
Wawan merasakan badannya teramat sangat sakit saat dia terjaga dari tidurnya.
Saat membuka mata semua nampak gelap gulita.
" Dimana aku ? " Wawan kebingungan
" Apakah aku sudah mati ? " sambil mencubit lengannya
" Aduh....." Wawan masih merasakan sakit.
Lewat telepati Wawan memanggil semua pendamping nya dari Dewi Rengganis, bibi Gi-Gi sampai yang terakhir Sengkulu akan tetapi tidak ada yang menjawab.
" Sebenarnya apa yang terjadi ? "
" Kenapa aku tidak bisa memanggil mereka semua ? " Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam otaknya.
Karena tidak menemukan jawaban akhirnya Wawan berusaha menenangkan pikiran dengan cara meditasi.
Meskipun kesulitan untuk berkonsentrasi Wawan tetap berusaha menenangkan pikiran nya. Hingga terdengar suara yang sangat lirih masuk ke dalam telinganya.
" Tuhan.... Ku titipkan Wawan kepadaMu."
" Meskipun diriku tidak berjodoh dengannya terimalah sumpah darahku."
" bahwa aku akan tetap setia dan menjaga kesucian tubuh, hati dan pikiranku hanya untuk dirinya. "
Mata Wawan terbuka kala mengenali suara itu. Tanpa dia sadari butiran-butiran air mata menetes dari sudut matanya
" Sari....." Panggil Wawan
" Maafkan aku ... "
Tiba-tiba Wawan merasakan tangan kirinya bergetar. Telapak tangan kirinya sedikit demi sedikit terlihat sebuah garis seperti sayatan silet yang sangat tajam. Rasa pedihnya sampai ke ujung kepala.
Meskipun terdapat luka sayatan akan tetapi tidak mengeluarkan darah.
Tubuh Wawan bagai ikan yang diletakkan di atas lantai. Menggelepar ke sana kemari terkadang mengejang hingga sebuah cahaya berwarna biru turun dari langit dan masuk ke dalam telapak tangan Wawan.
Tubuh Wawan melayang di udara dengan diselimuti asap berwarna biru. Berputar-putar secara horizontal seperti benang yang sedang di pintal. Semakin lama putarannya semakin kencang.
Sedikit demi sedikit asap biru mulai membentuk sebuah garis yang sangat tipis.
Seiring bertambahnya kecepatan putar dari tubuh Wawan semakin cepat terbentuknya sebuah benda.
Tubuh Wawan sudah berhenti berputar. Ditangannya terdapat sebuah pedang dengan bilah terukir sebuah kalimat dengan menggunakan tulisan China kuno.
" SUCI - SETIA - TERPERCAYA "
" Sari bersabarlah diriku akan datang menemui mu. "
Tubuh Wawan lambat laun memudar hingga hilang dari tempat itu.
*******
Hari ini tepat empat puluh hari meninggalnya Wawan.
Sari sedang duduk di depan meja sembahyang. Berdoa dan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk diberi kekuatan dalam menghadapi hari-hari yang terasa berat. Meskipun dia ingin mengakhiri hidupnya tapi dia tidak ingin perjuangan Wawan berhenti begitu saja.
__ADS_1
Kembali teringat pertemuan nya dengan Wawan, meskipun sangat singkat tapi mampu merebut dan menguasai relung hati yang paling istimewa di hati Sari.
Diambilnya sebuah pisau yang sudah dia siapkan. Dia berniat melakukan sebuah sumpah setia dengan menggores tangan kirinya dan meneteskan darahnya pada sebuah cawan kecil dimana disitu terdapat potongan kecil baju Wawan yang bersimbah darah.
Dengan perlahan Sari mulai menggores kan pisau pada telapak tangan kirinya sambil bersumpah :
" Tuhan.... Ku titipkan Wawan kepadaMu."
" Meskipun diriku tidak berjodoh dengannya di kehidupan sekarang terimalah sumpah darahku."
" Bahwa aku akan tetap setia dan menjaga kesucian tubuh, hati dan pikiranku hanya untuk dirinya. "
Tetes demi tetes darah membasahi kain yang terdapat di atas cawan. Cahaya di dalam kamar Sari meredup. Tercium semerbak bau wewangian yang biasa digunakan Wawan.
Sari bangkit dari duduknya dan dia melihat Wawan sedang berdiri di belakang nya. Sari masuk ke dalam pelukan Wawan.
Tangisnya pecah........Ditatapnya wajah Wawan dengan seksama.....Kemudian Sari menghujani wajah Wawan dengan ciuman.
Pelukan nya semakin erat. Dia tumpahkan segala kerinduan nya dengan menghafal aroma tubuh Wawan hingga dia lelah.
Wawan membimbing Sari untuk istirahat di atas tempat tidur.
