
Tubuh Mas Chandra dan Mas Yudi dan kedua belas tim sergap seperti diangkat dengan kepala mendongak keatas, mata mereka mendelik dan kaki menjuntai ke tanah berkelojotan.
Tubuh mereka meronta-ronta menahan sakit. Tangan mereka seperti hendak melepas sesuatu yang mencengkeram leher mereka.
Pak Nuruddin beserta tim yang belum beraksi mengalami shock saat melihat rekan mereka seperti diserang sesuatu yang tidak nampak.
*****
Kediaman Cahyo
" Pagi Pak.... " sapa seseorang kepada dirinya
" Ada keperluan apa bapak pagi-pagi sekali datang ke rumah saya ? "
" Apa Pak Teguh butuh uang ? " tanya Cahyo dengan nada menghina.
" Uang dari Pak Cahyo sudah lebih dari cukup untuk kehidupan saya dua puluh tahun lagi. "
" Lantas ada tujuan apa Pak Teguh kemari. "
" Kedatangan saya ada hubungannya dengan segel yang saya pasang sepuluh tahun yang lalu."
" Maksudnya... "
" Beberapa hari yang lalu penjaga segel tersebut memberi laporan bahwa ada yang berusaha merusak. "
Pak Teguh diam sesaat.
" Hari ini mereka akan bergerak menangkap semua pelaku kejahatan hari itu. "
" Bagaimana mereka bisa tahu siapa saja yang terlibat ? "
" Entah siapa yang di belakang mereka akan tetapi kekuatan yang dimiliki orang itu tidak biasa. "
" Orang itu bahkan sudah mendatangi dan mengawasi kediaman saya Pak. Begitu juga kediaman kalian semua. "
Cahyo terdiam seperti berfikir sesuatu.
" Omongan saya mau dipercaya atau tidak semua kembali ke bapak lagi. "
" Yang penting saya sudah mengingatkan. Keselamatan keluarga ini bukan menjadi tanggung jawab saya. "
" Apa langkah selanjutnya yang harus saya lakukan Pak Teguh ? "
Cahyo mulai sedikit terpengaruh.
" Nanti saja kalo sudah selesai baru kita bahas masalah uang. Yang penting kumpulkan mereka dulu. "
Pak Cahyo sibuk menghubungi sanak saudara nya. Sedang Pak Teguh berjalan ke setiap sudut rumah memasang sebuah segel yang berbentuk botol dengan tutup terbuka dan di tanam ke dalam tanah.
Satu demi satu mobil nampak mobil memasuki halaman rumah Pak Cahyo.
Semua orang berkumpul di ruangan keluarga yang cukup besar.
" Semua sudah berkumpul. " tanya Pak Teguh
" Sepertinya semua berkumpul kecuali Dicky. Dia menghilang dan tidak bisa dihubungi beberapa tahun ini. "
" Kalau begitu perisai di ujung jalan akan saya pasang. "
Pak Teguh tidak mau gegabah. Dia memasang perisai pelindung tiga lapis di dalam rumah, satu pelapis di depan rumah dan satu lapis di jalan masuk rumah Pak Cahyo.
Semua menunggu dengan harap-harap cemas.
Hingga terlihat dari kaca balkon beberapa orang dengan membawa revolver memasuki halaman rumah mereka.
" Dor.... dor... dor...." terdengar sangat nyaring di telinga mereka manakala suara tembakan membabi buta keluar dari ujung laras milik polisi.
Anggota keluarga Pak Cahyo berteriak ketakutan dan menutup telinga mereka sambil berjongkok. Takut ada peluru nyasar kearah mereka.
****
Pak Teguh dari sudut ruangan yang tidak terlihat orang merapalkan doa untuk mengendalikan khodam yang sedang berhadapan dengan petugas kepolisian.
Di hadapan petugas tersebut nampak tiga ekor harimau berdiri menghadang langkah mereka. Tanpa menunggu perintah mereka menembaki harimau tersebut.
Harimau tersebut kebal peluru.
Banyak peluru tanpa arah yang keluar dari pistol petugas seakan berhenti dan tertahan oleh sesuatu yang tidak nampak hingga tidak merusak kediaman Pak Cahyo.
