Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 40 Seperti Induk Ayam


__ADS_3

Wawan minta tolong Dewi Rengganis dan Bibi Gi-Gi untuk menyambut kedatangan para penyusup.


Wawan belum tahu seberapa kuat kekuatan dari penyusup karena dia masih belum berpengalaman.


Dipasang nya beberapa perangkap disekitar jalan masuk untuk mempersempit ruang gerak dari para penyusup.


Untuk melindungi Lidya Wawan akan melakukan kontak dengan Lidya. Sekalian menguji kemampuan dari baju zirah yang melekat di tubuhnya.


Permasalahan nya hanya satu... membuat Pak Yono segera pergi dari rumahnya.


**


Makhluk kegelapan atau siluman berwujud seekor capung sedang mempelajari setiap warga yang memasuki komplek perumahan dimana Wawan tinggal. Beberapa kali dia berusaha menerebos perisai yang dipasang dan hasilnya nol besar.


" Reksageni... Kita sudah menunggu disini lebih dari sepekan. Apakah kamu tidak memiliki cara untuk masuk ? " tanya Sengkulu pemimpin dari ketiga serigala merah tersebut.


" Kamu pikir diriku diam saja. "


" Apa kamu tidak mendengar jeritan rakyat ku yang kelaparan. "


" Jika tidak karena memiliki kesepakatan aku sudah mencari mangsa sekarang. "


" Maaf jika ucapanku menyingung perasaanmu."


" Saya mohon segera kerahkan keahlian mu untuk bisa menembus perisai ini. "


Kata Sengkulu sambil menunjuk dinding transparan.


Meskipun siluman capung itu bertubuh kecil dan lemah, Sengkulu tidak berani sembarangan terhadapnya.


Dengan keahlian nya mempermainkan pikiran Reksageni termasuk sepuluh dari makhluk kegelapan yang mampu menciptakan permusuhan.


Reksageni mencium aroma dari target menempel pada tubuh seorang gadis yang saat ini meminta ijin untuk memasuki komplek.


" Bersiap lah segera kita masuk ke dalam benda itu sebelum menutup. "


Reksageni menunjuk sebuah mobil yang dikendarai Lidya. Capung bersembunyi di hiasan rambut Lidya sedangkan Serigala merah bersama dua rekannya berubah wujud menjadi transparan dan berdiam diri di cincin yang dikenakan Lidya.


Kegembiraan Mereka bertambah ketika bisa menembus perisai yang terpasang di dinding pagar rumah Wawan hinggga tiba di halaman rumah yang sangat luas.


Saking gembiranya mereka bergegas melaksanakan tugas masing-masing. Siluman berbentuk Capung terbang dengan kecepatan tinggi menuju rumah sedangkan siluman berbentuk serigala mempersiapkan diri kalau Lidya bersentuhan dengan Wawan.


Kebahagiaan mereka pupus manakala Lidya tidak jadi bersalaman dengan Wawan dan capung membentur dinding transparan dengan kecepatan tinggi.


" Brakkkk .....Aduh. " Capung merasakan badannya nyeri semua belum sempat bergerak suasana menjadi gelap dan dia kehilangan semua tenaganya.


Siluman serigala kembali senang kala Wawan datang dan menggandeng tangan Lidya setelah tadi sempat kecewa karena Wawan tidak menerima uluran tangan Lidya untuk bersalaman.


Ketiga siluman serigala segera bergerak merambat menuju posisi masing-masing. Kepala,pundak dan pinggang Wawan.


Mereka seperti membentur cangkang yang keras saat hendak menelusup ke dalam pori-pori kulit.


Tubuh mereka seakan ditarik paksa menuju tempat semula yaitu cincin milik Lidya oleh kekuatan yang mereka tidak mengerti.


Suasana yang awalnya terang mendadak menjadi gelap.


Siluman Capung dan siluman serigala di segel oleh Wawan di dalam alam bathinnya. Mereka semua dimasukkan ke dalam sebuah kandang dan di jaga oleh bibi Gi-Gi dan Dewi Rengganis.


**


Lidya langsung berbunga-bunga saat tangannya digandeng Wawan menuju ke dalam rumahnya. Tanpa disadari nya cincin yang dipakai diloloskan dari jarinya.


Jessica duduk termenung sambil menatap kearah kedua insan yang sedang berjalan kearahnya.


Jessica tidak habis pikir.


Bagaiamana bisa orang yang bisa berfikir dewasa seperti Lidya mampu ditaklukkan oleh Wawan.


