Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 64 Bertemu Dimitri


__ADS_3

Wawan meninggalkan Paramitha yang sudah tertidur pulas untuk melakukan meditasi. Kebiasaan yang hingga kini tidak pernah dia tinggalkan.


Dengan sikap lotus Wawan mulai melepaskan semua keterikatan dengan dunia memasuki fase rileks. Semua menjadi gelap hingga sebuah titik terang berwarna biru nampak di depan nya.


" Blarrrrr...." Masih dalam sikap lotus Wawan telah berpindah ke alam semesta.



Bumi yang berwarna biru kini nampak begitu kecil di hadapan wawan sedangkan Wawan hanya mampu berdecak kagum dengan luasnya alam semesta.


" Tuhan Engkau adalah pencipta Ku dan aku adalah hamba-Mu. Tidak pantas diriku menyombongkan diri dihadapan-Mu. " Ucap wawan sambil mengagumi ciptaan Sang Pemilik alam semesta.


" Kosong adalah isi.... Isi adalah kosong. "


Wawan mendengar ada suara seseorang yang tengah membaca Sutra Hati (Prajna paramithahrdaya Sutra) yang sangat diagungkan oleh pengikut Buddha. Dengan khusyuk Wawan berusaha memahami


" Segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah tidak tetap. Apa yang disebut kosong dapatlah disebut isi, apa yang disebut isi dapatlah disebut kosong. Semuanya hanyalah persoalan sudut pandang. Ini seperti koin yang memiliki sisi dua, padahal keduanya berasal dari bentuk yang sama."


" Di dunia sejatinya tidak ada hitam dan tidak ada putih. Hitam dan putih hanyalah bentukan pikiran manusia. Hanyalah permainan akal manusia. Manusia memberi nama hitam, lalu muncullah lawannya si putih. "


" Maka pahamilah bahwa tidak ada yang perlu disesali atau pun dinikmati. Semua perjalanan ini hanyalah proses, timbul dan tenggelam. Maka, dengan menghilangkan perasaan senang berlebihan dan sedih berlebihan, terciptalah jalan penuh kedamaian."


Bahasan yang disampaikan cukup sederhana akan tetapi memiliki makna yang cukup dalam. Hati Wawan terasa lebih dingin setelah mendengar pencerahan yang dia sendiri tidak tahu siapa yang berbicara. Setelah suara tersebut menghilang Wawan membuka mata nya secara perlahan.


Dari kejauhan dua titik cahaya terbang mendekat hitam dengan dikelilingi lingkaran merah dan putih. Makin lama makin jelas penampakan wujud dari dua titik cahaya tersebut.


Di atas langit berdiri dua sosok bersayap yang sangat besar dan memiliki tinggi hingga ratusan meter serta aura yang sangat mendominasi. Wawan begitu kecil di hadapan mereka semua.


Makhluk bersayap dan berwarna hitam membuka suara :


" Tidak seharusnya kamu bekerja sama dan memimpin kaum iblis. Tipu daya


mereka sangat kejam. "


" Jika hal itu terus berlanjut khawatir nya dirimu jadi seperti mereka. "


" Kekhawatiran mu terlalu berlebihan meskipun ada benarnya juga. Untuk menangkal godaan mereka bacalah kalimat penangkalnya


" Ucap makhluk bersayap dan berwarna putih sambil menempelkan telunjuknya ke kening Wawan dan berkata kembali :


" Nak ada pesan untuk mu dari Guru jangan pernah tinggalkan shalat, hindari perbuatan maksiat maka di manapun kamu berada Guru akan selalu mendampingi. "


" Guru siapa yang di maksud ? " Tanya Wawan


" Guru Sejati. " Wawan terdiam sesaat masih belum mengerti.


" Suatu saat beliau akan menemui mu. "


" Sekarang bersiaplah ada sesuatu yang ingin beliau berikan !! "



Perlahan Dari arah atas muncul sebuah lubang yang sangat besar dan dari arah dalam sebuah bola api berukuran diameter sepuluh meter melesat dan menghantam Wawan dengan keras

__ADS_1


" Brakkkkkkkk......Jegerrrrrr." Bola api langsung meledak dan membakar tubuh Wawan seketika.


" Aaaaaaarrgh....." Wawan teriak sejadi-jadinya. Tubuhnya terasa sangat sakit yang tak tertahankan.


Seluruh tulangnya membara membuat darahnya mendidih disusul tubuhnya mengeluarkan bara api. Wawan ingin bergerak dan berlari namun seakan tubuhnya terpatri. Wawan mengalami penderitaan selama lima jam berturut-turut. Dantian nya mulai retak akibat membesar dan setelah pembesaran nya berhenti muncul cabang-cabang baru dengan ukuran lebih kecil berjumlah lima cabang.


Wawan merasakan dadanya hampir pecah. Nyawanya tinggal dua puluh tarikan nafas lagi.


Kini kondisi Wawan mulai memasuki tahap masa kritis ketika dantian nya berubah warna.


Cabang pertama berwarna merah membara yang artinya Wawan bisa memanfaatkan energi api termasuk kebal terhadap api, cabang kedua berwarna hitam yang artinya Wawan kebal terhadap racun, cabang ketiga yang awalnya bening mulai muncul berbuih air artinya Wawan bisa memanfaatkan energi air.


Cabang berikut nya terdapat pusaran angin yang artinya dia bisa memanfaatkan energi angin dan cabang terakhir mulai nampak petir biru yang menyambar ke sana kemari.


