Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 56 Keterlaluan


__ADS_3

" Paman..... Bibi.... " Bentak Wawan menahan amarah


" Wawan.... Perkenalkan ini Anjani. " Ucap pangeran Sethyawan.


Wawan hanya menatap Anjani dengan penuh emosi.


" SAYA TAHU... " jawabnya ketus


Anjani meloncat ke depan untuk membungkam mulut Wawan karena tidak terima jika ada seseorang berani berkata kasar pada pujaan hatinya.


Wawan mengalirkan energi ke telapak tangannya dan diarahkan Anjani yang sedang meloncat


" Crashhhhh.." Anjani terlontar ke belakang akibat terkena serangan jarak jauh.


Sambil memegang dadanya yang sakit Anjani berkata


" Anak muda.... Kamu sungguh keterlaluan dan berani menyerang ku sembarangan. "


" Ha-ha-ha.... "


" Kamu bilang saya keterlaluan... Lantas apa yang sudah kamu lakukan pada kami ? "


Wawan melakukan sebuah gerakan seperti menggambar di udara. setelah itu dari gerakan yang dilakukan muncul sebuah video pembicaraan dia sepuluh menit sebelum nya


Paramitha terbaring telentang dengan tubuh lunglai. Dadanya masih nampak naik turun dengan cepat.


Sudut matanya mulai terbentuk anak sungai. Secara perlahan dia menarik selimut yang terjatuh di lantai untuk menutupi dadanya.


" Bu, Wawan minta maaf.... " Hanya itu kata yang pantas diucapkan oleh Wawan saat ini.


" Apa yang sudah kulakukan barusan ? "


" Aku sudah merusak masa depanmu dan kamu sudah mengambil kehormatan ku. "


Paramitha merubah posisinya. Kini dia duduk sambil bersandar di tempat tidur dengan kaki ditekuk ke depan.


Masih terasa denyutan-denyutan sisa pertempuran barusan.


" Saya minta tolong rahasiakan apa yang sudah kita lakukan barusan. "


" Ini kesalahan saya telah mengajak kamu masuk dalam kamar. "


Wawan mengibaskan tangannya. Seketika muncul Paramitha yang sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan tubuh terbungkus selimut dan menangis.


" Bu, mereka yang menyebabkan semua ini terjadi terutama perempuan itu. "


Paramitha berdiri dan berjalan ke arah Wawan dengan tubuh hanya terbungkus selimut.


" Jangan kamu sakiti perempuan itu lagi. Saya bisa merasakan penderitaan dan kesedihan dari semua yang dialami nya. " Ucap Paramitha sambil mengangguk ke arah Anjani dan di balas senyum olehnya.


" Sangat wajar jika mereka melakukan seperti tadi karena mereka adalah sepasang kekasih. "


" Masalahnya sekarang adalah kamu sudah menyentuh tubuh ku dan mengambil kesucian ku. "


" Saya hanya minta pertanggungjawaban atas apa yang sudah kamu lakukan. "


Anjani berjalan mendekat dan mengandeng tangan Pangeran Sethyawan sambil tetap memperhatikan Wawan dan Paramitha.


"Apa ibu tidak malu memiliki pasangan yang lebih muda dari Ibu ? "

__ADS_1


" Mungkin fisik dan usiamu nampak muda tapi dari yang aku lihat kamu adalah sosok seseorang yang terkurung dalam tubuh remaja seperti diriku. "


Wawan terdiam sesaat dan berkata


" Saya akan bertanggungjawab atas apa yang sudah ku lakukan. " Sambil melirik ke pasangan yang sedang berpelukan dan berdiri tidak jauh dari dirinya.


" Pergilah sebentar lagi saya akan kembali. " Ucap Wawan sambil melambaikan tangan untuk mengembalikan Paramitha dan tempat tidurnya ke dalam kamar.


" Apa ini yang kalian inginkan ? "


Pangeran Sethyawan hanya tersenyum dan berkata


" Terima kasih kamu sudah menyatukan kami. " Sambil berjalan mendekati Wawan.


" Saya berikan sedikit ilmu yang kumiliki kepadamu. " ucap pangeran Sethyawan sambil menempelkan telunjuknya ke kening Wawan dilanjutkan menempelkan telapak tangannya ke pusar.


Muncul dalam ingatan Wawan sebuah gambaran bagaimana cara menggunakan energi yang dimilikinya untuk bisa terbang, mengubah energi menjadi pedang dan bagaimana menggunakan energi untuk menembak dan menyerang musuh dalam jumlah besar.


Setelah itu perut Wawan terasa panas seperti dibakar. Perutnya membesar seperti ibu hamil. energi nya meningkat hingga seribu kali lipat.


Tulangnya membara


Dari dalam dada Wawan keluar pedang biru dengan sinarnya mampu menerangi alam batin seperti matahari yang berwarna biru muda.


Dari pangkal paha keluar sebuah sarung pedang berwarna biru tua dengan sebuah ukiran berbentuk Pheonix.


