Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 51 Paramitha


__ADS_3

" Akhirnya beres juga. " Wawan menghela nafas lega


Tercium bau amoniak mengganggu penciuman. Wajah Yudi nampak pucat pasi


" Kamu kenapa Bang ? " Tanya Wawan sambil tersenyum


" Aku takut Wan..... Kamu tiba-tiba menyobek sesuatu terus masuk ke dalam ruangan yang kayak angkasa belum juga selesai terkejut nya sudah sampai sini"


" Tapi ngga pake ngompol juga kali Bang."


" Ha-ha-ha-ha.... " Wawan dan Dicky tertawa.


" Wan, apa yang terjadi pada orang-orang yang menyerbu masuk ke dalam rumah. "


Wawan segera menceritakan nya.


**


Dengan perlahan-lahan mereka masuk ke dalam rumah dengan pencahayaan minim.


Sebuah komputer menyala di sebuah meja dengan seseorang yang sibuk mengerjakan sesuatu dan disisi yang lain beberapa orang sedang ngobrol sambil menonton televisi.


Wawan memberikan sedikit ilusi pasca melewati pintu situasi keadaan rumah miliknya.


" Hancurkan semuanya. "


" Seraaaaaanggggggg. " Puluhan orang maju dan merusak segala sesuatu yang tampak di depan mereka.


" Jrenggggg. " Tiba-tiba suasana berubah menjadi terang benderang


Mereka semua menghentikan aksi brutal mereka kala melihat situasi yang mereka hadapi sekarang.


Dua belas orang berseragam coklat sedang mengarahkan laras senjata ke arah mereka.


" Dor..... dor.... dor.... "


" Angkat tangan.... jangan bergerak. "


Wajah mereka nampak pucat pasi mendengar suara ledakan dari sebuah pistol yang memberi peringatan.


Semua tidak habis pikir bagaimana bisa berada di dalam kantor polisi pusat.


Belum lagi akibat dari tindakan mereka banyak meja dan kursi hancur berantakan.


Mereka semua kini mendekam di balik teralis besi menunggu keputusan akibat tindakan perusakan harta milik negara.


Dalam ruang interogasi


" Katakan pada kami apa motif kalian melakukan perusakan pada kantor polisi !!! "


" Siapa dalang dibalik ini semua ? "


Kemudian pimpinan preman menceritakan semuanya dari awal.


" Mana mungkin hal itu terjadi. "


" Jelas-jelas kalian masuk ke dalam kantor polisi bukan ke dalam rumah seseorang. "


" Dimana anak yang bernama Roni sekarang ? "


" Apa latar belakang dia hingga berani melakukan tindakan kriminal ? "


" Anak itu tadi berada di jalan Wonokromo Pak, sedangkan orang tuanya pemilik SMP X. "


" Itu yang saya tahu Pak. "


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat rumah Wawan di datangi polisi.


" Selamat malam dhek.....Maaf mengganggu waktunya. Boleh saya minta informasi nya. "

__ADS_1


" Boleh Pak..... Mari silahkan masuk. "


Di dampingi dengan Dicky polisi langsung mengajukan beberapa pertanyaan.


" Kalo boleh tahu bapak apa nya dhek Wawan ya ? "


" Saya paman nya Pak. " jawab Dicky


" Saya langsung ke pokok permasalahannya saja ya....Sebenarnya ada permasalahan apa antara dhek Wawan dengan Roni ? "


" Apa terjadi sesuatu dengan Roni Pak ? "


" Justru Bapak hendak menanyakan dimana keberadaan Roni. "


" Malam ini ada segerombolan preman menyerang kantor polisi. Mereka merusak apa saja yang berada di dalamnya. "


" Setelah berhasil di ringkus saat diinterogasi mereka memberikan jawaban bahwa yang di rusak bukan kantor polisi melainkan rumah ini. " Polisi menghentikan ceritanya sambil memperhatikan ekspresi Wawan dan Dicky dengan detail.


Polisi melanjutkan ceritanya setelah tidak menemukan kejanggalan dalam raut muka Wawan dan Dicky.


" Mereka melakukan perusakan atas perintah Roni. "


" Masih dari cerita mereka katanya siang tadi Roni dipermalukan Wawan di depan teman-temannya. "


" Apakah benar keterangan dari mereka ?"


Wawan mengangguk pelan.


" Jadi begini ceritanya Pak, saya anak baru di sekolah tersebut."


" Saya tahu Roni adalah penguasa di sana. Semua anak takut padanya dan sering dilecehkan oleh dia dan gerombolan nya."


" Kebetulan saya hendak makan di kantin dan dicegat oleh Roni kemudian disuruh mencium sepatunya terlebih dahulu baru diijinkan masuk. "


" Banyak saksi di tempat tersebut Pak dan keterangan saya boleh ditanyakan pada mereka semua. "


" Saya juga tidak tahu kenapa setelah kita saling bertatap muka Roni langsung sujud dan mencium ujung sepatu saya. "


Setelah selesai mencatat semua keterangan dari Wawan polisi segera pamit.


