Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 67 Penyelamatan 1


__ADS_3

Begitu memasuki ruangan Paramitha dan Wawan sangat terkejut pasalnya di dalam ruang yang akan dijadikan tempat pengobatan terdapat ratusan orang. Semua mata menatap mereka berdua dengan penuh curiga dan meremehkan.


" Bapak ibu sekalian perkenalkan ini dewi penolong anak saya. " Ucap Dimitri menenangkan pada hadirin yang mulai berkasak-kusuk.


" Tuan Dimitri apakah benar mereka yang telah menyembuhkan anakmu. Saya pikir seorang perempuan tua ternyata masih sangat muda. " Ucap Curtis orang tua Camelia dengan nada menghina karena merasa kesal harus menunggu terlalu lama. Ditambah lagi posisinya di masyarakat sangat tinggi


" Bagaimana anak semuda itu bisa memiliki kemampuan yang luar biasa, sedangkan belasan orang yang lebih berpengalaman banyak menemui kegagalan bahkan yang lebih parah lagi mereka semua berakhir dengan meninggal dunia. " Ucap Alexandro orang tua dari Amanda.


" Kita biar kan saja mereka membuktikan kehebatan mereka dulu dan jika terjadi sesuatu kepada mereka bukan tanggung jawab kami. " Ujar Felix orang tua dari Nathalie dengan nada menjatuhkan.


Paramitha begitu sangat tertekan mendengar ucapan mereka semua ditambah lagi suara-suara sumbang di belakang mereka bertiga.


" Kamu tidak perlu takut. Biar aku yang mengatasi. "


Wawan segera menggenggam erat tangan Paramitha.


" Bapak ibu sekalian..... Ijinkan saya berbicara. " Ucap Wawan dengan tenang menggunakan telepati.


Mereka sangat terkejut dan mencari dari mana asal suara yang begitu menggema di dalam kepala tiap orang membuat semua nya diam dan menyimak. Ruangan yang awalnya berisik kini menjadi sunyi.


" Apa yang akan kalian berikan jika kami berhasil menyembuhkan anak-anak kalian ? "


" Sedangkan kalian tahu resiko yang akan kami hadapi sangat besar. "


Meskipun Wawan berbicara nada biasa tapi cukup terdengar dengan jelas di telinga mereka seakan Wawan berada di sampingnya. Saat ini Wawan berbicara dengan menggunakan hukum suara.


" Sombong sekali anak ini. " Ucap Kurtis dalam hati dan di jawab langsung oleh Wawan


" Jika saya bisa apakah kamu mampu memberikan bayaran yang sangat besar Tuan Kurtis ? "


Kurtis sangat terkejut dan menanyakan ke istrinya yang duduk disebelah dirinya.


" Istriku apakah kamu mendengar apa yang aku katakan barusan ? "


" Suara yang mana ? " Istrinya menanyakan balik


" Orang lain tidak akan mendengar ucapan mu Tuan akan tetapi diriku mampu mendengar suara hati kalian meski berdiri diujung ruangan sana. " Ucap Wawan sambil menunjuk ke arah sudut dari ruangan ini.

__ADS_1


" Apa yang akan anda berikan jika kami berhasil menyembuhkan anak anda ? "


Wawan kembali bertanya.


" Saya akan memberikan satu juta dollar jika kamu bisa menyembuhkan anak kami. " Ucap Kurtis masih dengan nada sombong.


" Terlalu murah dengan resiko yang kami hadapi. " Semua orang kembali terkejut dengan jawaban Wawan yang sombong


Wawan segera membuka omongan untuk ke semuanya.


" Apa yang akan kalian berikan kepada kami jika berhasil menyembuhkan kelima anak ini ? " Ucap Wawan dengan penuh penekanan.


" Jawab sekarang. " Semua orang mulai saling berbicara satu sama lain hingga ruangan kembali ramai.


Dimitri selalu tuan rumah mencoba menenangkan setiap orang yang hadir.


" Kita semua datang kemari untuk meminta bantuan dari mereka berdua. Kenapa kalian justru menghina dan merendahkan mereka. " Ucap Dimitri mengingatkan tujuan awal mereka berkumpul di rumahnya.


" Perkenalkan Nama saya Nicholas dan saya pribadi meminta maaf atas sikap kami yang tidak baik. "


" Saya orang tua dari Bianca dan kami bersedia mengabulkan semua permintaan mu jika kamu bisa menyembuhkan anak kami. " Ucap Nicholas.


