
Berkali kali mencoba melakukan panggilan selalu gagal ternyata tidak ada sinyal.
" Pantesan dari tadi tidak tersambung... Ternyata tidak ada sinyal. " kata irfan emosi
Mereka berusaha merenggangkan kurungan dari besi, yang kelihatan tidak kokoh namun kenyataannya tenaga mereka bertiga tidak mampu merusaknya.
Mereka langsung berkumpul di tengah-tengah kurungan kala muncul dua kumbang berwarna hitam berjalan mengelilingi kurungan tersebut.
" Kalian jangan berisik, mengganggu tidur saja. "
" Sekali lagi kalian melakukan tindakan bodoh tidak segan-segan aku memakan kalian. "
Kata salah satu kumbang yang sudah berada dalam kurungan yang membuat mereka semua ketakutan dan mengalir cairan hangat berbau amoniak dari pangkal kaki.
Selanjutnya mereka tidak sadarkan diri
*****
" Berarti ayahmu adalah salah satu dari agen rahasia milik negara asing yang sengaja dikirim kesini untuk mendapatkan informasi dan perkembangan negara kami. "
" Sedangkan mereka.... "
Wawan melihat keluar jendela kalian ketiga orang bawahan Lidya berada satu kurungan dengan paman kumbang.
" Apa yang kamu lakukan kepada mereka ? "
" Paman kumbang ku sudah lama tidak makan daging semenjak berada disini. Setidaknya mereka bertiga bisa menjadi penahan lapar saat berada disini. "
Tubuh Lidya gemetar. Akan tetapi hatinya makin berbunga-bunga. Dia telah menemukan pangeran yang diidamkan. Pintar, ganteng, berilmu tinggi dan kejam.
Lama-lama pandangannya kabur. Wawan mendekatkan telunjuk nya kearah kening Lidya. Diunduhnya semua ingatan yang dimiliki Lidya.
Wawan mengernyitkan dahi saat melihat Lidya ditempa dengan sangat hebat oleh bawahan ayahnya. Lidya kecil berdarah-darah saat beradu jurus dengan beberapa pria dewasa.
Dipukul ditendang dan dibanting bukannya membuat Lidya menangis malah membuat dirinya tersenyum. Darah yang mengalir dari sudut bibirnya dia jilat dan ditelan.
Pindah ke ingatan berikut nya.... Lidya kecil harus menghafalkan sebuah buku dengan musik yang sangat memekakkan telinga belum lagi disampingnya duduk terdapat sebuah ban bekas yang dibakar.
Semua yang dia baca akan ditanyakan oleh seorang penguji. Jika dia salah dalam menunjukkan jawab maka sebuah tongkat bisbol akan dipukulkan ke punggungnya.
" Benar-benar masa muda yang menyakitkan. "
Wawan memanipulasi sedikit ingatan kepada Lidya. Bahwa dulu mereka adalah pasangan kekasih yang pernah terpisah.
Belajar dari kejadian ini Wawan mulai melakukan meditasi. Dalam meditasinya dia memasang berlapis-lapis perisai manakala dirinya tertangkap oleh musuh dan dibaca ingatannya.
*****
Lidya membuka matanya secara perlahan. Dirinya sedang terbaring diatas tempat tidur yang tidak asing. Harumnya ruangan itu mengingatkan dirinya akan kamar tidurnya sendiri.
Berjalan keluar dari kamar dan berpapasan dengan ayahnya. Keduanya sama-sama terkejut.
" Ayah, kenapa ada disini ? "
" Lidya bukannya kamu sedang di Semarang ? "
" ??????? " Mereka berdua terdiam.
__ADS_1
Mereka berdua hendak mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi.
" Kenapa kamu bisa berada di rumah ? "
" Justru itu yang sedang Lidya bingungkan. "
" Dimana orang yang mendampingi mu? "
Lidya menggelengkan kepala.
Oleh ayahnya Lidya dibawa ke ruang rahasia yang berada di bawah tanah. Lidya diminta untuk menceritakan semua hal yang baru saja dialaminya.
Tanpa menunggu lama Lidya menceritakan apa yang sudah dialaminya. Kecuali tentang perasaannya terhadap Wawan rahasia yang sudah dia ungkap
" Hmmm..." Arifin berfikir sejenak
"Bisakah kamu membawa dia kemari. "
Lidya menatap wajah ayahnya. Dia hafal betul dengan apa yang akan dilakukan ayahnya untuk mengorek informasi.
Jika tidak bisa menggunakan cara yang lembut bisa dipastikan cara kekerasan adalah akhirnya.
Suasana menjadi sunyi saat keduanya berkutat dengan berfikir masing-masing.
Lampu sedikit berkedip saat Wawan berdiri di belakang Arifin.
Lidya tersenyum melihat Wawan.
Arifin heran kenapa anaknya tersenyum belum sempat berfikir sebuah tangan menepuk pelan bahunya.
