
" Ratih, perjanjian ku denganmu telah usai. Terhitung dari tugas terakhir yang kamu berikan. " jawab Reksageni
" Begitu juga denganku. " sahut Sengkulu
" Bagaimana dengan kalian ? " tanya Sengkulu pada Ketujuh rekannya yang saat ini tidak bisa bergerak sama sekali.
" Teguh sudah mati..... Sedangkan penerusnya sudah berakhir tidak berdaya. "
" Hmmm .... ditambah lagi nasib kalian saat sudah berada diujung tanduk. "
" Jangan dengarkan ocehan dia. Kalian bukan teman mereka lagi. "
" Cepat kalian serang mereka. " Perintah Ratih dengan membentak.
Wawan berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya di condong kan ke arah Ratih.
" Apa yang bisa dilakukan peliharaan mu saat ini ? "
" Nasib mereka hampir sama dengan dirimu. "
" Satu lagi..... Saya tidak pernah bermusuhan denganmu. Kenapa kamu begitu menaruh dendam kepadaku ? "
" Kamu sudah membunuh ayahku."
" Apakah kamu punya bukti kalau aku yang membunuh ayahmu ? "
" Siapa yang memberitahu mu jika aku yang membunuhnya ? "
Reksageni segera menjawab pertanyaan Wawan
" Maaf tuan memang saya tidak memiliki bukti. Tapi kami hanya mengikuti jejak dari aroma yang ditinggalkan di tempat kejadian mengarah kepada Tuan. "
" Sekali lagi hamba mohon maaf. "
" Kenapa kamu memanggilnya Tuan ? "
" Karena beliau adalah Tuan saya dan saya tidak perlu alasan untuk menangis jadikan nya Tuan. "
" Tuanku tidak pernah memperlakukan kami dengan kejam dan Tuan kami memberikan kami kehidupan yang jauh lebih damai. "
" Maaf Tuan jika kami datang kemari tanpa meminta ijin. Saya tidak ingin teman-teman saya menderita dibawah pimpinan Ratih. "
" Beri mereka pilihan..... Mau ikut saya atau mereka saya binasakan. "
" Dan satu lagi ....Mulai sekarang kalian tidak saya ijinkan datang ke alam kami tanpa seijin dariku. "
" Jika melanggar maka kalian akan binasa. "
Semua pengikut Ratih memohon untuk dibebaskan dan mengabdi pada Wawan.
" Tuan ijinkan hamba untuk menjadi pengikut mu dan keturunan mu kelak"
" Terima lah hormat kami. '
" Baiklah.... Reksageni pimpin rekanmu ke tempat mu sekarang juga. " Perintah Wawan setelah memberi segel pada semua pengikut Ratih.
Wawan memandang Anton dan menjentikkan jari. Seketika dia menghilang dan kembali ke tubuh kasar nya.
" Sekarang tinggal kita berdua disini. "
" Dan kamu berada di bawah kendaliku sekarang. "
Wawan mengusap pipi Ratih dengan punggung tangannya.
Sudut matanya mulai menghangat. Hatinya sakit karena merasa dilecehkan oleh Wawan.
__ADS_1
" Kamu sakit hati karena dilecehkan oleh saya. Jawab...!!! "
" Iya...."
" Apa yang kamu inginkan sekarang ? "
" Tolong bebaskan saya.... Saya berjanji tidak akan mencari masalah denganmu. "
" Baiklah saya akan melepaskan mu. Tapi manakala saya membutuhkan bantuan mu segeralah datang dan lakukan apapun yang saya suruh tanpa menolak dan terpaksa. "
" Kamu sanggup..?? " dijawab dengan anggukan pasrah.
Setelah itu Wawan menempelkan sebuah segel ke perut Ratih. Dan dengan kedipan mata suasana berjalan normal kembali.
Bu Ratih tersenyum dengan sangat manis dan kembali ke mejanya. Pelajaran berlangsung dengan tenang hingga bel pulang berbunyi.
Wawan dan ketiga sahabat nya seperti biasa mengisi perjalanan dengan mengobrol membahas tentang apapun dari mulai pelajaran hingga masalah percintaan. Tanpa terasa sudah saatnya berpisah dengan ketiganya.
Ada perasaan enggan untuk segera memasuki rumah. Entah kenapa Wawan tidak tahu.
Wawan duduk di depan gerbang hingga sebuah tangan menepuk pundaknya.
" Mas, ada waktu ngga.... Claudia mau ngomong sesuatu. "
Wawan mendongakkan kepala nya keatas kemudian mengangguk.
Diajaknya Claudia duduk ditepi kolam.
