
Selang tiga minggu kemudian
Wawan datang dengan membawa empat puluh sembilan butir berlian lagi ke toko barang antik tersebut.
Kedatangan Wawan kali ini dilakukan dengan sangat hati-hati. Belajar dari pengalaman menghadapi dukun itu, Wawan membuat perisai terlebih dahulu untuk memblokir serangan dadakan yang akan terjadi.
Semua itu dilakukan setelah mendapat gambaran semalam.
Tanpa sengaja Wawan pun mendapat gambaran akan situasi yang akan terjadi terhadap perusahaan yang dipimpin Bu Ratna.
" Aku tidak akan mengubah sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, setidaknya mengantisipasi. "
" Uang itu harus segera kusiapkan. "
" Klinting.... " saat Wawan memasuki toko barang antik tersebut
" Selamat malam Paman.... "
" Apakah sudah engkau siapkan uang untuk transaksinya ? "
" Sudah kusiapkan sehari setelah kita bertemu Nak. " kata pemilik toko sambil tersenyum licik saat berbalik badan menuju meja pemeriksaan.
" Apakah kamu sudah membawanya barangnya ? "
" Tentu " sambil menyerahkan sebuah kantung ke tangan pemilik toko.
" Benar-benar barang bagus. " usai memeriksa kesemuanya.
" Bawa kesini barangnya Paman. Sebelum ada uang barang tersebut belum bisa berpindah tangan. " kata Wawan waspada.
" Kenapa kamu begitu curiga anak muda ? "
sambil menyerahkan kantung tersebut kepada Wawan.
" Hehehe.... transaksi uang besar paman. Wajar Khan kalo saya sedikit waspada. " seloroh Wawan.
" Saya ambil uangnya terlebih dahulu. "
Pemilik toko masuk ke dalam ruangan yang berada di belakang meja kasir.
Di dalam ruangan kantor milik toko antik.
" Halo..... Anak itu sudah datang. Segera kalian bergerak kemari. Tunggu dia diujung jalan itu. "
" Tangkap dia sebelum berbelok. "
" Tolong diingat dengan baik tangkap dia sebelum menghilang dari pandangan ku. "
" ( Kenapa tidak dilakukan di dalam toko saja). " kata suara dari seberang telepon.
" Aku tidak ingin tokoku rusak dan disegel oleh polisi untuk diperiksa. "
" Satu lagi buat kesan seperti penculikan atau perampokan. "
" ( Tenang saja tuan. Sudah saya siapkan lima orang bertubuh kekar untuk menghadapi anak itu) "
" Waktumu paling lama tiga puluh menit sudah siap dan menunggu diujung jalan. "
" Jangan terlambat. "
Tanpa disadari dibelakang pemilik toko berdiri seekor kumbang dan mendengarkan semua percakapan tersebut.
Sedangkan percakapan tersebut langsung diteruskan lewat telepati dan sampai ke telinga Wawan.
" Jadi begitu rencananya. "
__ADS_1
Tak berapa lama pemilik toko menarik sebuah kantong besar berisi uang sebanyak lima puluh milyar rupiah atau jika dikurs dollar saat itu dengan pecahan seratus dollar hanya dua ratus ikat.
Wawan hanya memiliki sisa waktu dua puluh menit. Dengan cepat uang tersebut dicurah diatas meja dan dihitung ikatannya saja. Setelah sesuai dengan jumlahnya semua uang tersebut dimasukkan kembali. Wawan melirik kearah jarum jam yang terpasang di belakang meja kasir.
" Wush. " Wawan mengibaskan tangannya dan kantong yang tersebut menghilang.
" Aku harus segera pergi. " ucapnya dalam hati
Pemilik toko berusaha menahan kepergian Wawan dengan cara mengajaknya ngobrol sambil membuatkan jus disertai cemilan.
Ajakan tersebut ditolak Wawan.
Jarum jam terus berputar dan waktu yang tersisa tinggal sepuluh menit.
" Kenapa kamu seperti tergesa-gesa anak muda ? " tanya pemilik toko saat Wawan bergegas meninggalkannya.
" Sampai bertemu lagi Paman. Semoga paman lebih jujur dalam bertransaksi. "
Teriak Wawan sambil berlari menuju kearah ujung jalan.
Dari arah depan sebuah mobil melaju dengan kencang kearah Wawan berjalan.
******
Jakarta
" Ayah, informasi yang saya dapat perusahaan Kuda Terbang saat ini sedang melakukan melakukan ekspansi besar-besaran dalam pengembangan usahanya. " kata seorang gadis kepada ayahnya.
" Apa maksudmu ? "
" Selama ini mereka bergerak dalam bidang obat tradisional. Berdasarkan laporan dari orang yang Lidya tanam disana mereka saat sedang membeli beberapa lahan yang akan digunakan sebagai pabrik yang bergerak dibidang perakitan elektronik, produksi makanan, dan telekomunikasi. "
" Apakah kamu punya ide ? "
" Hmmm... Ayah ingat. "
" Kebetulan tanah yang mereka beli harus melintasi pekarangan yang Lidya miliki. "
" Lalu......"