__ADS_1
Beberapa petugas kehabisan peluru. Saat sedang mengisi kembali harimau tersebut menerjang mereka akan tetapi hanya menabrak tubuh mereka dan hilang.
Suasana menjadi hening.
" Kemana perginya binatang itu ? " kata petugas satu dan dijawab petugas dua
" Saya juga sedang mencari...? "
Petugas tiga, empat dan lima yang tadi ditabrak harimau tersebut tetap mengisi kembali pistolnya.
Mereka berdiri dan bertemu pandang dengan polisi satu dan dua. Tangan mereka seakan bergerak sendiri menarik pelatuk pistol yang diarahkan ke polisi satu dan dua.
Keduanya meregangkan nyawa menerima timah panas dari rekannya. Selanjutnya polisi yang dikendalikan oleh Pak Teguh bergerak ke arah gerbang yang saat itu dimasuki oleh dua belas orang petugas.
Berkat perisai yang diaktifkan Pak Teguh, petugas yang merangsek ke dalam seperti dihempaskan kearah luar.
Pak Teguh segera mencari posisi yang tepat untuk mengendalikan keadaan.
Dikeluarkan nya beberapa khodam berbentuk beruang dan diarahkan ke dua belas petugas.
Beruang tersebut segera mencengkeram leher petugas tersebut dan meremas nya satu demi satu hingga kedua belasnya meninggal dengan leher remuk.
Mati tanpa darah itu istilahnya. Wajah membiru mata melotot lidah menjulur keluar.
Masih di tempat tersembunyi Pak Teguh mengarahkan beruang menuju petugas yang tersisa.
Terlihat dua orang petugas sedang memasang segel yang hampir mirip dengan miliknya.
Pak Teguh mengambil keris yang ada di dalam tasnya dan diarahkan ke benda yang sedang dibacain doa.
Karena belum aktif segel yang akan dipasang keduanya rusak. Selanjutnya Pak Teguh mengarahkan beruang milik nya kearah kedua petugas tersebut.
Diangkat dan dilempar itu yang dilakukan beruang tersebut berulang kali.
Mata Pak Teguh menangkap seseorang sedang berusaha menghubungi kantor pusat dengan radio mobil. Berkat perisai yang terpasang di ujung jalan masuk radio tersebut tidak mendapat sinyal.
Melihat hal itu Pak Teguh tersenyum.
****
Melihat Mas Chandra dan Mas Yudi yang diangkat oleh seekor beruang, Wawan memerintah kan paman kumbang untuk menolong mereka.
Perkelahian sengit terjadi antara beruang dan paman kumbang.
****
Di tempat Wawan dan Pak Nuruddin berada.
" Wawan, apa yang terjadi. Informasi kita bocor kah ? "
" Padahal penyergapan kali ini bersifat rahasia. "
" Orang yang sama yang melakukan penyergapan ini Pak. Dia tidak ingin kasus itu diungkap. "
" Keinginan dia kali ini adalah menghabisi kita semua. "
" Nis, sudah ketemu posisi orang itu. "
tanya Wawan kala Dewi Rengganis mendekat dan di jawab anggukan
" Siapin senjatanya Pak... kita hadang mereka. " Ajak Wawan ke Pak Nuruddin dan beberapa petugas.
Mereka segera mendekat, saling memegang pundak rekan didepannya serta berbaris seperti kereta.
Wawan memberi mantra pelindung yang mengelilingi sisa petugas yang tersisa.
" Ingat Pak.... jangan berjauhan satu sama lain. Karena kita tidak tahu kekuatan lawan. "
" Selama saling berdekatan dan saling mendukung semua akan selamat. "
Mantra pelindung yang Wawan gunakan diajarinya dari penjaga cincin milik keluarga Sari.
Sekumpulan petugas tersebut berjalan menuju gerbang kala melihat rekannya keluar dari dalam dan menembaki mereka.
Mereka sempat kaget kala belasan peluru menerjang mereka. Berkat perisai yang menyelubungi mereka peluru tersebut langsung jatuh ke tanah.
Dewi Rengganis menghampiri petugas polisi yang barusan menembaki rekannya sendiri.
