
" Apakah kalian semua siap ? " Ucap Wawan dan dijawab dengan anggukan.
" Semprotkan tipis-tipis parfum tersebut ke tubuh mereka dan ambil darah kalian dan putri kalian menggunakan jarum yang sudah disediakan. Setelah itu teteskan ke dalam cawan. "
Semua orang tua melakukan semua yang Wawan perintahkan tanpa bertanya.
Wawan meminta Paramitha untuk berdiri menghadap dirinya serta meminta Dimitri untuk mengajak beberapa orang yang sangat kuat untuk berdiri di samping kanan dan kirinya sambil berpesan :
" Jangan biarkan tubuhku melayang dan usahakan untuk selalu menempel pada lantai. " Ucap Wawan pada Dimitri
" Jika ada perubahan pada diriku tolong sebisa mungkin sadarkanlah. Apapun caranya aku tidak akan marah. "
" Untuk kalian para orang tua begitu terjadi pergerakan pada tubuh anak kalian jaga mereka dan pegang dengan erat serta panggil namanya di telinga. "
" Apakah kalian mau mengikuti semua keinginan ku untuk membawa anak kalian kembali ? " Ucap Wawan dengan nada serius dan dijawab dengan anggukan.
Angin berhembus dengan sepoi-sepoi berputar mengelilingi pentagram. Lambat tapi pasti putaran angin tersebut makin cepat dan menerbangkan apa saja disekitar angin tersebut.
Meja, kursi, gelas, piring sudah terbang dan terlempar kemana saja akibat pusaran angin yang semakin lama semakin membesar.
Semua orang di dalam ruangan mulai mencari tempat berlindung supaya tidak masuk dalam pusaran angin.
Dimitri dan sepuluh orang mulai memegang tangan Wawan sedangkan Paramitha maju dan memeluk tubuh Wawan karena tubuhnya sudah mulai bergerak naik turun
" Jiwa anak kalian atas ijin Allah sudah dimurnikan dan untuk memanggil mereka kembali mengharuskan kalian untuk berpindah keyakinan. "
Ucap Wawan sambil teriak supaya mereka yang berada dalam lingkaran kecil pentagram dapat mendengar.
Wawan membuat dua lingkaran pentagram. Lingkaran pertama berukuran kecil mengelilingi kelima anak tersebut bersama orang tuanya, sedangkan satu lagi lingkaran besar yang mengelilingi lingkaran kecil dimana Wawan berdiri bersama yang lain.
Kembali ke cerita
" Apakah kalian bersedia ? " Tanya Wawan kembali berteriak
Situasi di luar lingkaran sudah sangat kacau. Plafon rumah sudah hancur akibat pusaran angin yang semakin kencang bahkan atap ruangan sudah mulai berlubang hingga semua orang bisa m lihat langit secara langsung.
Cahaya pentagram dari lingkaran kecil yang berwarna kuning semakin lama semakin terang dan menembak keatas menembus langit. Fenomena tersebut menarik minat semua orang di kota Paris untuk mencari tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
Semua orang berteriak kepada masing-masing orang tua untuk menyetujui keinginan Wawan.
" AKU BERSEDIA....... " Teriak Nicholas sambil meggenggam tangan istrinya dan dibalas anggukan oleh Wawan
" IKUTI APA YANG AKU UCAPKAN.... "
" YA ALLAH AKU BERSERAH DIRI PADAMU DAN AKU BERSUMPAH UNTUK TAAT PADAMU...... AKU BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD URUSAN ALLAH. "
Tubuh Wawan mulai bergetar hebat diikuti oleh gerakan pada putri Nicholas. Nicholas dan istrinya dengan cepat memeluk tubuh putri nya serta menangis nama putrinya
" Bianca.... Kembalilah nak.... Papah dan mamah menginginkan mu pulang dan berkumpul kembali dengan kami. "
Dari atas langit melesat satu titik cahaya berukuran kelereng menuju tubuh Bianca.
Tubuh Nicholas dan istrinya seperti disengat listrik meski sesaat. Bukannya melepaskan pelukan justru mereka makin memegang tubuh Putri nya dengan erat.
Mata Bianca mulai mengerjap menandakan ada kehidupan yang masuk. Perubahan tersebut terus dalam pantauan Nicholas. Dengan cepat Dia memanggil kembali nama anaknya di telinga.
" Papah.... Mamah.... " Nicholas tanpa sadar meneteskan air mata. Bersama istrinya mereka memeluk putrinya dengan erat.