Setelah semua percabangan sudah terbentuk sempurna bara api di tubuh Wawan mulai redup. Dari tempat yang sama sebuah cahaya putih ke biru-biru an yang sangat menyilaukan turun dengan cepat menuju Wawan dan Terserap seluruh nya ke dalam tubuhnya.


Wawan mulai merasakan tubuhnya sedikit nyaman. Semua rasa sakit yang dia derita di awal sudah tidak terasa.


Dengan masuknya cahaya tersebut dantian utama yang memiliki ukuran paling besar berubah menjadi warna biru langit dan terdapat dantian kecil di tengahnya yang berwarna emas.


Tubuh Wawan mulai diselimuti cahaya berwarna biru langit yang lembut dengan zirah emas yang kian terang.


Begitu matanya dibuka Wawan merasakan banyak perubahan. Kini dia memiliki kesadaran illahi. Mata dan telinganya mampu melihat dan mendengar sejauh jutaan kilometer.


Wawan merasa tubuhnya begitu ringan dan mengucapkan kata syukur kepada Sang Pencipta.


" Berhati-hatilah dengan ilmu yang kamu miliki sekarang. Jangan pernah menampar seseorang tanpa sebab karena tangan mu telah di lapisi ajian wesi geni. " Kata makhluk bersayap berwarna hitam


" Ada satu lagi pesan dari Guru sejati perbanyaklah memohon ampunan dan bersholawat. "


" Berterimakasih lah kepada Tuhan atas segala nikmat yang telah diberikan. "


" Bantulah saudara-saudara yang membutuhkan pertolongan. "


" Jangan pernah takut kepada makhluk lain tapi takutlah kepada Tuhan. Berjalan sesuai dengan perintahNya dan hindari apa yang jadi larangan Nya. "


Wawan segera menyudahi meditasi nya. Waktu baru menunjukan pukul empat pagi kala dia terjaga. Bukannya bangun dari lantai justru dia terbaring di atas tempat tidur dengan kompres kain di keningnya.


" Akhirnya kamu sadar juga. " Ucap Paramitha lega


" Sebenarnya apa yang terjadi? " Ucap Paramitha dan Wawan secara bersamaan.


" Haruskah aku jujur pada nya ? " Ucap Wawan dalam hati


" Memang seharusnya kamu bercerita. "


" Apakah kamu masih ingin menutupi yang terjadi ? "


" Sedangkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh kamu lihat malah sudah kamu jamah. " Wawan terdiam dengan kemampuan Paramitha yang bisa membaca pikiran orang.


" Baiklah akan ku ceritakan semuanya tapi sebelum nya biarkan aku sembahyang terlebih dahulu. "


Setelahnya baru Wawan menceritakan apa yang sudah dialaminya dalam meditasi nya namun tidak semuanya.

__ADS_1


******


Mereka semua sedang menikmati sarapan ketika seorang penjaga datang memberi tahu bahwa ada tamu menunggu di depan gerbang.


Paramitha hendak marah akan tetapi di cegah oleh Wawan dengan memegang tangannya.


" Suruh mereka menunggu ... Biarkan kami menyelesaikan sarapan terlebih dahulu. " Ucap Wawan kepada penjaga


" Baik Tuan. "


*****


" Ada keperluan apa mencari Mitha ? "


Tanya Wawan meskipun tahu maksud dan tujuannya.


Pria yang berdiri di depan Wawan dan Paramitha segera menghubungi seseorang.


" Tuan..... Seseorang yang Anda cari sudah berdiri di depan saya. "


" ( Berikan telepon nya.)


" Ada yang ingin berbicara . " Ucapnya sambil menyerahkan telepon genggam kepala Wawan


" Halo... Pak Dimitri.... Apa khabar ? "


" Bagaimana kamu tahu jika saya yang menelpon ? "


" Bagaimana caranya Pak Dimitri bisa menemukan saya ? " Tanya Wawan balik


" Panjang cerita nya... Bisakah kita bertemu hari ini ? "


" Baiklah.... Satu jam lagi saya akan sampai di rumah Anda. " Wawan segera menutup telepon nya.


" Mitha... Apakah kamu mau ikut denganku ? "


" Tentu saja..... Kemana pun kamu pergi aku akan selalu ikut. "


" Bagaimana dengan kedua abang itu dan bibik ? "


" Mereka aman di sini. "


" Kalian pergi lah dan kamu ikut saya ke dalam. " Pinta Wawan kepada salah satu bawahan Dimitri.


Bawahan Dimitri yang tadi diajak berbicara ternyata adalah pemimpin rombongan, segera meminta semua orang untuk kembali ke Paris.


Demi keamanan Wawan segera memasang pentagram perlindungan untuk berjaga-jaga sepanjang dirinya tidak di tempat. Setelah itu dia dan Paramitha berpamitan dengan bibik dan kedua abangnya Yudi dan Dicky


" Apa kamu tahu letak pasti kediaman Pak Dimitri ? " Tanya Wawan


" Tentu Tuan.... Saya sudah ikut Tuan Dimitri selama sepuluh tahun. "


" Pejamkan mata dan tetap tenang. " Wawan menggandeng tangan Paramitha di kanan dan bawahan Dimitri di kiri.

__ADS_1


" Wush.... " Berhembus angin ketika mereka pergi dan tiba di depan pintu rumah Dimitri.


Kemunculan mereka yang tiba-tiba membuat para penjaga kaget dan langsung mengokang senjata.


__ADS_2