Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 85 Dia memanggil


__ADS_3

" Wawan, Ibu Paramitha.... " Ucap Bang Yudi, Bang Dicky dan bibik secara bersamaan.


Mereka semua langsung berhamburan memeluk Wawan dan hanya mengangguk pada Paramitha


" Dari mana saja kamu Wan ? " Tanya Bang Ficky


" Kenapa kalian pergi lama sekali ? " Tanya Bang Yudi


Selanjutnya mereka mulai memberondong Wawan dan Paramitha dengan berbagai pertanyaan. Namun pada intinya sangat khawatir dengan mereka berdua.


" Bang, segera kemasi semua barang dan kita segera pergi dari sini untuk berlatih !! " Ucap Wawan


Sebenarnya mereka sudah mulai betah tinggal di sana namun kembali lagi tugas mereka adalah menemani kemanapun Wawan pergi. Tanpa menunggu lama semua bawaan sudah terkumpul semua.


" Bagaimana bisa secepat ini ? " Tanya Wawan dan Paramitha bersamaan


" Kami selalu siaga Wan, kapanpun bergerak kita siap. " Jawab Bang Dicky sambil menepuk punggung Wawan


" Bagus lah kalo begitu. " Namun sebelum pergi Wawan memperkuat segel yang terpasang di rumah kediaman Paramitha.


Meskipun mereka tidak mungkin kembali namun di sana banyak terdapat pelayan milik keluarga Paramitha.


" Kemana kita akan pergi sekarang ? "


" Nanti juga kalian akan tahu. " Jawab Wawan sambil merapalkan doa dan seketika angin yang tadinya sepoi-sepoi kini mulai berputar di sekeliling tubuh mereka dan tubuh mereka menghilang


" Wushhhhh. " Debu beterbangan kemana mana saat tubuh mereka mendarat di depan sebuah rumah yang dipenuhi dengan bunga warna warni.


" Hei bocah.....Masih ingat juga kamu untuk kemari." Bentak Pak Arifin


" Hehehe..... Maaf Pak, baru ada waktu untuk berkunjung. " Jawab Wawan cengengesan


Saat hendak memarahinya lebih lanjut Pak Arifin terkejut saat melihat ada beberapa orang telah berdiri di belakang Wawan. Raut mukanya seketika berubah merah saat dia melihat Paramitha dan tanpa peringatan langsung menyerang Wawan.


" Kurang ajar. " Ucap Pak Arifin geram sambil melayangkan pukulan dengan kencang.


Meskipun tangan Wawan kuat saat menangkis pukulan Pak Arifin namun tetap saja tangannya sedikit kesemutan.


" Hmmm..... Pak Arifin banyak kemajuan. Kalo begitu aku ingin berlatih dengannya. " Ucap Wawan dalam hati


Tendangan dan pukulan mematikan terus dilancarkan Pak Arifin namun semua masih mampu di tangkis oleh Wawan.

__ADS_1


Mereka telah bertukar ratusan jurus bahkan kerusakan sudah muncul dimana-mana namun belum ada tanda-tanda pertarungan akan segera usai.


Bang Dicky, Bang Yudi, Paramitha bahkan bibik sebagai orang awam sangat ketakutan melihat pertarungan tersebut.


Baru kali ini mereka melihat orang bisa terbang diudara dan bertarung ditambah lagi dari telapak tangan mereka keluar sebuah cahaya yang jika ditembakkan akan merusak sesuatu yang berada di depannya.


Hingga akhirnya Pak Arifin mengeluarkan energi terakhir miliknya.


" Hentikan..... " Teriak Paramitha dan tanpa dia sadari dari dalam tubuhnya terpancar energi yang sangat besar membuat Wawan terkejut begitu juga yang lain


" Anda bukan lawan seimbang buat Wawan, kenapa masih bersikukuh untuk melawannya. " Seketika Pak Arifin menarik energinya kembali dan sedikit gentar.


" Apa alasan anda marah dengan Wawan setelah melihat saya ? " Bentak Paramitha sambil berjalan menghampiri Pak Arifin


Wawan perlahan-lahan memutar badan dan berniat akan pergi namun tubuhnya mendadak kaku kalau Paramitha berteriak


" Berhenti..... Kamu tidak boleh pergi sebelum orang ini menjawab pertanyaan ku. "


" Mampus aku..... Aku harus memikirkan cara untuk meredam emosinya. " Ucapnya lirih dan dia tidak berani berkata dalam hati karena Paramitha punya kemampuan mendengar suara hati.


Tiba-tiba dirinya teringat Kakek Kencana dan Rengganis


" Kakek Kencana, Rengganis hadir.... " Panggil nya masih dengan suara lirih


Saat mereka berdua hadir langsung memasang segel pelindung karena mereka pikir dunia batin Wawan sedang di serang.


