
Seorang perempuan dengan tinggi semampai, berbusana long dress warna merah, mengenakan kacamata coklat berbingkai emas berjalan mendekati mobil.
Melihat majikannya datang Pak Slamet segera membukakan pintu penumpang dan dibalas dengan senyum serta ucapan terima kasih.
Saat masuk ke dalam mobil Stephanie seperti sedang memeriksa tas nya.
" Pak Slamet tunggu sebentar ya passport ku seperti nya ketinggalan. "
Pak Slamet segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Stephanie yang kelihatan cemas.
Dari dalam rumah keluar perempuan muda mengenakan baju training yang biasa digunakan untuk lari pagi mendekat ke arah Pak Slamet.
" Itu siapa yang berbicara dengan sopir Bu Stephanie ? "
" Chintya Pak..... anak tante saya. "
tanya Pak Nuruddin perihal wanita tersebut.
" Pak Slamet tolong bukakan bagasi. " perintah Chintya
" Baik Bu... " Segera dibukanya pintu bagasi
Tanpa Pak Slamet sadari dari arah belakang dadanya ditusuk tiga kali dengan menggunakan pisau dapur yang terbuat dari besi stainless oleh Chintya.
Tubuh Pak Slamet lingbung ke dalam bagasi dan dengan cepat Chintya memindahkan tubuh Pak Slamet ke dalam bagasi dan memutupnya.
Chintya berlari kearah kemudi, menyalakan mesin dan bergegas pergi menjauh meninggalkan pelataran rumah.
Robert shock berat menyaksikan kekejaman Chintya dalam membunuh Pak Slamet.
Terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari.
" Kok mobilnya malah jalan duluan. Ngga biasanya Pak Slamet seperti ini. "
Stephanie heran dengan ulah sopirnya dan berjalan masuk ke dalam.
Wawan, Pak Nuruddin berikut polisi satu serta Robert menyusul Stephanie.
Semua berfikir ini adalah detik-detik terakhir terbunuh nya korban.
Di dalam Stephanie sedang memegang gagang telpon dan sedang berbicara dengan seseorang dan meminta dikirim mobil segera.
Berjalan dengan berjingkat seorang pria dengan berperut buncit dan bermata yang sipit perlahan tapi pasti berdiri di belakang Stephanie
Diambilnya pisau dapur yang diselipkan dipinggang nya tanpa berpikir lama langsung dihujamkan ke punggung Stephanie.
Tidak berhenti disitu... Kepala Stephanie dibungkus menggunakan plastik dan diikat.
Tubuh Stephanie menggelepar-gelepar seperti ikan yang jatuh ke lantai. Sebelum akhirnya diam.
Melihat pamannya dengan keji membunuh kakaknya.Kakinya lemas, tubuhnya limbung ke depan. Berkat kesigapan polisi satu dan polisi dua Robert berhasil disangga dan di dudukkan di lantai.
" Siapa orang itu ? "
" Dia adalah adik ibu...Ayah dari Chintya namanya Cahyo. "
Dicky suami Stephanie berlari menghampiri tubuh istrinya dan di cegah oleh Cahyo.
" Jangan kamu sentuh tubuhnya kalo kamu tidak ingin bernasib sama. "
" Kakak, apakah sudah beres ? "
Dari arah pintu, masuk paman ketiga dan paman keempatnya berjalan menuju Cahyo.
__ADS_1
" Nasibmu sungguh malang. "
" Maafkan paman.....keponakanku. Harusnya yang mati itu ibumu tapi kamu atas perintah ibumu malah memblokir semua akses perusahaan untuk tidak membantu kami. " kata Sapto paman ketiganya.
" Dari awal aku sudah tahu rahasiamu. Kamu pilih dia untuk jadi suamimu hanya sebagai kedok untuk menutupi kelainanmu saja. " kata Suryo paman ke empat
" Kalian jangan banyak ngomong..... bawa mayat ini dan mayat sopirnya untuk segera dikubur. " perintah Cahyo
" Dicky kamu bersihkan semua kekacauan yang ada disini. " Dicky beranjak dari tempat itu dan membersihkan semua noda darah milik Stephanie yang membasahi lantai dan sofa kulit tempat Stephanie meregangkan nyawa.
Mas Wahid dan Robert akhirnya pingsan melihat banyak mayat tumpang tindih ditambah tubuh Stephanie dan sopirnya dimasukkan ke dalam lubang.
******
Polisi ketiga dan ke empat melihat tiga orang pria selesai membuat dua lubang yang cukup besar di belakang rumah dan diawasi dari jauh oleh dua orang pria. Setelah pekerjaan nya selesai kedua orang tersebut mendekat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ketiganya ditikam di bagian leher dengan menggunakan pisau.