" Mamah..... Ini Lidya. " Suara Wawan membuyarkan lamunannya.


" Halo sayang... " sapa Jessica sambil memeluk Lidya


" Duduk sini sayang... " ajak Jessica sambil menggandeng Lidya menuju ruang keluarga.


" Kamu santai saja, jangan tegang. "


" Kapan sampai ? "


" Tadi siang jam tiga mah. " Jawab Lidya pelan.


Bagi Lidya tidak ada satupun orang yang ditakutinya. Namun dihadapan Jessica dia kehilangan keberanian nya.


Mamah Wawan bukan orang yang kuat, akan tetapi dari sorot matanya yang tajam Lidya menilai bahwa perempuan disamping nya seperti pembunuh berdarah dingin..... Kejam.


Aura pekat bisa dirasakan oleh Lidya. Berapa banyak orang yang sudah meninggal ditangannya.


kembali ke situasi

__ADS_1


" Sudah lama kenal dengan Wawan ? "


Lidya tersenyum dan menjawab


" Baru dua hari ini mah. " Giliran Jessica yang tertegun


" Hanya dalam semalam gadis disampingku mampu dipikat dan menyerahkan segalanya. " bathin Jessica


" Lidya...."


" Mamah mau ngomong sesuatu. "


" Wawan sudah menceritakan semua yang terjadi. "


Lidya menutup mulutnya dan menatap Wawan yang duduk di seberangnya.


" Termasuk yang terjadi semalam. "


Jessica memperbaiki duduknya dan menghadap Lidya sambil memegang kedua tangan gadis itu.


Butir-butir air mata satu demi satu terjatuh.


Kepala Lidya menunduk.


" Kamu tidak usah takut dan rendah diri. "


" Mamah akan meminta Wawan untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuatnya. "


Lidya memeluk tubuh Jessica dan menangis.


Wawan hanya saling berpandangan dengan mamahnya.


Wawan mengangguk


Dikendurkannya tubuh Lidya dan ditatapnya Wajah gadis itu.


" Sekarang kamu hubungi orang tuamu. Sampaikan khabar bahwa kami akan berkunjung untuk membahas hal ini. "


Lidya memutar nomer milik kediaman rumah nya.


" ( Halo.....) " sapa suara diujung sana


" Ayah ini Lidya... apakah saat ini ayah sedang sibuk. "


" ( Tidak Nak.....untuk keluarga kecilku ayah selalu punya waktu.) "


" ( Apa benar yang kamu cerita kan ?) "


" ( Berikan telepon nya ke orang tua nak Wawan.) "


" Tante.... Ayah ingin berbicara. "


" ( Selamat malam Bu..... Apa benar yang disampaikan anak saya.) "


Jessica sempat heran bagaimana bisa seorang ayah begitu bahagia mendengar anaknya akan dilamar oleh seorang remaja.


" Semua nya benar Pak.... Sekiranya kapan ada waktu ? "


" Sebuah kehormatan buat keluarga saya. Ijinkan besok saya datang ke Semarang untuk berkunjung. "


" Aturan dari mana lagi.... dimana-mana pihak pria yang mendatangi ini malah sebaliknya. " bathin Jessica


Setelah memberikan alamat pembicaraan berakhir.


" Ada apa mah ? " Wawan melihat mamahnya seperti kebingungan.


" Hmmmm... ayah Lidya nampak senang saat mamah menceritakan apa yang terjadi dan maksud serta tujuan mamah. "


" Harus nya khan mereka marah... banting kursi atau memukul meja. Kok malah bahagia. "


Wawan membuang nafas dengan kasar


" Semua berharap baik-baik saja ini kok malah heran. " ucap Wawan lirih


Jessica masih tidak percaya kemudian dibawanya Lidya pergi ke ruang kerja mamah.


" Mamah pasti akan menginterogasi Lidya. Jiwa detektif mamah tertantang untuk mencari kebenaran. " gumam wawan


" Semoga Lidya berkata jujur.... percuma berbohong pasti ketahuan juga. "


" Bro.... lagi ngapain duduk sendirian. " Terdengar teguran dari arah pintu.


" Lho sekarang jam berapa ? "


" Jam tujuh kurang dikiiiiiiiiit banget. "


Ucap Dwi dengan ekspresi jenaka dan Memajukan tangan dimana jari telunjuk dan ibu jari hampir menempel.

__ADS_1


Wawan teringat akan janjinya dan dia masih ada pekerjaan yang masih tertunda.


