
Darah yang dioleskan Wawan mulai menyebar ke seluruh permukaan tongkat tersebut.
Semua yang berada di dalam ruangan secara tidak sadar berpindah tempat.
Kini mereka semua berada di benua kutub utara dengan suhu dibawah nol derajat.
Masih dalam genggaman Wawan terjadi perubahan warna pada keseluruhan tongkat.
Yang semula berwarna hitam berganti merah kemudian berubah menjadi emas serta mulai bersinar sangat terang.
Tangan Wawan seperti disetrum listrik ribuan volt.
Baju yang dikenakan sudah hancur menjadi debu dan kini tubuh Wawan polos tanpa sehelai kain pun.
Perlahan tapi pasti kulit Wawan mulai robek dan Wawan berteriak sangat kencang menahan luka yang semakin lama semakin panjang dan terjadi di seluruh tubuh.
Kulit dan dagingnya mengelupas dari tempat nya. Tubuh nya terus gemetar tanpa bisa dikontrol.
Lapisan salju yang awalnya putih kini berwarna merah darah dan menggenang disekitar kakinya.
Mata Wawan terpejam karena tidak mampu menahan perih dan sakit di sekujur tubuhnya.
Setelah menjalani penderitaan sepanjang waktu kini Wawan merasakan tubuhnya menjadi ringan dan melayang-layang di udara.
" Apa yang sebenarnya terjadi ? "
Wawan merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Perlahan dia membuka mata dan kaget bukan kepalang melihat sekujur tubuhnya hanya tersisa tulang berwarna putih kemerahan.
Disaksikan dengan mata kepala sendiri tongkat besi yang di genggamnya mulai terurai menyelimuti sekujur tubuhnya.
Mulai terjadi sebuah keajaiban.Tulang yang semula berwarna putih mulai berubah menjadi hitam legam.
" Aaaaaaach.... " Wawan merasakan panas yang tak terkira.
Isi otaknya terasa mendidih akibat proses pembentukan yang sangat menyakitkan.
Setelah keseluruhan berwarna hitam kini mulai muncul garis-garis urat berwarna keemasan.
Wawan sedikit merasakan dingin manakala tulangnya sudah mulai terbungkus daging.
Darah yang menggenang dibawah kakinya berubah warna menjadi emas tersedot dengan cepat dan mulai mengalir di seluruh tubuhnya melalui ibu jari kakinya.
Salju kembali berwarna putih setelah semua darah terhisap masuk ke dalam tubuh Wawan.
Braga Mongso dan Paku Jagad terpaku saat Wawan berhasil melewati ujian penempaan tubuh. Lebih terkejut nya lagi mereka melihat dari dalam genggaman Wawan muncul siluet naga berwarna emas yang semula kecil kini berubah menjadi sangat besar terbang dan menari-nari di atas langit.
Cincin giok pemberian dari leluhur Sari memancarkan sinar hijau yang lembut.
Seperti ada yang membimbing tangan Wawan dimana cincin tersebut melingkar di arahkan tepat ke arah naga emas itu berada.
Sebuah api kecil bergerak dengan sangat cepat menuju tepat pada kening naga emas.
" Blarrrrrrr..... " Terjadi ledakan yang sangat kuat yang membuat salju yang berada di tempat itu longsor.
Keadaan menjadi terang benderang.
Sebuah benda berwarna emas muncul dari pusat ledakan melaju dengan sangat cepat ke arah tangan Wawan.
Dalam genggaman tangan Wawan muncul sebuah gagang pedang berbentuk kepala naga dengan mata berwarna merah dengan inti api di dalamnya.
Ditambah lagi di lengan Wawan yang semula ada tanda segi tiga kini di tengah nya muncul gambar naga yang melingkar pada sebuah pedang.
__ADS_1
Melihat fenomena tersebut Braga Mongso dan Paku Jagad segera bersujud.
Keadaan menjadi tenang kembali.
Wawan sudah kembali dalam ruangan rahasia penyimpanan harta milik Pak Arifin kembali.
Saat Wawan mulai bisa mengendalikan diri baru tersadar bahwa di depannya nampak dua orang sedang bersujud kepadanya.
" Maafkan kami Pangeran Sethyawan karena tidak mengenali anda dari awal. " Ucap mereka bersamaan.
" Senang rasanya bisa mendampingi Pangeran kembali setelah seribu tahun berpisah. "
Sebuah ingatan masuk ke dalam otak Wawan dan mulai mengenali akan siapa yang sujud di hadapannya.
Pangeran Sethyawan ( Wawan ) tersenyum melihat bawahan nya. Tapi juga keheranan melihat tubuh dia sekarang.
" Paku Jagad, apa yang terjadi dengan tubuhku ? "
" Maafkan saya Pangeran..." Paku Jagad menangkup kan kedua tangannya ke depan
" Saat ini Pangeran terlahir kembali di tubuh anak ini."
" Pada saat itu tubuh Pangeran telah hancur. Untung saja inti jiwa Pangeran sempat diselamatkan oleh Dewi Rengganis. "
Di belakang Wawan nampak seorang wanita cantik berjalan dengan Lembut.