Ketiga mayat tersebut dimasukkan ke dalam lubang yang baru saja dibuat dan beranjak ke dalam rumah.
Tak berapa lama kedua orang itu membawa seorang mayat perempuan berbaju merah diikuti dua orang lagi membawa mayat pria.
Sebelum ditimpa tanah Dicky melihat tubuh Stephanie bergerak akan tetapi dicegah oleh Cahyo.
" Teruskan pekerjaan mu.... Abaikan dia... Sebentar lagi juga mati. "
" Jangan lupa masukkan semua peralatan ini termasuk kain pel yang kamu gunakan dan bakar di dalam lubang itu. " perintah Cahyo
" Kakak, sebentar lagi teman saya datang. Mereka janji bisa membuat taman disini dalam waktu semalam. " kata sapto
" Bagus kalo begitu. " kata Cahyo
Satu jam berlalu.
Tepat diatas lubang tersebut berdiri sebuah patung.
Di dalam ruangan yang sama Wawan melihat Dicky sedang diancam oleh Cahyo.
" Dicky kamu harus ingat pesanku. Jika sampai kasus pembunuhan ini terungkap maka kami tidak segan-segan membunuh anak dan istrimu. " ancam Cahyo
" Selamat sore Pak.... "
Muncul di depan pintu seorang bapak tua didampingi asisten nya.
" Apakah sudah selesai ? "
" Sudah Pak. "
" Kamu yakin siapapun yang mencari tidak akan menemukan nya termasuk anjing pelacak. "
" Saya berani memggaransi Pak. "
" Itu berarti andai taman di belakang suatu ketika di bongkar maka mayat-mayat itu tidak akan ditemukan. "
" Benar Pak. "
" Terima kasih sebelum nya. Ini pelunasan dari pembayaran kamu. "
Cahyo menyerahkan sebuah tas kecil berisi uang.
" Nis, apakah bapak tua itu bisa dilacak ke beradaannya di masa sekarang ?"
" Dan alat apa yang digunakan untuk menutupi aura kematian dari korban pembunuhan serta di simpan dimana ? "
__ADS_1
" Atas izin Allah semua bisa ditemukan. "
" Pak Nuruddin, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Tidak baik terlalu lama berada disini. "
" Mari kita pulang. "
Mas Wahid dan Robert masih belum sadarkan diri kala Wawan hendak kembali ke masa depan.
" Nis, bagaimana dengan mereka ? "
" Apakah tidak terjadi masalah jika membawa mereka dalam kondisi pingsan ? "
Dewi Rengganis sedang memikirkan sesuatu.
" Bagaimana jika paman kembar memasuki raga mereka ? "
" Ide yang bagus... "
******
Bu Ratnasari dan Sari duduk dengan gelisah.
" Sari mereka sudah pergi berapa lama ? "
" Nenek, rombongan itu baru juga empat puluh menit pergi. "
" Apa yang nenek khawatir Khan ? "
" Perasaan nenek tidak enak. "
Angin berhembus dari lingkaran yang dibuat Wawan membuat gorden dan taplak meja menari-nari.
Di depan Sari dan neneknya muncul tujuh pria dewasa dan satu remaja. Dua diantara sedang dipanggul.
" Kalian sudah kembali. " sapa nenek
" Apa yang terjadi dengan Robert dan kakak nya Wawan ? "
" Mereka kelaparan Bu sampai pucat pasi. " dijawab senyuman oleh para petugas kepolisian.
" Kasian... "
" Tapi kenapa bajunya penuh dengan muntahan. "
" Hahahaha " Wawan tertawa diikuti senyum oleh yang lain
" Maka dari itu Bu Ratna, karena isi perut semuanya keluar jadi pasti mereka kelaparan. "
" Anak ini, setelah melihat pembunuhan yang begitu sadis wajahnya tetap biasa saja. Bahkan dia masih bisa bercanda. "
Lengan bajunya seperti ada yang menarik- narik.
" Wawan sudah pernah melihat pembantaian yang lebih sadis daripada tadi Pak. Bahkan hangatnya darah masih terasa ditangan Wawan. "
Pak Nuruddin memandang Wawan tajam.
" Apakah kamu dengar apa yang saya katakan. "
" Santai Pak.... "
" Kalo kamu berkenan bekerja sama dengan kepolisian pasti banyak kasus yang akan terpecahkan. "
" Kita lihat nanti Pak. Selesaikan dulu kasus ini. "
__ADS_1
******