Dengan menjentikkan jari muncul tiga buah cahaya berbentuk kelereng melesat menuju mereka polisi yang dirasuki.
__ADS_1
Tubuh ketiga petugas tersebut terhempas ke belakang disertai suara lolongan serigala. Langsung tidak sadarkan diri.
Rombongan petugas bergerak memasuki gerbang dengan mudah karena perisai yang terpasang sudah berhasil di robek Dewi Rengganis.
" Pak Nuruddin pegang tangan saya. Kita hampiri dukun itu. "
Tubuh Wawan dan Pak Nuruddin menghilang.
*****
Sudut tersembunyi di dekat gerbang.
Pak Teguh memuntahkan darah ketika beruang yang dimiliki nya binasa kala digigit lehernya oleh kedua kumbang hitam.
Makin diperparah saat ketiga beruang yang merasuki petugas dibinasakan oleh Dewi Rengganis. Dari telinga, hidung, mata mengalir darah segar. Dadanya sakit seakan dihantam besi puluhan kilo.
Tubuhnya langsung lunglai.....saat keris andalan yang dimiliki nya patah.
Perisai yang terpasang lambat laun memudar bersamaan dengan pecahnya batu cincin di tangannya.
Pak Teguh nampak takut dan putus asa.
Matanya terbuka lebar melihat dua orang berdiri menatap dirinya.
" Siapa kalian ? " tanya Pak Teguh
" Apakah kamu masih memiliki kekuatan ? " tanya Wawan
Belum sempat menjawab tubuhnya seakan ditarik dengan kekuatan penuh.
Gelap.... dimana mana semua nampak gelap.
" Dimana aku ? " kata Pak Teguh
" Siapa anak itu sebenarnya ? "
" Dasar bodoh.... andai tidak ikut campur urusan mereka dan menginginkan uang lebih pasti aku tidak akan berada di tempat ini. "
" Tolong...... tolong...... " Pak Teguh ketakutan saat didatangi ratusan makhluk yang sangat mengerikan
" Nak Wawan,kemana perginya dukun itu."
tanya Pak Nuruddin dijawab Wawan dengan menunjukkan cincinnya.
" Biarkan leluhur keluarga ini yang menghukum dukun itu. "
Ruangan sirine Ambulan saling bersautan. Memecah kesunyian di komplek perumahan ini. Membawa pergi korban yang berjatuhan di pihak kepolisian.
Berdasarkan gambaran yang di lihat Pak Nuruddin, semua tersangka pembunuhan dimasukkan ke dalam mobil tahanan.
Semua tersangka saat ditangkap semua membenarkan telah terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Bahkan beberapa malam mereka dihantui akan peristiwa sepuluh tahun yang lalu.
Sebenarnya mereka ingin menyerahkan diri. Akan tetapi di cegah oleh Cahyo.
Sedangkan otak pembunuhan telah melakukan aksi bunuh diri dengan menembakkan pistol ke dalam mulutnya.
Tepat pukul sembilan malam dilakukan evakuasi pengangkatan jenazah disaksikan oleh Bu Ratna, Robert dan Sari.
Bu Ratna tidak sanggup mengikuti prosesi evakuasi tersebut dan tidak sadarkan diri.
Wawan hanya termenung menyaksikan pemandangan di depan matanya.
" Terima kasih sudah bersedia memenuhi permintaan saya. " Stephanie berdiri di hadapan Wawan di dampingi sopirnya dan para pekerja yang dibunuh waktu itu.
" Saya titipkan keluarga saya kepadamu terutama Sari. "
Dibelakang mereka muncul dua bayangan hitam dan mengajak mereka pergi.
******
Dari kejauhan sebuah Sedan warna hitam berhenti dan parkir di depan halaman rumah Stephanie.
" Bagaimana selanjutnya Pak ? "
" Cahyo terlalu ceroboh dalam hal ini. "
" Awasi terus anak itu. Asal kita tidak mengusik mereka saya yakin semua masih bisa dikendalikan. "
__ADS_1
" Tarik mundur orang-orang kita dari kota ini segera. "
" Siap Pak. "