Tak berapa lama Alexandro, Felix dan Ricardo memeluk putrinya Masing - masing setelah mereka dengan ikhlas untuk hijrah menjadi mualaf sedangkan Kurtis dan istrinya masih ragu.
Walau bagaimana pun mereka adalah keluarga yang taat dan tidak mudah untuk berpaling.
Pusaran angin makin lama makin berkurang dan situasi yang awalnya sangat mencekam sudah mulai tenang.
Namun berbanding terbalik pada Wawan. Getaran pada tubuh Wawan makin lama makin kencang. Darah mulai mengalir dari mulut, hidung dan telinga. Sedikit demi sedikit tubuh Wawan mulai melayang dan kornea matanya berubah menjadi merah menyala.
Dimitri dan sepuluh orang terpilih berusaha dengan kuat menahan supaya tubuh Wawan tetap menapak di lantai. Seberapapun kuatnya mereka menahan kaki Wawan sudah meninggal kan lantai sejauh sepuluh sentimeter dan terus bertambah. Nicholas dan yang lain cemas apalagi orang-orang yang menyaksikan dari luar pentagram.
Orang-orang di luar berusaha mendekat untuk membantu Dimitri dan yang lain. Mereka pikir pusaran air tidak begitu cepat dan yakin bisa menerobos.
" Aaaaaargh....... Aaaaaargh... " Dua puluh orang masuk dalam pusaran dan terlempar menghantam tembok. Penonton yang lain segera membantu mereka untuk menjauh dari pusaran tersebut.
" Aku pikir pusaran tersebut bisa di tembus tidak tahunya meski pelan tapi mampu melempar tubuh kita. " Ucap pria berjas hitam salah satu korban yang terlempar.
" Mitha..... jangan biarkan tubuhku diambil alih oleh mereka. " Ucap Wawan lirih dan matanya kian menyala merah.
__ADS_1
Tubuh Wawan sudah melayang setinggi empat puluh sentimeter. Dimitri ikut melayang karena posisinya berada pada punggung Wawan, sedangkan yang lain ada yang memegang pinggang dan paha Wawan.
Paramitha berkali-kali menampar pipi Wawan bahkan memukul perut Wawan untuk membuat nya tersadar tapi upaya tidak membuahkan hasil.
Nicholas dan yang lain berusaha menyadarkan Kurtis. Dan mereka berjanji akan selalu berdiri disisinya jika terjadi sesuatu. Kurtis menatap istrinya dan dijawab anggukan.
" Suamiku..... Apapun yang terjadi yang terpenting adalah kita dan anak-anak. "
Dengan lantang Kurtis dan istrinya mengucapkan kalimat syahadat. Bersamaan dengan masuknya cahaya biru ke dalam tubuh putrinya cahaya kuning mulai meredup dan menghilang bersamaan dengan hilangnya lingkaran kecil pentagram.
Paramitha melihat di pinggang pria yang sedang memeluk pinggang Wawan terselip sebilah pisau.
" Berikan pisau mu padaku cepat." Perintah Paramitha pada pria tersebut sambil mengulurkan tangan
Tubuh Wawan sudah melayang meninggalkan lantai sejauh satu meter.
Paramitha berdiri diatas pundak pria yang sedang memegang lutut Wawan. Tanpa langsung menyayat telapak tangan kirinya.
" Di dalam tubuhku mengalir darahmu dan di dalam tubuhmu mengalir darahku."
Dengan cepat telapak tangan Paramitha digenggam dan darah yang mengalir diarahkan langsung ke dalam mulut wawan.
Wawan terus menelan darah yang menetes di mulut nya bahkan menghisap langsung dari telapak tangan Paramitha.
Lambat laun tubuh Wawan membesar. Baju yang dia kenakan mulai sobek di sana sini tidak terkecuali celana yang dikenakan.
Suhu tubuh Wawan meningkat drastis membuat pegangan setiap orang mulai mengendur dan tiba-tiba tubuh Wawan dan Paramitha menggelepar di udara secara bersamaan seperti ikan yang berada di daratan. Setelah itu mendarat dengan keras ke lantai.
Tiba-tuba terjadi penurunan suhu yang cukup drastis. Udara yang awalnya hangat kini mulai dingin dan dari atas langit mulai turun butiran-butiran salju.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di kediaman Dimitri tapi hampir seluruh Paris mengalami nya.
Semua penonton yang berada di luar pagar kediaman Dimitri dan para tamu mulai kedinginan dan bergegas mencari tempat untuk berlindung.
Dimitri dibantu oleh beberapa orang memindahkan tubuh Wawan dan Paramitha ke dalam rumah utama.
*****
__ADS_1