Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 31 Ditembak cewek


__ADS_3

Agustus 1992


Pasca kejadian tersebut karier Pak Nuruddin makin gemilang. Beliau naik jabatan menjadi pejabat tinggi dipusat berkat kesuksesannya mengungkap tabir peristiwa pembunuhan sepuluh tahun yang lalu reputasi kepolisian makin membaik.


Banyak kasus-kasus lama yang awalnya masih misteri telah berhasil diselesaikan dengan pencapaian yang cukup memuaskan. Tingkat kriminalitas menurun drastis. Semua berkat bantuan dari Wawan.


Tiga bulan telah berlalu, kini hubungan Wawan dan Sari makin dekat sedangkan Rini mulai sedikit renggang karena dia sekarang sekolah di Luar negeri.


Wawan masih sesekali datang untuk berkunjung ke tempatnya.


" Jarak bukan sebuah halangan dalam menjalin sebuah hubungan. Semua tergantung dari niat. "


Itulah prinsip Wawan


Posisi jabatan Wawan di perusahaan Bu Ratna tidak bisa dianggap remeh. Meskipun Wawan masih muda banyak keputusan penting menunggu kehadiran nya. Robert terkadang ngeri dengan sepak terjang Wawan.


Banyak investasi dilakukan untuk membeli lahan dan membuka usaha baru. Hingga cadangan dana perusahaan hampir habis demi mengikuti obsesi dari Wawan.


Melihat tindakan Wawan yang terkesan sembrono dengan banyak melakukan Manuver-manuver tajam. Membuat para investor pergi meninggalkan perusahaan yang dipimpin oleh Bu Ratna.


*****


Kini Wawan duduk di kelas tiga berkat program akselerasi yang diadakan pihak sekolah demi menjaring anak-anak berprestasi.


" Bagaiamana dengan tiga sahabat nya? "


Mereka pun duduk satu baris di kelas yang sama. Prestasi yang dia peroleh pun berkat bantuan dan dukungan temannya.


Bersama-sama mereka maju dan menunjukkan kemampuan otak..... Nakal boleh pintar harus.


Wawan dan tiga sahabat nya menjadi idola para cewek dan panutan para cowok. Hingga di sela jam istirahat seorang gadis dengan perawakan tinggi semampai berkulit putih halus dengan kecantikan khas wanita Kalimantan mendatangi mejanya.


Kedua tangannya berusaha disembunyikan karena sedang memegang seikat kembang mawar berwarna putih.


Semua siswa tahu dia adalah gadis tercantik di kelas satu. Dalam pikiran Wawan hanya satu setan apa yang merasukinya hingga berkunjung ke mejanya.


Semua mata penasaran akan apa yang terjadi.


" Mas Wawan, nama ku Claudia anak kelas satu A. "


" Sebenarnya tindakan Claudia cukup memalukan akan tetapi semakin lama Claudia memendam rasa semakin susah melupakan. "


" Claudia sengaja mengambil tindakan ini karena tidak ingin konsentrasi belajar Claudia terganggu. "


" Lebih baik gagal karena mencoba dari pada harus penasaran karena menunggu."


" Maafkan Claudia sebelumnya sudah mengganggu waktu istirahatnya.


" Maukah Mas Wawan jadi teman special Claudia ? " disodorkannya seikat mawar putih yang awalnya dia sembunyikan ke depan Wawan dengan gugup.


" Terima.... Terima... Terima.... "

__ADS_1


yel - yel yang dikumandangkan siswa yang berada di kantin mengundang banyak siswa lain untuk mendekat.


Wawan hanya menatap es teh di depannya tanpa sedikit pun memandang Wajah Claudia.


Wajah Claudia makin tertunduk malu manakala Wawan tidak merespon ucapannya dan hanya diam menatap isi gelas.


Dwi, Anton dan Kartika tetap asyik dengan cemilan di depannya karene mereka tahu apa yang sedang Wawan kerjakan.


Wawan sengaja membiarkan gadis tersebut mnunggu. Wawan sudah cukup mengalami kesulitan beberapa bulan ini dan tidak ingin menambah nya.


Dalam dunia bisnis reaksi dan kawan sangat berpengaruh begitu juga terhadap gadis di depannya. Dengan menggunakan media air dalam gelas Wawan melakukan terawangan.


Wawan sempat tersentak dengan dua gambaran yang berbeda.


Yang pertama andai Wawan menolak masuknya Claudia ke dalam kehidupan nya maka kehidupan di masa yang akan datang tidak membawa kebaikan untuk Claudia terlebih lagi semua permasalahan akan disebabkan oleh Claudia.


Sedangkan gambaran kedua Wawan melihat wajah yang mengerikan dari kedua gadisnya sebagai pembukaan akan tetapi di kehidupan ke depannya akan memberikan dukungan yang kuat. Wawan tersenyum tipis tapi tidak kentara.


Meskipun baru sepuluh menit Claudia mulai syok.Tubuhnya gemetar hebat. Dalam hati mengutuk dirinya sendiri.


" Claudia kenapa kamu begitu bodoh dan kurang perhitungan dalam bertindak. Sekarang kamu jadi malu sendiri. "


" Andai kamu ditolak maka habislah masa depan mu. Banyak cowok yang datang dan lebih ganteng dari Wawan kamu tolak. " pikiran Claudia mulai kacau.


Pandangan matanya sedikit kabur, tubuhnya mulai kehilangan tenaga, genggaman tangan nya mulai mengendur. Seikat mawar ditangannya hampir jatuh.


