
Rumah Wawan
Semua sedang berkumpul di dalam ruang tengah rumah Wawan. Nampak Sari dan Lidya duduk bersebelahan sambil berpegangan tangan dan menangis kala melihat Jessica mamah Wawan sedang ditenangkan oleh suaminya Pak Edi.
" Kemarin malam sebenarnya mamah ingin melarang Wawan untuk pergi... hiks.... hiks.. " Bercerita sambil menangis.
" Berat rasanya malam itu melepas dia pergi. " Ucap Jessica parau karena terlalu banyak menangis dari semalam
" Wawan...... Wawan..... "
Jessica merasa pandangannya kabur dan jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukan Pak Edi.
Sari yang dari tadi malam mendengar khabar atas meninggalnya Wawan hanya bisa membisu.
Dia sudah pernah mengalami rasanya kehilangan. Ditinggal orang tua saat dirinya masih kecil. Kini dia harus melihat lagi orang yang paling dicintainya telah pergi.
Pikirannya kacau, tubuhnya lemas dan nafasnya menderu manakala mendengar Jessica memanggil-manggil nama Wawan. Semua nampak putih dan dia tidak sadarkan diri dalam pelukan Lidya.
Tak lama kemudian Lidya juga ikut pingsan.
Pak Edi semakin kebingungan melihat tiga orang sedang pingsan secara bersamaan.
Kebetulan Anton, Dwi dan Kartika datang dan mereka segera m m bantu Pak Edi untuk membawa tubuh tiga orang tersebut ke dalam kamar.
" Ton, aku merasa kalau Wawan belum meninggal ya. " Ucap Dwi
" Benar.... Kalian ingat ngga kejadian waktu itu. Kita sudah menangis sedih ngga tahu nya Wawan muncul dari belakang. " Balas Kartika.
" Yang kita lihat tadi apa ? " Tanya Anton
" Jenazah Wawan..... " Jawab Dwi
" Tapi ada yang janggal dech.... " Bantah Kartika
" Tapi hal ini harus dipastikan dulu kebenarannya." Kata Kartika kemudian mencari keberadaan Pak Edi
" Om, Kartika boleh tanya ngga ? " Pak Edi sedang duduk dan menangis di pinggir kolam.
Pak Edi segera mengusap air matanya dan tidak ingin kesedihan nya dilihat orang lain.
" Kartika mau tanya apa ? " tanya Pak Edi sambil mempersilahkan Kartika dan dua temannya yang menyusul duduk disisi kolam yang lain
" Begini Om, kita kenal Wawan tidak hanya sehari dua hari. Kita berempat sudah melewati suka duka bersama selama delapan tahun. "
" Iya.... Om tahu."
" Terus apa yang ingin ditanya khan ? "
" Sewaktu Wawan dimandikan.... " Kartika menghela nafas sejenak
" Apakah darah yang mengalir ditubuhnya berwarna merah keemasan atau merah darah biasa ? "
Kemudian Wawan menceritakan kejadian waktu itu meski banyak yang ditutupi.
" Jadi kesimpulan mu bahwa yang dimakamkan tadi adalah tubuh palsu Wawan. " Kata Pak Edi dan sahabat Wawan mengiya khan.
" Wawan melakukan hal ini pasti ada sebab Om. Kita do'akan semoga Wawan cepat kembali. "kata Anton
Mendengar ucapan Kartika dan kedua sahabat Wawan Pak Edi merasa sedikit terhibur.
*****
Alam batin Wawan
" Nak Wawan untuk saat ini kita sebaiknya bersabar. Mereka semua adalah orang penting dalam pemerintahan." Pak Arifin mengenal siapa saja yang sedang di temui oleh Sumitro.
" Bagaimana rencana selanjutnya Pak ? " Tanya Bahir yang saat ini duduk saling berhadapan dengan Sumitro
" Benalu sudah kita singkirkan. Langkah berikut nya adalah geledah rumah Arifin."
" Informasi yang saya dapat dari Agus pusaka yang saya cari disimpan olehnya."
" Pak Bahir, bantuan mu sangat diperlukan saat ini ." Kata Sumitro.
__ADS_1
" Akan saya siapkan surat dari pengadilan untuk menyita aset milik Arifin termasuk tembusan ke kejaksaan dan kepolisian. "
" Bagaimana tugas yang saya berikan padamu Pak Slamet ? " tanya Sumitro
" Berkas sudah kami siapkan di kantor imigrasi. Tinggal memastikan berapa orang yang akan masuk kemari. "
" Berapa orang yang sudah kamu latih dan dipersenjatai untuk mendukung rencana kita Pak Seno ? "
" Sekitar empat ratus personel dengan persenjataan lengkap dan terlatih. "
" Rencana akan kita kerjakan tiga tahun dari sekarang. Tepat dimana gerhana matahari terjadi. "
" Dengan memiliki gagang pedang maka otomatis bilah tersebut akan menyatu dengan sendirinya. "
Mendengar rencana dari Sumitro Pak Arifin terkejut.
" Nak Wawan bagaimana dengan keselamatan keluarga ku ? "
" Saya sedang mencari cara Pak. "
Lewat telepati Wawan memberi perintah kepada Sengkulu dan Reksageni untuk mengikuti kemanapun empat orang tersebut pergi.
Terdengar suara dari luar bahwa Pak Nuruddin membangunkan dirinya.
" Ada perkembangan apa Pak ? " Tanya Wawan
Pak Nuruddin nampak kebingungan.
Karena menunggu cukup lama akhirnya Wawan buka suara.