" Selamat sore Pak Arifin. Barusan saya dengar kalau bapak ingin bertemu dengan saya. "
Arifin bertanya dengan nada tegas
" Kemana pun bapak sembunyi saya akan akan dengan mudah menemukan. "
" Apa yang kamu inginkan terhadap negara ini ? "
" Blubbbbbb. "
Suasana ruangan berubah. Arifin, Lidya dan Wawan berada di sebuah rumah yang sangat sederhana. Berdiri diantara kebun jagung.
Ruangan dimana semua berada hanya terdapat sebuah meja dengan dua kursi, lantai beralaskan tanah dan sebuah tempat tidur dari kayu yang sudah nampak lapuk tanpa alas.
Jendela besar terbuka di samping kanan kirinya. Angin berhembus sepoi-sepoi menerobos dari balik jendela.
Dari jauh terdengar sebuah langkah kaki dengan ritme lambat. Arifin berjalan menghampiri jendela.
Dilihat nya seorang wanita tua dengan tubuh sedikit bungkuk berjalan dengan memegang tongkat untuk menyangga tubuh rentanya.
Air mata arifin menetes melihat wanita tua tersebut.
Saat akan berjalan keluar lengannya di pegang oleh Wawan.
" *Apakah kehidupan yang memprihatinkan seperti ini yang akan kamu berikan kepada ibumu."
" Atau kehidupan yang nyaman untuk masa tua ibumu*. "
__ADS_1
" Di sana kamu sangat dihormati sedangkan disini kamu menderita dan sangat diatur. "
Wanita tua itu melangkah masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju sebuah gentong air. Dengan menggunakan gayung di minumnya air tersebut.
Arifin menangis dengan tesedu-sedu melihat betapa mirisnya kehidupan ibunya saat ini.
" Tiga puluh tahun yang lalu bersama lima puluh pemuda kami dikirim dengan menggunakan kapal menuju sebuah kepulauan. "
" Kami semua dilatih secara militer dan diajari bahasa daerah tempat yang menjadi tujuan kami. "
" Situasi dan kondisi saat itu belum sebaik sekarang. Empat puluh diantara kami semua meninggal dalam menjalankan misi. "
" Tujuh lagi meninggal karena sakit. Hingga tersisa kami berdua yaitu ibunya Lidya. "
" Suatu ketika kami mendapatkan informasi penting dan sudah menjadi kewajiban kami untuk melapor. "
" Pulanglah ibu Lidya kembali ke Negara asal. Saya percaya bahwa negara berjanji untuk menjaga dan melindungi keluarga kami. Melihat kenyataan hari ini keyakinan ku pudar. " Arifin menceritakan masa lalunya dengan penuh kekecewaan
" Jika kamu mau maka aku bisa membawa ibumu pergi dari sini. " ucap Wawan memberi sebuah solusi
Mendengar ucapan Wawan Arifin berlutut dihadapan Wawan.
" Apapun yang kamu minta akan saya penuhi meski itu harus mengorbankan nyawaku. "
" Permintaan ku hanya satu ijinkan diriku untuk bisa membahagiakan ibuku. "
" Baiklah. " jawab Wawan kala datang seorang wanita bertubuh kurus dengan caling di kepala dan cangkul di pundaknya.
Tangis Arifin meledak melihat kondisi istrinya yang dulu cantik kini dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Lidya hanya menangis dan tidak mampu berkata-kata mendengar cerita ayahnya. Dia tidak menyangka bahwa kehidupan ayahnya sangat keras.
Ditambah lagi melihat nenek dan ibunya dalam kondisi yang menyedihkan.
" Sekarang kita menunggu waktu sampai gelap. Setelah itu kita bergerak. "
" Kalian tinggalaah disini terlebih dahulu. "
Setelah berbicara Wawan segera menghilang
Kini tinggal mereka berdua di dalam ruangan tersebut. Arifin dan Lidya bisa melihat dan mendengar pembicaraan Ibu dan istrinya akan tetapi Ibu dan istrinya tidak bisa melihat mereka.
Arifin sendiri sampai berfikir bahwa dirinya telah mati.
" Menantuku, kapan anakku akan datang dan menjemput kita. Dia sudah berjanji untuk datang dan membawaku pergi. "
" Tenang Bu, suamiku pasti akan datang dan menjemput kita. Dia sedang membangun rumah yang sangat megah dengan puluhan pelayanan yang akan merawat Ibu. "
Jawab Farida yang didengar Arifin karena dia berdiri tepat disisinya.
" *Hari ini hatiku terasa hangat Ibu. "
" Farida masih bisa mencium aroma tubuhnya meski kita sudah berpisah lima belas tahun yang lalu. "
" Anakku sekarang pasti sudah besar dan secantik ibu dan neneknya*. "
Mendengar ucapan ibunya Lidya berlari dan memeluk ayahnya untuk melepas segala beban dihatinya.
__ADS_1
Matahari sudah mulai tenggelam. Farida menyalakan lampu dinding untuk menerangi ruangan yang tidak cukup luas itu. Saat Wawan datang membawa dua buah bungkusan besar.
" Apa itu ? "