reksageni menatap Wawan dan bertanya


" Tuan kemana saya harus memindahkan cincin ini. "


" Harus secepatnya mencari pengganti sebelum orang ini meninggal. "


" Apakah kalian ingat dengan anak yang bernama Roni yang membuat masalah dengan saya ? " dijawab anggukan oleh semua.


" Pasangkan ring itu pada dia. "


" Apakah tidak ada masalah ke belakang nya ? "


" Saya pikir tidak. " Wawan menjawab mantap setelah melihat visi ke depan dan tersenyum.


Karena menurut gambaran yang dia dapat organisasi tersebut marah karena anggota nya dibunuh oleh pihak lain dan diambil sesuatu yang bukan miliknya tanpa ijin.


Kembali ke cerita


" Baiklah.... Apapun yang Tuan perintah kan akan saya jalankan. "


Seketika tubuh Pak Arifin memucat dan terbujur kaku tidak bergerak saat cincin tersebut tercabut dari dalam perutnya.


Reksageni dan Sengkulu menghilang dari hadapan Wawan menuju ke tempat Roni berada.


Wawan segera mengatur waktu di alam batinnya sedikit lebih lambat dua jam dari waktu nyata atas saran dari Dewi Rengganis.


Semua menunggu khabar dari Reksageni dan Sengkulu.


****


Kediaman Roni


" Pah, saya mendapat khabar jika Wawan sudah pergi dari rumah sakit. " Roni memberikan laporan kepada Ayah-nya


" Ayah sudah dengar. " jawab Pak Iskandar singkat


" Saya masih belum tenang jika tidak melihat anak itu mati. " Ucap Roni sambil emosi.


" Sebaiknya kamu jangan berulah dulu."


" Ingat akibat dari perbuatan mu polisi sampai berani datang ke rumah ini. "


Seketika langit menghitam dan perubahan itu membuat seisi rumah khawatir. Mereka segera berhamburan menyelamatkan diri ke dalam lantai bawah tanah.


Pak Iskandar adalah keluarga kelas atas dari jaman penjajahan. Mereka sengaja membangun ruang bawah tanah untuk berlindung dari peperangan antara penjajah dan pejuang pada waktu itu.


" Dimana Roni ? " Tanya Pak Iskandar saat semua anggota keluarga berkumpul di ruang bawah tanah.


Semua menggeleng mendapat pertanyaan dari Pak Iskandar. Meski khawatir akan tetapi tidak ada yang berani beranjak dari tempat nya.


Roni sengaja duduk di atas balkon memperhatikan fenomena tersebut hingga keadaan menjadi tenang.


" Andai aku memiliki kekuatan sendiri tidak perlu mengandalkan orang lain untuk bertindak. "


"Wusssssh..... Bruakkkkkk. " Sesuatu menabrak tubuh Roni dengan sangat keras hingga tubuhnya terlontar menabrak tembok hingga ambrol.

__ADS_1


" Uhuks... Uhuks.... " Roni batuk akibat debu yang berterbangan.


" Apa yang barusan yang menabrak ku ? "


Roni bangkit dari duduknya dan menepuk-nepuk bajunya yang kotor akibat debu.


" Kenapa tubuhku menjadi ringan ? "


Roni melakukan gerakan seperti tinju dan dia mencoba memukul tembok yang tadi ditabrak nya.


" Bruak.... " Tembok segera hancur berantakan.


Roni tidak merasakan sakit apapun hanya sedikit panas pada perutnya. Dia kemudian berlari ke bawah dan sengaja melompat dari lantai dua hingga tiba di lantai dasar dan mendarat dengan sempurna.


" Ha-ha-ha... " Dia nampak senang dengan kekuatan yang dimiliki nya saat ini.


Sedangkan dari sudut yang tidak terlihat berdiri Reksageni dan Sengkulu yang sedang memperhatikan nya.


" Reksageni apa yang sudah kamu lakukan ? " Sambil menoleh ke arah Sengkulu dia menjawab


" Aku sedikit menambah kekuatan pada cincin itu. "


" Bagaimana jika anak ini berbalik dan menyerang Tuan ? "


" Kamu pikir aku sebodoh itu. Jika anak ini berani menantang Tuan dia akan merasakan akibatnya. "


" Justru aku membantu Tuan untuk menghadapi musuhnya yang sebentar lagi akan datang kemari. "


" Terserah lah.... Mari kita kembali..... Tugas kita belum selesai. " Ucap Sengkulu mengingat kan


Seketika mereka menghilang menyisakan Roni yang sedang bertemu ayahnya.


****


" Semua sudah saya laksanakan sesuai dengan perintah Tuan. "


" Terima kasih sudah membantu ku untuk menghambat langkah mereka. "


" Saya tahu maksud dan tujuan kamu menambah kan sedikit kekuatan pada cincin tersebut. "


Reksageni dan Sengkulu saling bertatapan tidak percaya jika tindakan mereka tetap dipantau oleh Wawan.


" Sekarang saya minta kalian awasi pergerakan mereka !!!"