" Terima kasih kalian sudah bersedia hadir dan mendampingi Pangeran Sethyawan kembali. "
"Dewi Rengganis... " keduanya menyebut nama itu berbarengan.
Wawan menoleh ke belakang dan tersenyum.
" Terima kasih " Ucap Pangeran Sethyawan atau Wawan
" Mulai sekarang saya akan meleburkan diri pada jiwa anak ini. Keinginan dia adalah keinginan saya. Perintah dia adalah perintah saya. "
" Kalian mengerti Paman... "
" Kami mengerti Pangeran..... "
Setelah itu Pangeran Sethyawan mengembalikan kesadaran Wawan kembali.
Wawan merasakan tubuhnya terasa sangat ringan, pandangan matanya makin tajam.
Setelah memastikan bahwa semua sudah berhasil dipindahkan Wawan segera pergi dari tempat itu.
******
Berkat pertolongan dari Pak Nuruddin Wawan bisa kembali sekolah di SMU favorit di Surabaya dan mendapatkan sebuah rumah di daerah pusat pemerintahan di Surabaya berikut asisten rumah tangga yang membantunya mempersiapkan kebutuhan setiap hari.
Rumah yang di tempati Wawan cukup besar dan sudah lama kosong.
Meski rumah sudah dalam kondisi bersih Wawan tetap tidak merasa nyaman. Dia merasakan hawa negatif begitu pekat menyebar ke seluruh rumah.
Menjelang malam saat Wawan sedang meditasi untuk meningkatkan energi dalam tubuhnya tiba-tiba terdengar suara berisik di ruang tamu.
" Hmm..... Kalian mulai beraksi dan membuat kegaduhan di rumahku. " Ucap Wawan lirih
Keluar dari kamar nampak di depan matanya beberapa kunti sedang duduk diatas sofa sedang memukul-mukul meja menggunakan tulang.
Mukanya sedikit keriput, dengan lingkar mata berwarna coklat kehitaman, rambut hitam panjang dan sedikit gimbal memakai baju terusan berwarna putih kusam.
__ADS_1
Memandang ke arah Wawan serempak.
Tidak sampai sekedipan mata mereka sudah berdiri di depan Wawan.
" Ada manusia baru yang mengusik ketenangan kita. " Ucap kunti itu dengan suara agak serak.
" Aku suka dengan aura dan energi yang dimilikinya... "
Pembicaraan makhluk itu bisa Wawan dengar berkat ilmu yang diberikan bibi Gi-Gi.
Wawan segera merapalkan sebuah doa untuk memasang perisai guna membatasi ruang gerak makhluk astral tersebut.
Tercium aroma yang sangat menyengat membuat Wawan merasa mual.
"Apa kalian tertarik denganku ? " Ucap Wawan saat keberadaan mereka tinggal sejengkal.
Seketika mereka segera mundur sepuluh langkah.
Mereka terkejut saat pembicaraan mereka diketahui oleh Wawan.
" Manusia apa kamu bisa melihat kami ? "
" Bukan hanya melhat tapi saya juga bisa memusnahkan kamu. "
" Punya nyali juga... Saya suka dengan manusia yang banyak ngomong kayak kamu yang pada akhirnya nanti akan memohon ampun. "
" Hahahahahaha.... " Mereka semua tertawa.
Belum usai mereka tertawa mendadak dari belakang beberapa tangan dengan kuku tajam mencengkeram kepala mereka masing-masing.
" Manusia..... Apa yang kamu lakukan ? "
Tubuh makhluk tersebut mendadak kaku dan tak berdaya.
" Seperti kataku.... Aku bisa memusnahkan kalian. "
" Ampuni kami.... "
" Apa mau kalian hingga membuat kegaduhan rumah saya ? "
" Kamu yang sudah mengganggu ketenangan kami. " Kata salah satu kunti tersebut dengan marah
" Aaaachhh.... " Teriak kunti itu kesakitan
"Jika kalian tidak terima maka akan kujadikan santap malam buatku. "
Tubuh kunti tersebut diangkat dan diputar. Dia terkejut kala melihat siapa yang sudah mencengkeram kepalanya.
" Raja kunti erah...... " ucapnya
" Benar.... itu saya.... Apa kamu terkejut. "
" Dia adalah tuanku. Barangsiapa berani menyakiti nya maka harus berhadapan denganku terlebih dulu. Seperti kamu serangga kecil. "
" Sudah lepaskan mereka kunti merah... Apa yang disampaikan nya benar. "
Mendapat perintah maka makhluk makhluk itu dibanting ke lantai dengan keras karena kesal kepada mereka akibat sudah mengganggu ketenangan nya.
" Mulai sekarang tempat mu diujung pagar depan. Akan kau buat kan tempat yang tidak berisik untuk mu kecuali ada orang berniat jahat maka kalian boleh bertindak. "
" Terima kasih Tuan. " Segera mereka menempati rumah baru yang disediakan Wawan.
__ADS_1
" Kedatangan mu tepat waktu. Terima kasih. " Meski berbeda alam tapi Wawan tetap memperlakukan mereka dengan baik karena pada prinsipnya sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Mereka tidak ingin diganggu.