
" Kalian sudah siap. Tolong berpegangan tangan. "
Duduk dihamparan rumput yang luas Wawan dan tiga sahabat nya kini berada dalam dunia bathin Wawan.
Wawan meminta ketiganya untuk ambil sikap lotus. Kali ini Wawan akan membuka cakra paningalan ( mata bathin milik sahabatnya.)
Satu demi satu sebagai awalan Wawan menekan bawah pusar milik sahabatnya untuk memperbaiki pusat energi ( dantian ) milik temannya yang tadinya sebesar kelereng berdiameter lima senti kini bertambah satu senti.
Proses berlajut kearah tengkuk kepala. Disitu tersimpan sebuah lubang hitam yang memang ditutup oleh Tuhan akan tetapi masih bisa merasakan sesuatu yang bersifat ghaib.
Kadang kita sering merasa bulu kuduk berdiri jika melewati tempat yang wingit.
Setiap manusia memiliki lubang hitam yang berbeda ukuran. Ada yang besar dan ada yang kecil tergantung dari leluhur masing-masing.
Antara Dwi, anton dan Kartika yang paling besar adalah kartika. Kala dibuka indera paningalannya Kartika langsung terbuka tataran sepuluh dibanding Dwi yang hanya lima dan anton dua.
Selanjutnya Wawan memperbaiki susunan aura milik temannya yang berfungi sebagai pengasihan. Meski semua diberi tataran yang sama namun penyerapan tubuh berbeda.
Anton langsung masuk tataran ke dua belas diikuti Dwi sepuluh dan kartika delapan.
Setelah semua berakhir mereka bertiga membuka mata.
" Apa yang kalian rasakan dan lihat ? "
" Tubuhku jadi terasa lebih ringan lho. " kata Anton diikuti kedua temannya
" Wan, apa mataku yang salah...masak Anton dan kartika jadi lebih ganteng ya meski sedikit. "
Anton dan Kartika langsung memegang-megang wajah dan kulit nya. Memang mereka merasa kulit mereka lebih cerah dan bercahaya.
Saat Anton melihat Dwi dia mundur dan terjatuh diikuti oleh Wawan dan Kartika menatap Dwi sambil menutup mata.
" Dwi, aku minta maaf sebelumnya. " kata Wawan dengan nada sedih
" Apa yang terjadi ? " Sambil memegang mukanya. Dia hampiri Kartika dan mengguncang-guncangkan tubuh sahabatnya
" Kartika katakan apa yang terjadi dengan wajahku ? "
" Wan, apa yang sudah kamu lakukan pada wajahku ? "
Melihat wajah-wajah sahabatnya yang menatap prihatin Dwi ketakutan dan berteriak.
" Aaaaaaaarch...... Ada apa dengan wajahku. "
Anton datang dan memukul perut Dwi
" Bukkkk. Berisik tahu. "
" Kalian memang kejam. "
Dwi berlari kesana kemari akan tetapi tidak menemukan jalan kembali hingga terduduk di depan temannya.
__ADS_1
Air mata mengalir di sela-sela tangan yang menutup wajah nya.
" Wan, bagaimana dengan wajahku ? "
" Hahahaha.... " Semua tertawa
" Edan banget kamu Wan, anak sejelek Dwi sekarang gantengnya mirip dengan aku dan Kartika. "
" Jadi kalian tadi terkejut melihat ketampanan ku. "
Dwi menghapus air matanya. Dipeluknya Wawan dan dicium pipinya hingga Wawan begidik karena jijik.
" Berhenti Dwi.... aku masih normal. "
" Hahhaha. " Semua tertawa dan yang paling keras adalah Dwi karena saking bahagianya.
Setelah semua kembali tenang, Wawan mengajak ketiga sahabatnya berpindah tempat.
Nampak empat ekor binatang di dalam sebuah kandang.
" Heh manusia terkutuk..... lepaskan kami !! "
" Kalian siluman jelek..... Berani mencari masalah denganku. " Wawan mengeluarkan aura silumannya yang dia pelajari dari bibi Gi-Gi.
Dihilangkan nya kandang yang mengurung ke empat nya. Wawan ingin mencoba ilmu yang selama ini dipelajari nya.
Tak menunggu lama ke lima nya melakukan pertempuran. Reksageni raja siluman Capung mengerahkan seluruh rakyat nya yang berjumlah ratusan ribu untuk maju menyerang.
Sedangkan Sengkulu bersama dua rekannya ditambah jutaan pasukan yang berasal dari bulu-bulu mereka menerjang ke arah Wawan.
Meski berupa tubuh bayangan kekuatan mereka hampir sama dengan kekuatan Wawan.
Ditelajak tangan mereka terbentuk sebuah pedang yang terwujud dari sebuah doa yang dirapalkan. Sekali tebas ratusan capung dan serigala menemui ajalnya.
Lengkingan demi lengkingan terdengar dengan sangat memilukan.