" Selalu beri khabar situasi terbaru nya kepada saya !!! "


" Siap Tuan... " Seketika mereka menghilang dari pandangan Wawan


" Kakek sebaiknya saya menghindar atau menghadapi mereka ? "


" Untuk saat ini sebaiknya kamu menjauh dari kota ini dulu. "


" Kalian belum siap menghadapi mereka semua. "


" Baiklah.... " Wawan segera keluar dari dunia batinnya dan segera mengumpulkan Paramitha, Bang Yudi dan Bang Dicky serta bibik


" Siapin pakaian semuanya....Saya mau ajak kalian semua jalan-jalan. "


" Sekarang.... " Ucap mereka berbarengan


Wawan segera masuk ke dalam kamarnya dan mengambil jaket serta memasukkan semua uang yang dia simpan untuk kondisi saat ini hingga terdengar suara pintu terbuka.


" Wan, sebenarnya ada apa ? " Tanya Paramitha

__ADS_1


" Situasi nya genting..... Nanti di perjalanan akan ku ceritakan semua nya. "


" Apa kamu sudah siap ? " Paramitha mengangguk


" Mari kita berangkat. "


Mobil segera meninggalkan halaman rumah tepat pukul delapan malam menuju pusat perbelanjaan di tengah kota.


" Bu Mitha, andai kita di luar negeri tempat belanja yang paling sering di datangi dimana ? " Tanya Wawan


" Andai ada kesempatan untuk berlibur tempat yang paling ingin ku datangi pasti ke Paris. "


" Di Le Born Marche Paris. "


" Departement store tertua di Paris ini kita dapat menemukan barang branded seperti sepatu, pakaian dan kosmetik."


" Didalam bangunan tersebut juga berdiri butik-butik branded seperti, Louis Vuitton, Chanel dan Dior. " Paramitha bercerita dengan wajah berseri-seri.


" Apa Bu Mitha hafal dengan situasinya ?"


" Pasti lah.....Sudah tiga kali saya singgah ke sana. "


" Siapapun pasti akan berkeinginan datang kembali ke sana untuk berbelanja dan menghabiskan uang demi barang kesayangan. " Ucap Paramitha menjelaskan panjang lebar.


Tanpa terasa mobil yang dikendarai Bang Yudi memasuki lokasi parkir bawah tanah.


Sepanjang Paramitha bercerita Wawan memegang tangan nya. Bukannya marah justru Paramitha menyambut genggaman tangan Wawan.


Dengan diam-diam Wawan masuk ke dalam alam bawah sadar Paramitha untuk mendapatkan gambaran dan situasi dari cerita yang barusan disampaikan.


Mobil berhenti saat mendapatkan tempat parkir dan mereka semua bergegas keluar.


Mereka semua heran kecuali Wawan kala melihat di sekitaran tempat parkir banyak di temui bule yang cantik dan ganteng.


Kebingungan makin bertambah saat bahasa yang digunakan bukan bahasa yang mereka gunakan selama ini. Hanya Paramitha dan Wawan yang paham akan percakapan setiap orang saat itu.


Paramitha segera memalingkan wajah ke Wawan.


" Apakah sekarang kita di Perancis ? " Wawan hanya tersenyum tipis melihat Paramitha yang masih tidak percaya.


" Bagaimana kamu melakukan nya ? "


" Kita tidak membawa pasport dan visa saat ini. Sedangkan polisi disini setiap melihat orang asing pasti akan menghampiri kita. "


" Nanti saya pikir kan.... Setidaknya sekarang kita aman disini. " Ucap Wawan lirih di telinga Paramitha


" Sekarang kita cari money changer dulu untuk menukar uang. " Ujar Wawan sambil menggandeng Paramitha diikuti oleh Bang Yudi, Bang Dicky dan bibik yang masih nambah kebingungan.


"Savez-vous où se trouve le bureau de change ? ( apakah anda tahu dimana tempat Penukaran uang?) " Tanya Wawan ke salah satu pramuniaga di dalam supermarket tersebut.


Setelah mendapatkan informasi mereka segera berjalan menuju tempat yang dimaksud dan segera menukarkan beberapa puluh ribu dollar dengan mata uang setempat.


" Wan, bahasa Perancis mu cukup bagus lho. Kamu berbicara cukup lancar dan seperti warga lokal. " Sanjung Paramitha


" Kamu kursus ya ? "


" Kebetulan Wawan belajar sendiri Bu. " jawab Wawan singkat dan mengajak mereka mencari tempat makan di rumah makan di depan pelataran Le Born Marche.


Saat semua sedang makan Wawan mendapatkan visual dari Sengkulu dan Reksageni. Nampak beberapa suar ditembakkan ke atas langit tepat pukul sembilan malam oleh puluhan orang dari tempat yang ditentukan.


Langit gelap sejenak berwarna biru terang. Saat cahaya suar tersebut mulai redup muncul siluet berupa garis merah menuju suatu tempat.


Tanpa di komando lagi puluhan mobil bergegas menuju tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2