" Mas, kamu jangan pergi.... Temani aku tidur malam ini. " Dijawab anggukan oleh Wawan
Sari tidur dalam pelukan Wawan hingga terlelap.
Kala pagi menjelang Sari masih merasakan hangatnya pelukan Wawan. Masih mendengar detak jantung Wawan di telinganya.
Dia malas beranjak dari tempat tidur dan melanjutkan tidurnya hingga siang hari.
Sari merasakan sebelah tempat tidurnya telah kosong. Di mengelilingi seluruh penjuru kamar akan tetapi tidak menemukan keberadaan Wawan.
" Kenapa rasanya semua begitu nyata ? "
Sari teringat akan luka ditangannya yang belum terbungkus perban.
" Kenapa tanganku tidak terdapat luka ? "
Sari segera memeriksa cawan yang sempat dia gunakan untuk melakukan sumpah nya di meja sembahyang.
Dia menemukan darah yang mulai menggumpal di dalamnya.
Dia berlari kembali menuju tempat tidur. Dia mencium bantal bekas ditiduri Wawan.
"Aroma ini... aroma ini yang kucium semalam. Apakah benar Mas Wawan datang kemari. "
Sari seperti orang gila.... Bantal bekas Wawan dia ciumi. Hari ini dia melakukan seluruh aktifitas dari atas tempat tidurnya dari makan sampai mengerjakan tugas kantor.
****
Wawan terbangun dan berjalan menuju ke ruang makan. Dia merasa perutnya minta diisi. Dilihat nya Bang Yudi dan Bang Dicky sedang makan dengan wajah bersedih.
" Bang, makan yang benar. Kalo lauknya ngga cocok bilang ke bibik. Bukan begitu caranya. " Wawan menegur mereka berdua karena nasi dalam piring hanya diaduk-aduk saja.
Mereka berdua terkejut hingga sendok yang pegang nya terjatuh. Berdua menghampiri Wawan. Dicubit nya pipi dan tangan Wawan hingga Wawan teriak kesakitan.
" Aduh duh duh... "
__ADS_1
" Aku pikir diriku mimpi.... " Kata Yudi
" Aku juga... " Jawab Dicky
" Bang Yudi..... Bang Dicky.... "
" Pake otak dong..... "
" Di mana-mana yang dicubit itu tangannya sendiri bukan tangan orang lain. "
" Bang Dicky.... Ini benar Wawan. Aku hafal cerewet nya kayak emak-emak lagi nawar di pasar. "
Mereka berdua memeluk Wawan dengan erat. Mereka hampir putus asa melihat saudara kecilnya terkapar pasrah dengan selang dan infus di ruang ICU.
Sempat mereka ingin bertanya bagaimana Wawan bisa masuk ke dalam rumah. Tapi mengingat pengalaman yang sudah-sudah Wawan bisa pergi kemanapun yang dia inginkan.
" Bang, berapa lama aku tidak sadarkan diri di rumah sakit. "
" Lebih kurang sekitar sepuluh hari. "
" Kalian sudah menyelidiki siapa dalang di belakang kejadian yang menimpa diriku ?"
" Sudah.... Akan tetapi kasusnya seperti dibekukan. "
" Bagaimana dengan khabar Bu Paramitha ? "
" Dia setiap ada waktu selalu datang menjenguk mu. "
" Kalian seperti pasangan kekasih pokoknya. "
" Maksudnya...? " terdengar suara perempuan di belakang mereka
" Maaf Mba.... kalo saya berbicara lancang. " kata Yudi meminta maaf saat melihat paramitha tiba-tiba muncul di belakangnya.
Mereka berdua segera pamit undur diri saat paramitha menatap tajam ke mereka.
" Wan, bagaimana kamu bisa sampai sini ? "
" Pihak rumah sakit sedang kebingungan mencari keberadaan kamu saat ini. "
" Terus bagaimana Ibu bisa tahu kalo wawan ada di rumah ? "
"Jangan katakan berdasarkan intuisi lagi."
" Karena di dalam darahku mengalir darahmu. " Kata Paramitha lirih
" Aku bisa tahu apa yang sedang kamu alami dalam tidur panjang mu. Termasuk aku juga tahu apa yang kamu lakukan tadi malam. "
" Tolong katakan dengan jelas. " pinta Wawan
" Semalam saat aku tidur kamu datang Wan, duduk dan berbaring di sisi ku. "
" Kamu memang tidak mengatakan apapun. Kamu hanya membawaku dalam pelukanmu saja. "
" Apa yang Ibu lakukan sebelum itu ? "
Paramitha menjelaskan apa yang sudah dilakukan nya sama persis dengan apa yang dilakukan Sari.
__ADS_1
Sekarang Wawan tahu bahwa dia mendapatkan kesempatan kedua atas pengorbanan dan sumpah dari kedua orang.