Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 66 Mualaf


__ADS_3

Lima buah mobil ambulan memasuki pelataran rumah Dimitri diikuti oleh puluhan mobil mewah di belakangnya.


Ratusan pengawal berdiri dengan sikap waspada mengawasi situasi dan mengawal beberapa pasien yang turun dari ambulan untuk di bawa masuk ke dalam rumah Dimitri.


Anak-anak itu telah berjajar rapih di atas tempat tidur yang sedari tadi sudah disiapkan menunggu penanganan dari Paramitha.


" Tok... Tok.... " Pintu kamar Paramitha diketuk dari arah luar.


" Maaf Nona, Tuan Dimitri sudah menunggu di ruang keluarga. "


" Baiklah sebentar lagi saya akan menyusul ke sana. "


Paramitha terus berjalan mondar-mandir kebingungan karena Wawan masih belum selesai dari meditasi nya.


Meski Wawan sudah bermeditasi selama lima jam akan tetapi Paramitha tidak berani membangunkan nya.


*****


Kembali ke dunia batin milik Wawan


Kelima anak tersebut gerakan nya sudah tidak se-aktraktif tadinya.


Kini mereka hanya menggeliat seperti ular dan mulai mengeluarkan bau tidak sedap. Awalnya hanya butiran keringat kemudian dari pori-pori kulitnya mulai mengeluarkan lendir berwarna hijau yang baunya kian menyengat seperti bangkai tikus.


Melihat fenomena seperti itu Wawan mulai mempercepat bacaannya dan lendir yang keluar semakin banyak. Bahkan dari pangkal paha dan mulut juga mengeluarkan lendir dengan jumlah yang sangat banyak.


Kelima anak tersebut kini berkubang dalam genangan lendir. Melihat hal itu Wawan segera mengeluarkan hukum air dan angin yang semalam sempat dia pelajari.


Dari hukum angin udara mulai berhembus pelan membuat dunia batin Wawan mulai sedikit sejuk dan aroma menyengat tersebut mulai menghilang.


Sedangkan dari hukum air Wawan menciptakan hujan buatan untuk menghanyutkan lendir yang sudah sangat banyak menggenangi kelima anak tersebut dan melanjutkan proses ruqyah.


Lima jam telah berlalu kini tubuh kelima anak itu sudah tidak mengeluarkan lendir.


" Tahap pertama telah usai. " Ucap Wawan bernafas lega. Tugas dia sudah selesai untuk tahap pembersihan bibit-bibit yang ditanamkan oleh Sengkulu. Wawan sempat terpana tadi melihat sebegitu banyaknya cairan kenikmatan milik Sengkulu.


" Sekarang masuklah ke dalam rumah itu dan pakailah pakaian yang sudah saya sediakan. " Perintah Wawan.


Tak menunggu lama ke lima anak itu sudah berdiri di depan Wawan dengan mengenakan baju terusan yang longgar berwarna hitam.


Apakah baju yang kalian gunakan enak dikenakan ? " Tanya Wawan


" Sangat nyaman di badan dan lembut " Jawab salah satu dari mereka sambil tersenyum.

__ADS_1


" Tuan..... Apakah kami sudah sembuh ? "


" Sudah, hanya saja tubuh jiwa kalian masih bisa mengundang makhluk ghaib untuk mendekat. " Mendengar jawaban Wawan yang awalnya membuat hati mereka senang kini makin tambah sedih


" Apakah ada solusi yang Tuan tahu ? "


Wawan terdiam sekian lama hingga kelima anak itu semakin putus asa menunggu jawaban dari Wawan


" Sebenarnya ada .... Tapi sangat sulit untuk dijalankan karena bertentangan dengan keyakinan kalian. " Ekspresi wajah mereka sangat tertekan meskipun ada sedikit harapan.


" Apa itu solusinya ? " Tanya mereka ragu-ragu.


" Saya tahu dan paham bahwa kalian adalah jamaat yang taat sedangkan solusi yang saya berikan sangat berat karena menuntut kalian harus pindah agama dengan ikhlas. "


" Karena ritual yang akan saya kerjakan hanya bisa dilakukan jika keyakinan kalian sama dengan yang saya anut. "


" Dan kalian dituntut untuk menutup semua anggota badan kecuali wajah. "


" Seperti suster kah ? "


" Ya seperti itu tapi kalian masih bisa menikah. "


" Huffff. " Mereka sedikit lega mendengar jawaban terakhir Wawan


" Permasalahan berikutnya nya adalah saya tidak boleh memaksa kalian untuk pindah agama. "


Tanpa terasa waktu sudah berlalu selama satu minggu. Dimasa penantian jawaban dari kelima anak itu Wawan isi dengan berlatih hukum air dan hukum angin.