Terbang berputar-putar dengan cepat hingga menampilkan sebuah siluet berbentuk pheonix.


Setelah beberapa saat pheonix tersebut terbang dan masuk ke dalam punggung Wawan diikuti pedang biru masuk melalui dada secara bersamaan.



" Sekarang pedang yang kamu miliki telah sempurna. Tidak ada satupun yang bisa melukaimu walau seujung jarum. "


" Berlatihlah dan temukan pusaka terakhir. "


" Bukan kah giok tersebut sudah saya temukan. "


" Betul.... Akan tetapi masih belum ada penyatuan jiwa dengan pemiliknya. "


" Berarti aku harus mencari keberadaan Hapsari. "


" Benar... " Kata pangeran Sethyawan


" Sedikit informasi dariku jiwa Hapsari terpecah menjadi puluhan saat itu guna mencari keberadaan Pangeran Sethyawan. "


Wawan kaget setengah mati memikirkan apa yang akan terjadi.


" Kamu tidak usah bingung biar nanti kami yang membantu mengumpulkan jiwa yang terpisah. "


" Huft... " Wawan menghembuskan nafas dengan lega.


Kebayang betapa beratnya dia jika harus meniduri puluhan orang demi mengumpulkan pecahan jiwa Hapsari.


" Terima kasih... Sekarang aku akan berltih sebentar.


Wawan mulai pelatihannya sedang kan pangeran Sethyawan dan Anjani pergi untuk mengumpulkan pecahan jiwa Hapsari.


Awalnya Wawan sangat kesulitan menyalurkan energi pada kakinya. setelah berlatih ratusan kali akhirnya setelah empat bulan pondasi energi nya terbentuk.

__ADS_1


Kini Wawan sudah bisa mengambang lima puluh meter di atas tanah.


Saat dirinya akan menggunakan tubuhnya untuk berlari sambil terbang seperti yang dia lihat di film bukan nya maju malah dirinya meluncur ke bawah dan menghantam tanah dengan sukses.


Tubuhnya terluka parah....


Tulangnya patah dibeberapa bagian....


Akan tetapi hanya dalam satu tarikan nafas semua kembali normal.


Wawan membuka kembali ilmu yang dia terima dan mempelajari nya secara perlahan. Akhirnya dia menemukan dimana kesalahan nya.


Dengan penuh kesabaran dan ketekunan akhirnya setelah berlatih selama tiga tahun Wawan bisa terbang dengan cepat dan mampu menempuh jarak seratus kilometer dalam satu tarikan nafas.


Alam batin Wawan kini sudah seluas ratusan ribu kilometer.


Wawan turun di depan rumah yang pernah dia buat di alam batinnya.


Nampak sebuah taman yang indah di sudut yang lain dia melihat kebun buah berbagai macam jenis.


Belum lagi disisi belakang nampak sebuah peternakan ayam.


Dari jauh nampak seorang pria dewasa dengan tubuh kekar berjalan kearah nya.


" Sudah seratus tahun berlalu akhirnya kamu datang juga. " Ucap Pak Arifin


" Ha-ha-ha..... Maaf sebelumnya jika Wawan tidak sempat berkunjung kemari."


" Bagaimana dengan pelatihan nya ? "


Tanya Wawan dengan santainya


" Berkat ilmu yang kamu berikan akhirnya aku memiliki kesibukan untuk melupakan waktu. " Kata Pak Arifin dengan sedikit marah


" Tenang Pak..... Jangan marah dulu. Kondisi di luar sedang genting. "


" Sekarang saya hijrah ke Surabaya dan sempat mengalami koma selama dua minggu. "


" Tahun berapa sekarang ? "


" Pak Arifin baru berada disini sekitar empat puluh harian jika dihitung dari waktu di dunia luar. "


" Perkembangan dari organisasi bapak saat diam di tempat dan belum ada pergerakan. "


" Perusahaan Pak Arifin sudah diambil alih oleh organisasi dan keluarga bapak saat ini sedang mengontrak di rumah petak di sekitaran bandung dan masih dipantau oleh organisasi. "


" Apakah kamu tidak bisa membawa mereka kemari ? "


" Sebenarnya bisa hanya saja mereka memasang perisai ghaib untuk memantau keberadaan tamu tak diundang. "


" Anak buah saya sudah beberapa yang tertangkap dan dimusnahkan karena tidak mendapatkan informasi. "


" Pak Arifin tidak perlu khawatir kalian pasti akan saya berkumpul kembali. "


" Apa kamu punya rencana ? "


" Hmm. " Wawan mengangguk


" Tapi ngomong-ngomong usia bapak sekarang berapa ? " Tanya Wawan baru menyadari bahwa Pak Arifin terlihat lebih muda dua puluh tahun.

__ADS_1


" Menantu kurang ajar kamu " Pak Arifin hendak menjitak kepala Wawan


" Bapak terlihat seperti baru berusia empat puluh tahun. Bukan seperti kakek yang berusia seratus tahun. "


__ADS_2