Mumpung ada mereka penyusup itu bisa dijadikan bahan percobaan ucap Wawan sambil tersenyum.


Anton mencium harum parfum yang pernah dia temui dan berkata


" Wan, bau parfum ini kayak pernah tahu ya tapi siapa ? " ucap Anton.


Dwi dan kartika langsung ikut Mendengus-dengus kearah udara dan bau itu sangat melekat di kursi dimana sebelumnya di duduki Lidya.


" Kalo ini aku hafal... ini parfum mamahnya Wawan. Yang ini yang kita cium sekarang. "


Dengus dwi, kartika dan anton secara bersamaan di satu kursi.


" Heh, kalian kesini bukan untuk jadi anjing pelacak. Barusan yang duduk disitu Lidya. Perempuan yang waktu itu datang ke sekolah. Dan sekarang dia ada di ruang kerja mamah. "


Wawan makin kesal melihat temannya bergegas menuju ruang kerja mamah.


" Wawan.... ngga ada orang di ruang kerja mamahmu. " Ucap Anton dengan wajah bahagia


" Ton, jangan ngawur kamu.. " ucap Wawan cemas


" Serius.... Wan barusan yang aku lihat bukan manusia tapi dua bidadari saling berbicara. " ucap Dwi dengan mata terpejam dan bertingkah seperti pujangga


" Parah kamu ach. "


Dwi adalah sahabat nya yang paling sok puitis. Dia begitu mengidamkan pasangan nya seperti mamah. Baik, pintar, cantik, bersahaja.


" Jadi ngga nich kalian mau belajar. "


Ekspresi mereka langsung berubah serius.


" Jadi.... " jawab mereka mantap


" kalian tunggu aku di kamar ya. Awas jangan sampai kamarku berantakan. Nanti kalian dimarahi mamah.


" Baik. " jawab mereke lesu.


Mereka pernah punya pengalaman dengan hukuman mamah gara-gara mengacak-acak kamar Wawan.


Kala itu sepulang sekolah dengan bau yang campur aduk dan bau kaki yang lumayan sedap duduk diatas tempat tidur.


Membaca semua komik kaki baju, tas bertebaran kemana-mana.


Mamah pulang dari kantor dan mendengar suara gaduh. Dihampiri kamar anaknya.


" Huwek.... huwek.... " mamah langsung mual dan berlari ke dalam kamar mandi dalam milik Wawan yang berdekatan dengan pintu masuk.


Saat keluar dari dalam kamar mandi tercium bau yang tidak sedap lagi dan terpaksa muntah kembali.


Sebagai hukuman mereka harus membereskan kamar tersebut. Mencuci semua benda yang terkena bau dari kaki mereka.


Meskipun diakhir mereka diajak makan es krim akan tetapi memberikan sedikit pengalaman buruk buat mereka.


Wawan kaget melihat mamah dengan wajah merah padam sedangkan Lidya hanya mampu tertunduk dan menangis.


" Mah, Wawan sudah tahu semuanya dan Wawan yang membawa ibu dan nenek Lidya kemari. "


Wawan memegang bahu Lidya yang sedang duduk dari arah belakang dan berjalan disisi nya


" Pak Arifin menitipkan Lidya kepada Wawan dan Wawan akan membicarakan masalah ini ke Pak Nuruddin besok. Sekalian merencanakan sesuatu untuk mengakhiri semua. "


Lidya menggenggam tangan Wawan yang masih di bahu kanannya sambil menatap nya.


" Untuk beberapa hari biarkan Lidya berada di rumah kita dulu mah. "


" Wawan, ini masalah besar. Berhubungan dengan negara. "


" Siapapun yang mengkhianati negara hukuman nya adalah di tembak mati. "


" Hmmm.... Wawan paham itu mah. "


" Wawan ke kamar dulu Mah. "


" Lidya mau disini atau ikut Wawan ke kamar. " mamah dan Lidya saling berpandangan.


Mamah berdiri dan melepas tangan Wawan dari bahu Lidya. Diberdirikan tubuh Lidya dan menariknya ke belakang tubuh Jessica.


" Lidya biar tidur sama mamah malam ini di kamar Nanda. Kamu tidur di kamar sendiri seperti biasa. " Tingkah Jessica seperti induk ayam yang melindungi anaknya


" Jangan kamu rusak anak orang. Bisa-bisa nanti mamah punya cucu lebih cepat dari waktunya. "


" Tapi mah..... "


" Sana pergi... " usir mamah


Wawan nyengir sambil garuk-garuk kepala.

__ADS_1


__ADS_2