Kemampuan Wawan sudah mulai menampakkan peningkatan dari yang awalnya hanya hujan dengan intensitas rendah kini sudah bisa menciptakan hujan deras dikombinasi dengan hukum angin menjadi hujan badai.


Setelah cukup puas berlatih selama seminggu akhirnya Wawan menyudahi latihannya dan istirahat.


" Tuan, setelah kami pertimbangkan dan berfikir dengan matang serta pikiran yang jernih kami bersedia untuk melakukan nya. "


" Dari buku-buku yang kami baca di perpustakaan kecil milik Tuan ternyata kami mendapatkan sedikit pencerahan. Ucap anak nomer satu


" Saya mohon Tuan mau dan bersedia membimbing kami untuk lebih mengenal agama yang Tuan anut tanpa paksaan. "


" Kalau begitu sekarang kalian ambil air Wudhu dengan mencontoh gerakan dan bacaan saya. "


Mereka berlima kini sudah duduk dengan rapih di depan Wawan.


Wawan mulai membimbing mereka untuk menjadi mualaf dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

__ADS_1


" Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. "


Mereka semua mengikuti ucapan Wawan dan diulang tiga kali.


Dari langit turun cahaya berwarna putih ke biru-biru an menerangi kelima anak tersebut. Setelah itu menghilang tanpa bekas sedangkan cahaya tersebut kini menyelimuti tubuh masing-masing anak.


Wawan menitikkan air mata yang dia sendiri tidak tahu kenapa.


" Ya Allah ampuni lah dosa hamba mu ini yang telah bergelimang dosa. Hamba adalah makhluk mu yang sangat lemah. Kuatkan lah iman Islam kami, lindungi lah kami dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka. Aamiin..... Ya rabbal aalamiin. "


Dari tubuh Wawan terpancar cahaya warna biru yang sangat menenangkan bagus siapapun yang di dekatnya.


Setelah itu Wawan mulai mengajarkan tata cara beribadah termasuk segala perintah dan laranganNya. Dan dengan sabar mengajari mereka membaca kitab suci.


Tanpa terasa Wawan sudah berada di dunia batin lima tahun. Perbedaan selisih waktu sangat menguntungkan bagi siapapun yang belajar di dunia batin. Satu tahun di dunia batin satu jam di dunia nyata.


Kini kelima anak tersebut termasuk Wawan sudah menghafal seluruh isi dari kitab suci. Meski hanya lima jam di dunia batin


" Sebentar lagi kalian akan pulang. Saya minta kalian tetap mengamalkan semua yang sudah saya ajarkan setelah menjadi mualaf. " Ucap Wawan sambil menatap mereka semua.


" Terima kasih Tuan atas kesediaannya membimbing dan menuntun kami semua dengan sabar. "


" Berterima kasih lah kepada Allah karena telah memberi hidayah dan kesempatan untuk mempelajari ajaran yang dibawa Rosulullah. "


" Saya juga mengucapkan banyak terima kasih karena kalian bersedia menemani saya untuk menghafal kan ayat-ayat suci dari kitab suci Al-quran . " Mereka berlima mencium tangan Wawan dengan penuh penghormatan karena mereka telah menganggap Wawan sebagai guru nya.


" Bersiap lah dan sampai bertemu di dunia nyata. " Wawan menghilang dari hadapan mereka berlima.


Awal membuka mata Wawan melihat Paramitha yang sedang mondar-mandir seperti setrika.


" Kenapa kamu gelisah seperti itu ? "


" Akhirnya selesai juga meditasi mu. "


" Pelayan sudah tiga kali datang kemari dan menanyakan kapan akan dimulai. "


" Kenapa mereka tidak sabar menunggu beberapa jam sedangkan mereka begitu sabar menemani anaknya yang terbaring selama dua tahun. "


" Wajar menurut ku karena mereka mengharapkan putri keluarga mereka sembuh. " Paramitha membela mereka.


" Kalo begitu mari kita ke sana. "


****

__ADS_1


Maaf jika bahasa yang qinan sampaikan sedikit bertele-tele.


****


__ADS_2