" Kita minta mereka membayar akses jalan tersebut dengan harga fantastis. "
" Bukannya kamu sudah menghibahkan jalan tersebut untuk umum. "
" Apa Lidya sebodoh itu ? "
" Lidya hanya memfasilitasi jalan saja untuk digunakan warga kampung disana."
" Saat ini pembangunan sudah berjalan tiga puluh persen. Dengan begitu tidak mungkin mereka akan berhenti. "
" Anak ayah memang pintar. "
" Minimal bisa sedikit mnghambat mereka atau syukur kita bisa menawarkan kerja sama. "
" Lakukan yang menurutmu baik. "
*******
Kantor Bu Ratna
" Yang benar saja Pak jika kita harus mengganti rugi jalan tersebut. Bukankah itu jalan umum. " Bu Ratna sedikit emosi mendapat informasi dari pihak kecamatan setempat.
" Benar Bu dengan apa yang saya sampaikan. "
" Dari perjanjian yang saya baca bahwa pemilik lahan hanya memfasilitasi jalan untuk warga setempat. Bukan untuk jalur menuju lahan yang ibu miliki sekarang. "
__ADS_1
" Mereka tidak mengijinkan pelebaran jalan kecuali diberikan kompensasi. "
" Berapa kompensasi yang mereka minta ? "
" Apa ngga salah dengan angkanya ? "
Bu Ratna naik pitam saat melihat deretan angka dimulai dari angka tiga diikuti angka nol berjumlah sembilan berjajar rapih.
" Itu penawaran yang mereka minta. " kata petugas kecamatan.
" Bolehkah saya meminta nomer telepon pemilik lahan ? "
" Kenapa masalah selalu muncul disaat rencana yang disusun mulai dilaksanakan. " ucap Bu Ratna dalam hati sambil memijit keningnya.
Dana perusahaan sudah dikucurkan untuk pembelian lahan. Meskipun sangat murah untuk pembelian lahannya.
Keuangan perusahaan mulai terasa sedikit kacau ketika proses pembangunan mulai berjalan dan pembelian alat produksi yang nanti nya akan dipasang di lokasi tersebut.
Bu Ratna segera menghungi nomer telepon yang diberikan petugas tersebut.
" Halo, selamat siang.... Bisa bicara dengan Bu Lidya. "
" Dengan saya sendiri Bu...Maaf dengan siapa ya ? "
" Saya Ratna Bu... kebetulan saya yang bertanggung jawab atas proyek yang pembangunan nya melintasi lahan milik Ibu. "
" Ada yang bisa saya bantu ? "
" Bisakah kami melakukan penawaran ? "
" Tentu saja bisa Bu dengan syarat saya diijinkan memiliki sedikit saham dalam perusahaan yang akan dijalankan nantinya. " Lidya tersenyum bahagia ketika umpannya telah dimakan.
" Baiklah Bu nanti akan saya akan usulkan dalam rapat. " Bu Ratna mengakhiri pembicaraan.
Beberapa hari kemudian
Bu Ratna mengumpulkan para investor untuk membahas perihal pembelian akses jalan menuju lokasi proyek pembangunan.
" Sebaiknya bu Ratna menghentikan pembangunan saat ini. Kita tidak berani berinvestasi akan sesuatu yang masih bersifat Spekulasi. " kata investor pertama
" Yang benar saja Bu... Dana untuk membeli jalan sampai mengeluarkan anggaran hingga tiga milyar. " tambah investor kedua
" Jangan pernah libatkan ambisi Ibu dengan mempertaruhkan keuangan milik keluarga kami. " kata investor ketiga
" Mohon pertimbangkan kembali Pak. Mengingat ke depannya saya menjamin kesuksesan akan usaha yang akan kami rintis. " Bu Ratna berusaha meyakinkan
" Kami minta waktu untuk berfikir terkait hal ini. " kata investor pertama sambil berdiri dan meminta ijin untuk keluar
Saat ruang rapat sudah sepi Bu Ratna kembali merasakan sakit kepala. Tanpa dia sadari anak dan cucunya sudah duduk di depan mereka.
" Ibu, apa yang terjadi ? "
" Semua investor keberatan untuk meneruskan proyek yang saat ini kita kerjakan. Apalagi harus mengeluarkan dana untuk membeli akses jalan menuju lokasi. "
" Kemungkinan terburuk mereka akan mundur dari proyek ini dan dari perusahaan kita. " Bu Ratna menghela nafas
" Apa kamu tahu rencana yang dipikirkan Nak Wawan Sari ? " dijawab dengan gelengan kepala
" Selama ini Mas Wawan hanya menanyakan perkembangan dari pembangunan proyek saja nek. "
" Apakah ini sebuah ujian menuju kesuksesan ? " gumam Bu Ratna
" Kita ikuti saja alurnya Bu. Robert yakin Mas Wawan pasti sudah merencanakan semuanya dengan baik. "
" Ibu sebaiknya istirahat. "
__ADS_1