" Claudia mau ngomong apa ? "
Claudia nampak kebingungan harus mulai dari mana. Kejadian waktu itu membuat dirinya bertingkah kekanakan.
Wawan bisa membaca kegalauan di hati Claudia hingga memutuskan untuk angkat bicara.:
" *Aku tidak marah dengan tindakan mu waktu itu. "
" Adapun aku diam bukan berarti sudah tidak sayang cuma memberi ruang untuk Claudia berfikir. "
" Kebetulan minggu-minggu kemarin memang sedang sibuk. "
" Kamu sudah ngga marah. " Claudia mengangguk
" Mau nemenin makan siang. " Claudia tersenyum dan mengangguk
" Ayuh kita makan. Perutku sudah bunyi dari tadi minta diisi. "
Di meja makan nampak Nanda sedang makan ditemani oleh bibik.
" Mas Wawan makan bareng yuk. Temenin Nanda makan. "
" Nanda makan yang banyak biar cepat gedhe. "
" Nanda ngga mau cepat gedhe Mas. Enakan kayak gini aja. "
" Kenapa dhek ? "
" Nanda ngga mau nanti suruh nikahin mereka semua. " Wawan tersenyum mendengar jawaban adiknya.
" Mas Wawan mending cuma punya Mba Sari, Mba Claudia dan Mba Lidya. Nanda punya tujuh Mas. Setiap hari kalo mereka bertemu selalu berantem.
Mendengar celotehan adiknya Wawan tertawa terbahak-bahak sedang kan Claudia hanya tersenyum kecut.
" Kakak beradik punya tabiat yang sama. Sama-sama playboy. " Kata Claudia
Disambut tawa oleh kakak beradik tersebut.
__ADS_1
" Rekor kita masih belum bisa mengalahkan rekor mamah Mba. "
" Mamah dulu yang ngapelin dua belas orang. "
" Hahahaha. " Claudia hanya bisa geleng-geleng kepala.
Menjelang sore Mamah Claudia datang menjemput putrinya bertepatan dengan mobil mamah memasuki halaman.
Jessica merasa mengenal wanita yang sedang berdiri di depan pintu masuk rumahnya begitu juga sebaliknya.
Berdiri saling berhadapan kemudian saling menyebutkan nama
" Jessica "
" Clara "
" Kyaaaa...." Keduanya lalu berpelukan.
" Sedang apa disini ? " tanya Jessica
" Lagi jemput anak gadisku. "
" Beberapa hari ini dia lagi galau gara-gara berantem sama pacarnya... hahahaha. "
" Terus ijin pulang agak telat dan minta tolong dijemput jam setengah empat sore karena disini jauh dari angkot katanya. "
" Jaman sudah berubah ya Jess... Dulu kita yang dikejar-kejar cowok. Kini malah kebalikannya. "
" Karma kali ya.... " ucap Clara sambil tertawa
" Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini ? " Tanya Clara
Sebelum dijawab oleh Jessica Claudia sudah berdiri diantara mereka.
" Mamah.... Tante. " sapa Claudia dan mencium tangan keduanya.
" Sudah beres urusannya ? " tanya Clara kepada anaknya dan dijawab senyuman oleh Claudia
" Mamah boleh ketemu sama cowok yang sudah berhasil membuat anakku galau ngga. "
" Sebentar lagi dia keluar. Tadi sedang shalat Mah. "
Tak berapa lama Wawan keluar dan menghampiri mereka bertiga.
" Selamat sore tante...... " sapa Wawan ke pada Clara
" Mamah sudah pulang." Tanya Wawan sambil mencium tangan keduanya
Clara sempat tertegun melihat ketampanan Wawan yang penuh dengan daya tarik dan makin terkejut saat Wawan memanggil Jessica dengan sebutan mamah.
" Jess, ini anakmu ? " dijawab dengan senyum lebar.
" Kurang ajar..... Ternyata memang aku harus mengakui dan menerima kekalahan serta meng-ikhlaskan bahwa predikat pertama memang layak untuk mu. "
" Hahahaha. " Keduanya tertawa lepas
Wawan dan Claudia hanya memperhatikan tingkah polah keduanya.
" Mamah, berteman dengan mamah Wawan. "
" Mamah Wawan selain sahabat juga lawan terberat dalam segala bidang.
" Termasuk koleksi cowok. " Claudia mendengarkan dengan geleng kepala
" Berarti mamah termasuk play girl ya..... berapa skor mamah waktu itu ? "
__ADS_1
" Mamah dulu sebelas, kalo ngga salah Jessica mamah wawan empat belas