" Huft...... Baru kali ini aku deg-degan lho Wan menghadapi pertanyaan polisi. "


" Pantas saja setiap tindakan kejahatan kalo sudah tertangkap polisi pasti teman-temannya akan ketangkap juga. "


" Makanya Bang.... Jangan pernah melanggar hukum. "


" Orang sering menantang laporkan polisi saja..... Aku tidak takut. "


" Diinterogasi seperti tadi pasti ujung-ujungnya menyesal dan menangis."


" Ha-ha-ha-ha..... Betul... betul... betul... "


" Ya sudah Bang.... Wawan tidur dulu ya.... Besok masih harus sekolah. "


Wawan berangkat menuju kamarnya.


" Anak ini cukup menakutkan juga..... Untung waktu itu aku tidak jadi bermusuhan dengannya. "


*****


Gerbang sekolah


Waktu menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh.


Saat hendak turun dari mobil Wawan melihat banyak anak siswa-siswi muntah di pinggir jalan.


" Yang melintas saja muntah apalagi yang terkena kotorannya dari semalam ya..... "


Mereka semua tertawa karena tahu penyebabnya.

__ADS_1


" Sebentar lagi polisi pasti akan datang sebaiknya kamu hati-hati Wan. " Ucap Dicky


" Beres Bang.... "


Wawan berjalan dengan santai sambil melirik ke arah lima orang yang saat ini sedang disemprot air untuk membersihkan diri mereka dari kotoran yang sudah mulai mengering.


" Hoeks..... " Wawan pura-pura mau muntah sambil menutup mulutnya yang sedang tersenyum.


Saat proses belajar mengajar tengah berlangsung seorang polisi wanita menghampiri ibu guru.


Kehadiran polisi wanita itu mencuri perhatian seisi kelas karena kecantikannya.


Setelah berbicara sebentar Wawan dipanggil keluar.


" Wawan ... Bisa ikut saya sebentar. Ada beberapa pertanyaan yang hendak saya tanyakan. " Ucap polisi wanita tersebut.


" Baik Bu... " Sambil berjalan mengikuti polisi tersebut menuju ruang konseling.


Berambut pendek, pinggang ramping dan kaki putih yang panjang serta pantat yang bulat berjalan seperti angsa.


Itulah pemandangan yang dilihat Wawan sepanjang menyusuri selasar sekolah sebelum sampai di ruang konseling.


" Kenalkan nama saya Paramitha. Saya putri bungsu Pak Nuruddin. " Wawan terpesona melihat kecantikan putri Pak Nuruddin saat menatap dari jarak dekat.


" Saya mendapat perintah dari papah untuk menjaga kamu. " katanya datar


" Kenapa saya harus dijaga ? "


" Saya hanya ingin sekolah dan tidak ingin membuat masalah disini. "


" Wan.... " Ucap Paramitha sambil menyentuh tangan Wawan yang berada di atas meja.


" Kamu bisa membohongi semua orang akan tetapi intuisi ku tidak pernah salah. Bahwa kamu berada di belakang ini semua. " Kata Paramitha sambil menatap kedalam mata Wawan.


Nampak rona merah tipis tergambar di pipi Paramitha yang putih.


Paramitha segera menarik kembali tangannya.


" *Kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya ? " Batin Paramitha


" Kenapa jantungku berdebar sangat kencang* ? " Sambil mengatur nafas untuk menenangkan pikirannya supaya tetap fokus.


" Dari semua orang yang saya interogasi semua membela dirimu apalagi kaum hawa. "


" Mata mereka berbinar-binar saat menceritakan aksimu kemarin. " Kata Paramitha sambil tersenyum ceria.


Wawan menangkap sesuatu yang aneh dari wajah Paramitha


" Apa yang membuat Pak Nuruddin meminta Ibu untuk menjaga saya ? "


Paramitha segera memperbaiki posisi duduknya.


" Roni memiliki latar belakang yang cukup kuat disini. Selain ayahnya pengusaha sukses beliau juga termasuk pimpinan dewan tertinggi di sini. "


" Keselamatan mu harus di utama kan. "


Wawan mengangguk tanda mengerti.


" Mulai nanti malam saya akan tinggal di rumahmu. "


" Glek... " Wawan menelan ludah sekaligus kaget.


" Apa kamu keberatan ? " Wawan nampak ragu


" Kenapa semua wanita dewasa begitu tertarik padaku. " Ucapnya dalam hati


" Baiklah Bu, kalo itu perintah dari Pak Nuruddin. " Jawab Wawan pasrah


" Semoga papah memberiku ijin untuk tinggal di rumah Wawan dengan alasan yang kubuat. " Wawan mendengar suara hati Paramitha

__ADS_1


" Sudah kuduga... Ini hanya trik dia aja. Tapi bertambahnya dia semakin hangat tubuh ini eh rumah itu. " Pikiran Wawan mulai sedikit kacau.


" Kembalilah ke kelas. " Paramitha meminta Wawan untuk pergi.


__ADS_2