Ucapan Nicholas dengan nada putus asa dan bersedia mengabulkan semua permintaan Wawan membuat semua orang seperti dibungkam paksa. Kini suasana ruangan kembali sunyi.


Nicholas adalah keluarga bangsawan tertinggi serta pengusaha papan atas yang sukses. Karena itu dia sangat di hormati oleh mereka semua.


Seperti sebuah keputusan pengadilan, jika hakim sudah menjatuhkan palu maka semua orang dengan otomatis menghormati dan mematuhi nya.


" Maafkan kami yang sudah bersikap tidak baik. " Ucap Kurtis dengan lirih dan penuh penyesalan.


" Mari kita mulai prosesi nya tapi sebelumnya saya mau tanya apakah kalian ingin tetap berada disini atau meninggalkan ruangan ? " Ucap Wawan


" Apakah kami diijinkan untuk melihat ? " Tanya Nicholas


" Okay tidak masalah. "


" Tolong kamu pasang lilin ini di setiap ujung tempat. " Perintah Wawan sedangkan dirinya menggambar pentagram mengelilingi kelima anak itu.

__ADS_1


" Sengkulu setelah lilin menyala di setiap sudut dan setelah mendengar aba-aba dariku kamu segera beraksi. Beri pertunjukan yang menarik. " Ucap Wawan lirih supaya tidak di dengar Paramitha.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore suasana ruangan masih cukup terang meskipun lampu dimatikan. Pencahayaan selain dari lilin juga dari arah jendela yang mau memiliki ukuran sangat besar dan tinggi.


Wawan mulai merapal kan doa untuk mengaktifkan segel pada pentagram yang mengelilingi kelima anak tersebut.


" Atas kuasamu Ya Allah datangkan dan kembalikan sukma anak-anak ini. "


setiap garis pada pentagram mulai menyala kuning membumbung hingga langit-langit ruangan membentuk tirai bening warna kuning. Langit seketika berubah gelap, angin berhembus sangat kencang dari arah luar. Kilat menyambar kesana kemari di atas langit hingga terdengar suara petir


" Jeger... Jeger.... " sahut menyahut membuat hati semua orang menjadi ciut


Lilin di setiap sudut mulai bergoyang menampilkan siluet naga yang menari-nari di dinding.


" Pyar.... pyar..... pyar..... pyar. " Seluruh kaca pembatas satu demi satu pecah secara berurutan. Paramitha dan seluruh orang dalam ruangan begitu ketakutan. Dan berkumpul di satu titik dan rapat.


" Kamu jangan takut... Ini semua hanya pertunjukan sedangkan aksi sesungguhnya baru nanti. "


Ruangan yang awalnya ditata dengan rapih kini sudah sangat berantakan. Semua orang hanya memiliki satu keinginan yang sama yaitu semoga lekas berakhir.


Siluet-siluet warna merah berputar-putar mengelilingi pentagram tersebut. Mereka bermaksud menerobos namun tidak bisa. Aksi tersebut terjadi berulang-ulang hingga tiga puluh menit. Aura negatif yang kental mulai memenuhi ruangan membuat banyak orang pingsan karena kehabisan oksigen.


Wawan dengan segera mengaktifkan hukum anginnya untuk menghalau aura negatif yang begitu pekat.


Tiba-tiba dari arah yang tidak terduga sebuah petir menyambar ke arah Wawan


" Jeger..... jeger... " Membuat semua orang termasuk Paramitha terpana.


Wawan jatuh terduduk mendapat sambaran petir tersebut. Bukannya marah justru dia merasa senang karena energi dalam tubuh nya meningkat ditambah lagi dantian yang memiliki unsur petir telah terbuka segelnya.


" Hahaha.... Petirmu seperti bulu saat mengenai tubuhku. " Ejek Wawan sambil menatap langit-langit ruangan.


" Jegerrrrrrrrrr...... Jegggggeeerrrrrrrr. " Petir dengan kekuatan sangat besar menghantam tubuhnya hingga pijakan kaki Wawan amblas ke dalam tanah.


Wawan mulai menyadari jika Sengkulu memanfaatkan moment ini untuk menumpahkan segala amarahnya yang terpendam.


Wawan kembali teringat akan pesan dari dari kedua makhluk itu jika Iblis tidak bisa dipercaya.

__ADS_1


**********


__ADS_2