" Saya tahu apa yang bapak pikirkan. "
" Konspirasi tingkat tinggi ya Pak. "
" Hmmm. " jawab Pak Nuruddin
" Kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk saat ini. Bapak akan mengumpulkan informasi siapa saja yang terlibat di dalamnya. " kata Pak Nuruddin
" Untuk sementara waktu Nak Wawan bersembunyi dulu. "
" Pak, bisa bantu Wawan untuk bisa melanjutkan sekolah. "
Pak Nuruddin baru tersadar jika Wawan masih berstatus pelajar. Melihat fisiknya yang tinggi dan cara pikirnya yang penuh pertimbangan orang tidak menyangka jika Wawan berusia empat belas tahun. Kecuali waj.ahnya yang masih terlihat muda yang membenarkan usianya.
" Apa cita-citamu saat besar nanti ? "
" Saya ingin jadi tentara Pak. "
" Kamu ingin jadi tentara ? " Tanya Pak Nuruddin terheran-heran.
" Baiklah ...."
" Nanti saya upayakan kamu bisa meneruskan sekolah. "
" Satu lagi.... Saya ada rencana yang bagus setelah kamu tamat SMP. "
" Terima kasih Pak. "
" Oh ya....Wawan punya informasi penting terkait pembicaraan orang sudah dibuntuti tadi. " Sambil menempelkan jari telunjuknya ke kening Pak Nuruddin
Pak Nuruddin terkaget-kaget melihat informasi yang di perlihatkan wawan
Pak Nuruddin seperti melihat layar kaca di matanya.
Terlihat pertemuan antara Sumitro dan beberapa petinggi negara.
" Sebaiknya dibicarakan di rumah saja." Ajak Pak Nuruddin
**
Menjelang tengah malam Wawan sudah berada di dalam ruang penyimpanan milik Pak Arifin.
Dibantu oleh pasukan bibi Gi-Gi Wawan memindahkan semua harta kekayaan yang tersimpan di dalam lemari besinya.
__ADS_1
Tujuan akhir Wawan bukan itu tapi sebuah benda pusaka yang berupa gagang pedang dengan ukiran kepala naga.
Setelah berhasil memasukkan kode yang diminta Wawan memasuki sebuah ruangan yang sangat dingin. Dinding di semua sisinya termasuk lantai seperti dilapisi salju.
Tubuh Wawan segera menggigil.
Kemudian dia teringat dengan ilmu yang pernah diberikan oleh Dewi Rengganis. Untuk menghangatkan tubuh kita bisa mengalirkan energi dari dalam dantian yang di miliki nya.
Bersyukur meski tidak serius tetapi Wawan sering melakukan latihan untuk memperkuat tubuh dan dantian nya.
Wawan segera mempraktikkan cara mengalir kan energi yang berasal dari dalam dantian nya.
Meski lambat akan tetapi tubuh Wawan mulai terasa hangat.
" Besok diwaktu senggang aku akan memperdalam pelatihan penggunaan energi dalam tubuhku. "
" Ke depan s*emua yang diberikan akan kupelajari dengan baik. "
Wawan baru menyadari ternyata semua ilmu yang sudah diberikan pasti akan berguna di masa depan.
Kembali ke cerita.
Dengan penuh waspada Wawan melangkah ke dalam ruangan tersebut. Setiap butiran es yang tersentuh dengan alas kakinya segera mencair.
Sampai lah Wawan di sebuah batu berbentuk persegi panjang setinggi satu meter.
Dimana diatasnya terdapat sebuah tongkat besi berwarna hitam dengan panjang dua jengkal dengan diameter dua puluh senti sedang melayang dan berputar-putar diatasnya.
" Apa benar ini barangnya ? "
" Kenapa tidak sesuai dengan gambaran yang kudapat dari memori Pak Arifin ? "
Ucap Wawan
" Tuan jangan sentuh barang itu. Biarkan saya berkomunikasi dengannya terlebih dahulu !! "
ucap Tri Wongso yang tiba-tiba muncul memperingatkan Wawan.
" Apa kamu tahu khodam penjaga nya ? "
Tri Wongso mengangguk
" Saudaraku bangunlah ini aku Paku Jagad
Mendadak berhembus udara yang cukup hangat bersumber dari tongkat besi tersebut.
Meskipun bersalju namun ruangan menjadi hangat.
" Paku jagad.... benarkah ini kamu ? "
" Benar saudaraku..... Sudah cukup lama kita tidak bertemu. " Paku jagad memeluk saudaranya Dwi Wongso atau Braga Mongso
Diliriknya Wawan dan berkata :
" Bagaimana bisa kamu mengikuti anak ini. Secara energi dan tingkat keilmuan dia masih sangat dasar. "
" Apa yang kamu sampaikan benar adanya. Awalnya juga saya sempat ragu. Tapi semua kehendak langit. "
Tri Wongso berusaha meyakinkan.
" Mungkin dia berjodoh denganmu belum tentu denganku. "
" Tuan silahkan sentuh tongkat besi itu. "
Wawan maju dan mulai memegang tongkat besi tersebut. Namun tidak terjadi apa-apa.
Dewi Rengganis lewat telepati berbisik ke dalam telinga Wawan.
" Gunakan darahmu untuk penyatuan. "
" Benar khan Paku Jagad dengan apa yang ku katakan. " Sindir Braga Mongso
Wawan menggigit bibirnya hingga berdarah kemudian dioleskan kepada tongkat besi tersebut.
__ADS_1
******