Dwi dan dua rekannya hanya mampu melihat dari jauh pertempuran sahabatnya tanpa berani ikut campur. air liur yang menetes di sela-sela mulut serigala bercampur darah ditambah wujud dan fisik dari serigala yang sangat besar membuat mereka sangat ketakutan.
Pertempuran yang awalnya dimenangkan oleh pasukan Wawan kini mulai berubah kala Sengkulu dan kedua rekannya menggabungkan diri menjadi satu. Semua bangkai yang berserakan dihisap oleh tubuh penggabungan tersebut. Termasuk pasukan serigala yang masih hidup pun ikut tersedot.
Tinggi Sengkulu berubah wujud. yang awalnya setinggi satu meter kini menjadi setinggi gedung berlantai lima belas. Bulunya menjadi keras seperti duri. Gigi taringnya semakin panjang ditambah kuku jarinya berubah menjadi pisau.
Wawan segera menarik mundur semua pasukannya lewat telepati. Apa yang harus aku lakukan kala melihat pasukannya mulai dibantai oleh Sengkulu.
Setiap luka yang didapat kan bayangannya sebelum meninggal akan memberikan bekas luka pada Wawan.
Ketiga sahabatnya memang sering melihat Wawan terluka hanya bedanya luka berdarah yang didapat adalah memang. Kali ini di depan mereka nampak Wawan badannya penuh luka sayatan.
Berbagai macam serangan sudah bayangan Wawan lakukan. Akan tetapi Serigala tersebut tidak mengalami luka sedikit pun.
Belum lagi pasukan dari Reksageni terus menyerang pasukann kumbang nya.
__ADS_1
Wawan kalut. Kalo begini terus pasukan ku akan kalah.
Wawan merapalkan doa untuk mengaktifkan ilmu hukum ruang dan waktu tingkat akhir yang masih belum sempurna
" Jurus ruang dan waktu...... Kehampaan melanda kesunyian tercipta. "
Dari telapak tangan Wawan muncul cahaya kuning keemasan yang awalnya sebesar noda berubah menjadi seukuran bola sepak dan didorong ke atas menuju tepat diatas medan pertempuran.
Energi tersebut meluncur dengan sangat cepat dan pecah tepat diatas Sengkulu yang sedang melontarkan sebuah tombak yang terbentuk dari bulu runcing nya dan dilempar kearah Wawan.
" Blarrrrrrrr..... " suasana berubah menjadi terang benderang akibat energi bola ruang dan waktu yang pecah membeku kan semua makhluk yang berada disana termasuk pasukan Wawan.
Wawan merasa senang bahwa upayanya berhasil dan menurunkan sedikit kewaspadaan nya. Hingga kedatangan sebuah tombak dengan kecepatan tinggi tidak disadarinya.
" Jlebb... "
Sebuah tombak tepat menembus dada nya dan menanjak di tanah.
Kepala Wawan mendongak keatas dengan mulut memuntahkan darah segar yang sangat banyak. Tubuhnya masih tersangkut di gagang tombak yang menanjak di tanah.
Tiga sahabat nya berlari mendekat setelah yakin keadaan sudah aman.
" Angkat tubuh Wawan ke atas bersama-sama. " Kata Kartika ketika upaya mereka mencabut tombak tersebut gagal.
Setelah itu tubuh Wawan diletakkan diatas tanah dengan darah mengalir membanjiri sekitar tubuh Wawan. Tubuh Wawan mengejang beberapa kali setelah itu tenang.
Dewi Rengganis bersama kakek kencana dan bibi Gi-Gi telah sampai samping tubuh Wawan.
" Dewi, kakek tolong selamatkan sahabat saya. "
Pinta Kartika dengan memohon sambil berlutut diikuti dua temannya yang lain.
" Betapa beruntung nya anak ini di kehidupan sekarang. Dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang baik. "
**
Jessica dan Lidya sedang berada di kamar Nanda sambil membuka-buka album yang berisi foto keluarga nya.
Lidya memandangi foto menggambarkan sebuah moment penting. Terkadang dia menanyakan tempat dimana foto tersebut diambil.
Jessica meminta Lidya menceritakan tentang masa lalunya.
Saat mendengar cerita Lidya kadang Jessica terkejut, menangis bersama dan tertawa bersama. Hingga pembicaraan terakhir menanyakan tentang peristiwa saat itu bersama Wawan
" Lidya, apa yang membuat mu malam itu melakukan sesuatu yang terlarang ? "
" Hmmm..... Ngga tahu mah."
" Lidya sudah memohon supaya Wawan untuk berhenti. "
Saat mereka asyik bercanda tiba-tiba Jessica merasakan sakit yang tak terkira dibagian dadanya. Matanya mendelik dan kepalanya mendongak keatas.
__ADS_1
" Mah...... mamah..... " Lidya mengguncang tubuh Jessica
" Mamah kenapa ? " Teriak Lidya pamit