" Tap. " sebuah tangan menggenggam pergelangan nya seakan mengalir energi baru ke tubuhnya yang mulai melemah.


" Saya terima maksud baikmu tapi dengan syarat harus jadi yang terbaik di kelas dan di sekolah. "


Claudia yang hatinya sudah mendung berubah menjadi cerah. Pipinya merona jiwanya melayang terbang penuh suka cita


Suasana langsung riuh. Kegembiraan muncul dimana-mana. Beberapa orang yang awalnya senang saat Wawan akan menolak Claudia mendadak kecewa berat.


Tak jauh dari tempat Wawan duduk seorang wanita mengenakan baju putih yang dipadukan dengan setelan jas berwarna hijau tosca serasi dengan bawahan tengah mengamati raut wajah Wawan.


Tidak nampak kebahagiaan kala wajah itu sedang duduk disamping nya. Wanita tersebut langsung dapat menyimpulkan bahwa Wawan hanya ingin supaya gadis itu tidak kehilangan muka di depan teman-temannya.


Ditambah lagi dengan syarat yang diajukan Wawan. Andai gadis itu pintar maka tidak akan sulit baginya untuk memenuhi janjinya. Lain lagi kalo gadis itu hanya bermodalkan kecantikan belaka.


Satu lagi kesimpulan yang dia ambil Wawan memiliki waktu untuk berfikir kembali dan andaikan memang gadis itu bisa memenuhi janjinya maka Wawan pasti sudah punya rencana untuknya.


Seringkali pemikiran dan tindakan Wawan sulit ditebak. Kedatangan dia saat ini juga untuk menjemput Wawan dalam mengatasi konflik internal perusahaan nya.


" Teeeeet...... teeeeet..... "


Nampak dari arah gerbang ratusan anak keluar dari kelasnya dengan wajah penat untuk segera pulang.


Sari dan empat pengawal yang mengenakan setelan jas berwarna hitam tengah berdiri disisi luar gerbang. Keberadaan mereka mencuri perhatian sekian ratus pasang mata.


Nampak empat orang siswa sedang becanda dan dihampiri dua orang gadis yang tadi dia lihat di dalam kantin.

__ADS_1


Gadis itu sangat cantik tapi masih nampak lugu dan malu-malu menatap Wawan. Berusaha berjalan disisi Wawan


Claudia sangat bahagia atas upaya yang dilakukan nya berhasil. Hampir saja dia putus asa. Setelah menunggu beberapa saat bersama sahabatnya dia menunggu pujaan hatinya.


Wawan keluar bersama sahabat nya saat dihampiri oleh Claudia dan Monica. Wajah mereka berdua adalah maha karya dari ciptaan Tuhan yang sangat sempurna.


Ketiga sahabat nya sampai tidak berkedip saat Monica dan Claudia menghampiri.


" Siang Mas.... Boleh ngga Claudia minta nomer telepon rumah ? "


" Boleh, silahkan dicatat.... 024 355***."


" Claudia janji Mas mulai hari ini akan belajar dengan rajin supaya bisa berdiri sejajar dengn Mas Wawan dan teman-temannya. "


Seketika Kartika mencubit pinggang Wawan dan memberi kode untuk dikenalkan pada sahabat Claudia.


" Oh ya Claudia kenalkan ini semua adalah sahabat-sahabat saya. "


" Claudia sudah tahu namanya.... Yang ini Mas Anton, yang ini Mas Dwi dan yang terakhir Mas Kartika si handsome yang introvert. " Sambil melirik sahabat nya.


Sedang asyiknya mereka saling berkenalan ekor mata Wawan menangkap kedatangan beberapa orang yang salah satunya adalah Sari.


" Halo semua..... maaf mengganggu pembicaraan kalian. " sapa Sari


" Halo Mba, gimana khabarnya lama ngga ketemu ? " sapa Anton dengan ramah


" Baik... Boleh ngga saya minta ijin membawa Mas Wawan pergi. Ada urusan yang harus dia kerjakan. " kata Sari ramah dengan senyum di bibirnya


" Silahkan Mba.... nanti sepeda Wawan saya yang akan membawa. " jawab Dwi


Keanggunan dewi surgawi begitu memukau semua orang termasuk Claudia.


Mereka baru tersadar manakala Wawan dan Sari sudah berjalan menjauh. Dengan manjanya sari memeluk lengan kiri Wawan membuat Claudia sedikit cemburu.


" Kartika Claudia boleh tanya ngga ? "


" Mau tanya siapa perempuan itu kah? "


Claudia mengangguk pelan.


" Dia akan jadi kakakmu kelak. " jawab Kartika santai dan dicubit oleh Dwi pelan.


" Syukurlah hampir saja aku mati karena cemburu. " Kartika jantung nya langsung mau copot karena kaget.


" Waduh bencana kenapa selalu menghampiri ku kalo sudah ketemu yang namanya Wawan. " Kartika begidik


Sari memperhatikan wajah Wawan yang sedang terpejam. Wajah yang selalu terbayang kala mata Sari terpejam.


Meski masih berusia tiga belas tahun sikap dan tindakannya menunjukkan kematangan berfikir orang dewasa.


Mobil memasuki pelataran parkir khusus direksi. Setelah berganti menggunakan jas Wawan dan Sari memasuki lift dan menuju lantai dua belas.

__ADS_1


__ADS_2