" Siapa yang sudah membuat keributan disini dan siapa yang memiliki energi sebegitu besarnya ? " Tanya Kakek Kencana saat melihat kerusakan terjadi dimana-mana.


" Paramitha Kek. " Jawab Wawan singkat


Bukan nya marah Kakek Kencana justru tersenyum.


" Siapa orang yang telah berhasil membangunkan kekuatan Paramitha ? " Belum sempat menjawab Wawan tiba-tiba merasakan ada bahaya yang datang dan dengan sigap langsung meloncat ke samping.


Paramitha menyerang wawan secara beruntun dan tidak memberi nya kesempatan untuk berbicara. Meski sering terkena pukulan dan tendangan yang membuat nya jatuh bangun tidak ada keinginan Wawan untuk membalasnya selain menangkis dan menghindar.


Hingga pada titik tertentu Paramitha kehabisan tenaga dan jatuh berlutut. Dia nampak kelelahan setelah bertarung dengan tenaga penuh selama dua jam.


" Apa kamu baik-baik saja ? " Ucap Wawan sambil mengulurkan tangan untuk membantu Paramitha berdiri.


Paramitha mendongak ke atas meski nampak lelah namun amarah nya masih belum reda, saat Wawan sedang membungkuk untuk membantu nya berdiri dan dengan sisa tenaga yang dimilikinya Paramitha melayang kan pukulan dan tepat mengenai pelipis Wawan.

__ADS_1


Sepersekian detik sebelum pukulan Paramitha mengenai pelipisnya Wawan mendengar seseorang memanggil namanya meski lirih dan jauh


" Wawan........ ttttolong aku...... "


Wawan sangat paham dengan pemilik suara tersebut dan entah kenapa jiwanya langsung tertarik keluar menuju sumber suara.


" Krak..... sreeet.... " Terdengar suara tulang yang retak dan kulit pelipis Wawan seketika


Akibat pukulan tepat di pelipis nya Wawan langsung terlontar ke belakang dan sesaat sebelum menyentuh tanah terdengar suara memanggilnya.


" Bruakkkkk. " Tubuh Wawan sukses mendarat ke tanah dan terdiam.


Nampak sekelebatan bayangan hitam dengan kecepatan tinggi meninggalkan tubuh Wawan. Meski begitu tetap saja masih dapat di ketahui oleh Kakek Kencana dan segera di kejar nya.


Apa yang dilihat Kakek Kencana tidak semua orang tahu begitu pun dengan Dewi Rengganis


" Kenapa Beliau bergegas pergi ? " Gumam Dewi Rengganis saat melihat Kakek Kencana pergi meninggalkan tempat dengan terburu-buru seperti mengejar sesuatu.


Demi rasa penasaran, Dewi Rengganis pun bergegas mengikuti kemana arah perginya Kakek Kencana dengan kecepatan penuh.


" Wawaaaaan..... " Teriak Paramitha sambil memeluk kepalanya.


Pak Arifit, Bang Yudi, Bang Dicky dan bibik pun tidak ketinggalan berlari menuju tempat dimana Wawan terjatuh dan segera mengerubunginya.


" Beri sedikit ruang..... " Ucap Pak Arifin sambil memeriksa denyut nadi di tangan Wawan


" Segera bawa ke dalam...... " Perintahnya sekali lagi


" Bagaimana keadaan Pak ? " Tanya Paramitha panik sambil berurai air mata


" Denyut nadinya lemah Nak. " Ucap Pak Arifin sambil menggiring tubuh Wawan dibantu Bang Dicky dan Bang Yudi.


Darah berwarna merah keemasan masih terus mengalir dari lubang hidung, telinga, mulut dan mata Wawan membuat semua yang ada di sana panik dan heran terutama bibik, Bang Yudi dan Bang Dicky


" Pak, bagaimana keadaan Wawan sekarang dan kenapa warna darah Wawan merah keemasan ? " Tanya Bang Dicky setelah Pak Arifin memberi perawatan pada Wawan.


Sebenarnya Pak Arifin tidak tahu menahu tentang ilmu medis awalnya namun untuk mengusir sepi dari kesendirian nya di tempat ini dia mulai membaca semua buku yang ditinggalkan oleh Wawan dan salah satunya tentang buku medis.


" Dia adalah anak spesial dan saat ini kondisi tulang kepalanya retak namun dibantu dengan metode yang ku pelajari semoga bisa membantu mempercepat proses penyatuan nya. "


" Kini kita hanya tinggal menunggu perkembangan nya saja. "

__ADS_1


****


__ADS_2